TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 174


__ADS_3

"Ibu dan Ana lebih baik pulang ke desa itu lagi!" Kata ibu Ayu menghindar dari pertanyaan yang berhubungan dengan Hamdi juga Rani. 


Zahra langsung terdiam mendengar apa yang ibu Ayu katakan, memang kalau dipikir ibu Ayu dan Ana sudah tiga hari ada di rumah ibu Ani, wanita itu tidak enak lama lama tinggal disana ya biarpun ibu Ani dan pak Bram baik pada dirinya juga Ana. 


Tapi ibu  Ayu punya perasaan, ia begitu segan untuk tinggal lama lama di rumah itu, biarpun disana ada Zahra. Tapi rumah itu bukan rumah Zahra, rumah itu milik ibu Ani dan pak Bram. 


"Maafkan Anin, bu. Kalau ibu nggak nyaman atas pertanyaan yang Anin lontarkan pada ibu," kata Zahra.


Gadis itu merasa bersalah. Ibu Ayu mengelengkan kepalanya saja mendengar Zahra berkata seperti itu. 


"Nggak apa apa kok! Ibu hanya agak kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Rani pada ibu. " Dengus ibu Ayu agak kesal. 


"Ya Anin juga kalau diposisi ibu bakal merasakan hal yang sama. " Kata Zahra. 


Zahra berusaha mencairkan suasanya hati ibu Ayu supaya wanita itu tidak begitu tertekan sama sekali. 


"Bu, sebenarnya apa sih yang tersembunyi dari warisan yang kakek berikan pada uwa Darman? Sampai uwa Rina menginginkannya?" Tanya ketika mereka sudah lama terdiam. 


Zahra mengatakan itu hati hatinya 


sekali takut ibunya tersinggung, bagaimana pun pertanyaan itu pasti ada hubungan dengan Rani dan Darman. 


"Dan malah uwa Darman menjual warisan ayah yaitu kebun Anin nyakin pasti uwa Rani tahu semuanya apa yang dikatakan oleh kakek tentang tanah warisan itu? "


"Dan sampai sekarang uwa Darman bisa mempertahankan warisan itu, hanya warisan ayah yang nggak ada. Bukan nggak ada sih! Masih ada tapi pemiliknya masih amburadul. " 


Zahra mengejar pertanyaan  demi pertanyaan yang berseliweran di benaknya. Memang warisan itu sudah punya hak yaitu pak Rohman, tapi uang dari penjualan itu masih ada di keluarga pak Rohman semuanya. Jadi otomatis warisan itu sebenarnya masih punya Hamdi. 


Ibu ayu menatap Zahra dengan tajamnya, ia tidak menyangka gadis yang ada dihadapannya menanyakan pertanyaan demi pertanyaan yang tidak mungkin di tanyakan oleh orang lain. Tapi gadis yang ada sihadpannha berbeda dengan hadiah yang lainnya. 


"Aku nyakin suatu waktu nanti Anin kalau masih hidup bakal bertanya banyak hal tentang warisan itu! " Kata uwa Iyan pada ibu Ayu beberapa tahun yang lalu. 

__ADS_1


"Ah! Nggak mungkin kang, ia masih kecil nggak gahu apa apa, " Tempat ibu Ayu.. 


"Sekarang masih kecil nanti 20 tahun yang akan datang ka menjadi wanita yang dewasa, punya pikiran dan ia akan mencari semua bukti. " Tegas uwa iyan. 


"Aku nggak mau yang muluk muluk kang, yang penting aku inginkan ia selamat itu saja." Kata ibu Ayu. 


"Aku yakin gadis itu selamat!  Tapi kita nggak tahu ia berada dimana. " 


"Kang, jangan memberikan harapan palsu sama aku. Akang tahu kalau aku masih mengharapkan Anin hidup, jadi aku harapkan akang jangan mengatakan itu!" Sembur wanita itu agak sewot. 


Ya uwa Iyan adalah satu warga desa itu yang selalu memberikan harapan padanya  Anin akan kembali lagi dalam pelukannya. Sedangkan yang lainnya menganggap Anin meninggal di bunuh oleh Darman, ada juga mengatakan kalau Anin diterkam binatang buas. 


"Kamu nggak percaya kalau Anin masih hidup? Jangan percaya omongan orang tentang Anin. Percaya pada diri sendiri kalau Anin masih hidup. " Ujar  uwa iyan merasakan nyakin. 


"Kang kalau memang Anin masih hidup kenapa aja nggak pulang?  Kenapa!" Teriak ibu Ayu. 


Ia sebenarnya sudah capekl mendengar apa yang pria yang ada di hadapannya. Kata katanya menyihir hatinya untuk percaya pada dirinya, sampai ia percaya kalau Anin masih hidup.. 


"Yu, dengar akang Yu, akang nggak akan pernah bohong! Apa yang akang katakan bakalan benar! " Tegas uwa Iyan menatap Ayu sambil memang kedua bahu Ayu dengan kuatnya. 


"Kang, apa yang harus aku lakukan pada Anin kalau misal ia kembali lagi! " Tangis wanita itu lwcah seketika. 


Hati dan pikirannya masih tertuju pada anaknya yang sekarang entah keberadaannya dimana. 


"Kalau memang ia kembali dan menanyakan hal hal yang lain pada kamu, jawab sesuai dengan pertanyaan yang ia lontarkan. " 


"Akang.nyakin kalau ia bakalan melontarkan hal hal yang ia tahu dari kecil, misalkan;" Ibu kenapa ayah di penjara? Ibu apa ayah bersalah sampai di penjara? Dan lain sebagainya." 


Pria itu berusaha untuk menenangkan ibu Ayu. Wanita itu diam seketika juga mendenar apa yang uwa Iyan katakan padanya. Dalam. Pikirannya ia malah membayangkan apa yang dikatakan pria itu benar. 


"Kang kalau Anin meninggal bagaimana? " Tanya ibu Ayu getir. 

__ADS_1


"Percaya lah Ayu apa yang akang katakan, Anin masih hidup tapi kita nggak tahu keberadaannya, kalau saja akang tahu pasti akang bakal bawa Anin ke desa ini lagi. 


Wanita itu sangat terharu mendengar apa yang uwa iyan katakan tentang Anin. Wanita itu hanya tersenyum mendengar apa yang pria itu katakan tentang Anin. 


Ibu Ayu masih belum menjawab pertanyaan Zahra ia masih hanyut dalam percakapan dengan uwa Iyan padanya. 


Zahra yang melihat wanita itu diam, langsung menyentuh tangan ibu Ayu dengan lembutnya. 


"Bu, kenapa diam? Apa ibu nggak mau jawab pertanyaan Anin? " Tanya Zahra. 


"Ibu bukan nggak mau menjawabnya, tapi ini ingat apa yang uwa iyan katakan benar juga." Ujar ibu Ayu tersenyum. 


"Apa yang dikatakan uwa Iyan pada ibu? ' tanya Zahra heran. 


"Uwa iyan pernah mengatakan seperti ini pada ibu; kalau Anin kembali dan menanykan hal yang ia tanyakan pada kamu jawab sesuai dengan pertanyaan yang ia tanyakan. " 


"Uwa Iyan juga mengatakan suatu waktu Anin bakal datang dan banyak pertanyaan yang bakal ditanyakan olehnya. " 


Kata wanita itu masih mengingat percakapannya dengan pria yang telah dianggap olehnya sebagian orang tuanya. Zahra terharu mendengarkan apa yang uwa iyan katakan pada ibunya. 


Ia sangat bersyukur ada pria yang selalu ada untuk keluarganya sejak ia kecil sampai sekarang uwa iyan tetap selalu ada untuk keluarganya. 


"Nin, sebenarnya kakek kamu memberikan warisan itu pada uwa Darman karena kakek kamu tahu kalau uwa Darman suka pada seni maka uwa Darman dikasih tanah itu. "


"Ibu juga nggak tahu sih, kata orang kalau di tanah itu ada danau dan pancurannya, kalau di lihat dari bukit terasa indah sekali ditambah lagi suara aliran air yang mengalir. " Lanjut ibu Ayu. 


Wanita itu sebenarnya tahu kalau memang disana ada air terjun yang indah sekali. Tapi ada sebagian warga mengatakan kalau pembagian harta warisan iti tidak adil tapi uwa iyan mengingatkan kalau warisan itu sangat asil sekali. 


"Bapakmu sangat adil sekali, Hamdi sangat cocok bertani kok! Sedangkan Darman sangat tidak  cocok bertani." Suara uwa iyan terhiang di telinganya. 


"Jadi itu yang menjadi rebutan antara, " Kata Zahra langsung pada intinya. 

__ADS_1


"Bukan rebutan, ini masalah orang luar yang ikut campur. Rani ya wanita itu yang ingin menjual tanah itu! " Potong ibu Ayu dengan cepat. 


Ia tidak ingin ada perselisihan kembali antara Zahra dan Rani. Biarkan ia dan Rani saja yang berselisih  masalah warisan itu, sebenarnya Rani tidak punya hak atas warisan itu! Tapi Rani mempengaruhi Darman itu yang ibu Ayu tidak sukanya. 


__ADS_2