TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 224


__ADS_3

Tepat 20 tahun yang lalu! 


Desa yang jauh dari keramaian gempar seketika juga. Tempat kejadian, waktu, hari dan tanggal yang sama seperti penangkapan pak Hamdi, untuk warga yang masih panjang umur hingga sekarang peristiwa penangkapan Rani seperti diulang kembali. 


"Ha! Jadi selama ini wanita itu dalang pembunuhannya? " 


"Nggak menyangka ya, kalau ia harus mengajak Darman yang benar benar mencintainya, " 


"Nggak nyangka sama sekali, kasihan pak Hamdi yang harus meninggal akan gara gara wanita itu!"


Ocehan demi ocehan terdengar dengan jelas dari telinga orang membicarakan tentang Rani, semua warga tidak menyangka hal. Itu terjadi pada pak Hamdi nyang harus meninggalkan keluarganya oleh keganasaan Rani! 


Pristiwa penangkapan pak Hamdi terulang lagi, desa X geger seketika juga. Sekarang bukan pak Hamdi yang ditangkap, tapi seorang wanita yang warga merasa pernah melihat wanita itu! 


20 tahun yang lalu yang seharusnya ditangkap bukan lah pak Hamdi  tapi Darman dan Rani! Tapi 20 tahun yang lalu peristiwa itu tidak bakal di lupakan oleh semua warga desa X pak Hamdi yang tidak bersalah menanggung kesalahan  orang lain sedangkan dua orang yang harusnya bertangung jawab sama sekali tidak pernah mempertanggung jawabkan kesalahannya di di hadapan hukum yang berlaku. 


Uwa Iyan dan mbok Inem juga melihat kejadian 20 tahun yang terulang lagi! Hanya perannya yang berbeda, kalau dulu pak Hamdi yang ditangkap sampai semua warga melihat sendiri. 


"Alhamdulillah  semuanya bakal berakhir sekarang! " gumam mbok inem tersenyum. 


"Ya semoga saja nggak ada kejadian lagi di desa ini, " kata uwa Iyan mendengar gumaman dari mbok Inem. 


"Kang kamu sekarang percayakan kalau dek Hamdi nggak bersalah, bagaimana pun ia hanya di fitnah saja. " mbok Inem seperti merenungkan kata katanya.


"Semua sudah tahu kalau dek Hamdi nggak salah hanya kita nggak pernah mau membantunya, ya menegakkan kebenaran yang ada. " ujar uwa iyan. 


Dulu peristiwa penangkapan  Hamdi juga seperti itu! Hanya bedanya banyak bedain bisik tetangga tentang pak Hamdi yang ditangkap oleh beberapa polisi. 


Tapi bisikan bisik itu hanya dibawa angin lalu saja, tidak ada orang yang berani mengatakan kalau pak Hamdi itu benar dan tidak pernah melakukan kesalahan. 


Kejadian 20 tahun terulang kembali, hari ini bukan lah Hamdi yang ndi guring oleh polisi tapi seorang wanita dengan rambut acak acakan, badan tidak terawat sama sekali. 


"Oh! Itu Rani kalau nggak salah, tapi kenapa ia tiba tiba di tangkap sudah lama nggak pernah kembali tapi pas kembali malah ditangkap polisi? " 


Pertanyaan warga pada yang lainnya tentang Rani, orang yang ditanya hanya mengelengkan kepalanya saja. Mereka tidak tahu sama sekali kalau memang Rani tidak pernah meninggalkan desa itu! Ia hanya menempati tempat di perbukitan yang dianggap rumah sendiri, ditambah lagi perbukitan itu jarang ada orang yang lewat atau mengunjungunya. 


Jadi biarpun Rani tinggal disana warga tidak ada yang tahu sama sekali keberadaan Rani, apalagi alam di perbukitan itu indah dan menakjubkan. Alam menyediakan berbagai makanan yang bisa dia makan oleh manusia. 


Buah jeruk, apel, alpuket, kelapa, jambu batu, jambu air, semuanya tersedia begitu saja disediakan oleh alam yang indah. Jadi Rani tidak takut untuk hidup di perbukitan itu! 


"Kasihan ya pak Hamdi udah meninggal, wanita itu benar benar jahat nggak punya hati, beraninya mempermainkan hukum." 


"Aku nggak nyangka kalau Rani dalang dari semuanya. " 

__ADS_1


"Apa benar wanita itu yang jadi dalang dari semuanya? " 


"Iya, kerena kata khabar kalau Rani sakit hati di tolak menikah dengan Darman! " 


"Kasihan sekalinya. " 


"Oya katanya ibu angkatnya nggak setuju ya Darman menikah dengan Rani, masalahnya Rani nggak diketahui berasal dari keluarga mana? " 


"Iya katanya, tapi kenapa sih ibu angkat Darman nggak merestui mereka? " 


"Entahlah!"


"Mungkin sakit hati terus ia bunuh Hamdi. "


"Bukan bunuh Hamdi tapi bunuh pak Rohman tapi mereka memitnah pak Hamdi, " 


"Benar benar tidak punya hati wanita itu,"


"Eh tahu nggak siapa yang melakukan nya? " 


"Anin. Katanya Anin kembali lagi? " 


"Bukan bukan Anin tapi Zahra orang yang hampir saja di bunuh pak Darman. " 


"Zahra? " 


"Orang yang datang ke desa ini waktu itu," 


Pertanyaan demi pertanyaan  dilontarkan begitu saja oleh semua warga desa X, semuanya bernafas lega saat beberapa polisi mencari Rani ke polosok desa, wanita itu di temukan di perbukitan dimana tanah itu milik Darman. 


"Aku nggak akan pernah melupakan perbukitan ini Yu, aku nggak akan pernah melupakan ini semuanya. " 


Itulah yang Rani katakan pada ibu Ayu waktu sebelum ibu Ayu menikah dengan pak Hamdi. 


"Terserah kamu akan melupakan atau nggak itu urusan kamu. " ujar ibu Ayu. 


"Nggak akau nggak akan pernah bisa. Melupakan semuanya yang ada di desa ini, ya biarpun misalkan aku kenapa kenapa pasti aku bakal balik lagi ke desa ini. " 


"Desa sudah aku anggap desa sendiri ya biarpun aku lahir dimana aku juga nggak tahu tapi desa ini bagiku rumah dan harapanku. " 


"Kamu bisa mencari aku di perbukitan kalau misal ada apa apa, karena aku akan ada di sama setiap waktu. Semua orang nggak akan tahu kalau aku akan tetap ada di perbukitan itu. " 


Itulah kata kata Rani pada ini Ayu. ibu Ayu juga tidak pernah mengerti apa yang dimaksud kata kata temannya itu, tapi ibu Ayu menyakinkan kalau Rani punya sesuatu yang ingin ia ungkapkan tentang perbukitan itu padanya.

__ADS_1


Polisi awalnya kesulitan mencari keberadaan dari Rani, tapi ibu Ayu akhirnya memberitahukan kalau Rani kemungkinan  besar ada disana sambil menunjukan tempat yang dianggap istimewa oleh Rani.


"Pak, boleh saya bicara sama orang yang bernama Zahra Anindya?" tanya Rani sebelum naik ke dalam mobil untuk di bawa ke penjara. " 


Polisi itu mengangguk mengiyakan keinginan terakhir kalinya tahanan itu, wanita itu langsung mendekati mbok Inem, dan ibu Ani yang berada diantara kerumunan yang lainnya. 


"Rara dimana? " tanya Rani menatap kedua bola Ani. 


Wanita itu celingukan mencari Zahra, dan ibu Ayu tapi kedua wanita yang berbeda usia itu tidak ada diantara kerumunan. 


"Aku nggak tahu mereka kemana? " 


"Aku datang sendirian ke sini sendirian, " dusta ibu Ani. 


"Kenapa kamu yang datang seharusnya Anin dan ibunya yang kesini bukan kamu, " ketus Rani. 


Sebenarnya dalam keadaan seperti ini, ia hanya ingin Zahra yang datang tapi gadis itu tidak datang sama sekali. 


"Ma, seharusnya Rara dan ibu nggak datang saja, " kata Zahra ketika mereka ke desa itu! 


Ya saat warga geger atas penangkapan Rani sebenarnya Zahra dan ibu Ayu berada di desa itu, mereka melihat apa yang terjadi. Tapi waktu Ibu Ani mendekati kerumunan warga, Zahra dan ibu Ayu malah tidak datang. 


"Ra, kenapa?" tanya ibu Ani menatap wajah Zahra. 


"Seharusnya Rara dan ibu juga sama Ana nggak datang kerena Rara nggak tega rasanya melihat uwa Rani, " kata Zahra jujur. 


Ibu Ani hanya mengangguk saja, begitu juga dengan ibu Ayu dan Ana tidak datang untuk melihat semuanya.


Rani hanya diam saja mendengar ibu Ani mengatakan itu pada dirinya, sebenarnya hati Rani hanya ingin minta maaf pada Zahra dan Ibu Ayu tapi keduanya sama sekali tidak datang. 


"Maafkan uwa Rani, Rara sengaja melakukan ini kerena Rara sayang uwa. " bisik hari Zahra dengan rasa harunya. 


Ia melihat dengan jelas di kejauhan Rani dimasukan ke dalam mobil untuk dibawa ke kantor polisi, disana juga uwa Iyan mendampingi Rani. 


"Jangan menangis! " ujar ibu Ayu melihat Zahra menangis. 


"Nggak kok bu, ada debu yang masuk, " dusta Zahra tersenyum. 


"Bu, semoga saja uwa Rani menyadari semuanya ya. "


"Kita doakan semoga uwa kamu menyadari semuanya. 


Zahra hanya mengangguk saja.*

__ADS_1


__ADS_2