TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 63


__ADS_3

Ana terbangun dari tidurnya, ia kanget saat ia bangun tubuhnya telah terikat dengan tali. Posisinya duduk, ia berusaha melepaskan tali yang mengikatnya tapi nihil.


Tempat itu terlihat berukuran 6x4², dipenuhi dengan kayu yang telah lapuk. Tempat itu seperti gudang, banyak debu yang menempel dan sarang laba laba, kumuh dan kotor.


Udara dinruangan itu lengkap sekali, ditambah cahaya juga tidak begitu jelas, ruangan penuh dengan lumut serta berair.


'Dimana ini?' Tanya pada diri sendiri.


"Ibu! Ibu!" teriak Ana memanggil ibunya..


Ia baru menyadari kalau tadi malam ia dan ibunya di giring. Awalnya ia ingin meminta tolong tapi salah satu orang memukul tubuhnya, jadi Ana tidak ingat lagi kejadiannya. Kejadian yang tiba tiba, ia juga tidak melihat wajah kedua orang itu itu.


"Tolong! Bu, ibu!"


Ana berusaha meminta tolong dsn memangil ibunya tapi orang yang panggilnya tidak menjawab sama sekali.


BRAK!


Terdengar sebuah suara yang tidak jauh dari Ana berada, dan di sana ia melihat seorang wanita sedang berjalan. Ia tadi mendengar ana meminta tolong, akhirnya ia bernajak dari tempat duduk dan mendatangi Ana yang sedang berusaha melepaskan diri.


"Jadi kamu pelakunya?" tanya Ana pada wanita itu gram.


"Lepaskan!" lanjut Ana berteriak.


"Saya akan lepaskan kamu dan ibu kamu, tapi saya harap kamu jangan kembali ke sana lagi?"


"Kamu!"'teriak Ana saat ia melihat wanita yang tiba tiba menghampiri dirinya.


Gadis itu tidak menduga kalau wanita itu yang membawa dirinya ke tempat itu.


"Iblis!" umpatnya.


"Hahaha."


Tawa wanita itu riang." Kalau kamu ingin selamat jauhi Zahra!"


"Zahra, sejak kapan namanya Zahra, ia bukan Zahra tapi Anindya!" terima Ana beringas.


Kalau tanganya tidak terikat mungkin ia bakal menampar muka wanita itu. Ia benar benar geram sekali melihat wanita yang ada dihadapannya.


PLAK!


Sebuah tamparan langsung melayang kearah pipinya Ana. Gadis itu menjerit kesakitan saat tangan wanita itu menyentuh pipinya dengan kerasnya, Ana langsung menjerit seketika menahan sakit yang menjalar di pipinya.

__ADS_1


"Kenapa? Percuma kamu mukul aku, kerena Zahra benar benar Anin! Zahra telah meninggal akibat kecelakan di puncak," sembur Ana sinis.


"Bangsat!"


"Kaku juga mengakui nya kan kalau Zahra putrimu telah meninggal, seminggu setelah Zahra meninggal kamu menemukan Anin yang pingsan dan dibawa ke rumah kamu," cerocos Ana puas.


"Hentikan! Kamus berani bicara itu sama aku, darimana kamu tahu cerita itu!" terima wanita itu heran sekali.


Tapi wajahnya sangat murka ketika tahu kalau gadis dihadapannya tahu cerita tentang Zahra, sedangkan ia sama sekali tudkanleenah menceritakan pada siapapun termasuk pada Zahra sekalipun.


PLAK!


"Kalau sampai kamu bicara itu lagi! jangan harap ibu kamu bakal selamat!" ancamnya menatap tajam ke wajah Ana.


"Dimana ibu!" teriak Ana.


"Makanya jangan berlaga sok pahlawan!" sembur wanita itu.


Sambil tanganya mendorong kepala Ana dengan kasar.


""Kalau kamu sampai mencelakai ibu, aku nggak akan segan segan bilang sama Zahra kalau kamu pelakunya. Kamu bisa bayangkan hati anakmu itu," sinis Ana.


"Bangsat!"


PLAK


Bug! sebuah kayu melayang dan mengenai tubuh wanita yang memukul Ana, sekali pukul.wanita itu langsung menjerit kesakitan, ia tidak.menduga kalau ada orang dibelakangnya.


Ana yang mendengar jeritan wanita itu langsung memandang kearah lain, terlihat ibu Ayu yang melakukannya..


"Ibu!" teriak Ana..


Hatinya berbunga bunga saat melihat ibunya selamat, ya biarpun mereka masih terkurung di sebuah gudang. Wanita yang dipukul.oleh ibu Ayu langsung melihat siapa yang telah memukulnya..


"Kurang ajar! Kamu berani ya!" teriak wanita itu geram.


"Kamu yang duluan!" teriak ibu ayu.


Sambil mendorong tubuh wwnitanitu dengan kasar, tanpa diduga wanita itu tersungkur seketika. Saat tubuh wanita tersungkur, tubuhnya langsung mengenai kayu dsn kayu yang berdiri langsung menimpah dirinya.


""Cepat kita harus kabur!" kata ibu Ayu sambil membuka ikatan tali..


Untung ibu Ayu membawa pecahan kaca yang ada di depannya, ia langsung memutuskan tali yang mengikat tubuh Ana. Untung wanita itu tertindih oleh kayu kayu itu, jadi ia tidak bisa menghalangi ibu Ayu melepaskan Ana dari ikatan tali yang mengikat tangan dan kaki Ana.

__ADS_1


Setelah tali terlepas, akhirnya keduanya bisa kabur. Melihat buronan kabur wanita itu berteriak memanggil nama Ana dan ibu Ayu tapi kedua wanita itu tidak mengubrisnya. keduanya lari biarpun tidak tahu tujuannya.


🦋


"Apa? Jadi Ana dan dek ayu belum diketemukan!" terima uwa Iyan teebalalak kaget mendengar cerita Zahra.


Ya Zahra dsn Rey datang mengunjungi desa itu hanya ingin tahu keberadaan Ana dsn ibu Ayu, tapi bukan menemukan keduanya. Malah membuat kaget uwa Iyan dsn mbok Inem mendengar cerita Zahra..


"Uwa terus ibu dan adik dimana?" rengek Zahra pada uwa Iyan.


"Mungkin mama kamu pelakunya!" Dengus mbok Inem.


"Kami sedang menyelidik." ujar Rey..


"Mbok nyakin kalau Darman yang melakukannya." ketus mbok inem.


Wanita itu menduga kalau Darman melakukannya keren Zahra sebelum menceritakan ibu Ayu dan Ana, ia menceritakan tentang Darman yang Kabir dari penjara.


"Tapi kalau uwa Darman yang melakukan kenapa ia sampai tahu ibu dan Ayu ada di kota? Sedangkan kata uwa juga uwa Darman nggak pulang lagi ke desa ini?" tanya Zahra.


"Mungkin saja ia punya kenalan yang tahu tentang ibu dan adik," kaya uwa Iyan..


Pria itu terbiasa menyebut Ayu dengan ibu dihadapan Anin dulu, dsn sekarang juga ia menyebut begitu dihadpannya Zahra.


"Nggak ada kapoknya tuh Darman." gumam mbok inem..


"Apa.mungkin ua darman kabur mencari ibu dan adik ya?" tanya Zahra seperti pada diri sendiri.


"Kalian kesini menginap atau balik lagi ke kota? Menurut mbok lebih baik kalian menginap disini barang semalam saja," kata mbok Inem.


Wanita itu sebenarnya berharap lalu Zahra menginap di rumahnya, seperti dulu waktu kecil..


"Maaf mbok Anin nggak bisa menginap di rumah mbok mau cari adik dan ibu dulu," Zahara meminta maaf pada mbok inem dsn uwa Iyan.


Zahra merasa tidak enak menolak ajakan mbok inem tapi bagaimana pun ia harus lanjut perjalananan mencari ibu dan Ana.


Zahra hari itu juga pulang ke kota, ia sangat heran pada Ana, kerena beberapa kali di telpon tidak diangkat hpnya malah mati.


"Rey kita harus cari kemana lagi?" tanya Zahra blank.


"Aku nyakin ibu dan Ana nggak bakal tahu kota ini, kemungkinan mereka pasti kesasar,"lanjut Zahra khawatir sekali.


"Ra, adakah tempat tempat yang kamu curigai sebagai tempat keberadaan ibu dan Ana?" tanya Rey.

__ADS_1


Zahra mengelengkan kepala nya saja, ia tidak.bjsa menjawabnya. Kerena ia nyakin Ana maupun ini tidak punya tempat hyang harus didatangi kecuali pasar dimana ana sering belanja kebutuhan kantin.*


__ADS_2