
Tanpa menunda, Clara berpindah tempat bersama Ibu suri. Pintu dimensi yang membuat cahaya perak dan emas mulai samar terlihat mengelilingi tempat rahasia Raja terdahulu.
"Masuklah nek. Hanya nenek yang bisa masuk," ucap Clara dengan lembut.
"Bukankah kamu bisa masuk?" tanya Ibu Suri.
"Waktu tidak berpihak pada ku. Cukup teteskan darah nenek di atas bunga berdaun hitam. Apapun yang nenek lihat, biarkan menjadi rahasia."
Clara mempersilahkan Ibu suri untuk melakukan tugas dari takdir. Tanpa bantahan, ibu suri membuka pintu dimensi dan menghilang dibalik udara.
Maafkan Clara sekali lagi. Semoga jalan takdir mempertemukan kita kembali. ~ batin Clara dan menyerap sihir dari pintu dimensi manual milik Ibu suri.
"Apa anda tidak merasa kesepian?" tanya Ailey.
Clara tersenyum. Menatap Ailey dengan tatapan dalam, Ailey menundukkan pandangan matanya. "Hal terberat adalah berpisah dari keluarga. Bukankah rasa sakit itu nyata? Aku sama seperti mu, harus mengorbankan keluarga. Jangan berfikir aku kuat. Pada kenyataannya, aku juga memiliki hati yang hancur tanpa sandaran."
__ADS_1
"Maaf." cicit Ailey dengan tulus.
Clara mengambil tangan Ailey, mengusap tangan Ailey dengan sepenuh hati. "Jalan terlalu terjal. Apakah tangan ini siap menjadi penopang? Ailey aku bisa sendiri. Fikirkan sekali lagi tentang niat hatimu."
"Apa kita bisa melanjutkan perjalanan? Bukankah waktu sangatlah berharga untuk anda, Lady Cristal." Ailey tahu Clara mencoba menyingkirkan dirinya.
"Ayo. Waktunya melepaskan amarah alam." ucap Clara dan membuka satu portal dimensi.
Dari tempat Clara dan Ailey, jelas suara-suara mengerikan menyambut memasuki gendang telinga kedua wanita itu. Ailey mengulurkan tangan kanannya dan disambut Clara dengan senyuman. Langkah keduanya beriringan menghilang di kabut putih tanpa keraguan.
Suara bergantian dengan rasa sesak mendadak mengepung Clara dan Ailey. Meskipun tidak ada yang menyadari kehadiran kedua wanita itu, tapi makhluk dimensi lain. Para monster dan penghuni neraka seakan datang, karena memenuhi panggilan. Belenggu benang hitam dengan sinar merah menyala terlihat sangat jelas di leher para makhluk tak berjiwa.
"Ini apa?" tanya Ailey dengan mata membulat sempurna.
Tak.. (Satu hentakan kaki kanan Clara mampu menghentikan waktu di alam kegelapan)
__ADS_1
"Inilah belenggu jiwa kegelapan. Benang itu lebih kecil dari sehelai rambut kita, tapi benang itu yang akan menjadi kendali Raja kegelapan selama perang." jelas Clara membuat Ailey takjub.
Tangan Ailey mencoba menyentuh benang belenggu jiwa kegelapan. Clara menarik tangan Ailey dengan cepat. "Sekuat apapun dirimu. Menyentuh belenggu jiwa kegelapan bukanlah hal baik. Jiwamu akan tersesat tanpa jalan pulang!"
"Lalu, apa tujuan anda ke tempat yang tak menerima kehadiran kita?" tanya Ailey dengan mata sendunya.
Tangan Clara menunjuk ke arah langit, dimana awan gelap dengan petir merah yang menyambar setiap lima belas menit sekali. Ailey masih tidak memahami apa tujuan Clara. "Bawa itu ke dalam istana dan pastikan sampai di tempat yang tepat."
Ailey merasakan sesuatu muncul dari telapak tangan kanannya. Benar saja! Batu sihir pelangi sudah berpindah tempat dengan satu kedipan mata Clara.
"Bukankah ini?" tanya Ailey dengan bimbang.
Clara memeluk Ailey. "Alam memiliki rencananya sendiri! Kita hanya perlu melakukan bagian takdir kita sendiri. Pergilah!"
Seakan memahami ucapan Clara, Ailey mulai melangkahkan kakinya menjauhi Clara dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
Seperti malam membutuhkan rembulan. Siang pun membutuhkan mataharinya. Kita hanyalah boneka di atas panggung sandiwara sang Pencipta." batin Clara.