
"Prajurit ku sudah siap dan semakin berlatih dengan giat, namun wanita itu malah sibuk melakukan hal tidak penting! Sudah waktu nya untuk mengambil keadaannya, agar wanita itu tidak berbuat semaunya! " batin seseorang yang baru saja mengamati hasil dari mantra sihir nya.
Tap.. Tap.. Tap..
Suara langkah kaki seseorang yang seperti terburu-buru mulai terdengar di lorong, langkah itu semakin meninggalkan gema. Hingga beberapa waktu suara itu berhenti di depan penjaga sebuah kamar, terdengar suara bisik-bisik beberapa saat hingga prajurit penjaga pintu itu pergi meninggalkan tugasnya.
Tok.. Tok.. Tok..
"TUANKU!" seru orang itu.
Wuuss.... kriiet...
Pintu kamar yang terbuka memberikan izin untuk orang itu memasuki kamar tuannya, ruangan kamar yang gelap dengan sedikit sorot dari satu lilin merah di pojok membuat ruangan itu terlihat suram mencekam. Bayangan itu nampak begitu angkuh dengan tangan yang memegang sebuah pedang, pedang yang berliku.
"Katakan!" seru penghuni kamar dengan memainkan jemari nya di atas pedangnya.
"Gadis itu sudah terlindungi seorang manusia aneh, wajah pucat dengan bibir merah, rambut putih dengan sinar perak nya. Tak ada yang bisa menyentuh gadis itu Tuan." ucap orang itu dengan menunduk.
Aura yang berubah menjadi pengap dan panas mengelilingi tubuhnya, aura itu dari Tuannya. Namun tidak ada niatan sedikit pun untuk mundur karena jiwa nya pun sudah menjadi milik Tuannya itu, jemari nya berhenti menari di atas pedang.
"Bawalah wanita permata itu ke Istana Kegelapan! Biarkan gadis kecil itu menjadi urusanku! Pergilah." perintahnya dengan melambaikan tangan nya.
"Baik Tuan." jawab orang itu dan bergegas keluar dari kamar sebelum tuannya berubah fikiran.
Sling.. Sling.. Praang.. Pyaar..
Mendengar kebangkitan sosok yang selama ini hidup dalam kendali nya, kini telah bebas dan terlebih lagi kekuatan nya lebih meningkat dari seharusnya. Sebagai Raja Kegelapan tentunya dirinya tahu ciri khas dari sosok yang di katakan oleh pelayannya itu adalah Giel sang keturunan Penyihir Tingkat Dewa yang tersisa, berita itu menjadi buruk ketika pada kenyataannya kini milik nya terlindungi. Seharusnya miliknya itu tidak boleh terlindungi kecuali menjadi persembahan utama nya nanti, kekesalan tak terelakkan lagi hingga tangannya semakin mengepal dan menyerang berbagai arah dengan pedang nya.
"Si@l! Berani nya melepaskan belenggu ku! Tunggu, ini akan semakin baik jika aku jadi kan persembahan tambahan. Yah itu lebih baik. " seru nya dengan menghadirkan senyuman penuh arti di dalam cahaya temaram.
__ADS_1
Setelah melampiaskan kemarahannya, Raja Kegelapan meninggalkan kamarnya dengan portal dan menuju ke tempat gadis kecilnya berada. Pemandangan yang menyambutnya sesaat menenggelamkan dirinya pada masa yang telah berlalu, suara serak dan berat dari seseorang yang dekat di hatinya. Ntah sudah berapa juta kali, suara itu selalu bergema di dalam telinga nya, seakan tidak membiarkan kehidupan nya berjalan dengan tenang.
*Hapuslah rasa sakit mu nak! Apakah dendam di hati mu akan menjadi pelangi jika terbalaskan? Bukankah kehidupan ini hanya sesaat, lepaskan jiwa yang penuh kobaran ini. Kakek mohon dengarkan permintaan terakhir ku ini nak.* ucap Kakek Raja kegelapan sebelum mengalami kematiannya.
"Maaf kek, suara mu tak mampu menghapus jeritan rasa sakit Bunda ku dengan linangan darah segar yang membasuh wajah ku. Darah dan jeritan Bunda menjadi kehidupan ku, hanya menjadi penguasa lah. Aku akan di anggap oleh semua makhluk tanpa terkecuali, darah ku hanyalah titipan yang harus ku manfaatkan." batin Raja kegelapan dan mulai melangkah mendekati pondok bercahaya.
Ctaar... Ctaar.. Ctaar..
Jarak yang masih cukup jauh namun setiap langkah yang di ambil Raja kegelapan, membuat benturan kekuatan. Dimana element kegelapan mulai berusaha mengikis sihir milik Giel, kekuatan Giel memang kuat namun masih tak sebanding dengan element kegelapan.
Namun benturan kekuatan itu mampu mengubah keadaan hutan bayangan menjadi tak seindah sebelum nya, petir gelap menyambar dengan kilat yang menyilaukan. Giel yang masih di hutan cahaya, dapat melihat kilatan di atas langit. Dimana firasat nya mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi, terlebih lagi Ghea kini berada di pondoknya.
Tanpa peduli dengan tugasnya, Giel menggunakan sihirnya untuk menghilang dan menuju ke hutan bayangan. Dimana hati nya mulai merasakan kegelisahan yang tak mampu di jabarkan, hingga tubuhnya menyentuh tanah yang bergetar membuat tubuhnya sesaat limbung.
"Tuan!" gumam Giel menatap sosok yang tengah berdiri di depannya dalam jarak 3 meter.
"Sudah waktunya! Persembahan sudah siap, bawalah putri ku kemari! " ucap Raja kegelapan dengan santai.
"APA? Hahaha rupanya makhluk tak bernilai seperti mu, berani mengusirku? SIAPA KAU?! " seru Raja kegelapan dengan menghempaskan satu ayunan tangannya yang langsung membentuk badai kabut gelap.
Wuuusss....
*Perisai Cahaya Dewa* ucap Giel yang seketika cahaya perak mulai membentuk tameng dengan perisai dinding cahaya perak, perisai itu menutupi dirinya dan pondok di belakangnya.
Duaar....
Benturan yang menjadi getaran lebih kuat itu kini membangunkan gadis di dalam pondoknya, dimana gadis itu masih dalam keadaan lemah setelah apa yang terjadi sebelum nya meskipun kejadian itu sudah berlalu. Tempat yang menjadi sandaran seluruh tubuhnya seakan terayun-ayun membuat kepala nya terasa pusing seperti burung-burung memutari kepalanya.
"Eeum.. Apa yang terjadi? Sakit kepala ku dan kenapa tubuh ku seperti remuk semua." gumamnya sembari mengucek kedua matanya.
__ADS_1
"Ouuh. Kenapa kaki ku terasa tak bertulang? " gumamnya lagi, setelah mencoba berdiri begitu saja dari posisi tidurnya.
Tubuhnya kembali terjatuh ke tempat tidur, hingga jemari mungil nya mulai bergerak kesana kemari. Mencoba untuk memberikan tekanan pada titik syaraf yang membuat nya tak berdaya, namun getaran kembali terasa hingga membuat rasa penasarannya kembali.
Sedangkan di luar sana semakin menunjukkan benturan-benturan yang tiada akhirnya, Ghea yang masih belum merasakan kekuatan pada kaki nya pun harus menggunakan cara terakhirnya. Perlahan dengan kedua tangannya, Ghea menahan berat badannya dengan menurunkan tubuhnya agar bisa duduk di bawah lantai. Dimana kini secara perlahan Ghea mulai menuju ke pintu pondok dengan berjalan tanpa kaki nya, kekuatan pada tumpuan tangannya membuat tubuhnya terseret ke arah yang di inginkan nya.
"Ayolah, sedikit lagi! Aku ingin tahu apa yang terjadi! " ucap Ghea dengan beberapa meraih gagang pintu yang cukup tinggi dari posisinya.
Sekali...
Dua kali...
Hingga lima kali...
Klek.. (Pintu akhirnya terbuka dengan lebar lima belas centimeter)
Terlihat hanya sebagian dari tempatnya , hanya jubah kakaknya yang ada di depannya. Membuat Ghea ingin segera keluar melihat apa yang terjadi, tubuhnya masih belum bergerak namun sesuatu terjadi dengan begitu cepat.
Buugh... Braak...
Sedetik mata nya yang masih mencoba mengawasi berubah dengan tatapan tajam dengan membulat sempurna, melihat kakaknya kini terkapar di depannya dengan darah yang mengalir di bibir dan hidungnya.
"Aauuw.. KAKAK! Hiks.. hiks.. hiks.. Ka Giel. Bangun ka!" seru Ghea yang melihat kakaknya membuka pintu dengan sempurna dengan tubuhnya yang terlempar.
Ghea berusaha untuk mengoyangkan tubuh Giel yang terlihat pucat melebihi warna pucat biasanya, darah yang mengalir masih dengan senang nya mewarnai pakaian kakaknya itu tanpa berhenti. Sedangkan satu pandangan di luar sana mulai membentuk senyuman puas melihat mangsanya ada di hadapannya, dengan senyum yang terangkat langkah kaki nya mendekati kedua makhluk yang tidak di harapkan kehidupan nya.
"Aarrrgh.Sakiit! Dadaku sesaaak.. Ka Giel ku mohon banguun.. Kaaa... Aaar.. gh.. " suara Ghea dengan menekan dada nya yang seakan tertimpa benda berat.
Suara yang menyayat hati nya mampu mengembalikan kesadaran nya, suara rintihan dari adiknya membuat nya membuka mata nya. Namun pandangannya yang baru saja terbuka kini terpejam kembali, sekilas bayangan adiknya yang meronta didalam genggaman tangan Raja kegelapan tak mampu di hentikan nya. Air mata itu terlihat jelas memenuhi bola mata adiknya, namun tekanan yang di rasakan Giel membuat nya tak mampu bangkit lagi hingga kesadaran nya hilang bersama suara rintihan adiknya.
__ADS_1
.................... ...
*Waktu mu kembali pada ku! Datanglah pada ku My Dragon!* batin seseorang dengan pedang yang bersinar terang, menundukkan hembusan angin yang begitu tenang di sekeliling nya.