
Dalam diam Clara memikirkan semua yang sudah diketahui oleh nya, kini tugas nya untuk menghentikan wabah ini atau pengobatan dengan Ramuan Patah menjadi sia-sia, Kini Clara sudah membuat rencana dan menunggu orang yang akan menjalankan rencana nya.
..................
Tanpa peduli dengan panggilan sang kakak, Peri Ghea kembali memasuki Wilayah Hutan Cahaya, hatinya selalu merasa bersalah setiap kali melihat hasil dari perbuatan saudaranya itu. Hutan Cahaya yang selalu terlihat rindang dan bersinar kini menjadi suram dan gelap, sudah berulang kali dirinya mencoba mencari tahu apa penawar untuk kegelapan itu namun tidak sekali pun ada petunjuk untuk hal itu. Dengan menahan kesedihannya dan mencoba untuk menebus dengan mengabdi pada bangsa Peri itu lah jalan hidup nya saat ini.
.................
"Salam Yang Mulia, Salam Peri Zianka. " ucap Peri Ghea.
"Peri Ghea dari mana kamu? " tanya Peri Zianka sedangkan Clara hanya mengangguk.
"Maafkan saya Peri Zianka, Saudara ku masih belum berhenti membuat kekacuan. " ucap Peri Ghea menunduk malu karena merasa bersalah.
"Apa kamu mau membantu ku Peri Ghea? Untuk menebus kesalahan saudara mu? " tanya Clara memandang Peri Ghea dengan senyuman.
"Benarkah? Aku mau, sangaat Yang Mulia. " jawab Peri Ghea langsung berbinar.
__ADS_1
"Apa Yang Mulia sudah memikirkan dengan baik? " tanya Peri Zianka.
"Hmm.Awasi Semua Peri agar menjauh dari wilayah perbatasan, dan Biarkan Peri Ghea ikut bersama ku. Dan sampaikan pada Peri ku Fyra untuk menemui ku." ucap Clara dengan tenang dan Peri Zianka hanya mengangguk setuju.
Disisi lain Achela sudah memberi tahu dengan batinnya tentang penemuannya dan Clara meminta Achela untuk menunggu ditempat itu sampai dirinya datang. Dengan senang hati Peri Ghea mengikuti kemanapun Clara mengajaknya, menyusuri wilayah Hutan Cahaya menuju ke tempat Achela. Dari kejauhan Achela melihat Tuannya menghampirinya namun sosok disebelah Clara yang membuat Achela kesal Karena mengingat kejadian di pondok, namun Tuannya terlihat tetap tenang meski tahu jika membawa sosok itu menyulut rasa kesal Achela.
"Hentikan fikiranmu itu Achela! Dia bukan musuh, Dia yang akan menjadi kunci wabah ini. " ucap Clara setelah berdiri didepan Achela, sedangkan Achela hanya mendengus saja.
Dengan tenang Clara mencermati apa Yang Achela tunjukkan dan jelaskan, dan Peri Ghea ikut mendengarkan. Jelas didalam fikirannya kini semakin hancur akan perbuatan kakaknya itu, bukan hanya Para Peri tapi kehidupan Hutan Cahaya pun ikut lenyap Karena perbuatan kakaknya. Tanpa disadari Peri Ghea, Clara memandang nya secara intensif, Clara bisa mendengarkan isi fikiran Peri Ghea .
"Peri Ghea! Sadarlah. " ucap Clara dan menyentuh bahu Peri itu yang masih larut dengan fikirannya.
"Hah.Maaf." jawab Peri Ghea dengan gugup.
"Dengarkan aku! Achela dan Peri Ghea kalian harus...... " ucap Clara menjelaskan rencana nya secara rinci, Peri Ghea dan Achela saling pandang tidak suka namun tidak bisa menolak demi Kehidupan Bangsa Peri.
...................
__ADS_1
"Kakak... Kakak.. Toloong. " jeritan terdengar dari kejauhan.
"Apa itu suara Ghea, tapi tidak mungkin. Ghea pasti baik-baik saja. " gumam Giel yang masih duduk didepan pondok nya.
"Tolong.. Tolong ka Giel. " jeritan terdengar lagi.
Dengan gugup Giel berlari mencari sumber suara, matanya terpaku pada satu sosok yang sangat dikenalinya, namun kondisi nya sangat mengenaskan, sosok itu berusaha menyeret tubuhnya dan darah terlihat membanjiri tubuhnya, melihat itu Giel gemetar dan berusaha mendekati dengan sisa tenaga nya yang tak sanggup melihat pemandangan didepannya. Sosok itu adikkya sendiri Peri Ghea yang terluka dibagian pundaknya dan darah itu membanjiri tubuhnya, tapi sayap yang Ghea miliki sudah lenyap.
"Ghea! Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini. " tanya Giel memeluk adiknya tak peduli dengan darah yang ikut membasahi pakaiannya.
"Tolong ka. " ucap Peri Ghea dan tidak sadarkan diri.
Melihat adiknya tidak sadarkan diri Giel langung mengendong adiknya untuk kembali ke pondok dan di obati, membaringkan adiknya di tempat tidurnya dengan posisi tubuhnya miring, mengambil berbagai jenis tanaman herbal di haluskan dan di bubuhkan pada luka dipundak adiknya dengan pelan.
"Siapa yang berani melukai Ghea! Akan kuhancurkan. " ucap Giel setelah membalut luka adiknya, di pandang nya wajah manis adiknya itu, sungguh hal paling menakutkan baginya adalah kehilangan adiknya itu.
Dunia ini tidak akan menjadi dunia dan hidup ini tidak akan menjadi hidup jika terjadi sesuatu pada adiknya, seumur hidup nya hanya adiknya yang menjadi tujuan dan nafasnya, untuk melindungi adiknya dirinya rela melakukan segalanya meski harus melewati seluruh batasan dunia.
__ADS_1