TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 100


__ADS_3

Darman yang dibicarakan oleh Zahra dsn lainya hanya termenung mengingat nasib dirinya. Apa yang dikatakan Zahra memang benar sekali, ia memikirkan siapa orang yang mengeluarkan dirinya di penjara.


"Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih pada orang itu!"


"Tapi sepertinya orang itu menghilang seperti nggak mau kenal denganku?"


"Siapa sih orang itu!


"Bikin orang penasaran saja,"


Pertanyaan demi pertanyaan yang selalu ditanyakan tanpa ada jawab yang memuaskan sama sekali.


"Aku nggak pernah mengenal orang itu, apalagi ini kota besar."


"Aku sama sekali nggak pernah punya teman si sini?"


"Sebenarnya siap orang itu?"


Pertanyaan demi pertanyaan selalu terlontar di bibirnya, ya ia sama sekali tidak menduga kalau ada orang kota dengan ikhlas membantu dirinya,


"Penjaga penjara sih nggak memberitahukan orang itu.


Darman merasa kesal saat ia menanyakan pada penjaga tentang orang yang mengeluarkan dirinya tapi malah orang itu menyuruh datang ke rumahnya saja.


"Seorang wanita, tapi nggak mau menyebutkan namanya. Bapak harus ke alamat ini," ujar penjaga sambil memberikan secarik kertas..


Darman menerima secarik kertas itu dan melihat alamat yang begitu asing.


"Pak, bapak tahu alamat ini?" tanya Darman berkerut wajahnya.


Ia sama sekali tidak mengetahui alamat yang diberikan orang itu.


"Dari sini jauh kita kira 5 kilo meter, kalau bapak ingin kesan naik kendaraan saja."


Darman hanya mendengus mendengar kan jawaban dari penjaga itu, ia mendengus juga kerena ia tidak mungkin bisa naik kendaran kerena uang darimana ia untuk sampai ke sana.


Darman hanya menghela nafas mengingat perkataan penjaga penjara. Ya selama ini ia tidak mencari orang itu kerena Maslah ekonomi.


"Pak, kenapa?" tegur Ageng menghampiri Darman.


"Ah, kamu nganggu saja!" Dengus Darman tidak senang.


Darman langsung mendorong tubuh Ageng yang akan duduk disamping Darman, sampai cowok itu terjungkal ke depan kerena ia belum sempat duduk sudah di dorong oleh Darman.


"Ah! Bapak! Keempat dorong aku!" terima Ageng kesakitan saat tubuhnya terbentur.


"Makanya jangan nganggu aku dong!" sembur Darman kasar.


"Bapak lagi apa sih!" Ageng kepo.


"Ah, kamu ingin tahu sja!" dengus Darman menatap wajah Ageng.

__ADS_1


"Aku punya alamat tapi kamu tahu nggak alamat ini?" tanya Darman sambil memberikan secarik kertas pada Ageng.


Ageng langsung mengambil secarik kertas yang disodorkan oleh Darman kejadiannya. Cowok tangung itu langsung mengkerutkan wajahnya.


"Waduh! ini tempat nya villa yang kemarin ditemukan mayat!" seru Ageng.


Ya tanpa diketahui oleh Darman kalau Ageng melihat pengangkatan jenazah yang telah satu hari di Solokan.


"Mayat? Mayat apa? Lalu bicara yang benar."


"Bapak nggak mendengar?'' Bukannya menjawab pertanyaan dari darman, Ageng malah bertanya pada darman.


"He, seharusnya jawab dulu pertanyaan bapak, bukan kamu yang bertanya kembali!" teriak Darman tinggi.


"Mayat wanita usia 30 tahun ditemukan di Solokan dekat villa."


"Kamu tahu punya siapa villa itu, terus kamu tahu siapa yang jadi mayat itu?" berondong pertanyaan keluar begitu saja.


"Aku nggak tahu sih! Itu villa punya siapa tapi kalau mayat itu di duga di bunuh, tapi sampai sekarang pembunuhnya belum ditemukan."


Darman terkesiap. Ia masih ingat kejadian dirinya. Tapi ia berusaha menipiskan semuanya, dan ia tidak ingin kalau cowok tangung itu tahu apa yang pernah terjadi lada dirinya.


"Kamu nggak tahu pemilik villa itu? Apa pemilik villa itu tahu kalau di villanya ada mayat?" tanya Darman.


Ia merasa heran pada pemilik villa itu, herannya kenapa ia juga tidak tahu kalau ada mayat di solokan yang berada di villa nya.


"Geng, apa dia yang jadi pembunuh ya?" tanya Darman spontan.


"Polisi menyelidiki juga sih! Tapi sampai sekarang polisi belum menemukan pelakunya." kata Ageng.


"Geng, Yanga ku tanyakan kenapa orang yang punya villa ini ngasih alamat padaku?" tanya Darman heran.


"Mungkin kenalan bapak?" duga Ageng.


"Geng, aku nggak kenal sama pemilik vila itu, kalau mungkin kenal juga udah aku samperin!"


"Pak, mungkin saja orang itu kenal sama bapak, tapi bapaknya nggak kenal dengan orang itu,"


"Siapa ya kira kira?" "Siap tahu orang dimasa lalu bapak."


Darman berpikir ia sama sekali ingin mengingat orang yang pernah berada dimasa lalunya tapi tidak kesampaian otaknya.


"Ah bapak pusing mikirin ya juga," Dengus Darman.


"Mungkin saja pak, bapak punya teman yang akrab sama bapak. Terus ia tinggal di kota ini," jelas Ageng.


Apa yang dikatakan Ageng memang benar, kalau orang dimasa lalu Darman itu adalah Rani, tapi Darman sama sekali tidak menduga kalau Rani mengingatnya.


Darman bukannya lupa, tapi kerena memang ia tidak pernah berpikir tentang Rani lagi setelah menikah dengan istrinya yang pertama.


"Coba bapak ingat ingat siapa teman bapak itu!" kata Ageng memberikan semangat pada Darman.

__ADS_1


"Ah! Kamu bukannya bantuin bapak malah mengajak bapak mikir teman bapak," tepis Darman.


Laki laki itu langsung beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Ageng yang menatapnya heran sekali.


"Pak, bapak mau kemana?" teriak Ageng.


"Cari angin!"


Sebenarnya Darman hanya beralasan mencari angin, tapi ia memikirkan kata kata Ageng tentang teman masa kecilnya itu. Bukan hanya satu atau dua Tan kecil dirinya, kalau mau disebutkan mungkin banyak sekali teman kecilnya.


"Kamu hanya bikin aku pusing saja, masa aku harus menyebutkan satu satu teman kecilku!" Dengus Darman kesal.


Di pinggir jalan, ia menatap bangunan yang menjulang tinggi, asap keluar dari cerobong dengan warna hitam pekat.


"Teman teman ku banyak yang mati, Ageng. Aku juga nggak mau menyebutkan satu satunya, kenapa sih bikin teka teki sja tuh anak."


"Bukan Ageng sih yang salah tapi orang itu salah nggak mau menyebutkan nama hanya memberikan alamat, sedangkan aku juga nggak tahu siapa dirinya."


"Dia juga mengeluarkan aku dari penjara, untuk apa coba?"


Pertanyaan demi pertanyaan langsung berputar di benak Darman, tentang seorang teman di masa lalu nya yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.


Sedangkan di rumah jalan xXxx, Rani hany bisa termenung.


"Darman kemana kamu sebenarnya?" tanya Rani.


"Kamu sudah sampai belum ke alamat yang aku berikan, masa kamu melupakan aku begitu cepat!"


"Apa kamu nggak kok ingat kalau alamat yang aku berikan adalah alamat Yanga ku janjikan sewaktu kita berniat nikah. Tapi kamu malah membatalkan semuanya, apa kamu segaja lupa itu!"


Bisikan hati Rani perih sekali ia mengingat Darman.


"Kang, kalau kita menikah nanti kita tinggal di villa xXXx ya, itu villa milik aku." ujar Rani memeluk tubuh Darman.


"Maaf!"


"Kang! Kenapa?" Rani terkejut saat tangan Darman menghindar dari rangkulan tubuhnya.


Rani kaget melihat Darman seperti itu padanya, dan ia menyangka kalau pria itu bakal berbicara tentang pernikahan mereka.


"Kang! Kapan kita menikah ya?" tanya Rani mengingatkan pacarnya.


"Aku juga ingin cepat cepat menikah denganmu Ran, tapi." kata Darman ragu .


"Tapi aku mungkin nggak akan menikah denganmu, aku telah dijodohkan dengan wanita lain." kata Darman.


"Kang! Kenapa kakang nggak bisa menikah dengan aku kenapa?"


"Maafkan aku Ran. Mungkin kita bukan jodoh."


"Kang! jangan tinggalkan Rani kang!" tangis Rani memeluk tubuh Darman dengan eratnya.

__ADS_1


Tapi Darman malah melepaskan begitu saja pelukan Rani di tubuhnya membuat hati gadis itu perih dan terluka sekali.*


__ADS_2