TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 32


__ADS_3

"Kang aku menemukan bukti, ada saksi lain yang melihat pembunuhan selain aku!" teriak Hamdi merangkul tubuh uwa Iyan.


"Saksi lain?"


"Iya, ia adalah mang Karta."


Karta yang di maksud adalah orang kepercayaan pak Rohman dsn ia melihat dengan jelas kalau Darman yang membunuh Pak Rohman dengan Pisau yang disembunyikan di bajunya.


Ya Karta malam itu ia mendengar percakapan antara pak Tio dsn majikannya, malam itu ia melihat dengan jelas kalau pak Tio mengatakan kalau pak Rohaman di panggil Hamdi kerena Maslah tanah yang dijual oleh Darman ke pada pak Rohman.


Awalnya Karta percaya saja apa yang Tio katakan pada majikannya, tapi malam itu ia mengikuti apa yang dikatakan oleh Tio benar atau tidaknya.


Karta melihat majikan ya bertengkar hebat dengan Darman dan tanpa di duga Darman lah yang mengorok leher majikannya. Waktu itu ia langsung meninggalakan TKP kerena ingin melaporkan kejadian malam itu tapi terlambat semua warga malah banyak menuduh Hamdi yang bersalah.


Ia yang ingin melihat keadilan ditegakkan, langsung ke bale desa tapi gagal kesaksian dirinya tidak di gubris.


"Semoga dengan adanya kesaksian dari kang Karta kamu bisa bebas." kata uwa Iyan tersenyum.


"Iya kang, aku senang sekali.


"Aku bakal bebas. Aku juga bisa membesarkan Anin dsn Ana menjadi wanita hebat dan kuat," gembira Hamdi.


"Kakang tahu kamu bakal bisa melakukan itu." dukung uwa Iyan.


"Kang aku senang sekali sebenarnya." teriak Hamdi.


Ia langsung beranjak dari tempat duduk.


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau bilang sama ibu anak anak juga pada Anin, aku bebas." ujar Hamdi berkaca kaca matanya.


Uwa Iyan mengangguk dengan tegasnya, di wajahnya ada senyuman yang menghiasi wajahnya. Sejujurnya berita itu juga yang membuat dirinya bahagia sekali.


"Ayah bebas Bu," terik Hamdi sambil memeluk tubuh istrinya.


"Maksudnya?" tanya Ayu heran.


"Bebas kaya burung? Bisa terbang," kata Anin menatap ayahnya.


"Hamdi mengangguk."Kang Karta bakal jadi saksi kejahatan kang Darman," lirih Hamdi di telinga Ayu,"


"Kok bisik bisik sih!" kata Anin.


"Alhamdulillah, jadi kang Karta bisa jadi saksi?" tanya Ayu gembira.

__ADS_1


"Ya malam ini kang Karta bakal menjadi saksi," senyum Hamdi.


"Saksi? Saksi apa?" tanya Anin ikut bicara.


"Kamu besar dulu nanti ayah cerita semuanya."


"Aku sudah besar ayah, Ade yang belum besar!" protes Ana.


Ayu akhirnya tahu apa yang terjadi, ia juga tersenyum bahagia mwndengrakan apa yang Hamdi suaminya bicarakan, ya semoga saja Karta bisa mengatakan dengan kejujuran siapa yang salah dana benar dalam maslah ini.


"Aku harap kang Darman bisa menerima semuanya, kerena memang ia yang salah,"


Anin diam hanya menyimak saja.


"Aku hanya ingin dekat dengan Anin dsn Ana saat ini juga, biar mereka bisa merasakan kasih sayang yang ayahnya berikan." kata Hamdi melihat Anin dsn Ana yang sedang bermain berduaan.


"Aku juga bahagia Ayah kalau Aya mengatakan itu, kita rawat anak anak kita supaya mereka bisa menjadi wanita hebat."


"Ya semoga saja Anin dan Ana menjadi wanita hebat dimasa datang!" doa Hamdi menatap Anin dan Ana yang sedang bercanda.


"Atau kita tambah anak lagi," goda Hamdi berbisik.


"Ah! dua juga susah mengurusnya malah mau nambah lagi," senyum Ayu.


"Kita bikin!"


"Nggak lah kalau sekarang aku juga lagi haid!" tolak Ayu.


Rencana Hamdi memang bagus buat dirinya dsn keluarganya, tapi rencana Tuhan lebih bagus lagi. Rencana Hamdi tinggal rencana, seharusnya malam itu ia bertemu dengan Karta yang akan datang ke rumahnya tapi Karta yang di tunggu nya tidak datang atau menunjukan batang hidungnya.


Malah yang datang adalah Darman dan Tio yang mengubah semuanya rencana Hamdi. Dsn membuat seluruh keluarga Hamdi berantakan.


Malam itu!


Karta yang punya janji akan datang ke rumah Hamdi, ia akan menceritakan semuanya kejadian malam itu. Bukan itu saja polisi juga yang tahu akan datang ke rumah Hamdi.


"Kenapa nggak datang ke kantor polisi saja," tolak Ayu.


"Nggak apa apa disini juga, yang penting suami ibu bebas," kata polisi itu.


Akhirnya keputusan itu diterima oleh Ayu ya biarpun ada keheranan yang menyelusup dihatinya.


Bug!


Sebuah kayu menghantam belakang tubuh Karta yang berjalan menuju rumah Hamdi.

__ADS_1


"Kang Darman!" teriak Karta dengan mata terbelalak.


"Kamu mau kemana?" suara gelegar Darman menghantam telinga Karta.


"Aku mau main ke rumah dek Hamdi!"


"Oh! Kamu jangan jangan mau memberikan kesaksian! Kamu jangan coba coba,"


"Tapi semuanya salah kamu kang! Kamu tega menghilangkan nyawa orang yang telah percaya sama kamu kang, dsn mengirim dek Hamdi ke penjara dimana naluri kamu!" sembur Karta penuh keberanian.


"Diam kamu!" teriak Darman gusar.


BUG!


Tangan Darman melayang dengan cepat menyentuh wajah Karta. Laki laki itu hanya meringis saat sebuah tunduk dan pukulan mengenai tubuhnya.


"Biarpun kau siksa aku, aku nggak akan pernah mengikuti kamu bajingan!" teriak Karta membalas pukulan ke wajah Darman..


Kedua laki laki itu akhirnya saling tinju, cakar, Jambak, gigit untuk mempertahankan semuanya. Darman tidak menyangka kalau aksi itu bakal ketahuan oleh Karta ia sama sekali tidak menduga. Ia baru tahu dari Tio dan Tio menceritakan apa yang di dengar dari Karta. Ya Tio mendengar percakapan mereka, dsn mengadukannya pada dirinya.


"Aku nggak akan biarkan kamu melakukan itu!"


"Kamu takut? Kenapa harus takut? Kerena memang kamu salah!" terik Karta beringas.


"Aku nggak ingin kalau dek Hamdi yang tidak salah harus di penjara atas ulah kamu!" lanjut Karta berusaha melepaskan tubuhnya dari cengkraman Darman.


"Aku nggak akan biarkan kamu melakukan itu! Aku akan membuat kamu seperti rohman!" teriak Darman dongkol.


"Kalau kamu bisa buktikan!" tantang Karta sinis.


"Baik!"


"Tapi kalau kamu melakukan itu suatu waktu kaku bakal menerima ganjaran dari keebiatan kamu!" cerca Karta.


Mendengarkan kata kata Karta membuat hatinya panas sekali, Darman tidak menunggu waktu lagi mengambil pisau yang selalu ia bawa di pinggangnya. Karta tidak menyangka kalau Darman mengumumkan pisau dan menusukan di perutnya.


Tubuh Karta ambruk dan terjatuh di jalan dengan.dsrah membasahi tubuhnya, Darman yang melihat itu langsung meninggalakan tempat itu! Ia tidak ingin kejadian itu terlihat oleh orang bisa bisa berabe urusannya.


Setalah membersihkan pisau, Darman langsung menemui Tio untuk merencakan sesuatu di rumah Hamdi, ya ia tidak ingin Hamdi tahu kalau Karta juga telah meninggal. Karya juga tidak menceritakan pada Tio kalau Karta sudah meninggal, ia hanya mengajak Tio mengunjungi Hamdi hanya ingin membereskan masalah nya dengan Hamdi.


"Nggak terlalu cepat kang?" tanya Tio.


"Nggak, lebih baik cepat dari pada kita harus mendekam di penjara!"


Akhirnya malam itu! Sebenarnya belum larut sih hanya kita kira jam 21.30 mereka berdua langsung menuju rumah Hamdi, sedangkan Hamdi sedang menunggu Karta tapi orang yang ditunggunya belum sampai, apalagi Ana malam itu juga sakit panas.*

__ADS_1


__ADS_2