
Sungguh Achela ingin tertawa, Tuan nya ini seperti lupa siapa dirinya itu, Seorang Lady Cristal berjiwa murni yang tidak membutuhkan makan dan minum selama jiwa dan tubuhnya memiliki energi dan element nya tapi berbicara soal menyimpan kekuatan untuk nanti.
"Achela disini ada sesuatu yang tak terlihat, haruskah aku menghancurkan dinding perisai nya? " tanya Clara.
"Apapun keputusan Tuan, akan selalu hamba dukung. " jawab Achela.
"Kau ini, aku bertanya pendapatmu! " ucap Clara.
"Senyum Tuanku, baiklah jika tidak ingin membuat keributan masuk saja dengan portal, maka perisai akan tetap aman. " jawab Achela.
"Setuju.Ayo pergi dengan portal mu Achela. " ucap Clara mendekati jejeran pohon terakhir yang menghadap ke padang rumput.
Wush...
Setelah keduanya memasuki perisai dengan portal, keduanya disuguhkan dengan bangunan Istana yang mengerikan.Istana mewah yang terbalut kegelapan, suasana yang sangat mencekam dan dingin berbeda dengan suasana diluar perisai. Istana tanpa penjagaan sama sekali tapi suara burung-burung gagak memyambut kedatanngan keduanya, seakan memberitahu sang Tuan jika ada penyusup yang memasuki Istana nya.
Tanpa menunda keduanya mendekati Istana agar bisa melihat siapa yang mau tinggal di tempat seperti itu dan mencari apa yang menjadi tujuannya. Semakin mendekati Pintu Istana, gagak semakin sibuk bersuara saling sahut, seketika semilir angin berhembus menerpa Clara dan Achela. Terasa dingin dan panas secara bersamaan tapi itu hanya sesaat dan hilang nya semilir angin membuat keributan gagak berakhir.
"Achela setelah memasuki Istana, Carilah Tujuan kita dan aku akan menemui seseorang yang sudah menunggu ku. " ucap Clara melalui batinnya.
"Apa ini tidak ber bahaya? " tanya Achela melalui batinnya.
"Aku percaya kau bisa melakukan tugas ini dan gunakan lah perisai mu agar tidak ada yang melihat mu, sisanya biarkan menjadi urusanku. " ucap Clara.
"Apakah harus sendiri-sendiri? " tanya Achela.
__ADS_1
Bukan jawaban tapi hanya senyuman dan elusan kepala yang Achela terima, sikap yang selalu membuat Achela tidak bisa membantah jika sudah mendapatkan senyuman dan elusan kepala dari Tuan nya itu. Pintu Istana terbuka dengan sendiri begitu keduanya di depan Pintu, seperti yang Clara rasakan jika pemilik Istana sudah menunggu kedatanngan nya. Siapa yang tidak akan memyambut tamu tak diundang yang sudah menghancurkan beberapa pasukan dan pengikut sang Pemilik Istana, Clara juga ingin mengetahui sosok yang menciptakan berbagai monster dan manusia setengah jiwa meski Clara tahu itu kesalahan manusia yang memang memilih jalan sesat .
Istana sangat sunyi dan gelap, hanya obor-obor yang memberikan penerangan di setiap tempat, Achela pergi meninggalkan Clara setelah menggunakan perisai agar tidak terlihat oleh siapapun kecuali Tuan nya, sedangkan Clara masih berdiri di depan Pintu Istana.
"Tunjukkan wujud kalian! Atau kupaksa kalian dengan caraku! " ucap Clara dengan tegas.
Sling, wush,brugh...
"Seperti nya kalian tidak menyukai cara baik. Sekarang tunjukkan dimana Tuan kalian! " seru Clara setelah menumbangkan dua penjaga Pintu yang bermain-main dengan nya.
"Kau manusia Rendah*n! Berani memasuki kekuasaan Tuanku, bahkan melukai pengawal nya! Pasti menyenangkan melihat mu dihukum, hahaha. " ucap seorang penjaga.
"Diam! Tunjukkan ! " Bentak Clara dengan menatap tajam pengawal yang merendahkannya.
Melihat tatapan tajam dari Clara, pengawal itu seketika merinding bahkan tatapan itu melebihi tatapan Tuan nya saat mengusir para pelayan ketika dalam keadaan marah. Tanpa menjawab pengawal itu ber jalan di depan Dan diikuti Clara sedangkan pengawal yang terluka di biarkan saja tergeletak di depan Pintu Istana, keduanya menyusuri lorong demi lorong.
"Tuan ada di dalam! Selamat Tinggal, semoga perjalanan mu Menyenangkan. haha " ucap penjaga itu Dan berbalik untuk meninggalkan Clara tapi seketika tubuh merasa menghantam benda yang keras dan rasanya sangat sakit.
Dug, Braak.. Brugh...
Penjaga itu kini sudah tergeletak karena digunakan Clara untuk membuka Pintu, lebih tepat nya untuk menghancurkan Pintu yang tak ber salah meski penjaga itu masih bernafas tapi darah tetap mengalir karena Pintu Istana yang ditabraknya sangat lah kuat sedangkan Pria yang duduk di Singgasana hanya melihat itu tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
Clara ber jalan memasuki ruangan yang begitu luas, sebuah Aula Kerajaan dimana ada Singgasana dan pemilik nya tapi tidak ada orang lain selain keduanya bahkan Clara bisa merasakan jika tidak ada satu sosok pengawal atau pengikut dari pemilik Istana kecuali penjaga yang masih menahan rasa sakit nya karena terluka parah.
Clara tidak mempedulikan tatapan yang mengikuti kemana pun dirinya melangkah, justru dengan santai nya Clara mendekati pengawal yang terluka. Berdiri tepat di depan penjaga yang terbaring di lantai, Clara menekuk satu kaki nya dan menjadikan satu kaki nya lagi sebagai tumpuan tangannya.
"Apa yang harus Aku lakukan pada mu? Mengingat ucapan mu sebaiknya Aku membebaskan mu selama nya. " ucap Clara memandang penjaga itu, tatapan mata penjaga seakan memohon untuk diampuni.
"Tidak? Baiklah, Aku punya hukuman lain. " ucap Clara dan menutup mata nya disaat satu jari nya menyentuh kening penjaga itu.
__ADS_1
wuus.. (asap hitam meninggalkan tubuh penjaga dan kini wajahnya terlihat seperti seharusnya, seorang pria tua yang sudah beruban Dan kulitnya yang sudah sangat keriput berbeda dari tadi yang sangat Muda Dan kuat)
"Syukuri apa yang kamu miliki! Nikmati Masa Tua mu itu. " ucap Clara Dan berdiri meninggalkan penjaga itu Dan ingin melangkah meninggalkan Aula Kerajaan.
Melihat tamu nya ingin pergi tanpa mempedulikan dirinya tentu membuat hatinya kesal dan marah, bagaimana tidak sebagai Pemilik Istana justru tidak di anggap oleh gadis bercadar didepannya.
*Pintu Kegelapan* ucap pria di Singgasana.
Seketika Clara berhenti karena kini didepannya yang tinggal beberapa langkah lagi sudah menjadi pintu berkabut hitam , dari aura yang Clara rasakan sudah pasti Pintu itu akan menuju ke tempat yang tidak bisa dibayangkan. Teriakan-teriakan terdengar dari balik Pintu itu, aroma busuk dan darah semakin menyengat ntah itu tempat pembantaian atau tempat persembahan atau sebuah penjara , apapun itu yang jelas pasti hanya ada keburukan.
"Kenapa berhenti! Lanjutkan saja! " ucap pria di Singgasana.
Tap.. tap.. tap..
Berjalan mendekati Clara yang masih menatap Pintu di depan nya, apa yang menarik dirinya untuk semakin mendekati gadis itu. Padahal dengan mudah nya untuk melumpuhkan gadis itu, terlebih setelah melihat beberapa pengawal nya terluka seharusnya dirinya langsung melenyapkan gadis bercadar tapi ada yang membuat hatinya tidak mengizinkan itu .
Kini keduanya menjadi satu pandangan, Mata tajam milik Clara seakan membius Mata Hitam Lawannya. Tatapan itu sama seperti milik seseorang yang pernah mengisi hari dan hatinya, hanya saja tatapan seseorang itu lebih lembut dan penuh cinta berbeda dengan tatapan Clara yang tajam dan menusuk. Rasa nya ada kehangatan dibalik tajam nya pandangan itu, ingin kembali memiliki pemilik Mata indah itu, Clara yang di tatap sangat dalam semakin merasa risih tapi ntah kenapa dirinya tidak bisa membaca isi fikiran atau hati pria di depan nya. Wajahnya yang dewasa, rambut panjang, hidung mancung, bibir yang menggoda, Mata Hitam tanpa ekspresi, dan alis yang tebal, pria yang tampan tapi aura dan element nya hanya kegelapan tidak ada titik harapan.
Bahkan pria itu tidak berkedip memandang nya, tapi ada suara batin dari Achela hingga Clara tidak ingin meladeni atau menghabiskan waktu dengan pria Singgana.
Wush..
Dengan santai Clara memejamkan mata nya dan berpindah tempat menggunakan portal nya tanpa permisi pada pemilik Istana, kembali bertemu Achela diluar Istana yang sudah menunggu nya. Sedang kan Pria Singgana hanya tersenyum melihat kelakuan dari gadis bercadar, bahkan hatinya tidak memiliki amarah apapun tapi justru ada rasa yang sudah lama terkubur dan itu mulai bangkit lagi.
.................. ...
"Ayo Achela Tinggal kan tempat ini, Dia sungguh Pria aneh. " ucap Clara dan membawa Achela pergi dengan portal nya.
*Apakah itu dirimu Peri ku, Aku tidak percaya ini. Apakah kau kembali untuk ku? Tapi dengan tangan ku ini aku membebaskan hidup mu dari dunia untuk selama nya, lalu kenapa aku melihat mu di dalam gadis bercadar itu. Kepergianmu membuat hati ku terkubur tanpa mampu bangkit kembali selama ratusan tahun, siapapun gadis bercadar itu pasti akan ku temukan* ucap Pria Singgana dengan memegang sebuah lukisan tangan seorang wanita.
__ADS_1