
POV Ana.
Aku merasa heran sih kedatangan kak Zahra memang mempunyai kelebihan pada keluargaku, ibu yang terlihat ceria banget. As Sering tersenyum, tertawa dan bicara. Dulu sebelum ada kak Zahra, semuanya serba membisu, wajah ibu miring sekali, mudah tersinggung dan yang jadi pelampiasannya aku sebegai anak bungsu.
Kata orang aku punya seorang kakak perempuan bernama Anindya, tapi sampai aku dewasa seperti ini aku sama sekali tidak melihat keberadaan kakakku. Aku hanya hidup dengan ibu saja. Paling juga ada mbok Inem dan ua Iyan yang menemani aku.
Mbok Inem dan uwa Iyan juga menurutku biasa saja, paling menegur aku, mengajak ngobrol atau apalah. Sebenarnya aku hanya mendengar nama Anin itu sudah cukup melekat dalam hatiku.
Oya aku sebenarnya tidak pernah sekolah, aku sekolah sampai SD saja kerena waktu masuk SMP harus ada kendala biaya dan perekonomian ibu semakin sulit. Kalau sekarang enak sekolah gratis, dulu aku harus putus sekolah. Untung ayah punya koleksi buku buku yang bermutu dan buku pengayaan, jadi lah aku sering baca buku buku itu.
Tapi buku buku buku punya ayah malah sama ibu di hibahkan ke perpustakaan yang sekarang dikelola oleh kak Zahra, dan aku juga adalah pengurus perpustakaan nya.
"Uwa emang benar kalau kak Anin telah pulang?" tanya ku lada uwa Iyan.
"uwa juga nggak tahu Na, mungkin berita itu hoax saja. Kalau Anin pulang kenapa coba nggak menemui ibumu."
Aku mengangguk atas apa yang uwa Iyan katakan.
"Tapi kata kak Zahra mungkin kak Anin menyiapkan sesuatu buat mengungkapkan kebenaran nya?" ujarku mengulang perkataan kak Zahra.
"Uwa juga heran kenapa Zahra mengatakan itu lada kamu, seolah oleh ia membela kakakmu. Atau jangan jangan Zahra itu kakakmu," tebak uwa Iyan.
"Masa sih!" ujarku terkejut.
"Uwa pernah melihat Zahra ke perkuburan, kalau di pikir pikir buat apa ia ke kuburan?" tanya uwa Iyan menatapku.
"Ke kuburan? Kapan uwa?" ujarku terkejut.
Aku baru mendengar kalau kak Zahra ke kuburan? Memang kalau di pikir pikir kak Zahra mau ke kuburan buat apa sih! Jujur aku nggak pernah ke kuburan biarpun disana ada ayah.
"Seminggu yang lalu?"
"Apa jangan jangan sama papa nya?" tanyaku.
"Iya waktu itu sama papa nya kesana. Waktu itu uwa mau menegur tapi uwa tahu ya sudah uwa diam saja." jelas uwa Iyan menatapku.
"Uwa sebenarnya aku juga curiga sih pads kak Zahra," ujarku mengungkapkan isi hatiku.
__ADS_1
"Uwa juga penasaran, sebenarnya pada Zahra."
"Uwa, uwa kan kenal kak Anin kecil apa yang dimiliki kak Anin waktu itu ciri kak Anin," kataku.
Sebenarnya aku secara diam diam menyelidiki kak Zahra yang tiba tiba datang membuat satu perubahan pada ibu. Bukan itu saja kak Zahra juga sering menyebut ibu dan mama seperti ada dua wanita yang benar benar hidup di hati kak Zahra.
Itu yang membuat aku penasaran pada kak Zahra, sebutan ibu dan mama, apa ibu ka Zahra itu mama nya atau bukan? Disini aku merasa kalau saat ia menyebut ibu seperti ada sebuah kerinduan yang ia sembunyikan tapi disaat menyebut mama, wajahnya seperti biasa saja datar.
Dan aku juga merasa aneh saat ibuku dan kak Zahra bercanda, aku melihat wajah kak Zahra seperti nyaman sekali disamping ibu.
"Waktu kak Zahra tinggal disini ibu begitu bahagia sekali ya biarpun awal awalnya ibu menolak kedatangan kak Zahra.
"Uwa juga heran, ibumu seperti bahagia kedatangan Zahra?" ucap uwa Iyan padaku..
Aku hanya bisa.menarok nafas dalam dalam mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut uwa Iyan, apa yang dirasakan oleh uwa Iyan juga dirasakan olehku..
Dari percakapan aku dengan uwa Iyan aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh oleh wanita kota itu, senyuman dsn tatapan nya penuh misteri bagiku.
Ya apalagi saat uwa Iyan mengatakan kalau kak Zahra ke pekuburan buat apa coba? Tapi kaku ditanya pasti bicara ayah. Jujur selam kak Zahra ada di desa ini ya hampir tiga bulan lamanya, aku juga merasa ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu.
"Ibu bahagia kok kalau ada Zahra." ungkap ibu saat aku tanya lada ini tentang kak Zahra..
"Curiga apa maksudmu?"
"Siapa tahu kak Zahra itu kak Anin." ujarku sekena nya.
"Masa kakakmu?" tanya nya polos.
"Nggak mungkin lah kakak mu, kakakmu seperti nggak ingat ibu, jadi ibu merasa menemukan Anin dalam banyangan Zahra." ujar ibu.
"Kenapa harus begitu Bu?"
"Ibu malah sayang sama Zahra, Na. Bayangan Anin malah menghilang dalam benak ibu, malah tergantikan oleh Zahra."
Aku hanya terpekur mendengar ibu mengatakan itu padaku."Terus kalau kak Anin datang bagaimana Bu, apa ibu nggak akan memeluk kak Anin? Kasihan kak Anin, Bu." kataku perih.
Aku hanya membanyangkan kalau misal kak Anin datang ke rumah, bagaimana perasan kak Anin yang pasti sangat merindukan ibunya. Tapi malah ibu berpaling pada kak Zahra seorang anak yang lengkap kasih sayangnya.
__ADS_1
Kedua percakapan itu aku simpan dalam hatiku, sebagai bukti kalau ibu dsn uwa Iyan masih bertanya tentang keberadaan Anin. Ya kisah kakakku sangat fatal sekali kalau diceritakan.
Apalagi saat uwa Darman mengamuk di rumah.
"Ibu nggak apa apa lah kalau Anin nggak bareng ibu lagi, asal kita bisa.bareng sama Zahra."
Jujur perih rasanya hati ini. Ibu lebih memilih kak Zahra dibandingkan dengan anak sendiri, aku nyakin kalau misal kak Anin datang pasti kecewa kerena ada nama lain selain dirinya yang ada di hati ibu.
"Kamu kenapa de?" tanya kak Zahra ketika aku di perpustakaan.
"Nggak apa apa kok kak," ujarku tidak ada semangat.
"Ada masalah? cerita dong!"
"Kak, kenapa sih kakak mau tinggal di desa ini?" tanyaku menyapa wajah kak Zahra.
"Ini tugas de,"
"Tugas sebagai pengelola perpustakaan atau yang lain?" selidik ku.
"De, kamu bicara apa?" tanya kak Zahra.
"Kak, menurut aku lebih baik kakak pulang saja ke kota itu lebih baik lagi!" ketus ku.
"De, kok bilang begitu? Apa yang terjadi pada kamu?" tanya kak Zahra heran.
"Kak sejak ada kakak banyak kejadian aneh di desa ini? Maksudku kejadian uwa Darman!" jelas ku.
Aku melihat ada kejut dimata kak Zahra tapi aku hanya diam saja.
"Kak sebenarnya kakak siapa? Kenapa kakak datang ke desa ini?"tanyaku bertubi tubi.
"Kakak nggak bisa cerita dek," ujarnya..
"Kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan menghilangnya kak Anin?"
"De!"
__ADS_1
"Aku nyakin kalau kakak sebenarnya menyembunyikan sesuatu dari aku dsn ibu maupun warga disini, kakak tahu kan semuanya tentang warga disini, kakak juga tahu kan kenapa ayah meninggal?" brondong kata kata ku yang aku.luncirkan dalam hatiku.
Aku melakukan itu aku hanya ingin tahu apa relasi kak Zahra dengan kata kata yang aku lontarkan pada dirinya sendiri.*