The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Pertapa Tua penghuni Hutan Ilusi


__ADS_3

Flashback 👇


Keduanya memasuki sebuah bangunan dengan berbentuk lingkaran memanjang seperti bentuk menara khas pada umumnya, dengan satu ayunan tangannya menara kembali tertutup dan akhirnya menjadi gelap gulita.


Criing.. Criing...


Suara gemericik itu menciptakan beberapa lampu terbang yang seketika menerangi ruangan gelap itu, Clara harus menutup matanya terlebih dahulu sebelum melihat ruangan itu dengan baik. Ruangan yang hanya terdiri dari dua kursi bundar rotan di tengah satu dan di deket sebuah meja satu, ada beberapa buku atau kitab yang tergeletak di atas meja.


"Duduklah, ada beberapa hal yang harus ku tanyakan." perintah orang itu dengan menerbangkan kursi di dekat meja beralih ke depan kursi tempatnya duduk.


"Siapa anda sebenarnya? " tanya Clara setelah duduk di depan pria asing dengan wajah tak asing.


"Aku leluhur dari Pendeta yang kini menjadi salah satu sesepuh, panggil saja aku pertapa tua.Katakan siapa kamu sebenarnya?" jawab pertapa tua dengan pertanyaan lain.


"Jawabanku tidak akan mengubah apapun!" jawab Clara dengan tenang.


"Memiliki dua jiwa bukankah sulit? Semua melihat jiwa murni mu tapi siapa yang melihat jiwa asli mu Putri Clara? " ucap pertapa tua dengan tatapan tajam namun tak menyakitkan.


"Alam." jawab Clara dengan santai.


"Sampai kapan di dalam tubuhmu mengalami perang jiwa yang akan berakhir tidak pasti? Bukankah jalan itu masih memiliki pilihan? " ucap pertapa tua.


"Tidak! Dia bisa menjalani hidupnya dengan baik, aku sendiri memilih jalan ini. Jangan usik dia meskipun seluruh alam hancur! " jawab Clara mulai menajamkan tatapannya.


Tidak seorang pun boleh mengusik belahan jiwa nya, dimana jiwa nya kini berada. Cukup dengan jiwa murni Clara akan memenuhi seluruh tanggung jawab dan kutukan dari takdirnya, dunia bisa mengambil kehidupannya namun bukan masa depan yang sudah Clara siapkan. Biarkan semua orang buta dengan kenyataan yang tidak bisa terungkap karena beberapa hal memang tidak seharusnya untuk terungkap meskipun badai menghadang.

__ADS_1


"Artinya jiwa mu sudah terpisah! Bagaimana jika seseorang mencuri jiwa mu? " tanya pertapa tua.


"Tidak ada kekuatan yang bisa memasuki atau pun melukai jiwa itu, meskipun memiliki kekuatan besar sekalipun. Jiwa itu bukan hanya murni tapi juga masih dalam segel cristal kehidupan." jawab Clara dengan menghela nafas menetralkan perasaannya.


Rasanya kali ini semua menjadi seperti sebuah cermin, orang yang mengaku menjadi pertapa tua leluhur sang pertapa bisa mengetahui rahasia utama dari seorang Lady Cristal. Dengan mengetahui keberadaan jiwa asli dari seorang Lady Cristal maka kemungkinan lain bisa terjadi, bahkan pertanyaan pertapa tua bisa menjadi kenyataan jika Cristal kehidupan telah di aktifkan.


"Seperti nya kamu tahu bagaimana mengatasi setiap masalah mu nak, aku bersyukur Calista membuat Kitab Suci yang bisa menjadi pedoman penerus Pedang Suci untuk mendampingi Naga Suci Tlexcitli Belenda. Tugasku akan segera berakhir, bawalah adikmu kemari. Bukankah kedatangan mu untuk mengunjungi altar jiwa nak? " ucap pertapa tua dan tersenyum.


Senyumannya tidak terlihat manis atau pahit karena tertutupi jenggot putih nya yang juga panjang sedada, meskipun begitu wajah mirip itu tidak tertutupi karena pertapa tua ataupun Pendeta sama-sama memiliki aura yang sama, Clara menyadari orang yang terlihat segar di depannya ini seharusnya sudah berumur panjang.


"Altar jiwa, bagaimana cara ku ke tempat itu? " tanya Clara seolah menjadi gadis lugu.


"Ayo pegang tanganku, kita jalan-jalan bersama." jawab pertapa tua mengulurkan tangannya.


Dengan kepercayaan Clara menerima uluran tangan pertapa tua dan dengan satu kedipan mata nya kini keduanya sudah berpindah ke tempat tertinggi dimana sebuah altar dengan air mancur berbagai warna, Cristal lima warna di titik pusat dengan satu cristal inti yang merupakan batu. Dengan panjang kali lebar pertapa tua menjelaskan apa saja yang harus dilakukan Clara nanti, bukan hanya itu saja, karena setelah itu pertapa tua membuka lingkaran awan di sekeliling altar untuk menunjukkan bagaimana hutan ilusi.


"Kuharap apa yang ku katakan bermanfaat untukmu nak, Putri? Apa kamu baik-baik saja? " tanya pertapa tua mengakhiri ceramah nya.


Wajah Clara yang seakan terbakar dengan semu merah di pipinya membuat pertapa cemas, namun rasa cemas nya berganti dengan sebuah kekehan karena dirinya baru menyadari, jika perubahan wajah Clara akibat ulahnya yang tidak memberikan kesempatan pada gadis itu untuk bertanya ataupun memikirkan apa yang di jelaskan nya secara beruntun.


"Aku baik, terimakasih untuk semua pengetahuan nya pertapa tua. Dan satu lagi, temuilah Pendeta, aku tahu dia bukan keturunan asli dari pertapaan anda. Tapi dia murid yang lebih dari kata berbakat, membuat nya mendapatkan anugrah darah leluhur kalian." ucap Clara


"Simpan rahasia itu nak, dia tidak akan berkhianat. Bukankah kesetiaan nya tidak di ragukan lagi? " tanya pertapa tua dengan tenang.


"Dia milik anda, pengkhianatan atau kesetiaan nya tetap milik anda. Penjelasan pun tidak akan berarti di antara kita berdua, saya permisi Pertapa tua." jawab Clara dan melepaskan pegangan nya pada tangan pertapa tua dan menghilang menggunakan portal nya.

__ADS_1


"Kamu benar, semua memiliki tanggung jawab nya masing-masing. Aku yang bertanggung jawab atas dirinya, aku akan tetap mengawasi nya dari hutan ilusi." gumam pertapa tua dan mengedipkan matanya untuk berpindah ke tempat tinggalnya.


Setelah pertemuan nya dengan pertapa tua, Clara muncul di depan Starla dan Raja Dexter menghentikan perdebatan tidak bermanfaat keduanya. Hutan ilusi tidak menerima kehadiran raja Dexter terbukti dengan terpental nya pria itu yang mencoba menerawang ke dalam hutan ilusi, Clara pun tidak bisa membuat pria itu untuk mengikuti tujuannya. Terlebih lagi sekali pria itu memasuki hutan ilusi maka pria itu tidak akan pernah kembali, apalagi kenyataan memang lebih pahit dari mimpi.


..........................


Sreek... sreek.. sreek..


Suara benda terseret seakan semakin mendekat membuat Clara menghilangkan keberadaan nya dengan perisai cahaya, membiarkan apapun yang mendekati nya untuk melewati nya tanpa halangan. Perlahan suara itu semakin mendekat, rumput ilalang yang tinggi mulai bergoyang dari kejauhan hingga mendekat hingga ilalang di dekat Clara mulai terbelah.


Segerombol manusia dengan tudung dengan suara nafas yang terlihat seperti kelelahan seakan mendominasi kelompok itu, sesuatu yang di seret seketika di ayunkan dan dilemparkan tepat di depan Clara. Seekor hewan langka yang tengah lemah tak berdaya dengan tubuh penuh luka goresan menarik perhatian Clara, mata hewan itu memancarkan kesedihan, amarah dan kebencian seakan jika di berikan kesempatan maka hewan itu akan membalaskan rasa sakitnya.


"Sudah selesai, ayo kembali ke istana. Tuan sudah menunggu kita, biarkan Lion Devil ini membusuk disini." ucap salah satu gerombolan itu yang memiliki tubuh paling tinggi.



(Lion Devil yang masih dalam keadaan baik)


"Ayo, aku sudah lapar. Sudah hampir dua hari kita terkurung di tempat pemujaan, aku rindu masakan istri ku." ucap yang lain nya dengan melangkah kan kaki nya terlebih dahulu meninggal kan kelompok nya.


Dengan sebuah mantra, Clara mengikat salah satu kelompok itu dengan sihirnya untuk mengetahui apa yang mereka lakukan dan siapa tuan mereka. Karena hewan di depan mata nya ini bukan hewan sembarangan, salah satu hewan suci langka yang menjadi incaran banyak penyihir.


"Aduh kenapa rasanya dingin sekali. " keluh dari orang bertudung di barisan terakhir.


"Sudahlah ayo pulang, mungkin alergi mu muncul lagi." jawab lainnya dan merangkul temannya meninggalkan rumput ilalang.

__ADS_1


"Aku akan mengawasi kalian, dan apa yang harus aku lakukan padamu?" ucap Clara menghilang kan perisai nya dan menatap hewan langka di depannya dengan serius.


__ADS_2