
Zahra hanya menghela nafas.
"Iwa nggak suka kalau. melihat anak uwa punya nilai rendah, iwa sering memukul, menghina dan membandingkan anak anak dengan anak tetangga yang punya prestasi bagus. "
"Sebenarnya anak pertama uwa punya mimpi yaitu buka bengkel tapi uwa nggak suka, uwa malah mwbakar bengkel anak uwa. "
"Anak kedua uwa punya pontensi tarik suara taoi uwa malah menghina suara anak uwa. Uwa nggak mau anak uwa jadi artis. "
"Anak uwanyang bungsu punya pekerjaan penjual koran taoi uwa malu punya anak seperti mereka, mereka nggak kaya anak anak yang lainnya."
Wanita itu menceritakan penyebab anak anak leegi dari rumah. Zahra hanya garuk garuk kepala, masalahnya itu hal sepele menurutnya tidak usah dibesat besarkan taoi wanita itu malah fatal sekali.
"Uwa maaf ya Rara bukan mwngurui i
uwa. Seharusnya uwa nggak usah begitu sama anak anak uwa. Maaf bukan ikut camour, anak nggak usah dikasari atau di jahatin kaya gitu, kalau mau bilang baik baik dulu. " protes Zahra gemas sebenarnya pada wanita itu.
Ia yang punya papa dua juga semuanya tjdak. pernah. main pukul, ayah yang selalu memberikan nasehat berupa dongeng atau kisah para Nabi maupun Rasul. Papa yang selalu mwbeeika nasehat kebaikan yaitu tangan. diatas lebih baik daripada tangan dibawah.
Papa dan ayah dua duanya menyukai membaca memberikan peluang untuknya membimbing dirinya untuk menyukai membaca, Zahra masih ingat ayahnya tidak pernah memaksa ia atau. memukulnya kalau misal ia tidak menyukai n sesuatu atau ia suka sesuatu yang lain. Beda pendapat.
"Ayah dan papa nggak pernah mwncubit atau memukul Rara uwa. Begitu juga dengan. ibu maupun mama. "
"Seharusnya uwa nggak usah malu apa yang anak uwa kerjakan yang penting mereka tidak mencuri, "
Wanita itu mwmbisu, hatinya ada penyesalan yang sangat apalagi mengingat semuanya yang ia lakukan. pada anak anak nya.
"Uwa malah menyalahkannya orang tua uwa yang nggak pernah memberikan kasih sayang sama uwa. Makanya uwa kasar sama mereka. "
"Kenapa uwa harus menyalahkan orang tua uwa. Mereka nggak pernah salah, nenek nggak tahu kalau uwa dan mama kembar. Uwa sendirikan yang mendengar dari mama! "
Zahra merasa kesal mendengarkan wanita yang ada di hadapan nya selalu menyalahkan yuyut, ya biarpun yuyut angkat tapi Zahra merasakan kasih sayang dari merka, begitu juga dengan kasih sayang oma dan opa, yang kata orang tidak merestui pernikahan kedua neneknya.
"Tapi itu kenyataannya?" wanita itu sinis.
"Uwa, itu masa lalu lebih baik. lupakan kejadian yang sudah lalu, mau sampai. kapan semuanya selesai? " ingat Zahra menatap wajah Wanita itu tajam.
"Jangan sampai kebencian uwa mendaotkan balasan oleh Tuhan. "
"Kamu juga benci kan sama Darman? " tanya wanuga itu memojokan Zahra..
"Rara nggak benci lada uwa Darman, hanya nhgak suka tingkah laku saja. Sudah tahu anak angkat malah, "
"Malah apa? potong Wanuta itu sengit.
Ia tidak suka sama Zahra yang selalu menjelaskan Darman dihadapannya.
__ADS_1
" Uwa Darman metampas hal ayah, seharusnya tanah yang sekarang milik uwa Darman adalah milik ibu taoi kenpa harus uwa Darman yang memilikinya? " tanya Zahra bertnya seperti pada dirinya sendiri.
"Nenek kamu nggak pernah adil. Apa mentang mentang Darman hanya anaka angkat terus memberikan hanya sejengkal pada Darman sehatusnya adil! "
"Uwa! "
Teriak Zahra keras. Ia tahu wanita itu. mulai menjelaskan nenek kandungnya, yaitu orang tua ayahnya. Ya biarpun ia belum sempat bertemu dengan kedua orang tua ayahnya, tapi apa yang dibicarakan oleh wanita itu adalah ibu kandung dari ayah.
"Pantas kamu nenek nggak suka sama uwa, ya kerena uwa seperti ini tingkah nya," sembur Zahra sengit.
"Seharusnya uwa introfeksi diri kenpa nenek nggak suka sama uwa? " ujar Zahra memberikan alasan.
"Nenek kamu menyalahkan uwa terus, kenoa harus uwa yang jadi korbannya? " tanya wanita itu heran.
"Iwa itu sudah diatur oleh Tuhan, jadi kita sebagai hambanya hanya berusaha dan menjalankan semua nya. "
"Pokoknya kehidupan ini nggak adil buat uwa, Iwa yang tidak punya salah sama oma dan opa harus di buang bwgitu saja, " dengus Wanita itu.
"Kamu enak orang tua kamu. masih menyanyangi kamu. "
"Memang Rara tahu ibu dan ayah selalu sayang sama Rara, tapi yang Rara sesali kenpa banyk. orang yang nggak. menyukai Rara bahagia," celetuk Zahra.
"Maksudnya?
Ya kalau menyedali semua kehidupan ia juga menyedali harus meninggalkan desa yang indah, kemungkinan kalau ayahnya tidak mwninggal ia dan ibu juga Ana tidak. kan terpisah dan Zahra tidak akan bisa bertemu dengn. pak Bram dan ibu Ani.
Zahra mengatakan itu sengaja supaya wanita itu mwnyadari apa yang harus ia lakukan, ia sekarang baru mengerti kenoa uwa iyan menyuruh dirinya menjadi pendamping dan mendengarkan keluh kesah wanita itu, kerena kehidupan dirinya dan wanita itu hampir sama.
Sama sama harus kehilangan orang yang dicintai, sama sama orang yang twebuang oleh keadaan. Kalau saja orang tua wanita itu menghetahui dengan cepat mungkin wanita itu tidak akan pernah kesepian.
Begitu juga dengan dirinya?
"Semua punya kehidupan masing masing uwa, jangan menyesali,"
Wanita itu terdiam seketika juga. Ia tidak menyangka kalau gadis yang ada di hadapannya punya pandangan. yang berbeda dengan dirinya. Sebuah pandangan yang sangat dewasa.
"Rara juga nggak pernah menyesali semuanya uwa, semua ada hikmah yang harus kita ambil. "
"Tapi, uwa masih belum. menerima apa yang terjadi, Ra. "
"Ikhlaskan! Itu kuncinya. Memang kita nggak bisa seratus persen mengikhlaskan semuanya tapi harus berusaha dengan sekuat tenaga. "
Wanita itu diam.
Keduanya tidak menyadari kalau di belakang mereka ada Ayu yang melihat wanita itu dan Zahra. Ya ibu Ayu saat tiba di desa itu mwnya kan keberadaan Zahra dan Rani, uwa iyan menunjukan keberatan mereka. Ia langsung menyusul Zahra san wanita itu!
__ADS_1
"Aku jga ikut! " ujar ibu Ani.
"Jangan!" teeiak Uwa iyan menatap Ani dengan tegasnya.
"Kenapa? "
"Saya nggak bisa menjelaakan, biarkan Ayu peegi sendirian. Selain Ayu. lebih baik menunggu saja." tegas uwa iyan menatap wajah ibu Ani.
Ibu Ani cbeeut mendengar keputusan sari uwa iyan, ingin rasanya ia berteriak dan marah pada pria itu. Tapi pak Bram telah menarik tangannya untuk duduk di kursi.
Sedangkan Ayu langsung lwegi ke perbukitan, ya ia menyangaka kalau Zahra dan wanita itu pasti berada disana. Tanpa uwa iyan memberitahukan Ayu sudah tahu. keberadaan mereka berdua.
"Uwa juga nggak pernah mengerti kenapa orang tua kang Darman nggak pernah mengerti. " dengusnya.
"Iwa pernah mwnya kan itu pada uwa Darman? " kejar Zahra bertanya.
"Sampai sekarang uwa nggak pernah bertemu dengan uwa Darman kamu. "
"Kenapa? "
"Kerena Rani harus meninggalkan desa ini, ia pergi ke kota nggak lwenah kembali lagi. " kata Ayu langsung menghampiri kedua wanita yang berbeda umur.
"Ayu! "
"Ibu, "
Keduanya langsung menoleh pada suara yang ada di samping aura keduanya sangat terkejut melihat kedatangan Ayu yang tiba tiba muncul tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Kamu dengan siapa kesininya? " tanya wanita itu celingukan.
"Sama Ana, ibu Ani, dan pak Bram. " kata ibu Ayu jujur.
"Mama dan papa kesini? Kok bisa kalian akur? " tanya Zahra spontan.
PLAK!
Ibu Ayu langsung memukul lengan Zahra dengan. kuatnya. Zahra hanya meringis saja menerima pukulan dari ibunya.
"Heran saja, kalian bisa akur. " gumam Zahra tersenyum.
"Kalian betah disini? " tanya ibu Ayu.
"Kami sering kesini, aku hanya mengingat semuanya disini. " kata wanita itu lirih.
Zahra hanya diam saja mendengarkan apa yang mereka katakan, ia memberikan waktu buat kesuanya mengenang kembali perjalanan kehidupan mereka di sebuah perbukitan tempat masa lalu mereka. *
__ADS_1