TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 211


__ADS_3

Rani benar benar emosi mendengar apa yang Ana ucapan, kata kata Ana yang menurutnya tidak sopan apa lagi diucapkan pada orang tua seperti dirinya. Wajahnya merah padam menahan amarah yang memuncak secara tiba tiba. Ditatap wajah Ana dengan tajam, bukannya takut gadis itu membalas dengan senyuman sinis dan melawan dengan tatapan matanya. 


"Anak kecil jangan ingin tahu urusan orang tua?" 


"Urusan yang sudah viral bukan rahasia lagi, sebelum aku ketemu kak Anin juga aku sudah tahu, kalau aku punya kakak yang menghilang semuanya gara gara kamu! " hardik Ana pedas. 


"Sampai kak Anin lwevi dari desa itu semuanya melihat ayah meninggal itu dalang semuanya kamu. Dan sekarang kamu datang kesini buat apa?"


"Belum puas tante melakukan kejahatan yang begitu gampang banget ya buat dirimu? " 


Cerocos Ana tanpa henti sama sekali, tidak menunggu Rani bicara apapun juga. Rani yang mendengarkannya merasakan telinganya gatal oleh apa yang dikatakan Ana padanya. 


"Nggak bisa jaga rahasia!" teriaknya. 


Wanita itu benar benar gusar dan sebal sekali, pada gadis yang ada dihadapannya, memang apa yang dikatakan Ana sbenarnya tapi bagi ia ingin sih Ana menutupnya jangan sampai dibicarakan lagi apalagi dihadapannya.


"Rahasia? Rahasia mana? Kalau memang rahasia kenapa satu desa tahu kelakukan kamu dan uwa  Darman itu bukan rahasia lagi! " damprat Ana kesal. 


Ana hanya tertawa sinis saat telinganya mendengar alam yang dikatakan oleh Rani tidak menjaga rahasia, ia bukan tidak bisa jaga rahasia tapi semua desa itu memang tahu kelakuannya. 


Sejujurnya Ana sebelum bertemu dengan Rani pernah mendengar nama Rani terucap begitu saja di bibir salah satu orang di desanya, tapi ia tidak mengenal wanita yang disebutkan. 


"Kamu bisa diam nggak sih! Jadi anak itu harus ya diam jangan ikut campur urusan orang dewasa!" Teriak Rani kesal. 


"Memang aku anak. Kecil itu anggapan kamu, tapi aku tahu apa yang kamu sembunyikan,"


Rani benar benar kewalahan dengan kata kata Ana, gadis dihadapannya benar benar telah pintar bicara sekarang. Ia ingin sekali merobek mulut gadis di hadapannya, tapi ia sadar dan tidak melakukannya kerena ia bertujuan ke rumah Ani  hanya untuk bertamu Ayu dan Zahra. 


Kemarin memang ia bertujuan ingin bertemu dengan Zahra dan Ayu, tapi sebelumnya ia meraih HP untuk bicara dengan Ayu. 


"Aku harus bicara sama Ayu dan Zahra! " bisiknya sambil meraih HP. 


Ia mencari nama Ayu di hpnya setelah menemukan nama Ayu, Rani langsung menelpon Ayu. Untung Ayu yang mengangkatnya, ia bernama lega. 


Rano sebenarnya ragu awalnya takut yang mengangkatnya Bram dan Ana kerena urusannya bisa panjang sekali. Tapi untungnya orang yang ditujunya lah yang mengangkatnya. 


📱Ran, ada apa kamu telpon aku? 


Wanita itu langsung bertanya pada Rani saat ia mendengar hpnya berdering sangat kerasnya. Awalnya ia tidak ingin mengangkatnya  tapi kalau tidak diangkat Rani bakal terus menerus menelponnya. 


Akhirnya Ayu mengangkatnya. Setelah mendengar suara Ayu dari sebrang sana, Rani membuka percakapan dengan Ayu. 

__ADS_1


📱Yu, kita ketemuan yuk! Pokoknya dimana saja. Kamu bisa bawa Zahra kita bicara yang ringan ringan saja. 


Kemarin memang Rani yang menelpon Ayu, ia bermaksud mengajak Ayu bertemu dan sekalian mengajak Zahra. 


📱Ketemuan, kok mendadak sekali sih! Kapan? Kalau sekarang aku jg ggak bisa ketemuan? 


Tolak Ayu ketika menerima telpon dari Rani, sebenarnya ia menolak ajakan dari Rani untuk ketemuan, ia malas beetwmundenhan Rani kembali. 


📱Kalau kamu ingin ketemu denganku datang saja ke rumah ibu Ani saja, aku nggak enak keluar rumah tanpa izin pemiliknya. Apalagi aku disini menumpang! 


Alasan itu yang diberikan oleh Ibu Ayu pada Rani. 


Mendengar alasan Ayu, Rani hanya menghela nafas panjang! Ia sebenarnya ragu untuk ke rumah ibu Ani, masalahnya sering ketemu Ana dan pak Bram. Memang keduanya tidak pernah buat onar kalau ketemu tapi selalu bikin hati tidak nyaman saja. 


📱Baik lah kalau begitu. 


Akhirnya  Rani lah yang mengalah, kerena ibu Ayu tidak mau bertemu di tempat lain. Terpaksa Rani akan len rumah Ani ya biarpun hatinya ketar ketir. 


📱Ran, kalau bisa jangan sekarang sekarang ya, bagaimana kalau besok atau kuda saja. 


Pinta Ayu dengan cepat. Akhirnya Rani setuju dengan usul Ayu, besoknya ia datang. 


Ya hari ini di jam 10.00 ia mendatangi rumah Ani, bukan Ani atau Ayu yang menyambut kedatangan nya tapi sebuah tamparan dari tangan Ana lah yang menyambut kedatangannya. 


"Gadis tengik! " umpatnya. 


"Kamu seharusnya tanya pada saya ada keperluan apa sampai datang sepagi ini. " cerocos Rani kesal. 


Ya gadis itu tidak basa basi lagi langsung menampar pipi Rani. 


"Buat apa aku tanya kedatangan tante? Pasti mau ketemu orang yang ada di rumah ini kan? Ngapain juga tanya tanya? " sembur Ana. 


Memang Ana tidak ada sopan santun nyan pada Rani sejak awal pertemuannya. Apalagi pertemuan mereka di awali konflik saja, Ana yang awalnya mengangap Rani itu Ani sekarang ia merasa bersalah pada Ani. Maka dengan itu ia berusaha untuk baik apalagi ibu Ani juga baik padanya, sedangkan Ana pada Rani selalu menjadi anjing dan kucing. 


"Mana ibu dan Zahra? " akhirnya Rani bertanya pada Ana. 


Kerena sejak ia datang hanya Ana saja yang kelihatan di rumah ini, tidak ada orang lain sama sekali. Mungkin kalau Ana tidak menghalangi ia bakalan masuk ke dalam rumah kerena pintu rumah itu terbuka. 


"Oh! Bilang kalau mau ketemu ibu dan kak Zahra. Kenapa nggak bilang dari tadi malah marah marah dan emosian? Apa sedang PMS ya tan? " tanya Ana. 


Gadis itu seperti tidak merasakan bersalah sama sekali, memang dari awalnya juga ia tidak menanyakan kedatangan Rani untuk ketemu siapa? 

__ADS_1


Wanita itu benar benar melotot mendengar apa yang dikatakan oleh Ana, kata kata yang tidak ada beban sama sekali masuk telinga dirinya. 


"Arghh! Kamu tadi nggak ngomong sama tante." geram Rani. 


Rani geram sekali serasa dipermainkan oleh Ana. Tapi gadis itu cuek saja. 


"Ngomong apa tante? Kok Ana nggak ingat ya? " tanya Ana berpikir. 


Sebenarnya gadis itu tahu memang waktu pertama datang ia tidak bertanya mau bertemu siapa pada Rani. 


"Kamu jangan bercanda? Ibu kamu dan Zahra ada nggak di rumah!" teriak Rani marah. 


Akhirnya ia mengakui kalau dirinya ingin bertemu dengan Ayu dan Zahra pada Ana. Rani benar benar sudah habis kesabarannya mendengar apa yang dikatakan Ana. 


Wanita itu hampir saja memukul wajah Ana yang lancang dan kurang sopan santun sama sekali, ia langsung mengangkat tangannya akan dilayangkan ke pipinya Ana tapi tangannya malah melayang di atas udara tidak bisa menyentuh wajah gadis yang ada di depannya. 


Karena Ana tahu kalau dirinya akan ditampar oleh wanita itu langsung mengangkat kedua tanganya dan menyembunyikan ke tangannya, tapi ia tidak merasa kalau ada tangan yang menampar tubuhnya.


Ana takut takut menurunkan kedua tanganya yang menutupi wajah ya, bukan hanya Ana saja yang heran tapi Rani juga heran kenapa ada tangan yang memegang tangannya. Ketika Rani melihat siapa orang yang menahan tangannya. 


"Bram!" lirih Rani ketika melihat pak Bram yang menahan tahan untuk tidak menampar pipi Ana. 


"Ada apa kesini? Baru datang masalah berani memukul? " Tanya Bram sinis. 


Pria itu langsung menepiskan tangan Rani dengan kasarnya membuat tangan wanita itu terasa sakit sekali, tapi ia menahannya. 


"Dia yang duluan! Berani menampar pipi orang tua. " adu Rani. 


Pak Bram melirik wajah Ana dengan tajam kerena ingin tahu apa yang dikatakan wanita itu benar atau tidak. Ana yang tahu lirikan mata pak Bram langsung mengangguk dengan cepat. 


"Kenapa kamu. Lakukan itu? " tanya pak Bram pada Ana. 


"Aku kesal saja pada diri, uwa darman itu sayang sama tante Rani tapi tante Raninya. Malah seperti ini," 


"Tante Rani berani menjerumuskan uwa Darman, dan sekarang tente mau apa. Ketemu ibu dan kak Zahra? " tanya Ana sinis.


"Kalau saja dari tadi bilang kaya gitu ngak mungkin? "


"Nggak mungkin tangan Ana menampar pipi tantw kan? " tanya Ana ketus. 


"Sudah sudah kalian ini? Kamu kesini buat apa ketemu Ibu Ayu dan Zahra? " 

__ADS_1


"Ada hal penting!  Kalau Ana dari tadi bertanya terus mana Ayu dan Zahra nya? " tanya Rani kesal. 


Ya tidak kesal bagaimana seharusnya ia yang bicara banyak pada Ayu dan Zahra tapi kedua orang yang ada dihadapannya seperti tidak memberikan waktunya. Sebenarnya ini yang Rani tidak inginkan datang ke rumah Ani banyak rintangannya.*


__ADS_2