
Seharian Pangeran Trish hanya menunggu dan bahkan waktu yang berganti malam mengharuskan nya tidur di sebuah ayunan yang dia buat sendiri. Melihat lampu pondok yang menyala menandakan ada kehidupan disana tapi tak seorang pun keluar dari pondok itu untuk bertanya kabar Pangeran Trish.
"Huft kenapa aku jadi seperti kurang kerjaan. Tapi aku harus minta maaf. " gumam Pangeran Trish dan menghembuskan nafasnya.
Tengah malam yang sangat tenang dan hanya dihiasi suara jangkrik membuat malam menjadi lebih terasa alami, didalam pondok Clara masih melakukan kegiatannya. Ramuan yang diracik nya memang membutuhkan waktu lama sehingga butuh konsentrasi yang tinggi, namun dirinya butuh udara segar sejenak. Akhirnya Clara berniat jalan-jalan diluar pondok sejenak tapi sebelum itu memastikan adiknya Starla sudah istirahat.
"Udaranya dingin jadi pas aku memakai selimut ini. " gumam Clara dengan membalut kan selimut di bahunya dan keluar dari pondok.
Clara menikmati suasana dengan tenang dan menghirup udara yang dingin, melihat sekeliling dan matanya harus menajamkan saat melihat seseorang dari tempat yang tidak begitu jauh dari depan pondoknya.
"Siapa itu. " gumam Clara mendekati orang itu dengan hati-hati.
"Astaga kenapa pria ini masih disini. Memang tidak punya rumah apa. " batin Clara saat mengetahui teman adiknya yang tidur diatas ayunan.
Melihat Pangeran Trish yang kedinginan karena tidak menggunakan selimut atau pakaian tebal membuat Clara kasihan dan dengan perlahan Clara menyelimuti Pangeran Trish dengan selimut yang membalut nya.
"Ntah apa tujuanmu. Tapi tidak baik tidur di luar tanpa selimut. " gumam Clara sambil menyelimuti Pangeran Trish, suara itu samar-samar terdengar ditelinga Pangeran Trish namun rasa dingin ditubuhnya yang perlahan menghilang berganti kehangatan membuat nya nyaman melanjutkan tidurnya.
Setelah memberikan selimut Clara juga menyalakan api unggun dengan kekuatannya agar tidak menimbulkan suara yang banyak dan selesai membantu kini Clara kembali masuk kedalam untuk melanjutkan membuat ramuannya.
............. ...
Sinar matahari yang mulai memasuki wilayah hutan dan menyentuh kulit pipi Pangeran Trish membuat nya terbangun karena dirinya mendengar suara orang berbincang juga samar-samar.
"Apa ka Clara sungguh mau aku yang berada disana untuk sementara? " tanya Starla sekali lagi.
"Salah satu dari kita harus berada ditempat itu. Dan nenek sudah mengatakan saat ini kamu belum siap membuat ramuan ini sendiri maka lebih baik aku yang disini dan melakukan tugas ini. Dan kamu lekukan tugas disana, nenek ada bersama mu jadi tidak perlu khawatir Adikku. " jawab Clara meyakinkan Starla.
"Baiklah ka. Aku akan pergi sekarang juga tapi setelah selesai dengan ramuan, ka Clara yang harus menjadi Pemimpin. " ucap Starla dengan pasrah.
"Setuju.Sekarang pergilah dan salam buat Nenek dan Ayah. Katakan jangan khawatir soal apapun. " balas Clara memeluk adiknya dan disambut pelukan erat oleh Starla.
__ADS_1
Pangeran Trish yang tidak sengaja mendengar dan melihat itu bergegas kembali ke tempatnya agar tidak ketahuan menguping.
"Aku pergi ka. " pamit Starla setelah kedua gadis kembar itu diluar pondok.
"Hati-hati Sayang. " balas Clara dengan senyuman manis.
Setelah kepergian adiknya, Clara ingin masuk ke pondok lagi namun seseorang menghentikannya dengan tergesa-gesa.
"Nona tunggu. " seru orang dari arah belakang nya.
"Hmm." jawab Clara berbalik ke arah orang yang memanggilnya.
"Bisakah bicara sebentar nona? " tanya Pangeran Trish yang kini sudah didepan Clara dengan jarak 1 meter.
"Tunggulah sebentar. " jawab Clara langsung meninggalkan pangeran Trish tanpa menunggu jawabannya.
"Uft kenapa dingin sekali. Tadi dia tersenyum manis dengan adiknya. " keluh Pangeran Trish yang ditinggal begitu saja dan akhirnya kembali duduk di ayunan.
Pandangan nya ada pada selimut,dan menyadari bahwa tidurnya nyenyak karena selimut itu.
Setelah 30 menit menunggu Pangeran Trish dikejutkan oleh sebuah surat yang langsung muncul didepan matanya dan berisi undangan untuk masuk kedalam pondok.
"Gadis menarik. Pasti punya kekuatan hebat juga. " gumam pangeran Trish yang melihat itu dan dirinya berjalan menuju pondok.
Pintu langsung terbuka sebelum Pangeran Trish mengetuk atau memberikan sambutan, tanpa menunggu pangeran Trish masuk dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah gadis tadi sedang sibuk menyiapkan meja makan dengan cekatan.
"Duduk! " perintah gadis itu tanpa menoleh kearah Pangeran Trish.
Tanpa menjawab Pangeran Trish duduk di kursi yang sudah tersedia dan beberapa saat akhirnya gadis itu ikut duduk.
"Bisa kita bicara nona? " tanya Pangeran Trish dengan lembut.
__ADS_1
"Makanlah! Dan Diam. " jawab Clara dengan tegas dan memulai mengambilkan makanan untuk Pangeran Trish dan dirinya sendiri.
Dengan berat Pangeran Trish harus menunggu lagi tapi dirinya juga merasa sangat lapar jadi ini hal yang patut disyukuri, sebelum meminta maaf justru gadis itu memberinya makan meski sikapnya sangat dingin.
........... ...
"Silahkan katakan. " ucap Clara setelah keduanya selesai sarapan.
"Makanan ini sungguh lezat nona. " jawab Pangeran Trish yang tidak menyangka masakan dihadapannya sangat lezat.
"Hmm." balas Clara dan menaikkan alisnya.
"Maaf Nona. Untuk kejadian kemarin, saya sungguh tidak tahu anda bukan Starla. " ucap Pangeran Trish yang paham akan pertanyaan gadis itu.
"Hanya itu? " tanya Clara.
"Ya nona, karena saya juga memperlakukan anda seperti kemarin. " jawab Pangeran Trish.
"Lupakan saja. Kamu hanya peduli pada adikku. Itu cukup. " balas Clara dengan santai.
"Apa nona memaafkan saya? " tanya Pangeran Trish sekali lagi.
"Ya.Sekarang tidak ada lagi yang harus dikatakan bukan? " jawab Clara.
"Tidak nona. Tapi.. " ucap Pangeran Trish menggantung ucapannya.
"Apa lagi? " tanya Clara.
"Siapa nama anda? " tanya Pangeran Trish dengan sedikit ragu.
"Clara. Saya harus kembali. Terserah anda mau tetap disini atau pergi. " jawab Clara dan pergi meninggalkan Pangeran Trish sekali lagi sendirian.
__ADS_1
Melihat hal itu membuat Pangeran Trish geleng-geleng kepala, bagaimana tidak. Di kerajaannya banyak gadis yang memuja dan berharap bisa dekat dan sekedar bertegur sapa dengannya namun gadis ini justru tidak peduli dengan keberadaannya.
Sikap dingin dan tatapan matanya sungguh menjadi sempurna ditambah lagi jika senyuman bisa terukir diwajahnya. Dengan berat hati Pangeran Trish pergi dari pondok dan menulis sebuah surat berharap surat itu dibaca oleh Clara, ntah kenapa rasanya ingin berlama-lama berada di dekat gadis dingin itu. Tapi tugasnya sudah menanti nya, jika takdir memang berpihak padanya pasti akan dipertemukan kembali.