
Hari berganti dan kedatangan Pangeran Lars bersamaan di adakannya sidang Istana, dimana semua yang memiliki wewenang dan menjadi tetua, menteri, Ksatria dan sebagai nya berkumpul menjadi satu di dalam aula Kerajaan setelah mendapatkan surat perintah dari Sesepuh Putri Sisilia.
Satu persatu orang-orang berdatangan dan duduk di aula kerajaan yang sudah disulap menjadi ruangan sidang, Meja besar dan panjang sudah terpajang ditengah aula dengan puluhan kursi yang mengelilinginya dengan kursi tahta di ujung meja utara, sidang terbesar yang pernah di lakukan Kerajaan Es. Buah-buahan, minuman dan berbagai makanan kerajaan lain nya sudah tertata rapi diatas meja, pertemuan kali ini memang diadakan dengan alasan jamuan makan malam untuk membahas pernikahan Rencana Pangeran Lars.
Tentu saja Pangeran Lars tidak tahu tentang hal ini dan mengira jika pertemuan diadakan untuk membahas masalah pencurian senjata di Istana nya, hampir semua yang di undang sudah menduduki tempat nya masing-masing. Achela hanya duduk manis di kursi yang jauh dari meja perjamuan, kursi yang sangat empuk itu benar-benar tepat posisinya karena dari tempat nya duduk pintu masuk ke aula ada di depannya meskipun jarak nya lumayan jauh namun dengan bebas Achela bisa melihat siapa saja yang datang.
Ting... Ting... Ting...
Suara dentingan gelas yang di pukul pelan dengan sebuah sendok mengalihkan semua pasang mata ke arah utama, dimana Raja sudah berdiri dan masih memegang gelas di tangannya.
"Salam Untuk Semua nya. Mari kita mulai acara malam ini dengan Jamuan makan malam terlebih dahulu. " seru Raja dan memberikan isyarat pada para pelayan untuk menyajikan makanan utama dan melayani semua tamu tanpa terkecuali.
Tap.. Tap.. Tap..
"Maaf Yang Mulia saya terlambat. " ucap seseorang dan duduk di tempat nya yang masih tersisa setelah Raja membeikan isyarat tidak masalah.
Makan malam pun ber lalu dengan tertib tanpa ada sepatah kata pun, inilah kebiasaan para bangsawan yang selalu menghormati makanan. Namun di sudut sana sepasang mata tajam nan mungil masih mengawasi seseorang yang datang terlambat, wajah yang sama itu yang di tunggu oleh nya dan hanya karena wajah itu lah Achela meminta sesepuh Putri Sisilia mengadakan jamuan makan malam ini.
Tap.. Tap.. Tap..
Seseorang kembali memasuki aula dengan pakaian seorang ksatria, tangannya masih memegang pedang dengan sepatu nya yang terlihat kotor dan ada salju di beberapa bagian pakaian nya itu. Dengan tenang orang itu meminta seorang pelayan untuk menyiapkan satu kursi lagi di dekat sang Raja, semua yang melihat kedatangan orang itu hanya menunduk dan kembali melanjutkan makan.
"Selamat ya Pangeran Lars atas pertunangan anda. " ucap tamu secara berganti an setelah jamuan makan selesai.
"Terimakasih." jawab Pangeran Lars dengan alis terangkat.
*Bukankah semua ini masih rahasia keluarga, lalu kenapa mereka memberikan ucapan selamat. Ada apa ini sebenarnya?* batin Lars sambil tersenyum menanggapi semua ucapan selamat dari tamu jamuan makan malam.
"Meow.. meow.. meow.. " suara manis terdengar di telinga Lars dan beberapa orang yang masih memberikan ucapan selamat.
__ADS_1
"Pangeran, apa kau tidak merindukan Ku? " tanya Sesepuh Putri Sisilia sambil menggendong Achela yang terlihat manja.
"Eh.. Tentu aku merindukan Nenek. Wah manis sekali kucing ini nek. " jawab Pangeran Lars berpura-pura tidak mengenali Achela.
"Sudah lah, tolong jaga Kucing ku. Dan istirahat lah di kamar mu Pangeran, biarkan sidang ini Raja yang memimpin nya. " ucap Sesepuh Putri Sisilia memberikan Achela pada Lars.
"Tapi nek.. Baik lah. " ucap Lars mengalah setelah melihat tatapan tajam dari Achela.
Perjamuan sudah berakhir dan sidang di mulai dengan pengumuman hubungan Pangeran Kerajaan Es dengan Putri Kerajaan Langit dan pembahasan Rencana pernikahan yang membuat semua tamu sidang tersenyum bahagia. Sejenak melupakan masalah yang sedang terjadi dan menikmati kabar bahagia itu dengan kebersaman, sedangkan Pangeran Lars baru saja membersihkan tubuh nya dan berganti pakaian. Duduk di depan perapian yang ada di kamar nya menikmati teh hangat yang sudah disediakan pelayan Istana, sesekali melirik Achela yang tengah sibuk membaca kitab kitab yang tersedia di kamar nya.
"Berhentilah melihat ku Lars! Bagaimana tugas mu? " ucap Achela menutup Kitab di tangannya.
"Ada hasilnya, perjalanan ku berhasil menangkap beberapa orang komplotan pencurian senjata di Istana meskipun beberapa orang lain nya langsung melarikan diri. Bukti juga kami dapatkan 2 peti berukuran sedang penuh dengan berbagai senjata yang baru saja di buat oleh pengrajin senjata, tentu saja aku tahu jika semua senjata itu asli dan baru karena aku sendiri yang memeriksa setiap keluar dan masuk nya persenjataan Istana. Dan tawanan ku sengaja ku tinggalkan di tempat lain nya, agar tidak ada seorang pun yang tahu untuk saat ini, agar nanti setelah mereka sadar aku bisa mencari informasi pengkhianat Kerajaan Ku." ucap Lars.
"Siapa ksatria yang duduk di kursi paling ujung selatan? Dan apa posisinya di Kerajaan ini? " tanya Achela.
"Kenapa memanggilnya paman? " balik tanya Achela.
"Beliau itu awalnya seorang prajurit biasa, namun karena pertolongannya yang menyelamatkan nyawa Bunda dari sebuah aksi Pemberontakan di saat kunjungan ke beberapa desa beberapa puluh tahun lalu akhirnya Ayahanda mengangkatnya menjadi salah satu ksatria penjaga keluarga Kerajaan. Bela diri nya juga sangat hebat, bahkan aku juga salah satu muridnya ketika belum memasuki asrama, makanya aku anggap beliau seperti seorang paman karena seumuran dengan ayahanda terlebih lagi beliau juga menyayangi ku." ucap Lars.
"Pria Ksatria dengan luka goresan di lengan Kiri nya, apakah itu Paman mu? " tanya Achela.
"Iya luka itu karena menyelamatkan Bunda, yah dialah Paman Niel. Tapi kenapa dari semua tamu justru seorang Achela memperhatikan seorang ksatria dibandingkan para menteri? " tanya Pangeran Lars.
"Semua pasti akan ku jawab, tapi lakukan perintah ku tanpa mempertanyakan alasan ku. Semua ini untuk menyelesaikan masalah pengkhianat di Kerajaan Es. " ucap Achela dengan serius.
Hening....
"Lakukan ini Pangeran....." ucap Achela.
__ADS_1
..................
Seseorang memasuki sebuah ruangan yang sangat suram dimana tempat nya berpijak hanya diterangi obor yang tergeletak di dinding, memastikan tidak ada penjaga lain yang menjaga lorong suram itu. Resiko di ambil nya setelah mendengar berita tertangkap nya para pencuri senjata dengan bukti yang sudah di amankan oleh Sesepuh Putri Sisilia, kabar itu membuatnya panik hingga tanpa menunggu lama langsung mendatangi tempat para tawanan disekap. Setelah mengikuti beberapa orang kepecayaan sang Pangeran, orang itu melumpuhkan semua penjaga yang menjaga tempat tersembunyi itu.
Dengan langkah pelan setiap ruangan diperiksa namun hasilnya nihil, tidak di temukan siapa pun di setiap ruangan, hingga ruangan terakhir yang sangat gelap tanpa pencahayaan apa pun. Namun dari semua ruangan hanya ruangan ini yang dipasangi gembok, dalam fikirannya sudah pasti ruangan ini yang menjadi tempat para tawanan disekap, tanpa fikir panjang dengan pedang nya orang itu menebas gembok beberapa kali hingga terlepas dari tempat nya.
Crack..
Sreek.. Whuss..
Ruangan yang awalnya begitu gelap perlahan dapat terlihat karena sebuah obor di nyalakan di ujung sudut sana, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan pandangan mata hingga pandangan pertama terlihat sosok yang sangat di kenalnya namun wajah itu kini menatap nya dengan penuh kebencian dan kekecewaan. Mata yang selalu menyorotkan rasa hormat kini berganti dengan rasa risih menatap tajam dirinya yang masih memegang pedang, ingin rasa nya memeluk sosok itu dan mengatakan semua yang di lihat nya hanya salah paham namun wajah nya sudah jelas mengatakan bahwa sosok itu sudah mengetahui semua nya.
"Siapa Tuan Mu? Ksatria Niel! " seru sosok itu.
Hening...
...******...
.
.
. Hay Reader, author dah usaha up 3 bab setiap hari.. moga kalian setia jadi Reader karya ku ya 🥺
.
.
. Salam dari author, jngn lupa like, comment ma support nya ya, biar author makin cemangat ✌
__ADS_1