The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Persemayaman Sang Penyihir


__ADS_3

Tanpa menunggu izin dari pemilik Pondok, Achela langsung memasuki pondok itu namun orang yang dituju masih dalam meditasinya, fikiran nya semakin gelisah meninggalkan tuannya yang sudah tak bernyawa.


"Sadarlah Tuan. Tuanku membutuhkan anda. " seru Achela .


"Tuan... Tuan.. " seru Achela dan menyentuh lutut orang yang masih bermeditasi itu.


Merasakan sentuhan ditubuh, dirinya menghentikan meditasinya dan perlahan membuka mata nya, melihat Achela dalam sikap gelisah membuat dirinya heran apa lagi tidak ada sosok yang biasa bersama Hewan Suci itu.


"Syukurlah, Tuan tolong bantu aku memberikan Peristirahatan terakhir untuk Tuanku. " ucap Achela dengan buru-buru.


"Hah! Apa? " jawab orang itu yang masih menyesuaikan setelah meditasinya.


"Penyihir Calista telah meninggalkan dunia dan meninggalkan ku sendiri an. " jawab Achela dengan gemetar mengingat bagaimana kondisi tuannya saat ini.


"Jangan bercanda Achela!" Seru orang itu.


"Tunggu,Achela kamu bisa berbicara sekarang? " ucap orang itu yang baru menyadari jika Hewan Suci itu berbicara dengan nya padahal selama ini Achela tidak bisa berbicara seperti manusia.


"Lupa kan itu Tuan. Bantu aku menyemayamkan Penyihir Calista terlebih dulu, semakin lama disini, aku takut akan ada musuh yang mengambil raga nya untuk hal buruk. " jawab Achela dengan serius.


Orang itu hanya mengangguk tanpa menunggu lama dirinya bangkit dan berjalan ke sebuah tempat dibelakang pondok nya ada sebuah jalan memasuki hutan, hutan itu masih masuk wilayah Pertapa an. Achela hanya mengikuti kemana pun Tuan itu berjalan hingga berhenti di sebuah pohon besar yang memiliki cabang pohon melingkar, akar pohon yang menjuntai menambah kesan seberapa tua pohon itu berdiri di tempat itu.

__ADS_1


"Di mana Penyihir Calista saat ini Achela? " tanya orang itu setelah berdiri didepan pohon besar.


"Itu.. Tuan. " jawab Achela sedikit ragu.


"Cepat lah, Jika benar Penyihir Calista sudah tiaada, akan sangat berbahaya jika raga nya tidak disemayamkan di tempat seharusnya. " ucap orang itu dengan khawatir.


"Peristirahatan Sang Naga, Tuan. " jawab Achela yang jelas tidak mau terjadi hal buruk pada raga tuannya meski sudah tak bernyawa.


Perlahan orang itu menarik akar yang menggantung dari dahan dan membelitkan ke telapak tangannya, setiap gerakannya seperti sudah terbiasa.


"Ayo kemari! " perintah orang itu berjongkok di depan Achela, merentangkan tangan satu nya agar Achela mau di gendong didepan, Achela hanya mengikuti perintah tanpa menjawab, dan orang itu perlahan mendekati cabang pohon yang berbentuk lingkaran.


*Terbang lah* ucap orang itu setelah duduk di cabang pohon yang berbentuk lingkaran.


Hap.. (Orang itu melompat tepat setelah cabang berhenti bergerak)


Kabur perlahan memudar dan perlahan menyesuaikan penglihatan di sekitar nya, hijau sepanjang mata memandang dan hanya gua yang tidak hijau. Achela langsung melompat dari pelukan orang itu dan berlari memasuki pintu gua diikuti oleh orang itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi Achela! Bagaimana bisa seburuk ini? " tanya orang itu sangat dingin setelah memeriksa keadaan Penyihir Calista yang sudah tak Bernyawa tapi setiap luka nya masih bisa di kenali.


"Maaf Tuan, seseungguhnya...... " ucap Achela yang dengan rinci menjelaskan Kejadiannya, meski dirinya belum mengatakan tentang Kitab Suci Cristal of life, tapi hanya menjelaskan dirinya di perintah kan untuk melakukan tugas dan meninggalkan Tuannya di pondok, hingga bertemu di gua dan ber akhirnya Penyihir Calista.

__ADS_1


"Kita bahas itu nanti. Sekarang pergi lah ke Gunung Utara dan aku akan membawa Raga Penyihir Calista kesana juga, tapi pulang lah ke pondok dan ambil ramuan untuk bisa menetralisir aura Penyihir Calista , agar tidak seorang pun yang menyalah gunakan raganya. " ucap orang itu dengan tegas, wajahnya terlihat sendu karena kepergiaan Penyihir Calista namun tak setetes air mata pun jatuh dari mata nya, dari sorot mata nya ada rasa kehilangan begitu dalam.


"Cepat lah Achela! " perintah orang itu yang melihat Achela diam menatap dirinya dan Penyihir Calista.


Achela segera terbang keluar dari tempat itu namun fikiran nya semakin kalut, bagaimana dirinya dalam waktu singkat menjadi memiliki kekuatan yang selama ini hanya seperti mimpi namun di saat bersamaan harus kehilangan satu-satunya orang yang menerima dirinya sepenuh hati.


"Apa aku tidak pantas untuk mu Calista, Rahasia yang selalu menjadi teka-teki. Takdir macam apa? Sang Peramal sudah dikorbankan. " gumam orang itu memeluk Raga Penyihir Calista dengan erat.


"Akan ku berikan tempat terindah dan terbaik untukmu. Ini lah waktu mu beristirahat Calista, Sungguh menjadi bagian hidup mu adalah hal terbaik di hidupku. " ucap orang itu menyeka air mata nya dan dengan hati-hati menggendong Raga Penyihir Calista yang sudah tak berdaya dengan bermandikan darah, bau amis tak menyurutkan orang itu memeluk Calista agar tidak terjatuh dari gendongannya.


...................


Cukup lama Achela harus terbang agar terbiasa namun saat akhirnya tiba di depan pondok, semua kenangan manisnya bersama Penyihir Calista berkeliaran layaknya baru terjadi kemarin. Akhirnya air mata menetes tanpa disadari, perlahan memasuki pondok yang selama ini menjadi tempat tinggal nya, rasa nya sangat sunyi namun mata nya kini tertuju pada pisau dan darah yang berceceran di lantai, darah itu semakin mengoreskan luka bagi dirinya, ntah seberapa kuat nya tuannya itu berjuang hidup setelah penyiksaan yang di alami nya, belum lagi tuannya itu sudah kehilangan banyak kekuatan sebelum penyiksaan, dalam perasaan yang menghancurkan hatinya Achela menatap pisau itu penuh dengan amarah.


"Akan ku balas siapapun pembunuh Tuanku dengan pisau nya sendiri. " sumpah Achela dalam kemarahan nya.


Tubuh nya menghempaskan cahaya emas, semakin amarahnya bertambah, tubuh nya semakin melepaskan cahaya emas hingga tubuh Achela menjadi lemah secara perlahan, di saat bersamaan sebuah sinar menerobos lubang peti yang tersimpan di sudut ruangan, cahaya nya tepat menyilaukan mata Achela, dan mengalihkan kemarahan Achela . Tanpa disadari Achela cahaya emas yang terhempas kembali memasuki tubuh nya yang perlahan kehilangan kemarahan nya, sinar dari kunci peti itu semakin terang ketika Achela semakin mendekati, perlahan Achela ingin menyentuh peti itu namun jika di lihat kunci peti itu seperti seukuran kakinya, tanpa fikir panjang Achela memasukkan kakinya ke dalam lubang kunci.


kreek, kreteek... (suara dari dalam seperti sebuah pergerakan berputar benda)


Dengan cepat Achela menarik kakinya dan di saat bersamaan peti terbuka menerbangkan sebuah Kitab yang terselimuti cahaya emas, Kitab itu mendekati Achela , seakan tubuh nya memiliki ikatan dengan kitab itu hingga tubuh Achela terbang terselimuti cahaya emas di dalam kesatuan bersama kitab.

__ADS_1


......................


Gunung yang menjulang tinggi, dipenuhi dengan banyak pepohonan dan segala keindahan dan kehidupan alam, seseorang yang masih menggendong dengan pelukan erat nya. Perjalanan tentu saja tidak dengan berjalan kaki, karena untuk menuju ke tujuannya harus lah dengan portal dari beberapa tempat hingga akhirnya dirinya berdiri diantara rimbunnya pepohonan. Sejauh mata memandang hanya ada rimbunnya pepohonan yang berdiri tegap tanpa halangan,tapi disini lah tujuannya, yah tidak salah lagi di dekat puncak dan kaki Gunung itu lah tujuannya.


__ADS_2