TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 35


__ADS_3

"Anin menghilang sejak kejadian itu! Bocah yang disangka meninggal oleh semua warga, warga menyangka kalau bocah 6 tahun meninggal, ada yang hilang masih hidup." ujar uwa Iyan mengakhiri ceritanya. 


Zahra terpaku dsn bergeming di tempat itu. Ia Seperi melihat kilatan demi kilatan masa lalu ketika tubuhnya diangkat oleh seseorang dan orang itu memanggil dengan panggilan yang lain. 


Zahra! 


Nama itu terpatri dalam tubuhnya tapi dalam hatinya ia menolak nama itu! 


"Jadi bapak nggak tahu keberadaan Anin? Terus bagaiman nasib pak Karta dan pak Hamdi waktu itu?" tanya Zahra ingin tahu..


Hatinya benar benar hancur saat mengetahui semuanya, ada luka yang paling dalam yang tergores dalam hatinya. 


"Sampai sekarang! Kami.menyangka kalau Anin juga di bunuh oleh mereka, mereka tidak ingin kelakuannya diketahui oleh orang lain." kata uwa Iyan manatap Zahra. 


"Ana tahu masalah ini?" tanya Zahra. 


"Ana kemungkinan nggak akan tahu kerena ia masih kecil, mungkin dari cerita cerita warga ia hanya mendengarkan saja." 


"Jadi kami hanya memastikan kalau Anin sebenarnya masih hidup tapi ia seperti menghilang kerena sebuah ketakutan yang teramat sangat." 


"Apa ada saksi lain selain Anin, pak?" 


"Kemungkinan nggak ada," 


"Pak, bagaimana saat ibu Ayu tahu kalau suami dan putrinya nggak ada di tempat?" Kejar Zahra. 


"Panik! Ia mencari kesana kemari mencari anak dan suaminya tapi sayang nggak ditemukan sama sekali, tapi paginya baru tubuh Karta dan Hamdi!" 


"Anin?" Tanya Zahra. 


"Anin sama sekali nggak ditemukan sampai sekarang juga." 


Zahra hanya menghela nafas panjang mendengar apa yang diceritakan uwa Iyan padanya, rentetan kejadian membuat dirinya seperti melihat punzle punzle yang tidak menyambung kembali terlihat jelas. 


'Datamn dan Tio,' bisiknya dalam hati. 


"Tio sudah meninggal setelah dua tahun Anin menghilang." Ujar uwa Iyan seperi tahu apa yang dipikirkan oleh Zahra. 


"Meninggal? Kenapa?" 


"Entah! Menurut kabar Tio meninggal kerena ingin menyatakan kesksian kematian dan kehilangan Anin," 


"Ya Tio orang yang tahu Selak belum kematian Hamdi, tapi Daraman seperti tidak ingin kasus ini terbuka. Tio meninggal disaat rumah sepi, dsn tidak ada orang lain di rumah." Jelas uwa Iyan..


"Pak, apakah pak Hamdi dimakamkan di pemakaman umum yang diseberang jalan?" Tanya Zahra. 

__ADS_1


"Iya, pamakaman itu sudah ada sejak Anin kecil." Ujar uwa Iyan. 


Zahra mengangguk angguk kepala sja mendengarkan semua yang diceritakan oleh uwa Iyan padanya. 


"Kalian lagi cerita apa, kayanya seru deh!" Tiba tiba mbok inem datang menghampiri keduanya. 


Mbok inem baru saja datang dari pasar, wanita tua itu membeli kebutuhan dapur seperti ikan asin dan garam yang mulai menipis. 


"Biasa bincang bincang mbok," senyum Zahra. 


"Kalau Anin ada mungkin sebesar kamu, nak. Kamu bisa main dengan gadis itu, gadis manis dan baik," ujar mbok inem sendu. 


"Kan ada Zahra mbok. Zahra bakal Nemani mbok dan bapak disini," kata Zahra menatap wajah mbok inem..


Hatinya ingin rasanya ia memelukku tubuh tua itu, tapi ia datang bukan untuk memeluk wanita itu, ia datang hanya ada tugas yang belum diselesaikan. 


"Kak Zahra!" Panggil Ana sambil menghampiri Zahra. 


"Ibu mencari kakak, kata ibu kakak suruh makan ibu sudah masak ikan asin dan sayur asem." Ujar Ana. 


"Jangan makan di rumah Ayu, nak Zahra. Disini saja," protes mbok inem. 


"Kak!" Bujuk Ana. 


Zahara hanya garuk garuk kepala nya saja, ia ragu untuk memilih siapa yang harus ia makan nasinya. Semuanya baik lada dirinya, dan keputusan bulat dihatinya sudah ada. 


"Terus kamu makan disini kapan?"tanya mbok inem ketus. 


"Sore bagaimana?" Tanya Zahra tidak enak. 


"Oke kalau begitu, hati hati di jalannya," angguk mbok Inem. 


Zahara akhirnya dengan Ana menuju rumah ibu Ayu, Zahra begitu terenyuh melihat nasib Ana yang tidak tahu masalah kematian ayahnya. Ayah yang selalu menyanyangi Ana dsn Anin, tapi Zahra hanya bisa menganggam tangan Ana dengan erat sekali..


Ibu Ayu yangelihat keduanya datang, langsung menyongsong keduanya. Membuat hati Zahra bergetar dengan lbit sekali. 


"Zahra kamu itu kemana saja! Ibu cari kamu tapi kamu seperti menghilang." Rajuk ibu Ayu meraih tangan Zahra. 


"Zahra lagi main di rumah pak Iyan, kok Bu. Nggak jauh dari perpustakaan." Jelas Zahra. 


Gadis itu merasa keget saat tubuhnya di peluk begitu erat oleh ibu Ayu, Zahra yang kaget hanya bisa terdiam saja. Ia sebenarnya ingin membalas pelukan ibu ayu, tapi ia tidak lakukan itu!


"Ibu kangen kamu!" Gumam Ibu Ayu. 


Gumaman ibu Ayu terdengar dengan jelas oleh  Ana maupun Zahra, sampai Ana heran mendengar gumaman dari mulut ibunya. Bukan hanya Ana yang kaget, tapi Zahra juga lebih kaget lagi. 

__ADS_1


'Bu, aku juga kangen ibu, tapi aku nggak ingin menjelaskan tentang ini dulu. Aku hanya ingin melanjutkan cita cita ayah.' bisik Zahra. 


"Ibu kenapa?" Tanya Zahra melepaskan pelukan ibu Ayu. 


"Ibu seperti melihat Anin pada diri kamu Zahra." Ujar ibu Ayu tersipu. 


"Ah! Ibu. Masa kak Zahra disamakan sama kak Anin?" Sanggah Ana tersenyum. 


"Nggak apa apa Ana." 


Ketiganya langsung menuju ke dalam rumah. Di ruangan itu terhidang sayur asem, pepes ikan asin peda dan sambel,


"Maaf ya nak Zahra ibu menghidangkan makanan kesukaan Anin pada kamu. Anin sangat suka sama pepes ikan peda," kata ibu Ayu termenung. 


Deg! 


Hati Zahra bergetar hebat sekali mendengar kat kata ibu Ayu, ya itu makanan kesukaan dirinya yang benar benar tidak bakalan ia lupakan sama sekali. Hampir saja cairan bening di matanya jatuh ke atas pipi kalau saja ia tidak langsung menyusut cairan bening itu. 


"Wah! Masakan ibu rasanya nikmat banget. Anin pasti bahagia punya ibu kaya ibu Ayu dan Anin pasti merindukan masakan ibunya," puji Zahra getir. 


"Nak Zahra suka masakan sederhana ini?" Tanya ibu Ayu berbinar. 


"Sangat suka banget Bu," 


"Wah! Beruntung ibu nak Zahra pasti senang kalau nak Zahra makan pasti dihabiskan." Kata ibu Ayu. 


"Boleh ibu bertemu dengan ibu dan ayahnya nak Zahra?" Tanya ibu Ayu berharap. 


"Iya nanti kapan kapan ibu pasti bertemu dengan ibunya Zahra kok!" 


"Sama ayah nak Zahra juga! Nak Zahra kayanya bangga ya punya ayah seperti ayah nak Zahra. 


"Iya dong! Pokoknya ayah Zahara baik banget perhatian, pokoknya ayah Zahra orang yang sempurna," getir Zahra. 


"Kak Zahra enak bisa meluk ayah kakak, sedangkan aku?" Isak Ana yang tiba tiba bicara. 


Zahra menatap wajah Ana, ia melihat cairan bening di matanya Ana. Zahra dengan cepat langsung memeluk Ana dengan eratnya, sedangkan ibu Ayu diam saja. 


"Doakan ayah, dek." 


"Kalau kamu rindu ayah, doakan lah ayah supaya ayah tenag disisi-Nya." Lanjut Zahra menahan perasaannya. 


Zahra langsung melepaskan pelukakannya, ia menyentuh kedua bahu Ana dengan lembut. Ditatap nya wajah Ana. 


"Kamu sabar ya, bukan hanya kamu yang Seperi ini, tapi Anin juga merasakan semuanya. Kamu harus kuat Ana." Kata Zahra sambil mengucek rambut Ana lembut. 

__ADS_1


Setelah bincang bincang Zahra langsung pamit meninggalakan keduanya, ia tidak bisa.lama lama di rumah itu bisa bisa semua yang ia susun bisa berantakan semuanya.*


__ADS_2