TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 158


__ADS_3

Rey menarik tangan Zahra dengan beehehas gehas, hampir dana Zahra jatuh tapi untungnya tidak jatuh. Zahra yang sedang ada di kantin sempat kaget melihat Rey yang narik tangan nya. 


"Rey ada apa? " Tanya Zahra terkejut. 


Rey tidak langsung menjawab pertanyaan Zahra yang terlontar. 


"Aku masih belum mwngerti, kamu bilang pemuda itu adik kamu? Kamu jangan ngarang! " Tuding Rey. 


Wajahnya penuh dengan keheranan yang sangat. 


"Ya Tuhan Rey cuma itu yang kamu ingin tahu? " Hela nafas Zahra sambil mengelengkan kepala. 


"Iya, aku tahu dari ibu Mirna Rey kalau sebenarnya uwa Rani yang nekad membuat dirinya hamil, " Lirih Zahra. 


"Ibu Mirna dia siapa? " Tanya Rey heran menatap wajah Zahra. 


"istri dari pak Rohman yang uwa dstaman bunuh igu, sebenarnya dalamg pembunuhannya uwa Rani. 


"Apa? " Teriak Rey terkejut. 


Zahra mengangguk. 


"Jadi rencana kamu sekarang bagaiamana? " Tanya Rey. 


"Entah lah, sekarang Rara juga harus mencari uwa darman dimana keberadaannya juga nggak tahu. " 


"Untuk apa tante Rani membuat dirinya hamil oleh ayah kamu? " Tanya Rey. 


"Entahlah. Mungkin ia sakit hati karena nenek nggak pernah mengizinkan dirinya menikah dengan uwa Darman." 


"Intinya nenek tahu kamu uwa dataman dan uwa Rani saudara kandung." Jelas Zahra. 


"Saudara kandung? " 


"Iya saudara kandung hanya beda ayah. Uwa Darman ana pertama dari nenek Ningsih hanya beda ayah saja dengan uwa Darman. 


" Ribet banget! " Gerutu Rey. 


"Ya ribet banget. Apalagi sama dengan kehidupan Rara, " Kata Zahra tersenyum. Getir. 


Ya Zahra baru mengerti. Uwa darman adalah kakak angkat ayahnya, berarti ia memang memanggil uwa Darman sebagai uwa (panggilan dalam bahasa Sunda). Dan uwa darman juga kakak dari ibu angkatnya, otomatis panggilan uwa juga melekat didiri uwa Darman. 


"Iya juga sih! Kalau dipikir pikir ribet juga, " Zahra tertawa getir. 


"Kalau di pihak mama, Rara harus manggil vito kakak. Tapi di pihak lain vito adikku juga." 


"Tapi kamu percaya sama ibu Mirna kalau. tante Rani melakukan itu dengan ayah kamu?"

__ADS_1


"Jangan mudah percaya jangan jangan ia menjebak kamu Ra. " Kata Rey. 


"Aku percaya kok! ada mama juga tahu ini dan kami juga dipertemukan dengan vito, ia sempat terkejut mendengarnya. 


" Ra, aku hanya ingin mengingatkan apa terjadi jangan sampai kamu percaya begitu saja. Apalagi?" Ujar Rey terdiam tidak melanjutkan perkataaannya. 


"Apa lagi apa rsy? " Tanya Zahra tidak mengerti. 


"Aku.hanya takut kalau misal tante Rani merencakan sesuati pada kamu. Apalagi tante Rani masih belum puas seperti nya untuk melakukan padamu. " Rey bwtbelit bwlit ingin menjelaskan sesuatu. 


"Aku nggak ngerti sama kamu? " 


"Maksudku sih begini. Kamu tahu kan Rani taman sama ibu kamu, tapi malah mwnusuk ibu kamu dari belakang dengan membuat dirinya hamil dan punya anak." 


"Aku takut kalau mereka merencanakan sesuatu apalagi kamu tahu uwa Darman, tante Rani adalah saudara. Apalagi mama kamu juga. " 


"Aku takut kalau mereka merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan kamu kerena bagaimana pun kamu. Masih memeiliki hal warisan dari ayah kamu, apalagi vito lebih kuat dari kamu. " 


Rey menjelaskan keresahan pada Zahra. Ia hanya takut kakau modal Rani melakukuan sesuatu pada Zahra dan membuat Zahra kehilangan. 


Zahra hanya menghela nafas panjang. Mendengar semua penjelasan yang diutarakan oleh Rey. 


"Oke! Aku setuju apa yang kamu ucapkan tapi kamu pikir lagi apa mama tega melakukan itu padaku, mama yang telah mwngurus aku sejak kecil? " Tanya Zahra menatap wajah Rey. 


"Aku nyakin kalau mama nggak akan tega melakukan itu padaku, kalau tante Rani mungkin saja, apalagi uwa Darman. " 


Dan ia juga tidak pernah berpikir memiliki warisan dari ayah, ya biarpun  warisan itu seharusnya milik ayahnya. 


"Rey masalah vito. Sebenarnya vito nhhak berhak atas warisan itu? Warisan itu hanya milik aku dan Ana saja itu juga kalau ada kalau nggak ada? " 


"Vito nggak berhak, maksudmu? Vito kan anak ayahmu? " Kejar Rey. 


"Kamu nggak fokus ya tentang cerita aku tentang Vito? " 


"Maksud kamu? " 


"Kamu nggak jelas ya, kalau keberadaan Vito itu keinginan uwa Rani saja, ia membuat dirinya hamil diluar nikah, " Gumam Zahra lirih. 


"Apa?  Jadi Vito hanya. Anak biologis ayahmu saja bukan anak nasab? " Tanya Rey keras. 


Zahra langsung membekap mulut Rey dengan cepat sekali, ia takut kalau ada orang yang mendengarkan teriakan dari Rey. 


"Apaan sih! "


Rey berusaha melepaskan tangan Zahra dari mulut dirinya. Pria itu melinggo mendengar oengakuan dadi Zahra kalau Vito adalah anak biologis dari hamdi ayahnya Zahra. Iya menyangka kalau Vito adik nasab seperti Ana. 


"Kamu jangan bicara keras keras, Vito juga belum tahu masalh ini. Boro boro masalah ini masalah ayah meninggal  juga ia nggak percaya, " Dengus Zahra. 

__ADS_1


Zahra menatap Rey tidak suka pada Rey yang telah bicara sekeras itu! Rey benar benar shock. Mendengar apa yang Zahra bicarakan tentang Vito. Mereka saling tatap satu sama lainnya. 


Zahra dan Rey tidak menyadari kalau di sana juga ada Vito! Vito sebenarnya ingin sekali. Mengajak Zahra untuk ke desa itu, ia sangat penasaran pada papanya. 


Ia sengaja tidak memberitahukan kedatangan nya ke Zahra seperti kemarin supaya hadia itu tidak melarang dirinya untuk datang ke kantor. 


Ia hanya ingin kasih kejutan pada Zahra, tapi kenyataannya malah dirinya yang terkejut mendengar kejujuran dari Zahra tentang keadaan dirinya yang sebenarnya. 


"Apa yang kalian bicarakan tentang diriku? Nggak nggak mungkin kakau aku anak biologis papa aku! " Tiba tiba Vito datang dan menghampiri keduanya. 


Zahra shock mendengar suara Vito  yang tiba tiba ada di belakang meraka. Zahra meme balikkan badannya sambil menatap wajah Vito yang menatap wajahnya. 


"Nggak mungkinkan mama aku melakujan hal yang diluar norma agama? " Tanya Vito. 


"Memang kenyataan nya begitu, mama kamu lah yang melakukannya perbuatan tercela kerena keegoisan mama kamu lah semuanya hancur! " Ada getar saat Zahra mwbgucapak kata kaga itu. 


"Aku heran kenapa mamamu yang melakukan itu sedangkan dia adalah teman ibu dan ayah? Mama mu ingin sekali warusan yang ada di perbukitan itu! " Jelas Zahra berusaha untuk kuat. 


"Nggak! Nggak mungkin mama melakukan itu! Aku. Nggak leecaya apa yang kamu katakan! " Tuding Vito marah. 


"Terserah apa yang kau katakan tapi kenyataannya itu seperti itu. Mau pwecaya maua tidak itu terserah kamu, aku hanya mengatakan apa yang harus aku katakan! " Tegas Zahra pada Vito. 


Rey hanya diam saja. Ia tidak ikut campur dalam masalah Zahra dan Vito, ia hanya mendengar kan apa yang dikatakan keduanya. 


Brak!


Vito dengan kerasnya langsung memukul meja yang ada di hadapannya, ia sangat gusar mendengar apa yang dikatakan Zahra. 


"Dari kemarin kamu hanya memojokan aku saja! Dimana sih hati dan perasaanmu padaku? Kalau. Memang kamu. Nggak suka ya sudah jangan menjelekan aku dan mama!" Teriak Vito marah. 


"Aku sa sekali nggak lwenah memojokan. Kamu Vit, ini kenyataan kamu anak biologis ayahku! " Teriak Zahra terbawa emosi. 


"Vit, sudah jangan dilanjut, kamu lebih baik pergi dari sini jangan memperkeruh situasi. " Rey masih bersikap lembut pada Vito. 


Melihat Reh yang baca saja bukannya membuat Vito dadar apa yang dilakukannya tapi malah menjadi jadi. 


"Kamu jangan Ikut campur! Ini urusan aku dan Zahra! " Teriak Vito berang sekali. 


"Aku.nggak ikut campur habya menga ingatkan saja!" 


"Alah!"


"Vito! Rey! Kalian ini kenapa sih! " Teriak Zahra melerai keduanya. 


"Vit, memang kenyataannya mama kamu seperti itu, kenapa aku nggakau cerita pada kamu sebenatnya. Aku juga baru tahu ini, dan sampai ayah meninggal ayah nggak tahu kalau mama kamu hamil."


"Mama kamu sangat kecewa atas apah yang ia. Lakukan terhadap ayah, dan aku mohon bantu aku untuk membuat mama kamu bertangungjawab atas apa yang ia lakukan pada ayah dan temannya. "

__ADS_1


Jelas Zahra menatap lembut Vito. Dalam hatinya Zahra berharap kalau Vito bisa membantu apa yang ia lakukan. Ya biarpun itu mamanya sendiri.**


__ADS_2