
"Setiap orang di dalam ruangan ini memiliki tanggungjawab masing-masing dengan jalan yang berbeda, mari kita mulai pertemuan ini." ucap Clara dengan mengubah posisi duduk nya lebih tegak dari sebelum nya.
"Lady apa rencana anda untuk menyambut perang nanti? Katakan pada kami." ucap seorang sesepuh dari keluarga Kerajaan Api.
"Semua akan menjelaskan dan di mulai dari Pangeran Trish yang akan menjelaskan pertama kali apa tanggungjawab nya, silahkan pangeran." jawab Clara dengan mengalihkan tatapan nya ke pria tampan yang masih dalam keadaan hati nya bercampur aduk.
"Trish! Sadarlah." bisik pria dengan rambut putih panjang di samping Trish.
"Pangeran Trish Illarion!" panggil Clara dengan suara yang di tekan agar suami nya itu sadar dari duka hati nya.
"Maaf, baik lah saya akan menjelaskan jika sebagai perwakilan Kerajaan Api maka saya sendiri akan menjadi ksatria pendamping Lady cristal di medan perang nanti dengan menjadi pasukan sayap kanan. Dan tentu nya dengan pasukan bayangan yang telah di didik oleh Raja Azio ayahanda saya, bukankah begitu Yang Mulia." ucap Trish setelah sadar karena suara Clara yang dingin memasuki gendang telinga nya.
Sungguh hati nya sedang tak menentu setelah insiden keretakan hubungan nya dengan Clara terjadi hingga Clara membawa pergi Viola dan kembali seorang diri. Waktu yang membuat nya tidak bisa bertanya apa yang dilakukan Clara pada Viola, karena setelah Clara kembali langsung membawa dirinya untuk pergi ke pertemuan yang jadwal nya di majukan seakan sesuatu yang besar telah terjadi.
"Sekarang giliran anda Raja Lars." ucap Clara tanpa mengiyakan penjelasan Trish yang membuat Trish menatap Clara dengan sendu.
"Seperti yang anda jelaskan pada saya, pasukan Kerajaan es dengan hewan-hewan suci telah di latih dengan baik dan juga mulai melakukan persiapan untuk perang nanti." ucap Lars dengan tenang, yah saat ini begitu banyak perubahan pada pria yang menjadi Raja baru Kerajaan Es.
"Bagaimana dengan anda Pendeta Dezan? " tanya Clara beralih seperti urutan kursi yang membuat tatapan mata semua orang hanya beralih ke samping. dan begitu seterusnya.
"Bahan-bahan langka dan semua ramuan yang saya ketahui mulai di buat dan diedarkan ke tempat yang sudah anda tetap kan, ditambah para tabib Kerajaan Langit dan para peri juga membantu tugas hamba." jawab Pendeta Dezan dengan serius meskipun hati nya juga masih was-was.
__ADS_1
"Bagaimana pertapa Delion, apa masih ada yang kurang? " tanya Clara yang tahu jika pertapa itu hanya diam tapi selalu memberikan pepatah di dalam hati nya.
"Bagaimana dengan pria yang berambut emas itu? Dan ibu suri Kerajaan Langit?" tanya pertapa Delion tanpa mengalihkan pandangan nya yang hanya terpaku pada Clara.
"Saya hanya ksatria di dalam istana langit dan tugas saya mengumpulkan pasukan di seluruh wilayah kerajaan yang tidak terjangkau oleh kerajaan Api ataupun kerajaan Es. Dan di dalam perang nanti saya akan memimpin pasukan kerajaan langit dan menjadi pendamping Tuan putri Starla yang menjadi pasukan sayap kiri lady cristal." jawab Ksatria Lulu karena yang di maksud pertapa Delion adalah diri nya.
"Ibu suri memiliki tugas yang anda tahu itu tidak bisa di jelaskan oleh ku ataupun anda sendiri, alam yang menentukannya. Termasuk rencana ku akan gagal dengan sendiri nya jika alam tidak merestui ku, pertemuan ini adalah pertemuan terakhir kita karena pertemuan berikutnya hanya Tuhan yang tahu." ucap Clara yang memang sudah memberikan pesan pada neneknya agar menyimak saja di dalam pertemuan.
Sebagai seorang juru kunci tempat terlahir nya dunia baru maka tanggungjawab nya yang utama adalah tetap selamat kecuali tanggungjawab nya itu secara sah di serahkan ke dalam garis keturunan nya yang bisa menyerap energi tersembunyi dari ibu suri untuk membuka dunia baru dimana makhluk-makhluk dari seluruh penjuru dengan berbagai klan dan usia telah menjadi bagian dunia baru yang masih dalam pembentukan.
"Hanya Tuhan yang akan membuat keputusan, bagaimana dengan persiapan anda sendiri Yang Mulia?" tanya pertapa Delion dengan sebuah senyuman penuh arti.
Senyuman yang membuat para pria tampan salah tingkah di saat situasi tidak ada yang mendukung, tapi semua hati terabaikan oleh Clara. Bagi nya melepaskan hati lebih cepat lebih baik karena apapun yang terjadi nanti hanya diri nya dengan takdir Tuhan yang tahu, Clara tahu jika pertapa Delion masih belum sanggup menyelami dalam nya lautan di dalam jiwa murni nya.
Harus kah dirinya bersyukur? Atau justru mengeluh? Dengan jiwa murni yang kini sudah sepenuhnya menguasai raga nya membuat nya bisa menggunakan semua kekuatan tanpa batasan, bahkan kedipan mata nya bisa menghancurkan alam jika kemarahan memasuki hati nya. Dirinya bagaikan berkat dan juga kutukan dimana hanya dirinya yang bisa mengendalikan untuk menyelamatkan alam atau menghancurkan alam, tapi tanggungjawab hubungan juga tak mungkin dilepaskan begitu saja membuat nya berjalan dengan langkah pelan namun tepat sasaran.
Sebagai jiwa murni dirinya juga menjadi dewi keadilan seperti pada kejadian Viola dan Trish, dirinya tidak bisa bertindak apapun selama kesalahan seseorang masih bisa di berikan sebuah kesempatan. Dengan membawa Viola pada raja Zack dan kedua makhluk itu memilih hidup bersama maka Clara memberikan satu kesempatan demi batu permata ular biru yang memang harus tetap terjaga, dan mendiamkan Trish karena waktu pertemuan harus di majukan dengan rasa sakit di dalam raga nya.
"Pertapa Delion akan menjelaskan titik mana yang akan kalian tempati saat perang akan di mulai, silahkan pertapa." ucap Clara setelah membiarkan keheningan sesaat.
"Clara." panggil Trish yang melihat istri nya meninggalkan tempat nya duduk.
__ADS_1
"Tidak sekarang pangeran, aku tunggu di istana api." ucap Clara dan tetap melanjutkan langkah kaki nya.
"Pertapa Delion akan mengantarmu setelah pertemuan berakhir." ucap Clara lagi sebelum mencapai pintu masuk.
Clara tahu jika Trish memang tidak bisa menggunakan teleportasi apalagi portal karena hak istimewa itu masih milik raja Azio ayahanda Trish maka raja Argus tidak bisa menggunakan kekuatan nya selama Trish tidak memiliki hak istimewa itu, begitu pula dengan Starla adik nya sendiri. Kembaran nya itu tidak bisa menggunakan teleportasi apalagi portal karena hak istimewa itu diwariskan pada Clara dan sebagai pemilik jiwa murni yang jiwa nya tersegel selama puluhan tahun membuat Clara bekerja keras untuk menyeimbangkan raga jiwa dan juga kekuatan nya yang berkembang pesat dalam waktu singkat.
Kepergian Clara membuat pertemuan kembali di lanjutkan dengan pertapa Delion sebagai pondasi utama nya, sedangkan Clara menikmati tunas baru di hutan ajaib dengan beberapa kuncup daun emas yang mulai menutupi dahan meskipun masih sangat sedikit.
Sejauh mata memandang hanya ada tumpukan daun emas yang sudah layu dan mulai melebur ke tanah hutan ajaib dan berganti dengan kuncup daun di atas sana, perisai yang perlahan membaik setiap kali tunas baru muncul membuat hutan ajaib perlahan memiliki aura sihir nya kembali. Langkah nya berhenti di depan sebuah pondok yang membuat kenangan nya meninggalkan sedikit rasa sedih dengan takdir yang selalu memberikan pilihan sulit untuk nya, pondok yang membuat nya memiliki pendamping yang menggemaskan dengan kesetiaan yang mampu menyentuh relung hati nya.
"Jika dia berarti kenapa memisahkan takdir mu dari nya? " tanya seseorang dari belakang Clara.
Suara yang masih di kenali oleh Clara dan tanpa berpaling Clara mengangkat tangan kanan nya menerbangkan beberapa helai daun emas yang terbang menutupi atap pondok di depan nya.
"Seperti daun itu gugur tanpa menyisakan satu kuncup pun, begitu lah jalan takdir ku. Lalu kenapa anda masih bertahan hidup hingga ratusan tahun? Bukan kah Tuhan memberikan anda waktu untuk memenuhi janji anda? " jawab Clara dan melepaskan daun emas agar terjatuh ke tanah tempat nya berpijak.
"Jiwa murni, yah anda benar Yang Mulia." jawab orang di belakang Clara tanpa membantah perkataan Clara sedikit pun.
"Begitu juga Achela, Takdirnya bukan berakhir bersama ku." ucap Clara dan menghilang menggunakan teleportasi nya.
"Alam tahu anda kesepian di dalam badai ini, janji itu yang membawa ku tetap bertahan." batin seseorang dengan menatap sendu pondok di depan nya.
__ADS_1