
"Akhir nya panggilan ku di pahami oleh Mu! Sudah lama aku menunggu pertemuan ini, kenapa masih tidak ber balik Lady Cristal? " ucap sosok itu.
"Hentikan semua ini! Bukankah semua yang kau miliki sudah cukup, lalu untuk apa semua ini di lanjutkan? " tanya Clara membalikkan tubuh nya.
Sebuah obor yang ada di tangan sosok itu membuat wajah sosok itu terlihat jelas , kini pandangan mata kedua nya beradu. Tajam dan dingin, kedua nya saling menatap tanpa ada yang mau mengalah meskipun sosok itu menampilkan sedikit senyuman di ujung bibirnya tak membuat Clara merubah ekspresi wajah nya yang kaku namun ada bagian dirinya seakan merindukan sosok didepannya, ntah apa yang terjadi pada dirinya hingga masih terpaku dalam kedalaman mata sosok itu.
"Bukankah menjadi Penguasa Seluruh Alam menjadi Keinginan Semua orang?Ini hanya lah Keinginan sederhana. " jawab sosok itu.
Hening....
"Bergabunglah bersama ku? Tidak ada yang pernah lolos dari Istana ku kecuali dirimu. " ucap sosok itu lagi.
"Pertemuan sia-sia, Niat mu sudah mutlak. Pertemuan berikutnya akan menjadi Pertemuan sesungguhnya! " jawab Clara dengan memejamkan matanya.
"Jalan ini sudah menjadi nafas ku bukan kah kau tahu itu Peri ku? Dengan alasan yang sama tetesan darah mu menjadi awal Tujuanku, apakah kau melupakan itu Peri ku? " ucap sosok itu mendatarkan ekspresi wajah nya.
Wussh....
Ucapan sosok itu sudah menjadi jawaban pasti bahwa sosok itu tidak akan mengubah apa pun dan sungguh jalan yang diharapkannya akan menghentikan perang kini sudah tidak bisa diharapkan lagi,bertemu dengan sosok itu pun sama saja membuang waktu nya dan apa pun ucapan nya tidak perlu dimasukkan karena ada hal lain yang lebih berharga untuk di fikirkan. Tidak peduli sosok itu akan marah ataupun kesal padanya, akan lebih baik bagi clara meninggalkan tempat suram itu dan berhenti mengharapkan hal yang tidak berujung sedang kan sosok itu masih melongo karena tindakan Gadis pemikat hatinya.
"Ntah itu benar dirimu atau bukan Peri ku. Tapi jika benar pasti aku harus kembali berhadapan dengan mu nanti, Lady Cristal. " gumam sosok itu dan meninggalkan tempat suram.
.................
Di tengah puluhan manusia yang terkapar terlihat orang-orang yang masih bisa berdiri saling bahu membahu, mengobati satu per satu tanpa membedakan dari segi apa pun. Kabut yang terlihat semakin tebal membuat suara batuk terdengar dari setiap sudut secara berganti an seakan saling menyaut satu sama lain, pandangan matanya mencari seseorang yang sudah di berikan tanggung jawab menyelesaikan masalah di tempat ini. Namun di antara banyak nya orang-orang yang terkapar bak ikan jemur di pesisir pantai membuat nya kesulitan menemukan guru nya itu, justru hatinya merasakan sedih dan sakit mendengar rintihan kesakitan dengan suara hati yang putus asa.
__ADS_1
Braak... (Suara seseorang jatuh menabrak sebuah meja)
"Mari ku bantu, tolong tunjukkan dimana tempat ramuan nya. " ucap Clara mencoba memapah seorang pemuda yang sudah lemas tak berdaya dengan pakaiannya yang sudah berbau anyir dan noda darah di beberapa titik.
Dengan terburu-buru seorang gadis membantu nya untuk memapah pemuda itu dan membawa nya ke sebuah pondok yang terlihat seperti sebuah balai untuk perkumpulan di dalam desa, setelah mendudukkan pemuda itu dengan cepat gadis itu memasuki pondok. Sesaat kemudian gadis itu membawa orang lain keluar dari pondok dan mengatakan apa yang terjadi pada orang itu tentang pemuda yang tergeletak sedang kan Clara sudah memberikan hormat pada guru nya dengan bahasa isyarat.
"Bawalah guci itu nak dan berikan Semua orang satu gelas air dari dalam guci itu. " ucap Sang Pendeta.
"Baik Tuan. " jawab gadis itu dan memeluk guci yang dimaksud Pendeta.
"Salam Lady... " ucap sang Pendeta.
"Sudah lah Pendeta. Aku tidak ingin mendapatkan perhatian lebih, bagaimana keadaan disini? Seperti nya sangat buruk. " ucap Clara memotong Salam penghormatan sang Pendeta untuk nya.
"Kabut ini semakin hari semakin tebal, bahkan di hari pertama aku memasuki wilayah ini kabut masih hanya di tempat awal. Beberapa ramuan sudah ku buat namun masih saja belum menyembuhkan mereka, bahkan bahan-bahan ramuan yang ada sangat lah terbatas. " ucap sang Pendeta sembari memberikan ramuan pada pemuda itu.
"Madu yang tersisa hanya sedikit, tidak akan cukup untuk Semua orang yang ada disini. Pasti ada cara lain untuk menyembuhkan mereka Semua tanpa terkecuali, sedang kan disini harus menambahkan bahan ramuan yang tinggal beberapa. " jawab Pendeta dengan raut wajah sedih dan bersalah karena merasa gagal mengobati orang.
"Apakah ada ruangan khusus Pendeta? Biarkan aku membantu mu dan mari kita selesai kan masalah ini bersama. " ucap Clara dengan lembut.
Tanpa menjawab Clara, Pendeta berjalan memasuki pondok di ikuti Clara dengan melewati beberapa ruangan hingga akhirnya berhenti di sebuah kamar dengan aroma yang menyengat, perapian kecil yang membakar tungku mendidihkan isian di dalam kuali. Aroma pahit bercampur dengan aroma lain nya menandakan ruangan itu ruangan pembuatan ramuan dan benar saja di meja yang tingginya sebatas perut nya itu tergeletak bahan-bahan yang cukup dikenali oleh Clara, Pendeta yang masih memeriksa dengan sesekali menambahkan bahan ke dalam kuali yang begitu besar.
*Pintu Cahaya Biru* ucap Clara dan menyentuh satu belakang bagian pintu.
Belakang bagian pintu kayu itu perlahan terlapisi Cahaya Biru dengan merata secara sempurna, membuat Clara tersenyum dan memasuki Pintu itu dan setelah beberapa saat sudah kembali dengan membawa sebuah bambu di tangannya dengan beberapa bahan yang dibutuhkannya. Mendekati pendeta yang masih mengaduk ramuan di kuali, wajah nya yang sayu dan muram membuat pendeta itu tidak menyadari tindakan Clara.
__ADS_1
"Istirahat lah Pendeta, Biarkan aku membantu. " ucap Clara setelah meletakkan bambu dan bahan di tangannya ke meja dan membantu pendeta untuk pergi ke Pintu Cahaya Biru.
"Kenapa rasa nya berbeda? Udara ini tidak sesesak udara di tempat sebelumnya. " ucap Pendeta yang baru menyadari perubahan aliran udara yang di hirupnya.
"Istirahat lah, Pintu ini akan terbuka sampai aku menghilang nya. Biarkan aku membuat ramuan, Guru sudah sangat lelah dan membutuhkan istirahat. " jawab Clara yang merasa kasihan dengan guru nya.
"Tapi... " ucap sang Pendeta.
"Ini Perintah! Ingat lah kesehatan guru juga, biarkan aku melakukan tugasku sebagai seorang murid. Ini Bakti ku kepada Guru ku yaitu Pendeta dan Nenek. Jadi biarkan aku melakukan tanggung jawab ku. " ucap Clara dengan tegas dan meninggalkan Pendeta.
"Semua menjadi alasan untuk mu nak, bahkan dengan tenang dirimu menutupi kekurangan kami. Andaikan Risa masih ada pasti akan menjadi ibu yang bahagia memiliki putri seperti mu. " gumam Pendeta.
Setelah memastikan Pendeta melakukan Keinginan nya, kini dirinya fokus pada ramuan di kuali dimana ramuan itu terlihat sangat mematikan meski meringankan sakit orang-orang. Dengan menganti satu kuali lain di atas tungku, Clara memulai membuat racikan sebuah ramuan dengan bahan yang sudah dipastikan cukup untuk Semua orang, membuat takaran seperti yang seharusnya. Satu persatu bahan ditambahkan dan beberapa kali ramuan itu terlihat berubah warna, hingga beberapa jam ramuan itu akhirnya selesai dan hanya memerlukan satu bahan terakhir.
"Ku rasa ini cukup untuk Semua orang. Wabah ini harus dihentikan karena di Sana sudah mulai menjadi warna merah darah dan semoga saja Starla bisa melindungi semua nya. " ucap Clara dan membuka tutup bambu itu dan menuangkan nya ke kuali.
Cuurrr... bluum.. bluum.. cliing...
Ramuan yang semula ber warna hitam pekat itu kini berubah menjadi kuning keemasan, perubahan yang terjadi setelah percampuran ramuan dengan bahan terakhir. Suara terkejut seseorang yang tak asing terdengar di telinga nya, dengan wajah panik orang itu mendekati kuali dan berulang kali mengerjapkan matanya seakan tidak percaya.
"Tenang lah pendeta, Ramuan ini akan menghentikan wabah di wilayah ini. Aku sudah membuat ramuan penangkal sekaligus penyembuhnya. Cukup berikan satu orang satu sendok makan untuk orang dewasa dan satu sendok teh untuk anak-anak, pasti kan tidak ada yang meminum melebihi itu jika tidak akibatnya akan buruk. " ucap Clara mengalihkan rasa tidak percaya guru nya.
"Nak, bukankah itu Madu kehidupan? " tanya pendeta menunjuk bambu di meja.
"Kita bahas ini nanti Pendeta, Aku harus kembali ke Istana. Dan satu hal lagi pendeta, buat lah Perisai setelah Semua orang mendapatkan ramuan ini. Saya permisi Pendeta. " ucap Clara.
__ADS_1
Wuushh...