
Plak!
Rani dengan garangnya menampar muka Darman yang telah menyelesaikan cerita tentang kecelakaan itu! Ani terdiam tidak bisa berkata kata bayangan kecelakaan itu jelas sekali di pelupuk matanya.
Ia hanya bisa berteriak histeris saat melihat darah mengalir di kepala anaknya, matanya yang mung terpejam untuk selamanya.
Darman begitu pasrah menerima pukulan dari Rani, melihat itu Ani langsung menarik tangan Rani. Tapi Rani dengan halus menepiskan tarikan tangan Ani yang menarik tanganya, ia sebenarnya spontan mwmukul Darman dengan kerasnya. Saking kagetnya ia mendengar kalau Darman yang melakukannya.
"Sudah kak, sudah! Zahra nggak kembali lagi nggak akan kembali lagi! " tangisan Ani.
Ia masih mengingat kata kata dari suaminya kalau Zahra benar benar tidak bakalan kembali ke pangkuannya, memang itu nyata sekali tapi ia telah mendapatkan gantinya yaitu Anin yang telah ia anggap anak kandungnya.
"Zahra nggak akan kembali lagi biarpun kita memukul dia dengan kerasnya. "
Kata Ani menyadarkan Rani. Wanita itu benar benar telah berubah tidak seperti pertama kalau kehilangan Zahra pertama kalinya.
Ani bicara berlahan, hatinya hancur diingatkan kembali pada peristiwa dimana ia benar benar dunia seperti runtuh seketika juga. Ia benar benar sepi tanpa kehadiran anaknya Zahra, ia punya mimpi bisa mengurusnya sampai anaknya dewasa tapi nyatanya?
"Kamu biarkan ia membunuh anakmu? Kamu nggak marah dengan apa yang kang Darman lakukan pada kamu? " cerocos Rani. Menatap heran ke arah Ani yang diam saja.
"Kak, Zahra nggak kembali lagi, aku hanya ingin yang mencelakakan anakku mempertangungjawabkan semuanya di polisi itu yang aku inginkan sekarang. " suara lirih Ani pasrah.
Rani melonggo mendengar kata kata Ani yang seperti pasrah seperti itu. Ya sekarang Ani mulai menguasai keadaan dirinya dibandingkan dulu pertama kali mendengar Zahra meninggal.
Mungkin kalau misal ia dulu bertemu dengan Darman, mungkin ia bakal bertindak anarkis pada pria itu tapi sekarang Ani pasrah pada takdir yang harus ia jalani sekarang.
"Mungkin meninggalnya Zahra bukan target kalian, aku tahu kalau kakangmu lebih melindungi dirimu kak. " kata Ani berlahan mengatakan itu pada Rani.
Ani ragu ingin menyebutkan Darman dengan sebutan apa. Jadi ia malah memilih menyebutkan Darman dengan sebutan kakang Rani, Ani melirik wajah Darman ketika menyebutkan kakang Rani.
"Kak, mungkin ini perlindungan dirinya pada kakak. Aku nyakin ini sikapnya pada kakak. " cegah Ani menarik tangan Rani.
Ani melihat tangan Rani yang akan menampar muka Darman. Wanita itu segaja menarik tangan Rani supaya tidak menampar wajah pria itu lagi. Rani akhir ya menurunkan tangannya dan menatap wajah Ani tajam.
Ani ingat apa yang dikatakan Ayu tentang Darman.
__ADS_1
"Kang Darman benar benar sayang sama Rani, ia lebih baik sakit dibandingkan ia melihat Rani sakit. Kadang aku iri sama pengorbanan kang Darman pada Rani, sayang Rani kurang bersyukur punya kang Darman."
"Ia baik, perhatian, tapi itu hanya pada Rani saja bukan pada orang lain. Istrinya juga kadang sering cemburu pada Rani yang selalu diperhatikan oleh Darman ya biarpun salah."
Suara Ayu masih terdengar dengan lembut di telinganya.
"Aku nyakin kalau kang Darman masih menyimpan perasaan sayang di luar sayang seorang kakak. "
Ani hanya bisa mendengarkan apa yang dicurahkan oleh Ayu.
"Kakang mu nggak pernah menyakiti Rani?" tanya Ani heran.
"Nggak pernah, seingat aku karena kami berteman baik dengannya"
Ani hanya diam mendengarkan pengakuan dari Ayu. Hatinya tiba tiba berdesir sangat kuat.
"Apalagi sekarang Rani dan kang Darman saudara ya biarpun beda ayah juga. Aku nyakin kalau Darman sampai kapan pun selalu lindungi Rani."
Ani hanya bisa menarik nafas dalam dalam mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Ayu. Dan sekarang di hadapannya ia melihat dengan jelas sekali, biarpun Rani memukul Darman tapi pria itu hanya diam saja.
Darman juga tidak membalas cuma menipiskan tangan Rani saja.
Ia terenyuh lihat Darman yang di pukul sama Ran, tapi teriakan Ani tidak digubris oleh Rani.
"Kak hentikan! "
Ani langsung mendorong tubuh Rani dengan kuat sekali.
"Jangan lakukan itu!"
"Ran, maafkan kakang. Apa yang kau katakan itu benar sekali, diluar target kita. Aku buru buru, jadi nggak melihat ada seorang anak kecil yang menyembrang di tempat itu, sedangkan itu bukan jalan raya. Maafkan aku Ni. " ujar Daraamn pasrah.
"Aku akan mempertanggungjawabkan semuanya. Apalagi Anin pun kembali, memang Zahra nggak kembali tapi Anin lah yang kembali. "
"Jadi kalau Anin nggak kembali kamu nggak bakal mempertangungjawabkan semuanya? " tanya Ani heran atas apa yang dikatakan Darman.
__ADS_1
"Bukan begitu!" elakkan Darman menatap wajah Ani.
"Aku pasti mempertangungjawabkan kesalahan yang aku perbuat biarpun misal Anin meninggal dunia juga ya otomatis aku salah. " lirih Darman pelan.
Kedua wanita itu hanya terpekur saja.
"Kang kenapa kau lakukan ini, jangan sampai kau bilang hanya untuk melindungi aku, " suara Rani terdengar kembali.
"Kamu melindungi yang salah, kenapa kau selalu melindungi wanita yang telah menghancurkan hidupmu? " tanya Ani sinis.
Deg!
Hati Darman bergetar dengan keras sekali, mendengar apa yang disampaikan oleh Ani pada dirinya, kalau dipikir memang benar apa yang dilakukan Rani ia selalu ikut memetik kesalahannya tapi Darman tidak menganggap terbebani oleh kesalahan Rani.
Sedangkan Rani hanya diam saja mendengar apa yang Ani katakan padanya, ia hanya bisa menghela nafas, seperti membuang beban yang berat menghimpit hatinya.
"Aku melihat kamu prihatin, mengikuti hawa nafsu sampai seorang anak yang seharusnya merasakan kasih sayang seorang ayah terpisah gara gara kau melindungi wanita ini! " sambung Ani tajam.
Ani membayangkan wajah Anin yang benar benar terpuruk sekali saat tubuh ayah ya yang tanpa ia sadari meranggang nyawa di hadapannya.
Ya Ani hanya bisa menggelengkan kepala mendengar apa yang pernah Ayu ceritakan pada sditinya.
"Seharusnya kamu melindungi orang orang yang baik, seperti Pak Hamdi tapi nyatanya salah." ceca Ani beringas.
"Benar kata Anin kalau kau dan Rani pantas mendekam di penjara! "
"Cukup! "
Rani berteriak keras, sampai telinga Ani berdengung saking kerasnya teriakan Rani.
"Cukup? "
"Cukup? Maksudmu apa bilang cukup? Apa kerena aku mengungkit cerita kelabumu? " pojok Ani menatap Rani tajam.
"Bukan masalah mengungkit masa kelabu yang kamu alami gara gara kelakuan kang Darman, tapi aku hanya ingin kamu tahu, aku punya hati sama kamu. Aku tahu kalau kehilangan anak, aku merasakan apa yang kamu rasakan?"
__ADS_1
"Memang ini rencana diluar rencana aku dan kang Darman. Mungkin kang Darman nggak ada niatan untuk itu! " bela Rani.
Ani menghela nafas panjang mendengar pembelaan dari Rani, tadi ia melihat kalau Rani membela dirinya tapi sekarang wanita itu membela Darman, ia hanya bisa menggelangkan kepala nya saja.*