TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 185


__ADS_3

Akhirnya Ani luluh juga untuk membiarkan Rani bicara dengan Ayu. Tapi sebelumnya Ani malah menghalangi Rani untuk mengajak Ayu untuk pergi dari rumah itu, kerena Ani takut kalau Rani melakukan sesuatu pada Ayu. 


"Kalau kalian ingin bicara bicara lah di sini, aku nggak mengizinkan kalian bicara di jauh." kata Ani. 


Wanita itu belum sepenuhnya tidak percaya pada Rani, ia sebenarnya masih ragu untuk mengizinkan Rani bicara dengan Ayu apa lagi di tempat yang jauh. 


"Aku janji nggak akan ikut campur apa yang kalian  akan bicarakan silahkan," sambung Ani serius. 


Sebelum Rani menjawab, Ani malah leehk begitu saja dihadapan mereka berdua, tapi ia kembali lagi sambil membawa dua kursi, Ani.lamhsung menyimpan kursi untuk keduanya duduk, sedangkan dirinya kini berada di ruang tamu. Ia disana duduk sambil memperhatikan keduanya. 


Melihat Ani seperti itu Rani hanya menghela nafas panjang. Ia sebenarnya ingin menolak tapi tidak jadi kerena Ayu juga malah mendukung apa yang dikatakan oleh Ani. 


"Ran, aku setuju kata mama Zahra, aku nggak mau keluar dari rumah ini kalau mama Zahra nggak mengizinkan aku pergi, " kata Ayu secara in formal. 


yuk menyebutkan Ani dengan sebutan mama zahra yang membuat hati Rani terluka sekali, sebenarnya ia datang hanya untuk bicara masalah Anin. 


Dan Ayu juga sengaja untuk bicara in formal pada Rani dan tidak perlu bicara secara formal pada Rani, karena ia dan Rani teman secak kecil dan remaja jadi buat apa ia bicara secara formal. 


"Oke kalau begitu! " akhirnya Rani setuju. 


Ya biarpun hati nya aga kecewa atas apa yang dikatakan oleh Ayu, Rani hanya mendengus saja. Keduanya duduk di kursi yang telah disediakan oleh Ani, sedangkan Ana lanhung ke ruang tamu. Memang percakapan mereka bakalan kedengaran di sana tapi ia janji untuk tidak ikut campur itu urusan mereka. 


Sejujurnya Ani ragu untuk membiarkan  Ayu dan Rani bicara berdua tapi ia berusaha untuk menepiskan perasaan yang tiba tiba hadir dalam hatinya. 


"Kamu mau bicara apa sih! Sampai kamu kelakukan itu padaku? " tanya Ayu. 


"Senangnya aku juga ngak mau bahas ini lagi sama kamu, tapi kalau kamu mau bahas ya terserah aku layani. " lanjut Ayu ketika melihat Rani dian saja. 


Ayu tahu kalau Rani pasti mengizinkan mengumpulkan apa yang akan dibicarakan padanya, atau mungkin saja Rani ragu untuk bicara kerena di ruang tamu ada Ani yang kemungkinan besar pasti mendengar pembicaraan dirinya. 


Memang apa yang dipikirkan. Oleh Ayu benar sekali, bukannya langsung menjawab pertanyaan Ayu, Rani hanya diam memikirkan  apa yang harus ia katakan apalagi ini menyangkut tentang Anin. 


"Kenapa diam? Kalau kamu diam aku lebih baik pergi nih! " ujar Ayu menatap Rani yang diam saja. 


Sebenarnya Ayu ingin sekali meninggalkan Rani, kerena wanita itu hanya diam saja dan tidak angkat bicara sama sekali. 


"Maafkan aku masalah kehamilan aku, aku sebenarnya sengaja melakukan itu!"

__ADS_1


"Aku sebenarnya dendam sama ibu yang mengatakan aku nggak cocok buat Darman! Aku sakit hati mendengarkan itu, sebelum nya aku pernah mengoda Hamdi tapi gagal," akunya dengan jujur. 


Akhirnya Rani bercerita juga  apa yang terjadi pada hatinya, Ayu hanya diam saja. Ia tahu sebenar ya ibu mertua ya memang salah tidak pernah jujur pada Darman dan Rani kerena tidak bicara jujur masalah keduanya, dan Ayu nyakin kau keduanya mencari identitas mereka masing masing. 


"Aku melakukan itu hanya ingin ibu di sana nggak tenang! " 


"Kenapa kamu lakukan itu setelah ibu meninggal Rani, kalau memang ingin melihat ibu terpuruk  kenapa kamu nggak lakukan  saat ibu masih hidup. " kata Ayu getir. 


Ia mengakui kejujuran Rani dihadapannya. Ya biarpun kecewa pada rani  tapi ia bangga karena Rani ada kejujuran pada dirinya. Ayu sangat kecewa mendengar apa yang didengar dari Rani, ia melakukan kerena ingin ibu sakit hati, tapi ibu sudah tiada saat Rani hamil. 


"Kamu sebenarnya bukan balas dendam kerena sakit hati pada ibu kan, tapi kamu sakit hati melihat kebahagiaan yang aku raih!" lanjut Ayu. 


Ayu sengaja berkata itu, kerena ia tahu kalau Rani pasti iri kerena bagaimanapun ia adalah menantu ibu, dibandingkan Rani yang ditentang. Tapi kalau dipikir ibu mentang Rani dan darman kerena ibu sayang keduanya tapi itu disalah artikan oleh keduanya. 


"Seharusnya kalau kamu ingin menyakiti ibu kenpa nggak dari dulu sebelum ibu meninggal, Rani? " tanya Ayu. 


Tohok kata-kata ayu meluncur begitu saja di bibirnya membuat Rani terkejut mendengarnya. 


"Dan waktu kamu hamil ibu sudah meninggal dan kang Darman juga sudah punya istri dan anak." pojok Ayu. 


"Lalu untuk apa kamu lakukan itu pada kami! " kata Ayu sinis. 


"Memang kamu salah! Tapi nggak pernah melakukan minta maaf secara terbuka! " sembur Ayu kesal. 


"Aku sangat kecewa sama kamu Rani, kamu teman  tapi menusukku dari belakang! " teriak Ayu. 


Ani yang masih berada di ruang tamu hanya mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Ayu dan Rani, ia membiarkan saja mereka berdebat kerena itu urusan masing masing dan ia tidak akan ikut campur. 


"Aku tahu yu aku salah tapi kamu jangan begini!"


"Lalu aku harus bagaimana? " tanya Ayu tajam. 


"Pantas saja apa yang kang iyan katakan padaku tentang kamu itu benar semuanya! " 


" Apa yang dikatakan kang lyan pada kamu? " tanya Rani penasaran. 


"Apa aku harus bilang sama kamu ala yang kang lyan katakan padaku? Nggak mungkin aku katakan. " serang Ayu. 

__ADS_1


"Terserah apa yang kau mau."


"Hanya itu yang kau ingin kau ceritakan? " tanya Ayu. 


"Kalau hanya itu yang kau tanyakan, lebih baik kamu pulang saja! " usir Ayu. 


"Lalu kamu mau kemana? Dengan cepat Ra k bertanya. 


Wanita itu takut kalau Ayu bella pergi dari hadapannya. 


" Adakah yang kau bicarakan? " tanya Ayu. 


"Aku hanya ingin memiliki Anin, izinkan Anin hidup bersama aku." 


"Itu nggak mungkin! " teriak Ani yang hanya diam saja tiba tiba angkat bicara. 


Ia biarpun berada di ruang tamu tapi masih mendengarkan pembicaraan keduanya dan spontan ia berteriak saat mendengar Rani meminta Anin pada Ayu. 


Awalnya Ani duduk kini berdiri dengan tegaknya sedangkan buku yang di pegang nya terjatuh seketika ketika telinganya mendengar kata kata Rani yang ditujukan pada Ayu. 


"Kamu diam, katanya kamu bakal diam dan nggak akan ikut campur kalau kami bicara! " ingat Rani memandang Ani yang berdiri menatap dirinya dan Ayu. 


"Iya aku ingat. Tapi ini masalah Anin mana mungkin dia ikut sama kamu? Kamu pikir dong aku mama nya kenapa kamu minta Anin ke dia bukan ke aku? " tanya Ani tidak suka. 


"Tapi kamu mama angkatnya bukan kandung!" jelas Rani tegas. 


"Nggak bisa aku mama nya. " 


"Mama angkat! " 


"Sudah kalian itu apa apa an mwrbitkan anak yang sudah dewasa! Nggak malu ha mwrbitkan orang yang telah dewasa? Anin bukan anak kecil lagi ia bisa menentukan apa yang ia inginkan! " sanggah Ayu dengan tegasnya


"Benar apa yang ibu katakan, Rara bisa menentukan kehidupan yang Rara inginkan. Kalian sebenarnya anak kecil atau sudah dewasa sih! Sampai kalian berdua merebutkan orang yang sudah mandiri!" seru Zahra yang tiba tiba datang tanpa mereka ketahui. 


"Anin!" 


"Rara!"

__ADS_1


Ketiga wanita itu serempak melihat kedatangan Zahra yang tiba tiba muncul di hadapan mereka, kedua wanita yaitu ibu Ayu dan Rani menyebut Zahra dengan sebutan Anin sedangkan ibu Ani dengan sebutan biasa saja yaitu Zahra. 


Biarpun ibu Ani tahu kalau Zahra punya nama lahirnya yaitu Anin tapi ia tetap memanggil nya Zahra pada anak itu, sedangkan ibu Ayu tetap memanggil Anin begitu juga dengan Ana.*


__ADS_2