TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 186


__ADS_3

Rani terkejut sekali melihat kedatangan Zahra yang tiba tiba, sebenarnya  ia tidak ingin kalau  ia ketahuan oleh Zahra tapi terlambat, Zahra malah tahu semuanya. Ia sama sekali tidak menduga sama sekali kalau Zahra akan kembali.


Zahra menatap kearah Rani dengan tajam. Gadis itu terkejut seketika juga melihat Rani diantara mereka, ia menduga kalau wanita itu menemui ibu bukan mamanya. 


"Uwa kesini buat apa?"


Zahra langsung bertanya the to point  sama Rani yang tidak jauh darinya. Tatapan wanita itu sedikit ada kejutan kerena mungkin tidak menyangka kalau Zahra harus datang ke rumah nya. 


"Dia mau mengambil kamu dari mama kamu!" teriak Ayu menjelaskan. 


Ayu langsung berkata pada Zahra kerena melihat Rani diam saja tidak mengucapkan sepatah kata apapun juga. 


"Anin bukan anak Ani tapi anak kamu Yu! " balas Rani. 


Zahra yang mendengar teriakan Rani termanggung, ia juga mendengar jelas ibunya mengatakan kalau ia adalah anak mama, sedangkan Rani dengan lantangnya mengatakan kalau ia Ayu sendiri, Rani seperti tidak suka kalau misal Zahra dinyatakan anak Ani bukan Ayu. 


"Uwa nggak segampang itu, aku punya ibu dan mama aku nggak mungkin punya mama lagi selain mereka." kata Zahra menatap kearah Rani. 


Apa yang diucapkan olehnya memang benar ia sama sekali tidak pernah ingin menyebut mama pada Rani ya biarpun wanita itu memberikan seorang adik laki laki, tapi seorang adik yang diberikan bukan dari pernikahan yang suci. 


"Aku menyesal nggak pernah menculik kamu dari kecil, kau tahunya begini lebih baik aku menyuruh kang  Darman menculikmu, " sembur Rani berapi rapi. 


Ia mengutarakan isi hatinya di hadapan Zahra, dan mengatakan kalau rencana penculikan itu pada semuanya yang ada di ruangan itu. 


Zahra hanya melengos mendengar apa yang dikatakan oleh Rani. Pantas saja di kantor ia ingat rumah ditambah lagi ada berang yang ketinggalan awalnya ia menelpon mamanya tapi sangat mama tidak mengangkatnya sama sekali. 


"Na, kakak pulang dulu ya! " kata Zahra di kantor minta izin sama Ana. 


"Kakak pulang mau apa sih! Kan kakak harusnya sekarang masuk? " heran Ana. 


"Kakak khawatir pada mama dan ibu, tadi kakak telpon mama tapi nggak mangangkat sama sekali, ditambah lagi ada arsip yang ketinggalan." brondong kata kata Zahra. 


"Ra, memangnya kamu mau kemana? " tanya Rey yang tiba tiba datang. 

__ADS_1


"Aku mau pulang dulu, aneh perasaanku nggak enak ditambah lagi ada arsip yang ketinggalan jadi hari ini aku pulang tapi balik lagi kok! " Zahra menatap keduanya. 


Raya hanya mengangguk saja setelah mendengar penjelasan dari Zahra. 


"Kamu jalan sendiri atau mau diantar? " kata Raya perhatian. 


"Pengen jalan sendiri Rey, maaf ya. " kata Zahra sambil mengkupkan tangannya ke dada. 


Ray hanya mengangguk saja, sebenarnya ia ingin sekali kalau Zahra mengizinkan untuk diantar tapi ia menghargai keputusan yang diambil oleh Zahra. 


"Hati hati ya! " 


Iya Rey aku hati hati kok! " jawab Zahra tersenyum. 


"Rara pergi ya! " pamit Zahra. 


Ana hanya mengangguk  ada helaan kecil di bibirnya. Sedangkan Rey  hanya  garuk kepala, tapi kalau Ana sebenarnya apa yang dirasakan oleh Zahra ia juga merasakan tapi ia lebih banyak diam. 


Bukan hanya Zahra dan Ana yang khawatir tapi kamu Bram juga pikirannya malah ingat istrinya di rumah, ia awalnya ingin pulang dulu menenggok nya tapi ketika itu ia melihat Zahra yang hendak keluar dari kantor. 


"Ra, mau kemana? " teriak pak Bram kerena melihat Zahra tergesa gesa. 


Ia takut terjadi sesuatu yang menimpah istrinya apalagi ketika melihat Zahra tergesa-gesa gesa seperti itu. 


"Rara ada arsip yang ketingalan di rumah! " ujar Zahra. 


Gadis itu memberitahukan kalau ada arsip yang ketinggalan. 


"Oh ya sudah kalau kamu mau pulang, pulang 


 saja ya, tadi papa mau pulang pikiran papa nggak tenang mama dan ibu mu di rumah berdua saja. " kata pak Bram memberitahukan perasaannya pada Zahra. 


Gadis itu hanya mengangguk mendengarkan curhatan hati papanya, sebenarnya ia juga pulang kerena perasaan nya tidak enak. 

__ADS_1


Ia langsung pulang dengan avanza nya dengan kecepatan sedang, pikirannya tetap tertuju ke rumah. Sampai ke rumah jam 09.00, memang di luar tidak ada kehidupan sam sekali tapi saat masuk ia melihat apa yang tidak seharusnya ia lihat. 


Ya ia sangat terkejut dan tidak menyangka kalau dk rumah mamanya kedatangan  Rani dan wanita itu akan mengambil dirinya. Awalnya ia mendengarkan apa yang bicarakan oleh keduanya, tapi saat Rani menyangkut dirinya ia ikut menimbrung dalam percakapan. 


"Biarpun aku di culik sama kamu, aku nggak sudi meninggal kamu kalau kamu tetap salah, aku akan menolong kamu asal kamu benar! " 


Cerocos Rani memandang wajahnya Rani dengan tajamnya, kedua nya saling tatap satu sama lainnya. 


"Dan aku bersyukur sama Tuhan, kerena Tuhan nggak pernah menakdirkan aku dan kamu bersama. Seperti aku dan mama, aku tahu uwa iri'kan pada mama yang tiba tiba bisa mengangkat aku sebagai anaknya tanpa harus bertengkar dulu dengan ibu, "


Zahra tersenyum. 


"Aku bersyukur pada Tuhan kerena dalam peristiwa itu aku mengikuti ayah yang teraniaya oleh uwa  Darman dan aku bisa kabur setelah ayah pergi dan tidak kembali lagi. " 


Jelas Zahra. Ia sengaja mengeluarkan kata kata itu supaya Rani mengakui kalau memang dirinya menginginkan kalau ia ingin mengambil Anin di hidupnya Ayu dan Hamdi.


"Kamu tahu uwa, malam setelah Ayah meninggal aku lari menyelamatkan diri dari kepungan uwa Darman dan malam itu aku ketemu dengan mam Ani dan papa Bram." 


Zahra akhirnya menceritakan malam kejadian itu. Tanpa ragu ragu lagi di hadapan Rani dan semuanya. Ayu dan Ani juga turut mendengarkan apa yang diceritakan oleh Zahra. 


"Dan menyedihkan sekali, uwa Darman nggak pernah  menyetujui kamu mengambil Anin dari kedua orang tuanya, malah Anin pergi begitu saja setelah ayahnya meninggal lalu ditemukan oleh pasangan suami istri yang baik. " 


Zahra sengaja bicara seperti itu pada Rani sambil mengengejeknya. Gadis itu sambil mengingat apa yang diceritakan oleh ibu Nining dan ibu Marni pada dirinya. Ya ia tahu dari ibu Marni. Rani yang tidak merasa menceritakan pada Zahra hanya melonggo saja mendengarkan apa yang diucapkan oleh Zahra. 


"Kamu tahu dari siapa? " tanya Rani heran. 


Wanita itu terkejut apa yang diceritakan oleh Zahra, ia benar benar tidak menyangka kalau Zahra tahu semuanya. 


"Aku nggak akan memberitahukan siapa yang menceritakannya, itu nggak pentingkan? " tanya Zahra sinis. 


Ani dan Ayu hanya bisa. Mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Zahra dan Rani. Ayu sedikit terkejut kerena Zahra tahu apa yang terjadi pada Rani tentang keinginan Rani untuk mengambil Anin dari tanganya. 


Wanita itu ingat apa yang uwa Iyan katakan. Kalau sekarang ia tidak mendengar apa yang Zahra katakan mungkin Ayu tidak akan percaya pada uwa Iyan yang mengatakan perkataan jujur pada dirinya.*

__ADS_1


__ADS_2