
Trish sedang mondar-mandir di hutan menunggu kedatangan pujaannya, seperti tidak sabar dengan apa yang akan dibicarakan oleh gadis itu.
"Pangeran hentikan itu! Pusing hamba melihat anda menghaluskan jalan yang sama. " ucap Pengawal nya yang kesal melihat tingkah Tuannya.
"Kenapa dia belum datang? Apa berubah fikiran nya untuk menemuiku.. Ah jangan berfikir seperti itu Trish. " gumam Trish menarik rambutnya kasar.
Pengawal yang merasa diabaikan semakin kesal karena Pangeran seperti menulikan pendengarannya, namun di sisi lain dirinya melihat seorang gadis yang baru muncul dari sebuah portal dan hendak memanggil Tuannya.
"Apa aku harus diam dan pergi? " batin pengawal itu yang melihat gadis itu memberikan isyarat untuk meninggalkan Tuannya dengan senyuman.
"Ehem." suara deheman pelan tetap tidak menggoyahkan tingkah Trish.
Melihat kelakuan Trish yang membuat Clara menahan senyum karena saat ini Trish bahkan masih belum sadar dirinya sudah datang. Perlahan Clara mendekati Trish yang masih mondar-mandir dan semakin mendekat.
Brugh...
Hap...
"Ehem." ucap Clara mencoba menyadarkan Trish yang masih memeluknya.
Clara yang semakin mendekati Trish harus menabrak Pangeran itu karena Trish tiba-tiba berbalik ke arahnya, untung saja Trish reflek untuk menangkap tubuhnya yang hampir jatuh, pandangan mata yang tidak bisa dihindari, semakin dalam tatapan matanya menyiratkan keinginan yang terpendam.
"Tuan Putri aku fikir anda berubah fikiran. " tanya Trish setelah membantu Clara berdiri lagi.
"Hmm.Mau lanjutkan yang tadi atau bicara bersama ku? " tanya Clara tanpa menjawab pertanyaan Trish.
"Eh.. Aku tidak sengaja Maaf. " ucap Trish yang merasa bersalah menabrak pujaannya.
"Hmm." jawab Clara.
"Apa ini mimpi? Tuan Putri benar-benar ingin bertemu denganku? " tanya Trish yang masih tidak percaya dengan penglihatan didepannya.
"Hachiin." suara bersin kecil tiba-tiba membuyarkan lamunan Trish.
"Tuan Putri maaf. " ucap makhluk kecil itu yang masih mengusap hidungnya.
"Bagaimana semuanya? " tanya Clara tanpa basa basi.
"Sudah aman, tapi Tuan Putri ada masalah lain. " ucap Pery Fyra sedikit ragu.
"Apa nenek tahu tentang masalah itu? " tanya Clara hati-hati.
"Peri Ziyanka masih mencoba menanganinya sendiri.Tapi kekuatan nya semakin lemah, apa yang harus kami lakukan Tuan Putri. " ucap Peri Fyra.
__ADS_1
"Tenanglah. Mari temui Pendeta. Dan obati tubuhmu juga . " ajak Clara dengan masih bersikap tenang meski dirinya tahu berita yang akan di dengar adalah berita buruk.
"Hei aku harus kemana jika kalian pergi. " tanya Trish yang merasa diabaikan.
"Huft.. (Clara menghela nafasnya) Apa masih perlu bertanya! Lihatlah sendiri seperti apa tujuan hatimu! " jawab Clara tanpa melihat ke belakang dan berjalan menuju tempat seharusnya.
Tanpa perlu memberikan sihir atau kekuatan apapun, begitu satu kakinya menginjakkan perbatasan dunia ilusi dan istana hutan bisu maka akan terbuka secara perlahan jalan menuju istana.
"Waow, apa ini nyata. " batin Trish yang terkejut karena ada istana, tentu saja sejak kapan istana itu ada dihutan bisu, siapa dan kenapa, untuk apa itulah pertanyaan yang memenuhi otaknya.
"Jangan melamun. Nanti tersesat. " bisik Peri Fyra yang sengaja menggoda Pangeran Trish.
Pangeran Trish membalasnya dengan mencoba menangkap makhluk kecil itu dan keduanya berakhir kejar kejaran.
"Aku fikir hanya Lars yang seperti anak kecil, dia pun sama. " gumam Clara meninggalkan dua makhluk yang tidak tahu keadaan dunia semakin buruk.
.......
"Salam Pendeta. Boleh saya masuk. " tanya Clara yang melihat Pendeta sedang meracik obat.
"Masuklah nak. Apa sudah dimulai Ramalan itu? " tanya Pendeta yang masih fokus meracik obat.
"Sepertinya begitu, kaum Peri sudah mulai menunjukkan tanda awalnya. Apakah ini terlalu cepat Pendeta? " ucap Clara berdiri di depan jendela yang terbuka.
"Apa itu Pendeta? " tanya Clara mendekati apa yang ditunjukkan Pendeta.
"Ramuan ini namanya Ramuan Patah. Bahan nya pun bertolak belakang dari namanya, dan pastikan tidak melebihi dosisnya. Sama seperti Madu kehidupan, Ramuan Patah juga berbahaya. " jelas sang Pendeta.
"Apakah aku bisa membuat nya juga, untuk berjaga-jaga suatu saat nanti Pendeta. " tanya Clara dengan sunguh-sungguh.
"Tentu saja nak. Tapi bahan ramuan ini sedikit langka, tapi nenekmu memiliki setiap bahan langka di tempat pengobatan nya. " ucap Pendeta dengan tersenyum.
"Nenek, artinya di rumah pondok ? " tanya Clara untuk memastikan dugaannya.
"Di istana pun ada nak. Ambillah ini, dan pelajari. " ucap Sang Pendeta memberikan selembar kertas yang berisi pembuatan Ramuan Patah.
"Apa ada solusi lain Pendeta, seperti nya Peri Ziyanka masih enggan meminta bantuan nenek. " tanya Clara yang khawatir dengan keadaan kaum Peri.
"Kamu tahu apa yang harus dilakukan Clara. Ingatlah siapa dirimu dan semua memiliki alasan. Dan Ramalan tidak bisa dihapus, ramalan hanya bisa dipatahkan atau diubah dari hal terkecil. Pelajari kitab itu, masih ada rahasia dibalik rahasia. " ucap sang Pendeta mengelus kepala Clara.
"Clara jagalah hati untuk kekuatan mu. Jika hati mu lemah, bagaimana menyelamatkan dunia. Karena kelemahan itu berasal dari hati, jika seseorang tetap berdiri kokoh setelah badai, itu hanya karena orang itu memiliki hati yang kuat." ucap sang Pendeta menasehati Clara karena menyadari murid nya itu dilema dengan perasaan nya namun masalah tanggung jawabnya tidak bisa menunggu hingga gadis itu kuat.
Clara hanya tersenyum tanpa ingin menjawab, suara pecah karena dua makhluk muncul layaknya petasan tanpa tahu tempat.
__ADS_1
"Berhenti! Apa kalian tidak bisa menghormati Orang yang lebih Tua! " seru sang Pendeta yang melihat dua makhluk itu masih bercanda.
Keduanya diam karena sang Pendeta. Sedangkan Clara pergi untuk berlatih di tempat biasa, anggap saja dirinya itu ingin memberikan pelajaran kepada Trish bagaimana jalan yang harus dilalui jika mencintai gadis yang sudah memiliki takdir berbeda, sedangkan Peri nya, Clara tahu sang Pendeta ingin memberikan ramuan yang tadi untuk memberikan pertolongan pertama pada kaum Peri.
"Maafkan kami Pendeta. " ucap dua makhluk itu bersamaan.
"Apa sikap seorang Pangeran seperti anak kecil? Bagaimana bisa mengharapkan gadis pewaris Kitab Suci jika dalam situasi buruk masih sempat bermain. " ucap Pendeta menyindir Pangeran Trish.
"Sekali lagi maafkan hamba, Pendeta. Bukan maksud hamba seperti itu. Tapi jangan ragukan Cinta saya untuk Tuan Putri Clara. " ucap tegas Trish menatap Pendeta.
"Baiklah.Mari lihat seberapa kuat Pangeran untuk melindungi Clara. " ucap Pendeta dengan senyuman penuh arti.
"Apa yang harus hamba lakukan untuk membuat Pendeta percaya bahwa saya serius dengan perasaan ini? " tanya Trish tanpa basa basi.
"Pergilah ke ruangan latihan, Seseorang sudah menunggu mu! " perintah sang Pendeta tanpa memandang Trish.
"Dimanakah tempat itu Pendeta? " tanya Trish polos.
"Carilah dengan pendengaran mu! " jawab sang Pendeta.
"Kemarilah Peri Fyra, aku akan mengobati. " perintah sang Pendeta yang sudah melihat perubahan pada Peri Fyra.
Trish harus mencari tempat yang disebutkan oleh Pendeta sendiri karena sang Pendeta harus mengobati Peri Fyra, sejujurnya dirinya masih di penuhi banyak pertanyaan, dirinya itu Pangeran atau rakyat biasa yang tidak tahu apa-apa. Seperti nya Akhir-akhir ini hanya fokus dengan masalah hati saja hingga lupa mengurus segalanya tentang masalah dunia saat ini.
................ ...
"Ceritakan apa yang saat ini terjadi di dunia Peri? " tanya sang Pendeta yang melihat titik perubahan warna pada sayap Peri Fyra.
"Kutukan yang sudah lama dibicarakan akhirnya terjadi Pendeta. Dimulai dari mata air yang semakin mengering dan bunga-bunga ajaib yang mulai kehilangan sinarnya. Para Peri mulai kehilangan kekuatan nya seiring waktu, meski Peri Ziyanka sebagai Peri yang tertua sudah menyalurkan kekuatan nya ke inti Permata Peri, tetap saja itu tidak akan bertahan lama. Sedangkan Peri lain tidak bisa melakukan hal sama seperti Peri Ziyanka, Pendeta tahu bukan jika seorang Peri tidak memiliki kekuatan dari diri mereka sendiri sebelum waktunya. Kami kuat dan juga lemah secara bersamaan, seperti ikatan kami dengan Tuan kami, dan banyak Peri yang memiliki kekuatan sendiri justru sudah diculik oleh orang-orang bertopeng. Tuan Putri Clara sudah menyarankan untuk membuat perisai lebih kuat, namun sepertinya Peri Ziyanka masih mencoba sekuat tenaga untuk melindungi kaum Peri sendiri. " ucap Peri Fyra dengan wajah khawatir.
"Ini sudah melewati batas. Biarkan Clara turun tangan, Sebagai pendamping Clara, tentu Peri Fyra tahu apa resikonya jika keadaan ini berlanjut, untuk saat ini biarkan Clara melakukan pelatihan Terakhir nya. " jawab Pendeta setelah memikirkan sejenak.
"Apa artinya Putri Clara akan memasuki Dunia Peri? apa itu tidak berbahaya untuknya Pendeta? " tanya Peri Fyra.
"Tenanglah.Entitasnnya tidak akan membahayakan dirinya. Cahaya selalu bisa menembus sekecil apapun lubang. Percayalah dengan Clara. " jawab Pendeta sambil meneteskan Obat ke sayap Peri Fyra.
*Auw.. panas.. perih. " rintihan Peri Fyra begitu obat itu menyentuh sayapnya.
"Tahanlah.Setelah beberapa saat akan dingin tapi tetaplah disini, sayap mu masih tidak boleh terbang. " ucap sang Pendeta.
"Terimakasih Pendeta. " ucap Peri Fyra sambil menahan rasa sakit di sayapnya.
Pendeta hanya mengangguk dan membereskan bahan-bahan obat, fikiran nya tertuju pada Clara dan Pangeran Trish, apakah Pangeran itu sudah berada di tempat yang sama.
__ADS_1