
Ana riang sekali kerena hari itu ia bakal ketemu dengan Zahra. Ia nyakin. kakau Zahra bakal kaget kakau ia datang sendirian tanpa ibu.
Untuk sampai ke rumah Zahra atau tante Ani, ia harus turun dari terminal x dulu untuk sampai ke rumah Zahra. Di teinal ia seharusnya naik mobil menuju alamat yang ditujunya, tapi ia malah berjalan menuju toko buku yang berada disana!
Ana berniatan ingin membeli buku karya Hanum Anindya. Tapi, tiba tiba tanpa ia duga sama sekali.
BRAK!
BUG!
Aahh!
Ana berteriak keras sekali kerena tiba tiba ia menabrak seseorang kerena saking buru buru nya ia tidak fokus pada jalan yang dilaluinya.
"Dasar cewek tegik! Kalau jalan lihat lihat dulu dong! " teriak cowok yang ditabrak nya.
Ana terkejut mendengar teriakan cowok yang ditabrak nya. Wajahnya langsung menatap cowok yang ditabrak nya dengan tatapan tidak sukanya.
"Kamu yang sopan dong sama cewek! "
"Sopan? Kamu yang songgong nggak tahu aturan, jalan itu pakai mata bukan dengkul! " teriak cowok itu.
Cowok itu benar benar geram seketika mendengar jawaban Ana.
"Cowok gila! "sembur Ana.
Gadis ini ingin sekali melayangkan tangannya ke arah pipi cowok itu tapi ia berusaha untuk. menahan nya.
Ditatap wajah cowok yang baru dikenalnya.
"Kamu cewek nggak punya mata! " cowok itu emosi.
"Kamu! "teriak Ana.
"Kamu!
" He, jadi cowok itu jangan bikin masalah pada cewek! "
"Ya kalau ceweknya cantik! Sedangkan kamu? Buat apa coba! "
"Memangnya kamu ganteng! Ganteng dari hongkong! "
Bug!
Ana langsung memukul lengan tangan cowok itu, tapi bukan mengalah cowok itu malah menyarang Ana.
"Aduh! " teeiak Ana ketawa kesakitan saat yang nya ditarik oleh cowok itu, dengan entengnya cowok itu mwmukul Ana dengan keras sekali.
"Sakit tahu! "
"Kamu yang duluan! "
__ADS_1
Cowok udik! " cerca Ana.
Pertengkaran Ana dan cowok itu berlangsung sengit dan alot, semuanya mempertahankan perinsip masing masing. Sebenarnya Ana ingin minta maaf tapi melihat cowok yang dihadapannya tidak mau mengalah akhirnya Ana mengajak bertengkar.
Memang ia mengaku salah menabrak cowok itu, tapi melihat cowok itu seperti itu Ana malas buat minta maaf duluan.
"Ana!"
"Vito! "
Zahra dan dio yang berada di terminal langsung menghampiri Ana dan Vito. Zahra terkejut kerena melihat Ana di terminal, kepalanya celingukan sepertinya mencari sesuati.
"Ibu nggak ikut kak," ujar Ana tahu kalau Zahra pasti mencari ibu.
"Kenapa? Terus kamu kesini dengan siapa? "
"Berangkat sendiri, ibu nggak ikut. " jelas Ana..
"Pasti cari cowok buat digodain dan dapat uang!" sinis Vito.
"He! Jaga bicara kamu ya, aku datang kesini buat menemui kak Zahra bukan. godain cowo! " tee
Ya Vito ikut ke terminal dengan Dio dan Zahra. sebenarnya Zahra nggaka mau Vito ikut taoi pemuda itu kekeh ikut dengan Zahra dan Dio. Zahra akan mencari buku buku bekas yang berada dekat terminal.
Sebenarnya terminal masih jauh kita kira 1000 meter lagi dari toko buku bekas .
PLAK!
"Jaga mulutmu! " Teriak Ana spintan ia melayangkan tangannya ke pipi Vito.
"Vit! teriak Zahra cepat.
Kerena melihat Vito akan melawan Ana.
" Na, kamu. mau apa sih kesini? "
"Aku hanya ingin cari anak ayah sama tante Rani! " ceplos Ana tidak tahu.
"Apa? tante Rani! Nggak mungkin lah mama aku menikah dengan ayah kamu! " sembur Vito melotot.
"Siapa yang mau menikah sama mama kamu? Memangnya ayah aku apaan sampai menikah dengan mama kamu? Nggak sudi ya ayahku. menikah dengan. mama kamu! " copot Ana.
"Sudah sudah! Kalian malah bertengkar!" lerai Zahra dan Dio.
"Itu bilangnya seenak saja. Mana mungkin mama aku. mau menikah dengan. ayah kamu! "
"Je, sudah sudah! Jangan diteruskan! " teriak Zahra.
Zahra langsung menarik Ana untuk. menjauh dari Vito. Begitu juga dengan Dio ia menarik Vito supaya tjdak. mendekati Ana. Keduanya pusing mwndwngar pertengkaran Ana dan Vito.
"Lepaskan kak! Aku bilang ya jangan sampai ayahnya. menikah dengan mama aku! " teriak Vito.
__ADS_1
"Siapa yang mau, saudaraan sama kamu! Aku juga nggak sudi jadi saudara kamu! " balas Ana dari kejauhan.
"Na! ":tegas Zahra menatap lembut adiknya.
"Habis cowok itu! " rajuk Ana tudak suka.
"Iya tapi kamu jangan bwgiti dama Vito kalian baru kenal jangan sampai malu maluin kakak. " kata Zahra.
"Iya kak. Maafkan Ana ya."
"Kak, kok aku sering mimpi anaknya ayah yang lain? " tanya Ana menatap wajah Zahra.
"Jangan.jangan kamu pengen. ketemu? " tanya Zahra.
Ia hanya bisa mendengus saat melihat anggukan kepala Ana, tapi Zahra? dia tidak bisa berkomentar apa apa melihat anggukan kepala Ana.
"Ngapain sih kamu pengen ketemu dia? " ketus Zahra.
"Aku seneng saja kakau ketemu adikku. " ujarnya riang.
"Tapi jangan kaya cowok rese itu! " umar Ana melanjutkan kata katanya.
"Kami datang kesini cuma pengantin ketemuan sama adikmu? " tanya Zahra.
Ana hanya mengangguk tegas. Melihat anggukan Ana Zahra hanya bisa teesiam saja tidak bisa mengatakan sesuatu pada Ana.
"Ra, hayu pulang! teriak Dio mengajak Ana pulang.
Ya kerena Zahra telah menemukan buku yang dicarinya. Seebnatnya sebelum. Vito dan Ana bertengkar juga ia telah menemukan bukunya, saat setelah terjadi transaksi tiba tiba Vito dan Anaa malah saling tabrak kerena Ana tidak melihat Vito saking buru buru nya.
" Ayo! "
"Bareng cowok rese? " tanya Ana.
"Sudah! Kamu. mau pulang sendiri? " tanya Zahra menatap menatap wajah Ana.
Mauntudak mau akhirnya Ana pulang ke rumah Zahra dengan di antara oleh Dio. Sedangkan Vito. turun di rumah Dio.
"Cowok ameh! " sembir Ana.
"Siapa? "
"Itu! temannya kak Dio. Nggak punya sopan santunnya sama sekali, mudah. mudahan. aku. nggak punya adik kaya dia! "
Zahra manyun. Ia belum sempat menjelaskan pada Ana tentang Vito. Ia sempat blank untuk. menjelaskan tentang Vito pada Ana, memang sih Vito juga belum tahu ia dan Ana. itu anak siapa. Zahra sengaja merahasiakan twntang ayahmya. pada Vito.
"Jangan dulu! "
Zahra mencegah Dio untuk. menceritakan dirinya pada Vito.
"Aku nyakin kakau Vito tahu ia pasti nggak bakal bisa menerima keadaannya, apalagi itu perbuatan dari mamanya sendiri. Secara hukum memang Vito bukan saudara senasib dengan. aku dan Ana hanya saudara biologis saja. " jelas Zahra.
__ADS_1
Kemarin Dio mengatakan pada Zahra apa boleh Vito tahu kalau Zahra itu kakaknya, tapi Zahra menolaknya. Ya gadia igi gidak ingin ada kesalahpahaman, apalagi ayahnya juga tidak tahu kwe buatan Rani pada dirinya.
Zahra hanya ingin fokus pada kejadian 20 tahun yang lalu saja bukan masalah Rani dan ayahnya.