
Wanita itu yang melihat Ana dan ibu Ayu kabur langsung mengejarnya, tapi kerena ia sendirian sedangkan anak buahnya entah keman akhirnya Ana dsn ibu Ayu lolos dari kejarannya.
"Bangsat!" dengus nya marah.
"Kemana lagi mereka, seharusnya mereka yang mengejarnya!" teriak wanita itu kesal..
Terlihat dari wajahnya rasa kesal dan marah, kerena tawanan nya lolos begitu saja.
"Mereka nggak akan kabur jauh!" ujarnya sinis.
Pagi itu ibu Ayu dan putrinya bisa meloloskan diri dari wanita itu. Ya biarpun wanita itu tahu kalau Ana dan ibu Ayu tidak akan jauh dari tempat itu tapi rasa kesal dan marah terlihat di wajahnya.
Apalagi anak buahnya, malah tidak ada di tempat ketika ia datang juga itu lah yang membuat ia semakin geram saja.
Sebenarnya ia datang ke tempat itu hanya ingin melihat dua tawanan yang ditawan oleh suruhannya, memang benar Mereke berhasil meringkus Ana dan ibu Ayu. Tapi keduanya malah lolos begitu saja.
"Awas ya kalian kalau datang ku pites kepala kalian di semur!" teriak wanita itu dongkol.
Wanita itu langsung merogoh telponnya.
📱Kalian dimana sekarang?
Teriak nya mengelegar.
📱Kami.lagi sarapan Bu, tawanan masih tidur jadi aman.
ujar salah satu anak buahnya bangga. Memang mereka tidak bohong kalau Ana dan ibu Ayu waktu mereka tidak ada, keduanya masih ada di gubug itu.
📱Mereka nggak ada,Cong! tadi kabur!
Lapor wanita itu!
📱Wah kok bisa Bu?
tanya orang yang dipanggil Acong itu heran. Kerena seingatnya kedua wanita itu masih ada ketika ia pergi ke luar juga.
Laki laki itu hanya mengelengkan.kepala nya, setelah itu memutuskan hubungan telponnya.
"Tawanan kabur! Bos pasti marah," cerita Acong lada teman ya.
"Apa? Kok bisa?" tanya temannya heran
__ADS_1
Acong mengelengkan kepala nya saja. Akhirnya mereka.meninggalkan tempat itu dengan perasan yang tidak karuan, apalagi bos yang melaporkan ya.
PLAK
Tangan wanita itu langsung melayang ke pipi si Acong dengan kerasnya, sampai laki laki itu meringis kesakitan..
"Kalian kalau pergi gantian!" teriak wanita itu.
"Iya bos, kami minta maaf. Kami menyangka mereka nggak kabur!"" Acong meminta maaf.
Acong tidak tahu kalau sebenarnya Ana dan ibu Ayu kabur setelah bertengkar dengannya wanita itu. Tapi wanita itu malah menyalahkan kedua anak buahnya kerena Ana dan ibu Ayu kabur!
Sedangkan di lain tempat dia wanita yang berbeda umur sedang celingukan tidak tahu arah dan tujuan, Ana membawa ibunya ke suatu tempat yang asing baginya. Kedua wanita itu celingukan kerena memang mereka tidak tahu jalan apa yang kini mereka datangi.
"Na, kita kayanya kesasar!" teriak Ibu Ayu.
"Bu, maafkan Ana, Ana lupa jalan ke kantor kak zahra!" ujar Ana.
Sebenarnya ia ingin mengajak ibunya balik lagi ke kantor itu, tapi kerena tempat itu masih baru akhirnya ia sama sekali tidak tahu jalan menuju kantor kakaknya.
"Telpon Rey atau Zahra!" perintah ibu Ayu.
"Hpnya juga di kantin, Bu, Ana nggak bisa menghubungi kak Zahra." keluh Ana..
Ana hanya menghela nafas berat sekali. Apalagi sinar mentari pagi yang hangat kini terasa agak panas.
"Bu, kita juga belum sarapan." keluh Ana tersenyum kecut.
"Semoga saja ada orang yang menemukan kita." bibir ibu Ayu mengusap tangan putrinya..
"Bi, aku takut kalau kak Zahra juga bakal mengalami hal sama dengan kita," lirih Ana pada ibunya..
"Nggak bakal, kalau nyakin wanita itu nggak akan pernah membuat Zahra sakit. Sepertinya wanita itu benar benar sayang sama Zahra." hibur ibu Ayu.
Kedua wanita yang berbeda umur itu langsung istirahat di sebuah tempat yang penuh dengan pohon pohon di pinggiran jalan gang perumahan.
"Bu, kita seperti nya nggak bakal menemukan kantor ka Rey deh! Aku lupa tempatnya."
"Sudah lah, nanti kalau ada orang kita tanya aja," kata ibu Ayu.
Wanita itu cemas sebenarnya apalagi tempat yang mereka datangi adalah tempat yang asing sekali, sama sekali ia tidak mengenal nya. Wajar kalau misal ia khawatir dan cemas, apalagi ia mendengar dari Zahra kalau Darman kabur dari penjara.
__ADS_1
Sedangkan di desa tempat tinggalnya uwa Iyan dan mbok Inem hanya termenung saja kerena mereka juga tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.
"Kang bagaimana ya kabar dek Ayu dsn Ana, aku khawatir sama mereka," kata wanita itu sambil menatap dedaunan yang tertiup angin.
"Kang, kalau begitu kita kesana yuk!" lanjut mbok Inem.
"Ah! kalau kita kesana, terus kebun singkong kita siapa yang mengutusnya? Terus kalau kita kesana mau tinggal dimana?" tanya uwa Iyan menatap wajah istrinya.
"Kita tinggal kontrak rumah saja. Aku pengen sama sama dengan dek Ayu dsn Ana." ungkap mbok inem memandang lurus.
"Bikin sudah orang saja. Kita tinggal di sana nggak segampang di desa," ujar uwa Iyan memberi tahukan pada istrinya.
"Hidup di kota repot, kita nggak punya kenalan, masih untung kalau rumah kontrakan dekat dengan Zahra, kalau jauh?" lanjut uwa Iyan kembali.
"Kita cari Ayu dan Ana saja dulu kang, aku khawatir sama mereka." kata mbok Inem.
"Kita tunggu berita dari Zahra, Zahra kan yang bilang kalau ketemu ayu dan Ana bakal kasih tahu kita," ujar uwa Iyan.
"Aku nggak bisa bersabar kang kalau belum ketemu sama dek Ayu dsn Ana, gimana kabar mereka sekarang!"
Uwa Iyan langsung terdiam mendengar kata kata yang keluar dari mulut istrinya, ia juga tidak tahu pasti kenapa Ayu dan Ana harus meninggalakan tempat itu. Sedangkan uwa Iyan tahu kalau keluarga pak Bram sangat baik pada Zahra otomatis pasti baik lada Ayu dan Ana.
"Apa mungkin Darman yang melakukannya kang?" tanya mbok Inem.
"Kalau Darman melakukannya, lalu ia tahu dari mana kalau Ayu dan Ana ada di kota? Sedangkan ia juga nggak pulang ke desa ini?" tanya uwa Iyan seperti pada dirinya sendiri.
Mbok Inem mengangguk mengerti apa yang diucapkan suamianya, ya apa yang dikatakan suamianya benar sekali. Kalau misal Darman yang melakukan itu lalu Darman tahu dsrimana kalau Ayu dan Ana di kota sedangkan Darman sendiri tidak pulang ke desa itu?
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam hati wanita itu!
"Apa mungkin ada orang kita yang jahat pada mereka?" tanya mbok inem bertanya lada suamianya.
"Entah lah!"
"Kang jangan jangan si Entin yang ngasih tahu kalau Ayu dan Ana pergi ke kota?" tanya mbok Inem.
"Uwa Darman hanya menghela nafas panjang mendengar kecurigaan istrinya, ia hanya bisa megekangkan kepala saja. Kerena yang ia tahu Entin tidak mempunyai hp untuk menghubungi Darman. Ditambah lagi masa Darman memengang hp?
"Kita berdoa saja semoga saja mereka aman." kata uwa Iyan menghibur hati istrinya.
"Kita tunggu aja beritanya, kita jangan kesana merepotkan nanti," lanjut uwa Iyan merangkul pundak istrinya.
__ADS_1
Mbok Inem hanya diam saja, ia tidak bisa berbuat apa apa. Wanita itu langsung meninggalakan suamianya, sedangkan uwa Iyan menghela nafas panjang melihat istrinya hanya diam dan malah masuk ke dalam rumah.*