TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 93


__ADS_3

Wanita itu memaksa Bram untuk tidur bareng di kamar itu. Bram yang melihat perubahan istrinya yang tidak biasa membuat ia merasa aneh atas sikap istrinya.


"Ma, papa cape ingin istirahat!" teriak Bram merah.


"Nggak apa apa kan pa?" tanya wanita itu menggoda.


"Nggak! Papa ingin sendirian!" sembur Bram kembali.


"Ya sudah kalau papa mau nya begitu." ujar wanita itu menyerah.


Akhirnya wanita itu keluar dari kamar yang akan dimasuki oleh Bram. Tapi ia tersenyum sinis saat keluar dari kamar itu.


Pak Bram menyangka kalau istrinya tidak akan masuk kamar lagi, tapi wanita itu benar masuk kamar lagi sambil bawa minuman hangat.


"Pa, lebih baik minum dulu biar papa segar."


wanita itu menyodorkan satu gelas air teh manis hangat ke hadapan pak Bram. Pak Bram yang akan tidur Oun terbangun lagi kerena wanita itu menyodorkan minuman. Di tatapnya wajah wanita itu gusar, pak Bram merasa heran melihat kelakuan istrinya yang seperti ini.


"Oke! papa minum," kata pak Bram bangkit di baringan nya."


Pria itu langsung mengambil teh manis yang hangat dari tangan wanita itu, dan ia teguk beberapa teguk. Tapi wanita itu memaksa pak Bram untuk menghabiskan air tehnya.


Akhirnya pak Bram minum sampai habis air teh manis itu.


Hahahaha


"Kenapa kau tertawa?'' tanya Pak Bram heran melihat istrinya tertawa seperti itu..


"Nggak apa apa kok!"


Tiba tiba tubuh pak Bram langsung ambruk setelah meminum teh manis itu, sedangkan wanita itu langsung tertawa puas melihat korban ya tidak berkutik lagi.


"Bu, jangan lakukan itu!" teriak Narti saat wanita itu melihat majikannya membuka baju pak Bram.


"Kenapa? Kamu larang aku untuk melakukan sesuatu?" terima Wanita itu bertanya..


Wanita itu tertegun sejenak saat tahu Narti datang tanpa ia duga sama sekali..


"Bu, ingat ibu Ani nggak pernah melakukan kejahatan apapun pada ibu, kenapa ibu lakukan kejahatan pada adik ibu sendiri!" terima Narti.


Ia sebenarnya sudah mual atas kerja sama antara dirinya dengan majikannya itu. Memang kalau membicarakan masalah gaji majikan itu sering memberikan lebih dari gaji yang dijanjikannya, tapi ia harus melakukan pekerjaan yang bukan pekerjaannya.


"Narti! apa yang kau bilang!"

__ADS_1


"Bu, apa ibu lupa kalau pak Bram ini saudaranya ibu juga! nggak pantas kalau ibu melakukan nya!" hardik Narti berani.


Ia tidak ingin kalau majikannya terjerumus pada hal yang tidak boleh dilakukannya..


"Aku harus memberikan pelajaran pada dirinya?"


"Pelajaran? Pelajaran pada siapa? Bu, pak Bram maupun ibu Ani nggak pernah melakukan kesalahan apapun pada ibu!" teriak Narti marah pada wanita itu.


PLAK!


Narti langsung berteriak saat tiba tiba tanpa ia duga sebuah tangan melayang menampar ke pipinya. Narti meringis kesakitan saat pipinya terasa panas oleh tangan wanita itu.


"Kamu aku bayar setiap bulannya, tapi kelakuan kamu seperti ini pada majikan kamu sendiri!" wanita itu merasa geram pada Narti.


"Apa kerena anda membayar saya, jadi anda boleh melakukan apapun juga!" terima Narti.


"Bangsat!"


Wanita itu langsung menampar beberapa kali pipi Narti dengan kekuatan yang tinggi, Narti yang tidak menduga hanya menatap wajah wanita itu dengan tajamnya.


BUG!


Narti langsung menghindar, tapi ia tidak merasakan sakit di kepalanya. Saat dilihat ia terkejut melihat wanita itu terkapar, dan pak Bram sudah siuman dari pingsannya langsung mengambil nampan dan dipukulkan kepada.kwpa wanita itu.


Narti langsung bernajak dan pergi bersama dengan pak Bram yang masih terlihat belum segar. Narti membawa pak Bram keluar dari villa itu!


"Kamu siapa?" tanya lak Bram saat di tempat aman..


"Saya Narti pak, saya art dari ibu Rina." jujur Narti


Ditempat itu Narti menceritakan siapa sebenarnya Rina pada pak Bram, akhirnya laki laki itu mengerti kenapa Rian melakuakan itu lada dirinya..


"Mungkin itu dengan kehidupan istri bapak yang bernama Ani, makanya ia melakukan itu pada bapak," Narti mengakhiri ceritanya.


Setelah semuanya terungkap, pak Bram akhirnya pulang dengan perasaan yang tidak karuan, sebenarnya Narti sudah mencegah pak Bram untuk pulang tapi laki laki itu hanya mengelangkan kepala saja.


Narti akhirnya tidak memaksa untuk pak Bram istirahat. pak Bram akhirnya pergi meninggalakan tempat itu, sebenarnya ia mengajak Narti tapi wanita itu menolaknya dengan halus.


Tapi tiba tiba wanita itu menemukan Narti dan pak Bram, Narti menyuruh pak Bram pergi jauh.


"Bajingan kau Narti!" teriak wanita itu sambil memukulkan besi yang ada di tangan nya.


Narti belum sempat menghindar! besi yang di pukulkan ke kepala Narti tepat. Narti langsung ambruk dan cairan merah langsung membasahi tanah, di kaca spion pak Bram melihat itu semuanya langsung pergi begitu saja tidak ada niatan untuk menolong.

__ADS_1


"Tapi Narti saya nggak bisa meninggalkan kamu, apalagi kalau wanita itu tahu kamu disini sendirian," kata pak Bram waktu ia mengajak Narti pergi.


Tapi wanita itu tidak mau hanya mengelengkan kepala saja.


"Pak, saya mohon bapak pergi dari villa ini. Saya nggak apa apa!" terik Narti sambil mendorong tubuh pak Bram.


Pak Bram akhirnya pergi juga dengan hati was was was takut terjadi apa apa pada Narti, awalnya pak Bram ingin kembali ke tempat itu tapi melihat wanita itu datang, pak Bram bisa meloloskan diri.


Tapi, Narti menjadi korban dari wanita itu! Pak Bram hanya bisa memejamkan matanya aja.


"Siapapun kamu, saya hanya bisa mengucapkan terimakasih atas apa yang kamu lakukan buat saya." ucap dalam hati pak Bram.


Dengan perasan sedih, kecewa pria itu pulang apalagi saat Narti memberikan tahukan kalau wanita itu bukan Ani..


"Istri bapak ada di rumah bersama non Zahra." itu yang diucapkan Narti waktu itu.


Pak Bram langsung menuju rumah dan saat ia sampai ke rumah tiba tiba ia merasakan tubuhnya melayang dan langsung ambruk.


Zahra dan semua orang yang Anda di rumah itu langsung menghampiri pak Bram yang jatuh pingsan.


"Rey tolong papa!" terima Zahra histeris.


Sebenarnya Zahra dan yang lain akan menyusul pak Bram ke sebuah villa yang diceritakan oleh ibu Ayu, tapi sebelum mereka sampai ke villa pak Bram sudah ada di rumah dalam keadaan pingsan.


"Dok bagaiamana keadaan papa?" tanya Zahra ketika ia sudah membawa pak Bram ke rumahs sakit.


"Alhamdulillah nggak apa apa, mungkin pak Bram mengalami keracunan dalam makanan dan minuman yang masuk ke dalam perut." kata dokter.


Setelah diizinkan masuk, Zahra dan yang lainnya langsung masuk keruangan pak Bram di rawat.


"Rani yang melakukannya." lirih pak Bram menatap Zahra dsn istrinya.


"Kenapa sih wanita itu lagi?" tanya Zahra merasa kesal.


"Kamu harus menolong Narti!" ujar pak Bram menganggam tangan Zahra..


"Papa kenal sama Narti?" tanah Zahra terkejut.


"Dia yang menolong papa Ra, kalau nggak ada dia mungkin papa sudah tidak ada di sini bersama kalian,"


"Rani nggak akan berhenti dari sini, kalian harus hati hati." kata ibu Ayu menatap wajah Ani dan Bram juga Zahra.


Zahra tidak menyangka kalau Rani benar benar nekad melakukan hal yang diluar dugaan. Ia mengepalkan tanganya.*

__ADS_1


__ADS_2