The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Tahanan itu pendeta


__ADS_3

Meninggalkan tempat istana langit, di tempat tersembunyi tengah terjadi sebuah perdebatan yang cukup sengit tanpa mempedulikan seorang pria berbaju putih yang terikat di kursi dengan erat. Pria itu tidak bisa meminta tolong dalam keadaan kedua tangan dan kaki nya terikat masing-masing dan mulutnya disumpal sebuah kain, tapi perdebatan dua orang di depannya sungguh membuat kepala pusing.


"Lalu kita apakan pria ini sekarang? " tanya satu pria.


"Yah apa lagi selain melenyapkan bukti, jangan sampai Raja tahu tentang perkumpulan pemimpin kita." jawab pria satu nya lagi.


"Sudah-sudah kita pergi saja, biarkan pemimpin yang memutuskan mau di apakan. Ayo kita kembali bekerja. " ucap pria ketiga menengahi perdebatan.


"Ayo." jawab lainnya serempak dan meninggalkan tempat tanpa jendela itu.


Sedangkan pria berbaju putih masih berusaha memutar tangannya untuk melepaskan diri, dan tempat nya tidak bisa menggunakan element seperti ada segel di tempat itu. Didalam hati nya berharap akan ada yang menemukan nya, awalnya untuk mengikuti hal mencurigakan justru membuat nya terjebak di tempat netral dengan kondisi yang menyulitkan dir sendiri.


"Apa kabarmu pendeta? " ucap seseorang yang masih tidak nampak wujudnya.


"Jangan main-main Achela, aku tahu itu kamu." ucap batin pendeta.


"Baiklah, tapi kita tunggu pemimpin nya dulu. Jadi bertahanlah sebentar." ucap Achela dan masih terbang kesana kemari tanpa wujud.


"Bagaimana dengan gerhana bulan putih? " tanya batin pendeta.


"Sudah berakhir dan kami mendapatkan nya." jawab batin Achela karena mendengar ada suara langkah kaki dari kejauhan.


Kriiiieet...


Terlihat seseorang masuk dengan pakaian kerajaannya dan topeng di wajahnya, hanya sesaat melihat tahanan yang ada di dalam ruangan gudang itu. Diperhatikan nya sosok pria berbaju putih yang terpejam mata nya dan di balik topeng itu hanya ada wajah datar dan berfikir untuk apa tahanannya nanti, berguna kah untuk nya atau justru membawa masalah.


"Kalian jaga tempat ini dan pastikan tahanan ku tetap di dalam." perintah sosok itu dan menutup pintu dengan aturan.


"Aku pergi dulu." ucap batin Achela yang menggunakan teleportasi nya untuk mengikuti sosok yang di anggap pemimpin.

__ADS_1


Sosok itu berjalan melewati beberapa lorong yang terbilang jarang di lewati oleh siapapun, namun terlihat sosok itu masuk ke sebuah pintu dan keluar kembali hanya dalam hitungan satu menit. Bukan itu masalah nya tapi wajah dan paras itu yang membuat Achela menghela nafas, mungkin ini yang di maksud tuan nya untuk segera menemukan pendeta dan sosok itu terlihat lugu namun penuh kepalsuan.


Meninggalkan sosok yang memiliki wajah asli, Achela kembali ke tempat pendeta dan membebaskan pria itu dengan sebuah belati yang tersimpan di ruangan tanpa batasnya. Memang ruangan itu memiliki segel tapi segel itu tidak berlaku untuk seorang Achela, dan dengan mudahnya Achela membawa pergi pendeta.


Seperti permintaan tuan nya, maka Achela membawa pendeta ke hutan ajaib dan tentu saja bagi nya mudah. Hutan yang awalnya indah dengan daun emas kini menjadi gersang tapi terlihat ada tunas baru yang mulai tumbuh dan setiap tunas baru itu akan memperbaiki perisai hutan ajaib dengan sendirinya.


"Masuklah pendeta, tinggallah di pondok ku sampai pertemuan nanti. Dan semua akan anda dapatkan di dalam pondok ku." ucap Achela yang baru saja muncul bersama pendeta di sebuah pondok milik nya dimana kontrak darah dengan Lady Cristal terjadi.


"Siapa pemimpin itu? " tanya pendeta.


"Siapapun dia akan ada yang terluka, istirahatlah pendeta. Aku harus menemui tuan ku. " jawab Achela menghilang lagi.


"Seperti nya aku harus memulihkan keadaanku." gumam pendeta dan membuka pintu pondok.


Pondok yang selama ini di tinggal tanpa penghuninya tapi kenapa tetap bersih terawat seperti ada yang membersihkan setiap hari bahkan terlihat sangat rapi, ada sebuah tempat yang cukup menarik perhatiannya. Tempat duduk di depan perapian itu sangat cocok untuk di jadikan tempat meditasi, dan itu yang akan di lakukan oleh nya.


Sedangkan di kamar yang sangat gelap sesosok wanita paruh baya tengah menatap garis wajah nya yang terlalu cepat menua, yah dalam hitungan bulan terlihat jelas perubahan wajah drastis nya. Dan semua itu terjadi setelah melakukan kontrak darah dengan Naga hitam, tapi wajah nya terlihat menjadi buruk.


"Aku harus membuat ramuan awet muda, Aaaah kenapa hidup ku menjadi seperti ini! " seru nya dengan frustasi.


Pyaaaar...


Satu buah kotak perhiasan di lemparkan ke cermin dan membuat cermin itu pecah dan menyisakan sedikit serpihan, muak yah itulah yang membuat wanita paruh baya melampiaskan amarah nya ke benda mati. Meskipun tidak sebrutal dulu tapi kebiasaan menghancurkan barang masih melekat dalam kehidupan nya, dulu hidup nya terlihat baik meskipun harus berpura-pura menjadi wanita , istri, ibu dan ratu yang baik tapi tidak ada kekurangan dalam harta dan kenyamanan.


Tapi lihatlah kondisinya saat ini yang tak ubahnya seperti seorang pengemis di jalan-jalan pedesaan, terkadang di sudut hati nya hanya ingin hidup tenang tapi hati itu sudah termakan racun kekuasaan yang membutakan mata hati nya. Kesendirian tidak lagi tersingkirkan, hingga mata itu tidak lagi menunjukkan sinar kebahagiaan yang sebenarnya dapat di peroleh dengan hal sederhana.


"Ratu sampai kapan kita akan disini? " tanya seseorang yang baru saja masuk ke ruangan terbesar dari seluruh ruangan.


"Apa kau bosan hidup? " tanya balik wanita paruh baya itu dengan seringai di bibirnya.

__ADS_1


"Aaampuun, bukaaan... " jawab orang itu dan seketika terdiam ketika satu jarum menusuk lehernya.


"Bersikaplah baik jika ingin hidup." bisik wanita paruh baya dan melepaskan tangannya dari leher pelayan nya.


Bruuug.. Prook.. prook..


Tubuh itu terjatuh ke tanah, dan terlihat mata melotot dengan bibir terbuka membuat nya seperti patung di tempat keramat, dengan dua tepukan tangannya terlihat beberapa prajurit memasuki ruangannya dan tidak ada satu keluhan pun meskipun melihat mayat di depan mereka.


"Singkirkan! " perintah wanita paruh baya itu dan langsung di patuhi.


"Kaau, bagaimana dengan pencarian mu? " tanya wanita paruh baya menunjuk seorang prajurit yang terlihat paling sangar.


"Tidak ada Ratu, jejaknya pun tidak terlacak." jawab prajurit itu dengan menunduk.


"Pergi! Das@r kalian tidak berguna! " teriak wanita paruh baya itu dan membalikkan badan nya.


Langkah kaki yang menjauh membuat wanita paruh baya itu mengepalkan tangannya, sekali lagi rencana nya hancur tak tersisa. Ntah mana yang bisa di percaya dan bisa di ajak kerja sama, jujur saja semua orang bagi nya tidak ada yang tulus.


"Seperti nya kau sudah belajar banyak penyihir Rosea, sampai kapan pun aku tidak akan melepaskanmu. Kamu salah satu asetku. " gumam wanita paruh baya itu dan pergi meninggalkan kamar nya.


Lebih tepat nya bukan rumah melainkan sebuah gua yang besar dan di sulap menjadi tempat tinggal, setelah melakukan penyerangan di perbatasan justru kekuatan nya semakin melemah dan Naga hitam yang dirinya fikir sudah siap bertarung masih membutuhkan masa pertumbuhan.


Alhasil kini Naga hitam tengah melakukan hinernasi di sebuah tempat yang dirinya enggan mendatangi tempat itu, tapi kini kehidupan nya menjadi terjebak di antara kegelapan dan kehancuran. Langkahnya menyusuri hijaunya pepohonan dan membiarkan sejenak alam menyapa raga yang tak berharga , kicauan burung terdengar merdu untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun terakhir.


Sebuah kenangan masa muda nya terlintas, dan semburat senyum hadir tanpa di minta, senyuman yang datang dari hati dan senyuman itu telah pergi bersama rasa haus kekuasaan yang mulai meracuni hati dan jiwa nya.


"Andai bisa ku ubah, mungkin kehidupan ku tidak akan seperti ini." ucap wanita paruh baya itu.


"Bukankah saat ini pun, anda bisa mengubah nya Permaisuri Adreo?" jawab seseorang dari samping nya.

__ADS_1


__ADS_2