
Di tempat lain, di dalam kabut kegelapan. Aura kemarahan sangat terasa, semakin lama kabut itu semakin tebal tanpa memiliki jarak pandang. Tapi ada satu kilatan menyala menembus kegelapan kabut. Kilatan yang semakin terang, samar-samar memperlihatkan satu sosok berdiri tegak diantara kabut dengan rambut terbang mengikuti hembusan angin.
Ini masih belum terlambat! Aku tidak akan mengampunimu. Tidak akan pernah! ~ batin sosok itu dengan mencengkeram pedang di tangannya semakin erat.
Dengan jiwa kegelapan didalam raganya. Sosok itu menyebarkan element kegelapan, alam tak lagi bersahabat. Seperti air menguap saat terkena panas matahari, begitulah alam mulai meradang dengan penyebaran element kegelapan.
Amarahnya menjadi kekuatan. Ditengah kabut kegelapan, langkah kakinya meninggalkan jejak mati. Hitam tanpa cahaya. Kekuasaan Raja kegelapan semakin tanggung dan luas, jiwanya tak lagi berhati. Para monster menunduk di bawah kakinya, semua pemuja telah pasrah dalam kendalinya. Kini kerajaan kegelapan bersama kerajaan iblis menjadi milik Raja Kegelapan. Tak ada tahta, hanya ada gumpalan awan diatas kepala sang raja.
"Bersiaplah perang akan segera dimulai! Ingatlah kalian hanyalah milikku." Raja Kegelapan menyebarkan perintah dengan telepati.
Kerajaan kegelapan seperti tenggelam dalam hitamnya para pendosa, namun ada satu sinar terang yang mengalihkan perhatian Raja kegelapan. Dengan teleportasi Raja kegelapan berpindah menuju cahaya itu, aula kerajaan dengan selimut cahaya biru telah menyebar. Seakan terjebak, kabut cahaya biru menyambut kedatangan Raja kegelapan.
Kedua kaki Raja kegelapan terjerat benang ilusi. "Lady Cristal? Ini pasti ulahmu! Tapi kenapa kekuatan ku tak mampu melawan? Apa yang ada didalam ruang singgasana ku?"
__ADS_1
Semakin mengerahkan element kegelapan, justru benang ilusi semakin merangkak naik dengan lilitan tanpa belas kasihan. Pedang Azalia mulai meredup, seperti api tenggelam dalam air. Wajah Raja kegelapan semakin keras dengan segala upaya untuk membebaskan diri. "Dewi iblis datanglah!"
Fiuuuh…
Semilir angin membawa seorang wanita cantik dengan pesona mematikan, wanita itu menunduk di hadapan Raja kegelapan. "Saya Yang Mulia?"
"Pimpin pasukan monster memulai penyerangan alam bawah! Pastikan kemenangan di pihak kita." Raja kegelapan meluapkan amarahnya dengan keputusan tergesa-gesa.
Dewi iblis membungkukkan setengah tubuhnya sebelum menghilang bersama semilir angin. Raja kegelapan kembali berusaha untuk keluar dari kabut cahaya biru. Sementara di istana langit, Clara menjadi pusat perhatian semua orang. "Apa ada yang ingin bertanya?"
Raja Lucas merasakan seberapa dalam putri bungsunya kecewa dan terluka, tapi disisi lain putri sulungnya hanya bisa menjalani takdir tanpa keluhan. "Nak, bersabarlah."
"Biarkan Starla bicara jujur Ayahanda. Yang lain pun silahkan mengutarakan hati, aku ada dihadapan kalian. Silahkan bertanya." Clara tersenyum.
__ADS_1
Seperti mendapatkan izin. Membuat semua fikiran menimbang pertanyaan apa yang harus dipertanyakan, Clara hanya membaca semua isi hati dan fikiran insan-insan yang mengelilingi dirinya seperti magnet. Satu jentikan jari Clara menghentikan waktu, semua insan menjadi patung. Clara bangun dari tempat duduknya, menghampiri pria berambut emas.
"Terkadang waktu telanjur terlambat, tugasmu di mulai. Pergilah Ksatria Lulu." titah Clara mengirim ksatria Lulu ke alam bawah dengan portal.
Satu langkah Clara seperti bidak yang maju di waktu yang sama, seperti langkah Raja kegelapan yang memulai peperangan. Maka langkah Clara menunggu lawan menyerang. Dengan kepergian Ksatria Lulu, maka perang permulaan akan dimulai.
Langkah Clara beralih ke Raja Azio dan Ratu Alona. Dengan menyatukan kedua tangan pasangan itu, Clara mengedipkan mata membuka segel waktu untuk dua jiwa didepannya. "Pengorbanan kalian akan menjadi titik dunia baru. Perjuangan kalian akan kembali pada alam. Tetaplah menjadi panutan untuk rakyat kalian."
"Nak, apakah…"
Clara mengangguk, membuat helaan nafas dalam terasa semakin berat. Tatapan Raja Azio beralih menatap putranya yang masih mematung, wajah yang selalu membuat hidupnya berwarna. Sedangkan Ratu Alona seperti terpenjara dalam diam. "Bukankah bunda ingin tahu siapa yang menghacurkan seluruh klan angsa putih? Dibalik kehancuran klan angsa putih adalah Raja Kegelapan."
"Bagaimana itu mungkin?" tanya Ratu Alona.
__ADS_1
"Semua hanya tentang takdir. Dan takdir kita adalah perpisahan. Ayahanda akan mengatakan segalanya. Selamat tinggal." Clara melepaskan tangannya, membuat Raja Azio dan Ratu Alona menghilang bersama kabut cahaya biru.
Kini yang tersisa adalah inti dari takdir. Clara kembali menjentikkan jari setelah duduk ditempatnya semula. Semua terlihat bingung dan terkejut, tatapan mata kosong dengan kebingungan nyata. "Mari kita bicara. Sebelum bulan menghilang."