
*Perisai Cahaya Biru* ucap Clara.
"Terima kasih kalian sudah membantu ku, tapi jangan dekati tempat ini sekarang. Kuharap kalian mengerti ucapan ku. Jangan Ada yang masuk ke dalam Perisai ku. " ucap Clara dengan serius.
Clara melakukan perpindahan secara cepat Dan sudah kembali dengan satu sosok lain nya, dua pembaringan kini sudah terisi , melihat hal itu Achela mendekati Clara, Keduanya saling pandang Dan mengangguk sebagai tanda siap langkah selanjutnya.
*Keluarlah* ucap Clara.
Sling..
Kitab Suci kini berada ditangan Clara, dengan mengatakan keinginannya dari hati maka kitab Suci terbuka dengan sendiri nya. Menunjukkan apa yang ingin Clara lihat, kembali merenungi setiap kata-kata dari teka-teki yang ada di dalam Kitab Suci.
...*..... *...
...Awan Putih Perlahan Leyap.....
...Sinar Terang Berganti Kesunyian.....
...Sang Raja Kegelapan Bangkit.....
...Dalam Tidur Panjang Singgasana Itu Kembali Bertahta.....
...Kebenaran menjadi Kabut Awan.....
...Kepalsuan menjadi Tanah Berpijak.....
...Sinar Abadi Sang Kuasa...
__ADS_1
...Keberanian Jiwa...
...Ketulusan Hati...
...Keikhlasan Berkorban...
...Milik Sang Alam...
...*........ *...
Teka-teki dalam Kitab Suci akan menjadi satu dengan catatan yang ada di dalam buku Ramuan Penukar Kehidupan milik Sang Pertapa.
*πΏππππππ πΊππππππππ π°ππ πππ ππππ πΏπππππππ, π³ππππππ πππππππ’π ,πππππππππ π±πππ ππππ π³ππππππ, πΊππππππππ π±ππππππ π³ππππ π²ππππ’π ππππ πΊππππ. πΈππ πππ πΎπππ ππππππππ’π. *
.....................
*Cahaya Emas* ucap Achela.
Cahaya Emas kini mulai menyerap asap hitam yang sudah memenuhi perisai milik Clara, kini Clara menghilangkan Kitab Suci nya. Perlahan memejamkan matanya menghilangkan segala fikiran dan memulai meditasinya , jiwa nya kembali menyatu dengan alam membiarkan raganya tertinggal berpijak dibumi, menerbangkan dirinya hingga element Angin menyatu dengan nya.
Cahaya Emas telah menghilang bersamaan asap hitam,Bunga-bunga ikut beterbangan seperti pusaran angin, dengan setiap ayunan tangan mengikuti arah angin menghentakkan setiap gerakan dengan lembut. Perisai cahaya biru perlahan terbuka dari atas membiarkan sang pemilik terbang ke angkasa, Kegelapan malam yang masih setia dalam peraduan membisikkan kesunyian di setiap tarikan nafas.
Menanti sang Fajar yang akan datang,Pedang Suci yang kini berada ditangan Clara sudah menanti penyatuan Alam, sinar keemasan mulai nampak membelah kegelapan malam. Melalui Pedang Suci yang sejajar dengan Tujuannya di bawah Sana, Clara membuka matanya dan memantulkan sinar matahari pagi hingga terbentuk sinar pantulan, kini sinar itu tepat mengenai dua raga yang lemah tak berdaya.
Cahaya Matahari yang bersinar di pagi hari adalah Sinar Abadi Sang Kuasa, kegelapan malam akan tergantikan sinar ini, Ramuan Penukar Kehidupan akan kembali pada raga yang sebelumnya. Dimana Ketulusan hati yang tersirami Sinar Abadi akan menyatu dan menjadi Penangkal Ramuan Penukar Kehidupan, perlahan kini tubuh kedua manusia itu membaik dan mendapatkan kesadarannya kembali. Meski Kesadaran salah satu nya harus dibangkitkan oleh Clara terlebih dahulu meski Pengaruh Ramuan Penukar Kehidupan sudah menghilang dari tubuhnya.
Merasakan aura Kehidupan yang kembali, Clara melepaskan ikatan Cahaya Matahari dengan Pedang Suci, terbang kembali kebawah menghilangkan perisai nya, bunga-bunga yang menjadi pusaran angin ikut berhenti disaat kaki nya berpijak dibumi lagi. Melihat Tuannya berhasil membuat Achela bahagia, meski ini baru setengah tanggung jawab dari Tuannya tapi setidaknya kini Tuannya tidak perlu merasakan bersalah lagi terhadap Peri Ghea.
__ADS_1
"Ugh.. Apa yang terjadi.. Dimana aku? " ucap seorang Pemuda yang sudah membuka matanya.
Matanya melihat sekeliling , tempat yang asing tetapi seperti nya pernah melihat tempat itu sebelumnya hingga matanya melihat seorang gadis bercadar berpakaian seorang putri dan seekor kucing terbang disampingnya . Matanya kembali melihat sekeliling hingga terpaku pada sosok disampingnya yang sangat Dirindukan nya, rasa nya sudah lama tidak melihat wajah gadis manis yang menjadi Kehidupan nya itu, nyawanya ada di dalam kesayangannya adik tercintanya. Namun melihat wajah manis itu dengan bibir yang pucat membuat nya teringat kembali apa yang sudah terjadi hingga akhirnya kesadarannya kembali seutuhnya, Clara dapat melihat raut kesedihan dan rasa takut kehilangan di mata Giel.
"Hey apa yang kalian lakukan! Kembalikan seperti semula, Biarkan aku yang menggantikan Rasa sakit adik ku. Untuk apa aku hidup jika Adik ku terluka seperti ini! Cepat kembalikan! " ucap Giel dengan penuh kepanikan.
"Bangunlah Adik ku sayang. Maafkan kakak yang tidak bisa menjaga mu, tolong bukalah mata mu Ghea. Lihatlah kakak bersamamu. " ucap Giel dengan mencium tangan adik nya berharap adik nya mendengarkan panggilannya.
"Apa kau ingin Adik mu kembali? " ucap Clara mendekati keduanya.
"Apa yang bisa kau lakukan! Aku akan membawa Adik ku pada Tuanku. Tuanku pasti akan menyembuhkan Adik ku, aku tidak butuh bantuanmu. " ucap Giel dan mengendong Ghea yang masih belum sadarkan diri.
"Cepat lah Persembahkan nyawa Mu dan Adik Mu itu pada Tuan Mu!" ucap Clara disaat Giel sudah mulai melangkah meninggalkan tempat itu.
"Apa maksud Mu! Persembahan apa yang kau bicarakan? Tuanku orang yang sangat Mulia dan Baik hati. " ucap Giel membalikkan badan menghadap Clara yang sudah duduk tenang dengan memakan buah.
"Pergilah pada Tuan mu yang Pemurah itu, dan disini Aku akan menunggu kabar burung yang menyebarkan kebodohan seorang Pemuda yang tidak menyadari telah dikhianati Tuannya sendiri. Atau harus aku katakan semua yang terjadi ini karena Tuanmu! Apakah Tuan Mu itu tidak mengatakan jika adikmu bisa disembuhkan tanpa Ramuan Penukar Kehidupan,apakah Tuan Mu masih harus memisahkanmu dari adikmu setelah ragamu itu membeku dan menyimpan mu di dalam Istana Kegelapan. Seperti nya percuma saja Pendamping ku mengambilmu dari tempat kegelapan itu, tapi apa daya kami yang membutuhkan mu juga untuk memulihkan kondisi Ghea seperti semula. " ucap Clara dan menatap Giel yang merenungi ucapannya.
"Tidak, itu tidak mungkin! Tuanku mengatakan hanya Ramuan Penukar Kehidupan yang bisa menyelamatkan Adik ku dan aku sangat percaya pada Tuanku! Siapa kalian berani menghakimi Tuanku. " jawab Giel dengan perasaan geram.
Diam dan hening tanpa memberikan jawaban, Clara menghampiri Giel yang masih mengendong Ghea, meski Sudah berusaha untuk melangkah dari tempat nya berdiri tapi kaki nya seakan tertancap di tempat. Aura yang membuat tubuhnya merinding, raganya seperti tak bertulang namun masih tetap berdiri tegak dengan adik nya digendongannya, gadis bercadar itu menatap nya dengan penuh ketajaman namun saat beralih menatap adik nya padangan matanya menjadi teduh dan tenang. Tangan gadis bercadar itu mengusap dahi adik nya memberikan kekuatan yang bisa terlihat dari sinar biru di bawah telapak tangannya, perlahan Mata itu bergerak menunjukkan kesadaran adik nya telah kembali.
"Pergilah jika memang Tuan Mu itu adalah Pelindungmu! Hantarkan saja Nyawa Mu dan Adikmu ini jika sudah bosan dengan Kehidupan Di Dunia ini. Ayo Achela kita pergi dari sini! " ucap Clara dan melangkah menjauh dari Kedua bersaudara itu.
Ghea yang sudah membaik melihat Clara dan Achela yang menjauh, membuat nya bingung apa yang terjadi hingga sentuhan tangan kakak nya menyadarkan nya jika kini dirinya dan kakak nya sudah baik-baik saja. Ghea tahu hanya Clara yang akan menyembuhkan nya, tapi kenapa Clara tidak ikut mengajaknya pergi juga bukankah Clara tidak masalah jika dirinya tetap memilih menjadi seorang Peri. Tapi tatapan kakak nya menjelaskan segalanya, pasti sesuatu telah terjadi, hingga Ghea memberontak turun dari gendongan sang kakak dan berlari mendekati Clara meski tertatih-tatih, Giel terkejut karena adik nya bersusah payah mengejar gadis bercadar itu.
"Berhenti Yang Mulia." seru Ghea setelah berusaha sekuat mungkin untuk mengumpulkan kekuatan yang tersisa.
__ADS_1
Mendengar seruan Ghea, Clara berhenti dan membalikkan badan melihat gadis itu yang tertatih-tatih berusaha mendekati nya. Dengan sigap Clara mendekati Ghea dan membantu gadis itu untuk duduk dirumput yang basah oleh embun pagi, menenangkannya dengan sebuah pelukan.