TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 142


__ADS_3

Rani yang tahu kalau Ayu telah mengetahui semuanya ia. Langsung kabur seketika juga. Kerena ia mwnyangka mungkin kalau Ayu bakal melaporkan dirinya ke polisi. 


Ia dari awal juga takut pada penjara, lebih baik sembunyi dan kabur untuk menyalamatkan diri. Apalagi ia harus berhadapan dengan Zahra. 


"Marni semuanya gara gara Marni! 


" Aku nyakin kakau Marni yang telah menceritakan semuanya? " 


"Bajingan juga!"


Rani terlihat kesal dan marah sekali kerena ia tidak mwmyangka kalau semuanya terungkap begitu saja! Kalau bukan kerena Marni mungkin ia bakal mencark tahu keberadaan Darman. 


"Marni kabur!" Masih terngiang kata kata Darman pada dirinya. 


"kok bisa?" Teriak Rani marah. 


"Iya Ran bersama nining ke suatu tempat, entah dimana kebaraadaannya. Mungkin bawa Anin juga. " Kata mang Tio yang ada diantara mereka. 


Memang Tio yang memberi tahu kan kalau Nining dan Marni kabur meninggalkan rumah menyelamatkan diri dari Rani dan yang lainnya. 


"Jadi Anin hilang juga! " Tanya Rani terbelalak mendengar kalau bocah itu menghilang. 


"Iya! " 


"Kok bisa? " 


"Entah cerita itu bagaimana. Mungkin waktu kami masuk ke rumah itu, kan sembunyi dan mengikuti kami. " Cerita Darman. 


"Kalian tolol! Kalian bego! Kenapa harus seperti ini? " Teriak Rani


Wanita itu benar benar mendidih darahnya saat mendengar kalau Anin juga ikut menghilang dari rumahnya. 


"Kalian nggak melihat kalau bocah itu mengikuti kalian!"


Darman dan Tio terdiam seketika juga mendangar kata katanya Rani. Memang kesuanynthdak. Menyadarinya kalau ada bocah kecil yang mengikuti nya. 


Mereka hanya fokus pada Hamdi yang berontak. 


Tio juga menggelengkan kepalanya kerena ia beberapa kali melihat ke belakang juga tidak melihat Anin yang mengkuti mereka berdua. 


"Kalain benar benar goblok! Seharusnya kalian periksa rumah itu dulu siapa tahun ada orang bukan nya membawa Hamdi ke kebun itu!" Rani benar bentar emosi sekali. 


"Ran kenpa sih marah marah saja, seharusnya kamu yang melakukannya bukan bisa mwnyuruhbsaj! " Teriak Darman tjdak suka. 


"Kamui sekarang mulai melawan? " Teriak Rani. 


"Kamunya lagi, orang akun juga tertuduh mwmbunuh Anin. sedangkan aku sendiri nggak pernah merasa ketemu Anin malam itu! " Darman membalas teeiak pada Rani  

__ADS_1


Ia juga merasa terpojok oleh kata kata Rani, apalagi kabar yang mengatakan kalau Anin juga terlibat dalam pembunuhan yang terjadi pada ayahnya. 


Ia benar benar frustasi sekali. Apalagi mendengar Anin yang bakal ia culik malah menghilang tidak tahu rimbanya, dugaan Darman pada Anin di perkuat oleh Tio kalau Anin pasti dibawa oleh Mirna. 


"Cari Anin! Cari Mirna juga! " Teriak Rani. 


Mau nggak mau akhirnya Darman dan Tio mencari Anin. Tapi kabar Anin meninggal teesebar juga di telinga Rani, ia benar benar kecewa dan kesal sama Darman yang menurutnya teledor masalah Anin.


Musnah juga ia ingin memiliki Anin dalam hidupnya. Ada raut kecewa si hatinya mendengar Anin menghilang! Sebenarnya ia berharap untuk mengambil Anin dari tangan Ayu tapi kenyataannya malah tidak sesuai dengan harapan dirinya. 


Rani menghempaskan tubuhnya ke tanah, mengingat kejadian demi kejadian yang terjadi dalam hidupnya. 


"Kang Darman lalu kamu sekarang dimana? Kenapa kamu sekarang nggak menyusul aku disini? " Tanya Rani dalam hati. 


🦋


"Masa kita harus kehilangan Rani kembali?" Tanya uwa iyan. 


Laki laki itu geram saat tahu  Rani memang nggak ada di desa itu! Zahra berusaha menenangkan iwa iyan. 


"Aku sebenarnya dari dulu curiga sama wanita itu! " Teriaknya. 


Ya dia pernah bilang pada istrinya Rani ada sangkut pautnya dengan kematian Hamdi. 


"Katanya nggak mungkin deh kalau Rani melakukan itu secara mereka kan akrab, " Tepis wanita itu dulu. 


"Tapi aku masih mwnduga kalau Rani terlibat! Apalagi ia nggak diterima oleh orang tuanya Darman untuk menjadi bagian keluarganya. " Kata uwa iyan memberikan alasan pada istrinya. 


"Kasihan Ayu kalau misal Rani yang melakukannya, " Dwngus uwa iyan. 


"Pastinya terpukul mendengar kalau misal kan Rani dalang lwmbunuhan suamianya, " 


Mbok Inem terdiam mendengarkan apa yang dikatakan oleh semuanya. 


"Apa yang aku curigakan sekarang terbuktikan! " Teriaknya. 


Zahra yang ada disana menghampiri uwa iyan, ia mengusap punggung uwa iyan dengan lembutnya. Zahra melihat ada ribuan kekecewaan yang terlihatnya di wajah laki laki itu sangat kentara sekali. 


"Sudah kah uwa mungkin saatnya uwa Rani tahu kalau kita sebenarnya sudah curiga pada dirinya, dan kita harus mencari dirinya kembali. "


"Kemana mencarinya? Kemarin kami mencarinya sampai ber tahun tahun baru ketemu lagi! '' dengus uwa iyan kesal. 


" Ra, sebenarnya waktu setelah kematian ayahmu, uwa iyan mencari keberadaan Rani tapin wanita itu sama sekali nggak ketemu ketemu baru sekarang ketemu sudah menghilang lagi! " Cerita mbok Inem. 


Ayu yang berada disana hanya diam saja. Dalam hatinya smshat menyesal kerena ia menyerang Rani duluan, ia tidak mwnyangka kalau keadannya seperti ini. Kalau Ayu tahu kejadian Rani bakal kabur mungkin ia bakalan diam saja.. 


"Maafkan aku kang, karena keteledoran aku. Rani menghilang." Kata Ayu lirih. 

__ADS_1


"Maafkan Rani ya uwa, karena Rani lah kalian seperti ini. " Ujar Ani memandang wajah orang yang ada disana. 


"Kenapa kamu yang minta maaf seharusnya dia yang minta maaf pada kami!" Teriak uwa iyan menatap wajah ibu Ani. 


"Uwa! Jangan main teriak saja. Mungkin mama mewakili ua Rani! " Zahra berusaha lembut. 


"Enak saja!" Sembur uwa iyan.. 


"Seharusnya dia yang minta maaf atas kesalahan nya terus menyerahkan diri bagaimanapun dia terlibat pwmbunuha  pak Rohman! " Terang uwa iyan marah.. 


Laki laki itu menatap wajah orang orang yang disana. Tatapan yang penuh dengan kekesalan hatinya yang gagal meringkus Rani, sedangkan hatinya sebenarnya sudah mengatakan kalau Rani dalam posisi salah tapi ia malah membiarkan saja. 


"Uwa yang tenang ya! Kita pikirkan baik baik saja, semoga uwa Rani bisa dintingkus atau kita lapor polisi saja? " Tanya Zahra. 


"Iya saya sependapat dengan apa. Yang Zahra katakan! " Kata ibu Anj antusias.. 


Ia tidak pernah berpikir untuk menghetahui keberadaan Rani dan Darman ya biarpun pwngakuan dari Mirna keduanya adalah saudara taoi yang ia pikirkan keselamatan anaknya zahra. 


"Tante nggak mencari tahu silsilah kekeluargaan dengan uwa Darman? " Tanya Ana heran.. 


Masalah ia mendengar sendiri dari mulut ini Ani kalau wanita itu bakal mencari silsilah darman sampai ia dan Darman adalah saudara. Mungkin itu itu yang membuat Rani frustasi tidak bisa menikah dengan Darman. 


"Mama kenapa nggak ngomong masalah ini sama Rara? " Tanya Zahra menatap mamanya tajam. 


"Mama mau bilang ini tapi keburu semuanya seperti ini. Jadi mama hanya bilang sama Ana aja, " 


"Memangnya mama ada niatan mau mencari tahu?" Tanya Zahra kembali. 


"Iya mama akan mencari tahu? Dan mama juga bakal mencari tahu dari mana orang tua ayahmu tahu kalau Darman saudara dengan Rani? " Ujar ibu Ani seperti bertanya pada diri sendiri. 


Memang pertama kali waktu ia mendengar sari Mirna tentang Darman bersaudara dengan Rani itu jadi pertanyaan dirinya sampai sekarang. 


"Kenapa ua Darman sampai bertemu dengan orang tua ayahmu." 


"Menurut ibu kangn Darman ditemukan di kebun yang mau masuk desa itu! Kang Darman waktu umur 10 tahun hanya menangjs saja! " Cerita ibu Ayu mwmotong pembicaraan mereka. 


"Jadi ceritanya uwa Darman ketinggalan atau sengaja di buang? " Celetuk Ana. 


"Entah! Kang Darman cuma bilang ia hanya ketinggalan tapi orang tuanya nggak balik lagi. " Lanjut ibu Ayu. 


"Kalau.misal.kwtimggalan masa nggak dicari lagi sama orang tuanya? " Tanya Ana heran.


"Anehnya juga sih orang tua kaga itu? " Lanjut Ana. 


Zahra hanya mwngangkat bahu, sedangkan uwa iyan dan mbok Inem diam saja mendengar Ana mengatakan perkataan itu. 


"Kalian hanya berpikkr silsilah Darman saja, coba pikirkan bagaiaman kita menangkap Rani! " Gelar uwa iyan. 

__ADS_1


Seketika juga yang ada disana diam mendengar apa yang uwa Iyan katakan, apalagi ibu Ayu, ia. Langsung mengkerut mendengar suara uwa iyan yang Menggelegar.*


__ADS_2