The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Lawan Seimbang


__ADS_3

Mendengar seruan Ghea, Clara berhenti dan membalikkan badan melihat gadis itu yang tertatih-tatih berusaha mendekati nya. Dengan sigap Clara mendekati Ghea dan membantu gadis itu untuk duduk dirumput yang basah oleh embun pagi, menenangkannya dengan sebuah pelukan.


Melihat adiknya yang merasakan kenyamanan dipelukan gadis bercadar membuat Giel penasaran, siapa gadis bercadar itu dan apakah ucapannya benar tentang Tuannya. Memang benar semua yang dilakukannya hanya untuk menjaga adiknya, tapi siapa sekarang ini yang benar? Tuannya atau gadis bercadar itu jika gadis itu benar maka semua yang dikatakan oleh Tuannya adalah kehohongan tapi , jika Tuannya yang benar kenapa adikku tidak mau ditinggalkan gadis bercadar itu.


"Achela lindungi semua Bangsa Peri dan Siapapun yang masih ada didalam wilayah ini! Dia sudah datang, Aku akan pergi. " ucap Clara yang merasakan kehadiran seseorang di perbatasan Hutan Cahaya.


"Biarkan aku ikut Yang Mulia. " ucap Ghea.


"Tidak! Biarkan ini menjadi urusanku, sadarkan saja kakakmu yang masih bimbang dengan kebenaran dan kepalsuan. " jawab Clara melirik Giel yang masih seperti orang linglung.


"Mintalah para Peri untuk menjaga juga Achela, pastikan jangan ada yang mendekati tempat itu! " ucap Clara di samping Achela dan pergi meninggalkan semua nya.


Achela mengikuti Clara hingga tangan Tuannya memberikan isyarat berhenti, sebelum mencapai batas Hutan Cahaya dan tempat wabah. Disitulah Achela akan membuat Perisai dan melindungi Bangsa Peri, sedangkan Clara akan menyambut kedatangan seseorang.


Tempat yang sangat gelap, kehidupan yang telah mati, pohon-pohon yang berdiri hanya menjadi obor-obor arang yang tak jatuh. Bayangan pun tidak terlihat , meski diatas cakrawala matahari bersinar terang tak menembus tempat kegelapan ini.


Hitam semakin hitam, pusaran angin itu perlahan menghilang hingga menyisakan seseorang yang memakai penutup wajah, kini kedua jiwa dengan enstitas berbeda saling berhadapan.


"Aku sangat beruntung akhirnya bisa bertemu dengan mu kembali. " ucap orang itu yang melihat wanita bercadar yang sama di Istana nya.

__ADS_1


".... " Clara hanya diam.


"Ck.. Ck. Jangan bersikap dingin seperti ini. Apakah aku begitu buruk? Lihatlah aku ini tampan." Ucap orang itu percaya diri.


"Sudah? " ucap Clara.


"Astaga meluluhkan Harimau lebih mudah ternyata(Dibandingkan meluluhkan wanita yang telah mengambil hati ku ini). " ucap orang itu dengan tambahan ucapan di batinnya.


*Api Cahaya Biru" ucap Clara.


Melemparkan beberapa bola Api Cahaya Biru untuk menerangi kegelapan di tempat itu, kini kegelapan berubah menjadi tempat bersinar yang cukup menerangi keadaan disekelilingnya. Bisa terlihat jelas dimana Lubang yang dimaksud Achela masih mengeluarkan asap hitam merah darah, terlihat kehidupan yang sudah terserap karena wabah yang diciptakan itu. Disisi lain nya seorang pria yang sudah melepaskan penutup wajah nya menatap Lawannya yang sibuk memperhatikan Lubang, meski tahu alasannya kemari adalah menemukan dalang dari hilang nya tawanannya tapi tetap saja tidak tega jika harus menghabisi gadis bercadar itu.


Mantra itu di gunakan untuk mengikat jiwa dan menjadi kan nya boneka hidup, Clara mengikuti permainan Lawannya. Berpura-pura menjadi seperti apa yang Lawannya inginkan, Lawannya terlihat senang karena berfikir mantra nya berhasil.


"Datanglah padaku, dan mendekatlah. " ucap orang itu mengulurkan tangan nya.


Dengan mata kosong Clara perlahan berjalan mendekati Lawannya hingga berdiri beberapa langkah didepannya. Lawannya mendekati Clara, tangan nya terangkat menyetuh pipi Clara yang masih memakai cadar,senyuman yang terlihat tulus itu sangat mengusik Clara yang tahu jika pria didepannya tertarik dengan nya. Tangan itu perlahan ingin melepaskan cadar yang menjadi penutup wajah Clara, hingga tangan nya berhenti ketika merasakan ada sebuah benda yang runcing dan tajam siap menusuknya jika bergerak sedikit saja.


Tanpa disadarinya, Clara sudah mengambil sebuah Pisau Lipat yang jarang di gunakan itu terarah di dada Lawannya, tangan itu keduanya masih di tempat masing-masing hingga Lawannya tetap menarik cadar nya dan Pisau Lipat itu mengores dada nya.

__ADS_1


Sebelum melihat wajah Clara karena rasa tersayat yang mengalihkan perhatiannya, Clara memutar tubuhnya agar agar wajah nya tidak terlihat namun cadar nya sudah tidak ada. Dengan cepat Clara merobek gaunnya untuk dijadikan cadar, belum sempat berbalik, Lawannya sudah memeluknya dari belakang dengan sebilah pedang yang ada dilehernya.


"Aku tidak akan main-main dengan mu lagi! " ucap nya yang sudah tersulut emosi.


"Tidak ada Permainan. " jawab Clara.


wush... Dug.. Brugh...


Sebelum mendapatkan jawaban lagi,Clara sudah menggunakan portal nya untuk terbebas dari cengkraman lawannya, dan memukul lawannya dari belakang. Darah segar mengalir dari hidung pria itu, tanpa menunggu serangan lagi, pria itu bangkit dan menyerang Clara dengan pedang nya.


Trang,, sling.. Trang.. sling..


Keduanya beradu pedang tanpa ada yang mau mengalah, keduanya memiliki kemampuan yang seimbang dalam menyerang dan bertahan. Aura keduanya kini telah membaur bagaikan udara, Permata Alam yang sudah terkubur merasakan sebuah kekuatan yang mengikat nya ada didekatnya.


Kilauan Sinar Kegelapan itu terbang tanpa disadari keduanya yang sibuk bertarung, Aura yang bercampur menjadikan Permata Alam masuk kedalam raga yang tidak pasti apakah itu Pemilik nya atau bukan.


Ada sesuatu yang membuat Tubuhnya terasa sakit seperti tertusuk ribuan pedang, hingga rasa nya sulit sekali bernafas. Dengan kondisinya yang masih bertarung hanya bisa meminta satu pertolongan , kesadarannya hampir hilang meski mata dan tangan nya masih mencoba bertahan dengan serangan lawannya hingga sebuah Cahaya menyilaukan matanya dan semua nya menjadi gelap.


.................. ...

__ADS_1


__ADS_2