TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 210


__ADS_3

Plak!


"Awh!" Darman menjerit dengan kerasnya, 


Saat ada tamparan yang mengenai pipinya. Ia langsung melihat siapa yang berani menampar  dirinya dengan kuat sekali. Saat matanya melihat ia terkejut di hadapannya ada Zahra yang berdiri di hadapannya nya dengan wajah merah padam. 


"Kamu  datang bukan permisi malah menampar! Nggak ada otak! Sepagi ini kamu datang hanya untuk menampar pipi pria tua ini! " ketus Daraman tidak suka. 


Darman berteriak keras dihadapan Zahra yang baru sampai ke rumah, gadis itu datang tanpa permisi langsung mencari pria itu, saat gadis itu melihat pria itu di berada di ruangan  lain gadis itu memang tidak segan segan langsung menampar muka Darman dengan keras sekali. 


"Bukan aku yang apa apaan tapi uwa Darman yang apa apaan! " ketus Zahra dengan wajah merah padam kerena sangat marah mendengarnya. 


Gadis itu bukanya lembut berkata di hadapan pria nyang lebih tua usianya malah membalas dengan teriakan yang keras sekali, sampai  pria itu mundur beberapa langkah sampai tubuhnya terbentur di dinding GRC. 


"Maksudmu? " tanya pria itu heran. 


Darman masih belum tahu kedatangan Zahra sepagi itu ke rumahnya. 


"Maksudmu? Uwa malah bertanya sama aku maksud kedatangan aku kesini? " tanya Zahra heran. 


Gadis itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat keheranan pria yang ada dihadapannya, Zahra tahu kalau Darman belum tahu kedatanganya dengan maksud tertentu. 


"Uwa nggak tahu sama sekali Nin kamu datang kesini untuk apa? Seharusnya kamu jelaskan kedatangan kamu bukan membuat bigung orang tua saja! " dengus pria itu. 


Darman gemas melihat gadis si hadapannya tidak menjelaskan apa apa pada dirinya, pengen di tendang juga nih, bisik pria itu kesal. 


Apalagi mendengar pertanyaan yang membuat dirinya lucu. 


"Uwa kenapa sepweti ini bukan membantup malah, "


"Nanti kamu kesini dengan siapa? " potong  pria itu celingukan.


Darman memang tadi tidak mendengar ada kendaraan yang berhenti di depan rumah, saking penasarannya ia langsung berjalan keluar untuk memastikan kalau gadis itu dengan siapa ke rumahnya. 


Zahra menatap heran melihat pria itu menuju luar dan hanya melihat saja saat Zahra akan menyusul pria itu balik lagi ke dalam rumah. 


Saat ia melihat kalau Zahra membawa mobil Darman hanya menghela nafas panjang. Zahra heran apa yang Darman lakukan menatap depan rumahnya. 


"Apa mau tambah tamparan aku, uwa? " tanya Zahra dengan serius. 

__ADS_1


Ia kesal melihat Darman seperti itu! 


Bukan menjawab pertanyaan Darman Zahra malah menawarkan kembali   untuk ditampar lagi oleh dirinya. 


"Kamu pria yang benar benar jahat! Nggak punya hati, membela yang salah! " cerocos Zahra dengan geramnya menatap wajah Darman dengan tajamnya.


Deg! 


Hati pria itu bergetar saat gadis dihadapannya mengeluarkan kata kata pedas seperti itu! Kata kata yang menyakitkan dirinya. 


"Maksudmu apa? Datang datang main tampar saja! " pria itu benar benar penasaran apa yang akan gadis itu lakukan pada dirinya. 


Seingatnya ia benar benar tidak melakukan kesalahan  kembali, tapi gadis itu malah langsung menamparnya. 


Ia tidak menyangka kalau gadis datang sepagi  hanya untuk menampar pipinya dengan merasakan, ia beberapa kali mengusap pipinya yang terasa sakit dan perih serta panas. 


"Ya, kerena ini menyangkut uwa Darman " teriak Zahra geram. 


Kemarin ia bernafas dengan lega sekali saat mendengar Vito menceritakan kalau Darman benar benar bakalan insaf dan mengakui kesalahan. Memang Darman mengakui kesalahan  dirinya di hadapan polisi tapi Zahra baru mengetahui kalau Darman masih melindungi Rani dari kepungan polisi, bukannya membantu malah sebaliknya. 


"Uwa membantu wanita itu' kan untuk lolos dari kepungan polisi? Kenapa uwa sendiri yang membantu wanita itu!" jelas Zahra menatap wajah Darman. 


Otomatis membuat Zahra marah dan mendatangi rumah pria itu, Darman hanya diam saja ia mengakui salah pada dirinya dan Zahra kalau apa yang dikatakan oleh gadis itu benar sekali.


"Rani namanya namanya bukan wanita itu! " teriak Darman marah, saat gadis yang dihadapannya tidak menyebutkan Rani dihadapannya. 


Darman benar benar protes pada Zahra yang menyebut wanita itu pada Rani. 


"Mau Rani mau siapa saja tapi kenapa uwa yang membantu dia? " tanya Zahra heran. Pada apa yang Darman  lakukan pada Rani. 


Bukan menjawab pria itu hanya menghela nafas panjang saja mendengar kata kata ketus yang keluar dari mulut gadis itu, ia hanya garuk kepala karena ketahuan membantu Rani. 


"Uwa! Merasa kasihan apa yang terjadi pada Rani, uwa nggak mau tinggal diam, Rani banyakbmelakukan kesalahan itu kerena uwa sendiri yang menjerusmukan."


Darman mengakuinya. Zahra hanya bisa garuk kepalanya yangbtudak gatal sama sekali, melihat apa yang dilakukan oleh Darman pada Rani. 


"Tapi itu sama saja salah! Kalau polisi tahu hukuman uwa bakal di berat! " kata Zahra. 


Mengingatkan Darman. 

__ADS_1


"Uwa nggak peduli, Nin! "


Pria itu seperti pasrah saja. 


"Uwa, dengar jangan sampai Vito tahu ini. Vito bakal kecewa apa yang dilakukan oleh uwa sendiri, dia percaya dengan uwa." jelas Zahra menatap wajah pria yang ada dihadapannya. 


"Kenapa uwa harus lakukan itu pada uwa Rani? " tanya Zahra ingin tahu 


Ada perasaan lain saat ia menatap wajah Darman, kalau saja  pria yang ada dihadapannya tidak  bersalah atau tidak pernah melanggar hukum Zahra pasti menemani pria itu. 


"Uwa Rara kecewa apa yang uwa lakukan pada uwa Rani! " dengus Zahra. 


"Jangan sebut Rara lagi pada dirimu, kamu tetap Anin anaknya Hamdi! " ketus Daraman 


Pria itu benar benar tidak mau lagi mendengar nama Zahra dihadapannya, Zahra yang ada di depannya hanya menghela nafas saja mendengar kata kata Darman seperti itu. Ditatap pria yang ada di hadapannya dengan tajam, Darman yang ditatap seperti itu hanya menghindar dari Zahra ia seperti melihat sinar matanya Hamdi disana. 


🦋


Plak! 


Ana dengan kerasnya menampar muka Rani yang tiba tiba datang ke rumah Ani. Rani yang tidak menduga mendelik marah melihat Ana yang tanpa ba bi bu lagi langsung mensekak Rani. 


"Wanita iblis!" hardik Ana keras. 


"Keluar kamu dari rumah ini! " lanjut berang. 


Gadis itu mendengar pembicaraan zahra dan mamanya kalau Rani menolak untuk menyerahkan diri ke polisi. Mendengar itu Ana emosinya bergejolak kalau tidak dicegah mungkin gadis itu telah mendatangi rumah Rani. 


Untung Zahra menghalangi Ana untuk datang ke Rani, dan sekarang saat ia melihat Rani datang tanpa menunggu waktu lagi gadis itu langsung menampar muka Rani. 


"Heh yang sopan kalau bicara kamu sadar nggak bicara sama siapa? " Rani marah. 


Apalagi mendengar apa yang dikatakan oleh Ana yang menurutnya tidak ada sopan santun sama sekali pada orang tua seperti dirinya. 


"Aku tahu aku bicara sama siapa? Aku bicara sama pembunuh tersadis! " ketus Ana dengan sinisnya. 


Plak! 


Rani dengan luapan kemarahannya tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh Ana, apalagi kata kata yang kotor di mulut Ana, sekali tampar gadis itu hanya menjerit dan membelalak matanya kearah Rani. 

__ADS_1


"Apa aku salah menyebutkan kamu orang yang tersadis di muka bumi ini? Nggak kan, kamu jahat nggak punya hati! " 


"Bedebah!" *


__ADS_2