
"Jadi semuanya benar apa yang dikatakan mama? " potong zahra memotong cerita ibu Nining.
"Mama? " tanya Ibu Nining balik tanya.
"Mama Ani. " ujar Zahra.
"Iya, mama Ani anaknya Ningsih. " kata ibu Nining kembali.
"Jadi benar kakau uwa Darman yang diangkat oleh nenek itu anaknya oma Ningsih? " kejar Zahra.
"Benar sekali. Hanya mamanya Ningsih yaitu enek dari Rani yang memisahkan mereka semuanya.
"Kok ibu dari ayah hamdi tahu kalau uwa Darman adalah kakak dari uwa Rani?"
"Kerena nenek kamu adalah sahabat dari ningsih. dan Nenek kamu tahu kalau Andika adalah anak Ningsih, tapi waktu nenek kamu ingin mengembalikan Andika pada keluarganya, Ningsih pindah ke luar negeri.
" Jadi nenek Ningsih sengaja diajaka oleh mamanya ke luar negri meningalkan indonesia? " tanya Zahra terkejut.
Pantas kakau begitu. Uwa Darman benar benar dibuang oleh neneknya sendiri nenek orang tua mamanya.
"Rani juga mengalami apa yang di alami. oleh kakaknya, ya biarpun mereka bukan saudar satu ayah taoi mereka satu ibu."
"Kesalahan fatal nenek kamu nggak pernah menceritakan apa yang twejadi. Itu kah yang jadi kesalahoahaman di antara mereka berdua apalagi Rani saling mencintai dengan Darman." lanjut Ibu Nining.
Zahra hanya mengambil nafas dalam dalam ia tidak menyangka kalau bakal menjadi cerita seperti itu.
Zahra hajya bisa. mengangguk kan. kepala saja mendengarkan apa yang njning katakan. Sedangkan Vito masih penasaran dengan apa yang diceritakan oleh Zahra.
"Kak, sebenarnya gadis itu siapa sih! datang datang cuma bikin gaduh! " damprat Vito kesal.
Ia masih terlihat kesal dan frustasi pada wajahnya yang terlihat jelas sekali.
"Kamu ingin tahu tentang gadis yang datang kesini? Namanya Zahra, usianya lebih tua dari kamu sekarang ia berusia 26 tahun sedangkan kamu baru 20 tahun."
"Lalu? " kejar Vito penasaran.
"Punya ibu, dan adik satu perempuan satu, tinggal di desa X, " lanjut Dio.
"Jadi dia berasal dari desa X jangan jangan ia kenal dengan papa? Tapi kenapa ia pura pura nggak tahu tentang desanya sendiri? " tanya Vito.
"Tapi gadis itu meninggalkan desa itu sejak ia kecil, ia dibesarkan oleh suami istri yang baik dan sayang pada dirinya. " kata dio
"Kok bisa? " kejar Vito heran.
"Kalau kamu ingin tahu ceritanya datangi Zahra dan tanya semuanya tentang desa itu! Masalahnya aku nggak begitu kenal dengan desa itu, aku sempat melarang Zahra tinggal disana. "
"Kenapa?"
"Aku.nggak suka saja Zahra tinggal di desa itu! Alasan yang aku buat memang nggak ada tempat lain ya buat ia tinggal sampai ia tinggal dan pernah menetap disana." Dio menjelaskan.
"Kenapa kakak yang repot melarang dia menetao disana, dianya juga mau kan? "
__ADS_1
"Tujuan ia didesa iyu hanya mencari tahu siapa yang membunuh ayahnya? "
"Jadi ayahnya sudah meninggal? "
"Ya sejak ia berumur 6 tahun. " umar dio menatap wajah Vito.
Dio mengatakan nitip hanya ingin tahu apa Vito bakal terkejut atau tidak kakau ia tahu kakau sebenarnya dirinya adalah adik Zahra ya biarpun adik biologis bukan nasab.
Mendengar jawaban Dio, Vito langsung yeeskam. ia tidak. menyangka kalau hadia igu harus kehilangan ayahnya diusia dibawah tujuh tahun. Dimana saat itu ia harusnya merasakan kasih sayang dari ayahnya. b
"Kak aku takut kalau papaa ku juga bakal mengalami yang nama dengan ayahnya Zahra! " Vito twemenung dan membayangkan apa yang ia lakukan kalau misal ia berada disisi Zahra yang harus kehilangan papa.
Beruntung kakau Zahra masih bisa merasakan kasih sayang ayahnya, sedangkan dirinya sampai sekarang juga tidak tahu wajah papa nya.
Dio langsung terdiam seketika juga mndengar apa yang Vito katakan, kata-kata Vito sukses membuat Sio bungkam apa lagi masalah papanya.
Dio hanya menghela nafas panjang.
"Aku harus temui Zahra! Gadis itu pasti tahu tentang papa aku. " ujar Vito sambil beranjak dari duduknya.
"Vit! " panggil Dio.
Vito tidak mendengar panggilan dari Dio, ia terus berjalan menuju dimana Zahra dengan ibu Nining berbicara.
Tapi orang yang akan ia hampiri malah tjdak ada di tempat begitu juga dengan ibu Nining.
"Lho kok! Mereka nggak ada? Kita kira mereka kemana? " tanya Vito celingukan.
Matanya tidak melihat Zahra dan ibu Nining, ia merasa kesal dengan dirinya yang dari tadi tidak menanyakan tentang papa nya.
Ia malah bertanya pada Vito tentang keberadaan Zahra dan Ibu Nining sedangkan Vito juga tidak tahu kemana mereka perginya.
"Kok malah kakak. yang tanya aku sih! Kitakan baru tadi kwaininya? " Vito menatap heran Dio.
Sio hanya mendengus mendengarkan apa yang Vito bicarakan, ia hanya mengarungi. kepala tidak gatal.
"Kira.kira.kemana kak mereka perginya? " tanya Vito mengulang kembali.
"Nggak tahu ya kira. kita pergi. kemana? " gumam Dio sepertinya bertanya pada dirinya sendiri.
Keduanya. hanya berdiri di tempat semula, keduanya saling pandang dan matanya saling b berbicara satunya lainnya tapi tidak ada jawabnya yang memuaskan.
🦋
"Ibu kita harus ke kota deh! Ana kaya punya firasat kalau disana ada sesuatu yang perlu kita tahu! " desak Ana pada ibunya memohon.
"Firasat apa Ana, kamu soktabu twntang firasat kamu itu! " dengus Ibu Ayu.
Ia hanya mwngelangkan kepala mendengar apa yang Ana bilang, apalagi Ana mengunakan kata kata firasat untuk mengatakan pada ditinya.. Sedangkan ia tidak punya firasat apa apa.
"Ah! itu hanya perasaan saja, pikiran. kamu yang tidak begitu tenang. Lebih baik kamu tenangkan hati kamu duluan dari pada harus memaksakan semuanya. "
__ADS_1
"Ah ibu malah bicara kaya gitu! " dengus Ana kesal.
"Kalau ada apa apa pasti Zahra bakal telpon kamu kan? " tanya ibu Ayu.
Ya ia halal sekaki, kakau Zahra ada apa apa pasti ia menelpon pada Ana dan mwnceritakan semuanya. Sedangkan Zahra tjdak telpon sama sekali dan Ana malah bilang takut ada firasat apa apa.
"Sudah jangan khawatir, jangan risau tenangkan hati kamu. " nasehat ibu Ayu.
"Bu, kali ini saja bu. Ana pengen. ketemu dengan. kak Anin nya. " hiba Ana.
Apa. yang dipikirkan oleh Ana sebenarnya Zahra. juga. memikirkan tapi ia sekuat tenaga tidak akan mencari tahu dan. bertanya tentang kabar anak Rani.
Ya bagaimanapun juga Vito adalah saudaranya dan Ana. Tapi yang bikin sedih lagi, Zahra tidak ingin kalau Ana tahu masalah ini, ia nyakin lalau Ana tahu Vito pasti bakal terlibat urusan anak Rani ya biarpun Ana juga pernah mendengar kalau Rani sebener punya anak dari hamdi.
Mungkin Ana. nggak akan cerita pada ibunya, tapi pasti Ana bakal tahu kalau Vito adalah anak hamdi juga.
"Ana nyakin kalau kakak pasti ada yang disembunyikan! " bisiknya dalam hati.
Ana hanya ingin kalau ibunya mengizinkan saja. Tapi ibu Ayun hanya diam tidak bicara apa apa pada Ana, ia malah meninggalkan Ana.
"Bu! " panggil Ana menyongsong ibunya yang masuk ke dalam rumah.
Tapi Ibu Ayu tidak peduli dengan panggilan Ana, gadis itu mengejar ibunya.
"Bu, jangan begini sih! Ana pengen banget. "
"Kalau kamu. disana kamu. mau tidur dimana? " tanya ibunya.
Ana melonggo mendengar apa yang ibunya katakan, hampir saja ia tertawa taoi ia. berusaha menahan lucunya.
"Menginep di rumah kak Zahra, " jawab enteng Ana.
"Terserah!"
Mendengar jawaban ibu Ayu, Ana hanya tersenyum. Hatinya begitu senang sekali mendengar yang diucapkan ibunya.
🦋
Hati Ana beesorak gembira saat pagi ia lagi dari desa menuju kita dimana Zahra berada. Entah apa yang diinginkan Ana kakau sama lain disana, hatinya selalu ingin bertemu dengan Zahra.
"Mungkin ikat anak bathin anatara aku dan kaka Zahra, " begitu lah alasan Ana pada ibunya sambil tersenyum.
Sedangkan Zahra tidak. menyadari kakaunAna memang mwnyusulnya.
"Ana sebenarnya tahu kalau uwa Rani punya anaka dari ayah, waktu ibu mirna cerita ia juga ada di tempat itu. "
"Tapi ia mungkin nggak menduga kalau misal Ana ketemu dengan Vito."
"Aku kira Ana nggak tahu kakau uwa Rani hamil?" uang Dio
Tadi ia menanyakan pada Zahra twntang Ana.
__ADS_1
"Ana belum pernah ketemu dengan Vito. Sebenarnya Ana sudah tahu dari cerita ibu Nining jadi nggak mungkin twekwnut sih! " jelas Zahra pada Dio.
Dion hanya mengangguk. Tadi ia bicara masalah Vito dengan Zahra, Dio menyarankan kalau Zahra menceritakan tentang Vito pada Ana. Supya tjdak kaget pas ketemu. Tapi penjelasan Zahra seperti itu.*