The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Takdir Mata Alam


__ADS_3

Dengan penuh kasih sayang, Raja Lucas mengelus kepala Clara. "Katakan! Ayahanda hanya memiliki nyawa, ketika perang sudah dipastikan. Maka tak ada hal lain lagi yang bisa diberikan."


"Clara ingin pengorbanan ayahanda. Apakah ayahanda siap?" Clara mengangkat kepalanya dan menatap sang Raja.


Senyuman tulus dari Raja Lucas sungguh menusuk hati Clara, akan tetapi takdir selalu menjadi jalan hidup Clara. Menyembuhkan atau menghancurkan, Clara melakukan semua itu demi benang takdir. Sejenak ingatan Clara berkelana, bagaimana kehidupannya sebelum dan sesudah menjadi putri Kerajaan Langit. Bukan hanya takdir yang rumit, waktu pun menjadi pengkhianatan terbesar dalam hidupnya.


Kini demi mencapai tujuannya, satu langkah terakhir harus dilakukan Clara. Senyuman tulus Raja Lucas, membuat hati Clara tak sanggup mengucapkan kata yang pasti menggoyahkan hati sang ayahanda. Tangan Raja Lucas beralih mengusap pipi Clara, perlahan mendekatkan wajahnya untuk memberikan kecupan sayang di dahi sang putri.


Cup…..


"Apapun untukmu putriku. Jika pengorbanan ku bisa memudahkan tanggungjawab putriku, aku siap berkorban." tukas Raja Lucas tanpa ragu.


Clara bangun dari tempatnya bersimpuh, mengulurkan tangan kanannya. Raja Lucas menyambut uluran tangan putrinya dengan binar mata kebahagiaan, didalam hatinya bersyukur sang putri mau berbagi tanggungjawab menyelamatkan alam. Langkah kaki Clara menuju menara utama Istana Kerajaan Langit, tentu saja berpindah tempat menggunakan pintu dimensi.


Menara utama, menjadi menara tertinggi dengan arah mata angin. Dari tempat itu, maka setiap alam atas, tengah ataupun bawah bisa terjangkau. Inilah yang menjadikan Kerajaan Langit memiliki sihir dan kekuatan lebih dari Kerajaan lainnya. Hembusan angin menerpa wajah Clara dan Raja Lucas, rambut panjang keduanya terbang mengikuti kemana arah pergi. Clara melepaskan tangan sang ayah dan menatap satu titik dengan mata kerinduan, mata batin Clara menembus dimensi waktu ilusi.

__ADS_1


"Nak? Ada apa?" tanya Raja Lucas yang melihat cairan bening menetes dari kelopak mata sang putri.


Clara menghapus air matanya, dan membuka awan putih yang berselimut disetiap penjuru melalui fikirannya. Kini awan putih menghilang dari pandangan, Clara berbalik menatap Raja Lucas. "Kerajaan Langit adalah inti dari alam atas dan bawah. Kehilangan kekuatan memang sudah takdir anda Yang Mulia, kini tugas anda menjadi mata. Mata seluruh alam, menara ini akan memenjarakan anda. Melalui mata batin, sejarah akan tertulis dengan tinta darah. Awal menjadi akhir dan akhir menjadi awal. Andalah sang mata takdir."


"Perang akan terjadi, tapi tangan dan kaki anda tak mampu menggapainya. Setiap luka, jeritan, duka, darah dan kepergian, menjadi milik anda. Hati anda akan hancur tak bersisa, akan tetapi mata batin tak akan berhenti melihat seluruh kehancuran alam. Apakah anda siap menjadi mata alam?" Clara mengeluarkan kitab sucinya dari ruangan tanpa batas.


Raja Lucas bisa merasakan luka dari setiap kata yang terucap di bibir putrinya, beban tak bersayap membuat Clara tegar tanpa emosi menggebu-gebu. Ucapan Clara bagaikan anak panas terlepas dari busurnya, tak mungkin ditarik kembali. "Aku siap menjadi mata alam, ayahanda percaya Tuhan memberikan takdir ini karena Tuhan tahu bahu ayah sanggup menanggungnya.''


"Segel Alam*


Sejenak Raja Lucas memastikan penglihatannya, terlihat gerombolan monster dengan satu pemimpin bak dewi memasuki alam bawah. Disisi lain terlihat Ksatria Lulu bersama pasukan khusus dari berbagai klan siap menerima penyerangan lawan, kedua kubu hampir berhadapan. Di tempat lain terlihat sang menantu bersama pasukan bayangan dengan pendamping jiwa naga, pertapa Dezan pun sudah siap dengan penampilan seorang Ksatria.


"Semua yang anda lihat adalah nyata. Perang akan dimulai, dan ini tanggungjawab anda mengabadikan setiap jeritan, duka, kehilangan melalui darah pengorbanan seluruh alam. Perang ini bukan kebenaran yang berkorban, tipu muslihat pun berkorban. Inilah Perang Alam.''


Dengan satu kedipan mata, Clara berpindah tempat. Kini Clara berdiri di luar perisai menara utama. "Selamat tinggal ayahanda, maafkan Clara memberikan duka tanpa ujung.''

__ADS_1


*Perisai blind Cahaya Suci*


Sinar biru mata Clara menyelimuti perisai menara utama, kini kehancuran alam menjadi abadi. Abadi dalam lautan darah dan pengorbanan, Raja Lucas bisa mendengar apa yang Clara ucapkan. "Selamat berjuang, doa ayahanda selalu menyertai kalian."


Wuuusshh….


Clara menghilang seperti butiran debu, meninggalkan raja Lucas dalam penjara cahaya suci. Setiap alam bergetar merasakan alam tengah berduka. Dalam kegelapan dan cahaya, alam menyatu tanpa sekat. Badai ilusi menyelimuti kebenaran, para monster bergerak dan para penghuni ketiga alam bersiap menerima penyerangan.


Di tempat lain, sosok kegelapan masih berusaha keluar dari jerat benang yang melemahkan dan menyegel kekuatannya. Hingga sinar terang turun dari atas. Satu bayangan dengan rambut panjang terayun mempesona muncul dan membuat sosok itu menutupi kedua mata menggunakan lengannya. Langkah kakinya terlalu ringan dengan aura kemurnian, tingkatan sihir di atas para dewa dewi. Harum nirwana menyergap memenuhi aula kegelapan yang telah berganti menjadi aula cahaya.


"Lepaskan ambisi anda! Apakah pantas alam menanggung dosa anda? Bukankah anda juga berasal dari alam."


Suara lembut namun berat, ketegasan yang menyebarkan aura kepemimpinan. Sosok itu menurunkan lengannya, menatap bayangan berselimut kabut cahaya. "Apakah alam akan memberikan yang kuinginkan? Alam hanya melihat penderitaan ku tanpa henti, salahkah jika aku menuntut keadilan?"


"Keadilan atau ambisi? Alam berulang kali memberikan anda kesempatan, kenapa anda mengingkari itu?"

__ADS_1


__ADS_2