The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu

The Last Sky Kingdom Twin Princess Takdir Ku Milik Mu
Sang Waktu


__ADS_3

"Tuan apa ini.... " ucap seseorang dengan bola mata yang berbinar dan hendak meloncat menghampiri apa yang di temukannya.


"Awas!" seru partner nya dengan menarik tubuh kecil itu berguling di atas pasir.


Kraaak... Buuum.. buuum..


Suara patahan dengan jatuh nya benda seperti bintang di atas langit mengakibatkan dentuman yang cukup menggetarkan tempat nya berpijak, untung saja dirinya segera menarik tubuh mungil pendamping nya yang suka nya main serobot. Setelah beberapa saat getaran pun berakhir, dari kepulan pasir terlihat sebuah peti dengan ukuran sedang yang hanya cukup untuk satu bola cristal.


Peti itu terlihat mengeluarkan secercah cahaya dari dalam menembus lubang kunci yang ada ditengah, dengan perlahan dirinya mendekati peti itu. Langkahnya semakin mendekat dan peti itu seakan memiliki daya tarik dengan kehadirannya, perlahan peti pun ikut terbuka menambahkan sinar cahaya yang kian terlihat jelas.


Silau untuk sesaat namun cahaya itu hilang dengan memperlihatkan sebuah benda yang memang di inginkan oleh dirinya, benda itulah yang akan menjadi perhitungan waktu mulai saat jemari nya menyentuh benda itu.



"Tuan apakah ini? " tanya sosok mungil yang terbang di samping nya.


"Iya Achela, inilah Sang Waktu." ucap Clara dan memasukkan benda itu ke dalam ruangan tanpa batas nya.


Di depan kedua nya ada sebuah pintu terbuka yang sudah pasti adalah pintu keluar, tanpa menunggu lama keduanya pergi meninggalkan tempat yang baru saja setengah hancur karena ulah pendamping nya itu. Langkah kaki itu berpindah tanpa putaran layaknya portal melainkan hanya seperti melewati sebuah garis tipis yang setipis kertas, perpindahan keduanya membuat sosok di atas sana ikut tenggelam terjatuh ke dalam tanpa persiapan.


Bruuuug... Aaargh..


"Si@l, setelah ratusan kali baru saja aku masuk ke tempat terkutuk ini dengan korban wajahku." gerutu sosok itu mengelus wajahnya yang mencium ntah apa namun rasa nya panas.


Di amati nya tempat nya berpijak, gelap dan hening seakan menyiratkan kehidupannya.


*Bola Api* ucap nya dan satu bola api muncul di tangannya.


"Aku akan berkeliling." ucap nya dengan menyusuri tempat itu tanpa arah.


Meninggalkan nasib sosok asing itu, kini Clara dan Achela telah kembali ke sisi dua makhluk yang di tinggal kan keduanya. Dengan benang cahaya keduanya mengikat kedua makhluk itu dan saling memberikan isyarat untuk meninggalkan tempat itu tanpa Cristal Kehidupan karena sekali Piramida sang Pintu Waktu terbuka maka tidak bisa tertutup selain lenyap di telan alam.

__ADS_1


Wuuushh...


Puk... puk... puk..


"Bangunlah." ucap Clara pelan sembari menepuk pipi cleo dengan lembut sedangkan urusan satu makhluk lagi adalah urusan Achela.


Byuuur....


"Haap..haap.. dimana adikku? Ghea bertahanlah,.. " seru makhluk satu itu dengan nafas tersenggal akibat guyuran air.


"Das@r elf tidur tidak tahu tempat! Ayo cepat bangun biar bisa menyelamatkan adikmu." sindir Achela acuh tak acuh setelah menyiram tubuh Giel yang bersinar perak dengan air melalui sihir udara nya.


"Kenapa wajah dan rambutku basah? Apa disini ada hujan." tanya Giel dengan bingung.


"Ekhem! Kalian bisakah bekerja sama, Achela bawa dia ke tempat itu." perintah Clara tanpa mengalihkan pandangannya dari cleo.


"Lady Cristal apakah dia baik-baik saja? " tanya Giel yang melihat Cleo masih enggan bangun dan terlihat seperti sedang menikmati tidurnya.


*Pergilah Achela, aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan gadis ini.* ucap Clara dengan batinnya.


*Apa tanpa anda tuan? Ritual itu.. * jawab Achela dengan batinnya.


*Aku akan datang disaat yang tepat, pastikan saja jaga penyihir tingkat dewa ini yang pasti akan bertindak dengan emosi.* ucap Clara dengan batinnya memotong ucapan Achela.


Wuusshh...


Tanpa menjawab, kucing manis itu terbang mendekati Giel dan langsung menyambar tubuh pria itu dengan portal nya, meninggalkan Clara yang kini menatap serius wajah gadis di depannya. Sekilas jika dilihat gadis itu seperti dalam keadaan tertidur, tapi jika yang dapat melihat ke dalam pasti tidak akan menemukan jiwanya.


Jiwa gadis itu tengah mengembara ke sebuah tempat yang memang sudah takdirnya, terdengar satu helaan nafas yang membuat seorang gadis berjiwa murni kembali mengingat siapapun dirinya tetaplah sang Pencipta yang membuat skenario terbaik di atas skenario para lakon nya.


"Aku sudah berusaha dengan menjauhkan mu dari jarak yang ku fikir aman, tapi benang itu terpatri di dalam jantung mu. Setelah gerhana putih, aku akan menyusul mu dan membawa kembali jiwa mu." ucap Clara dan menggenggam tangan Cleo dengan mengalirkan element cahaya nya sebagai perlindungan jiwa dan raga gadis itu selama terpisah.

__ADS_1


Wuusssh...


Dengan berpindah nya dirinya bersama satu putri tidur ke sebuah tempat yang tidak asing, tempat yang di penuhi dengan makhluk bersayap mungil dengan bunga cahaya bertebaran di setiap penjuru. Yah itulah hutan cahaya tempat para peri, setelah memastikan semua nya memahami apa yang di inginkan Clara akhirnya Clara kembali menghilang menuju tempat yang akan mempengaruhi jiwa nya sendiri.


Sebuah lingkaran yang mencakup wilayah hutan larangan kini telah berubah menjadi deburan abu dengan kilatan petir api, simbol rasi bintang sekali lagi terlukis jelas di atas langit. Sebuah tempat pembaringan dengan kain sutra berlapis emas tengah menahan beban seorang gadis dengan balutan selembar kain merah semerah darah, terlihat penjagaan itu mengelilingi tempat pembaringan dengan penuh kewaspadaan.


Kemunculan satu sosok dengan pakaian ksatria dari titik terbentuk nya lingkaran membuat para penjaga sejenak berbaris dan memberikan hormat sebelum kembali ke tempat semula dimana waktu sesaat itu bisa membuat beberapa pasang mata melihat jelas sosok di atas pembaringan.


"Bertahanlah Ghea." cicit satu sosok dengan menahan kepalan tangannya.


Jika bukan karena mengingat sosok di depan sana adalah pria yang memiliki kekuatan luar biasa dan bukan pula atas peringatan master nya untuk bertindak cerdas sudah pasti saat ini dirinya akan berlari menyongsong adiknya yang tengah terbaring tanpa membuka mata nya.


*Sampai kapan aku harus disini, aku ingin melindungi adikku.* batin sosok itu dengan hati yang terluka.


*Kesabaran juga kemenangan sejati, bersabarlah.* jawab batin seseorang yang membuat sosok itu diam.


Kini hanya bisa menjadi penonton sebelum pertunjukkan di mulai, terlihat perubahan mulai terjadi dari atas sana. Rasi bintang itu seakan semakin bersinar dengan datangnya sinar rembulan gerhana putih di atas langit, menembus kegelapan yang tercipta dari ritual.


"Akhirnya waktu nya tiba, pergilah kalian." seru ksatria itu dan dipatuhi oleh setiap penjaga.


*Kalian pergilah hadapi para penjaga.* perintah seseorang dari batinnya untuk dua makhluk dalam kubu nya.


*Lady bukankah ini berbahaya.* ucap batin pendamping nya yang enggan meninggalkan tuannya.


*Perintah ku mutlak. Kuharap kau tidak lupa itu Achela. * ucap batin Clara memberi peringatan.


*Seperti perintah anda Yang Mulia." jawab batin Achela dengan pasrah menghilang bersama makhluk di sampingnya untuk menghadapi penjaga yang pasti saat ini menjaga setiap lingkaran ritual dari luar.


Kepergian Achela dan Giel membuat dirinya menampakkan diri di antara pekatnya kegelapan yang mulai ter sinari, dengan langkah yang pasti siluet tubuhnya mulai tampak hingga membuat sosok di depan sana teralihkan menatap kehadirannya. Terlihat jelas sosok itu menerbitkan sebuah garis senyuman ketika dapat melihat wajah siluet yang menarik perhatiannya, namun tubuh sosok itu tidak bergerak dari tempat nya sedikitpun meskipun ada raut wajah yang seakan siap terbang menyambut kehadiran tamu tak diundang.


"Bergabung? Atau? " ucap sosok itu dengan senyuman yang tak di pudar kan.

__ADS_1


__ADS_2