
Dengan langkahnya yang pasti dirinya menyusuri rimbunnya pepohonan, aura mencekam mengalir di sekitar nya hingga hawa berubah semakin dingin dan dingin, namun tak menyurutkan dirinya untuk memberikan peristirahatan terakhir yang terbaik untuk Penyihir Calista. Sedang kan di pondok Achela bergegas mencari yang ramuan yang di maksud oleh Tuan itu, setelah menemukan nya Achela bergegas terbang meninggalkan pondok nya dan pergi ke gunung utara sesuai dengan pentunjuk Tuan yang membantu nya.
.................
"Maaf Tuan menunggu lama. " ucap Achela setelah terbang lama dan sampai di mana Tuan itu menunggu nya.
"Achela apa yang terjadi pada mu? Tubuh mu membesar dan berubah." tanya orang itu saat melihat seksama perubahan dari Achela.
"Biar kan Penyihir Calista beristirahat dulu Tuan. " jawab Achela yang semakin sendu melihat Tuannya sudah terbujur tak bernyawa.
"Baik lah. Ayo, ini tempat nya. " ucap orang itu dan meletakkan Tubuh Penyihir Calista di atas rumput.
*Cahaya Bintang* ucap orang itu dengan menjentikkan jarinya.
Perlahan cahaya keluar dari jarinya dan terbang mengelilingi tempat nya berdiri hingga aura yang tadi mencekam kini perlahan berubah menjadi hangat dan kabut mulai menutupi sekeliling nya hingga menyisakan sebuah jalur berundak yang berada di depannya. Tanpa menunggu lama dirinya kembali menggendong Penyihir Calista dan menyusuri undakan demi undakan, sebuah altar yang sangat sederhana namun terlindungi begitu banyak hal gaib mampu menyembunyikan letak altar itu.
Semakin ke dalam terlihat sebuah altar yang dihiasi dengan bunga lili putih yang ber cahaya, sungguh Altar yang indah karena pantulan cahaya dari bunga lili, Dengan hati-hati dirinya meletakkan tubuh Penyihir Calista di atas Altar, menyiramkan air ke seluruh raga itu agar darah yang menghiasi hanyut terbawa aliran air dan meminta ramuan untuk menetralisir aura Penyihir Calista yang masih kuat meski sudah tak bernyawa. Setelah selesai melakukan ritual terakhir orang itu memetik setangkai bunga lili dan menyelipkannya diantara lipatan tangan Penyihir Calista yang sudah di satu kan oleh nya.
"Selamat beristirahat Calista. Aku akan menjaga kesayanganmu Achela dan melakukan janji ku seperti yang sudah ku katakan dulu. " ucap orang itu memandang Penyihir Calista untuk terakhir kali nya.
"Achela, ayo kita keluar. Altar tidak akan memberikan banyak waktu untuk raga yang masih bernafas untuk menetap lama disini. " ucap orang itu dengan lembut.
Achela terpaku dengan pemandangan didepannya, kini semua nya sudah berakhir, dirinya harus kehilangan satu-satunya tujuannya hidup nya tanpa disadari hatinya tidak rela meninggalkan Tuannya, jika bisa akan lebih baik dirinya ikut pergi bersama tuannya itu tapi lihat lah Takdir yang membuat dirinya harus memiliki Takdir lebih kejam, hidup dalam keabadian yang ntah sampai kapan ajal itu menghampiri nya dan selama nafas nya masih bersama nya maka dirinya harus melihat dunia tanpa bisa menghentikan kehidupan nya Sendiri.
"Achela! Ayo. " seru orang itu sedikit lebih keras dibandingkan suara sebelum nya.
"Eh.. Maaf. Apa yang Tuan katakan." Jawab Achela karena terkejut.
__ADS_1
"Kita harus segera keluar dari Altar ini! Biar pemilik Altar melakukan tugas mereka. " ucap orang itu dan meraih tubuh Achela tanpa menunggu jawaban dari Achela.
Achela hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan orang itu, dirinya masih tenggelam dalam kesedihan dan mencerna semua nya yang terjadi dalam hidup nya.
.................
Kini Achela dan Tuan itu sudah berada di depan Pondok Penyihir Calista setelah melewati portal, Achela langsung melompat dan memasuki pondok tanpa menunggu lama, Tuan itu mengikuti dari belakang. Pandangan nya kini menyusuri seluruh ruangan itu dan darah pun masih ada di lantai, sungguh hati nya kembali merasakan luka yang tak bisa diobati, jelas sekali hatinya kini menjerit karena tidak bisa merasakan penderitaan Penyihir Calista dan tidak bisa menolong nya agar selamat, rasa nya sakit di hati nya lebih terasa dibandingkan ketika mengetahui Penyihir Calista memiliki kekasih waktu dulu.
"Andai aku tidak buru-buru untuk mencari pentunjuk dan bermeditasi mungkin aku bisa menyelamatkanmu . " batin orang itu menyeka air mata yang menetes.
Kembali mengedarkan pandangan nya hingga mata nya tertuju pada Achela yang berdiri di depan jendela menatap keluar begitu dalam.
"Ada apa Achela? Tenang lah, sekarang aku akan menjaga mu. " ucap Tuan itu yang sudah berdiri di belakang Achela.
"Jangan khawatir tentang ku Tuan. Penyihir Calista sudah membuat ku kuat dan abadi. " jawab Achela dengan tenang tanpa mengalihkan pandangan nya.
"Apa maksud mu dengan perubahan wujudmu ini? Tapi apa Achela tahu siapa yang menjadi dalang semua kekacauan ini? " tanya Tuan itu hati'.
"Cerita kan apa yang sebenarnya terjadi dan Calista sudah meminta ku berjanji untuk menggantikan dirinya menjaga mu di pertemuan terakhir ku. " ucap Tuan itu dengan serius.
Achela berfikir sejenak dan melompat turun dari tempat nya, berjalan menghampiri meja yang ada ditengah ruangan, duduk di atas meja dan memberikan isyarat agar Tuan itu duduk dikursi didepannya. Dengan serius Achela menceritakan Kelanjutan kisah nya yang masih tersimpan termasuk tentang Kitab Suci Cristal of Life dan Kitab Suci Milik nya. Dengan seksama Tuan itu mendengarkan dan mencoba memahami segalanya, hingga dirinya menemukan jawaban dari permintaan terakhir Calista yang meminta dirinya untuk menjaga Achela sepenuh hatinya.
**flashback
"Tolong penuhi Keinginanku yang terakhir. Hanya dirimu yang ku percaya Lion. Hanya Achela yang bisa menyimpan semua kekuatan dan energi dari ku, jika bukan Achela, aku takut ada pengkhianatan. " ucap Penyihir Calista memohon.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Calista percaya lah pasti ada jalan lain untuk ramalan mu kali ini. " ucap Delion.
__ADS_1
"Tidak Lion! Ber janji lah untuk menjaga dan mendampingi Achela setelah kepergiaan ku, kumohon Lion. " ucap Calista Memohon menunjukkan wajahnya yang memelas.
"Baik lah! Aku Delion Pemimpin Pertapa Hutan Hujan ber janji menjaga dan mendampingi Hewan Suci Achela setelah kepergiaan Tuannya Penyihir Calista. " ucap Delion dengan serius setelah melihat Calista Memohon tentu dirinya tidak tega dengan hal itu, seperti apa pun hubungan keduanya tidak membuat dirinya melepaskan wanita itu untuk sendiri an dalam perjuangan nya melakukan kebaikan.
"Ingat lah ini Lion! Ajari Achela segalanya yang belum aku ajarkan dan ingat lah Takdir nya akan bersatu dan berakhir di saat Jiwa Takdir Murni Yang terakhir sudah sempurna. " ucap Penyihir Calista menunjukkan sebuah ramalan yang telah diperhitungkan.
"Apa arti ini Calista? " tanya Delion melihat lambang Matahari dan Bulan menyatu.
"Ini lah puncak dari Badai dunia. Disini lah Peperangan akan tercipta, hanya Takdir jiwa Murni yang mampu menghentikan atau melanjutkan Badai ini, dan bukan sekali atau dua kali jiwa Murni akan terlahir, seperti sebuah pedang yang harus di tempa ber ulang kali agar sempurna, Jiwa Murni pun sama, harus tiada dan terlahir kembali hingga Jiwa Murni itu melebihi entitas se sungguh nya. Bukankah kamu tahu Satu Kitab Suci jatuh ke tangan Orang yang tidak seharusnya, dan Pengorbananku nanti akan menjadi awal dari Jiwa Murni terbentuk. " ucap Calista menjelaskan secara rinci.
"Aku akan mencoba memahami semua nya, tapi apa yang akan kamu lakukan dengan menjadi kan dirimu sebagai Pengorbanan? " tanya Delion dengan comes melihat Calista yang penuh tanda tanya.
"Penuhi janji mu dan sisanya biar kan Takdir yang memberikan jawaban nya. " jawab Calista dengan tersenyum manis untuk menenangkan Delion.
....................
"Mulai saat itu aku belajar banyak hal dari Tuan Delion atau orang memanggil nya Pertapa Lion, dari nya aku bisa menjadi seperti sekarang. " ucap Achela menyelesaikan cerita nya di depan Clara yang masih setia mendengarkan.
Semua sudah dicerna oleh Clara namun masih saja dirinya memiliki banyak pertanyaan, apakah dirinya harus menyampaiakan semua pertanyaan nya setelah Achela ber cerita begitu banyak, pasti Achela pun sudah menahan rasa sedih nya atas ingatan nya yang harus dipaksakan kembali untuk mengenang kejadian masa lalu nya itu. Achela yang melihat Lady Clara hanya termenung menjadi bingung, dengan membuat kontrak darah bersama Lady Clara maka kontrak darah nya dengan Penyihir Calista berakhir, meski dirinya sudah puluhan tahun hampir ratusan tahun berjuang mencari Sang Jiwa Murni tapi dirinya tidak pernah membuat kontrak darah karena hanya Jiwa Murni sempurna yang bisa menghentikan kontrak darah nya dengan Penyihir Calista dan tentu dirinya selalu mendapatkan petunjuk dari Kitab Suci yang sudah mendampingi dirinya selama ini.
.................
.
. halo readers 😊 Salam
. Maaf dua hari gak bisa up karena sakit ☝️
__ADS_1
. jadi hari ini aku baru bisa up 😊
. thanks for support n selalu jadi Readers yang setia baca karya ku.. ☺