TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 37


__ADS_3

"Pa, aku benar benar nggak sanggup kaku Zahra," ujar ibu Ani ketika Zahra membereskan buku di perpustakaan..


Ya biarpun tempat tidur Zahra hanya sebatas ruangan berukuran 6x4² tapi ruangan itu menyatu dengan perpustakaan. Hanya ada satu kamar disana. Serta ruangan tempat mandi dan toilet saja, tapi penataan ruangan itu begitu rapi dan nyaman sekali.


"Ma, biarkan Zahra seperti ini.Aku.sepeendapat dengan apa yang ia ucapkan," hibur pak Bram.


"Kita nggak akan pernah kehilangan Zahra, ya biarpun Zahra kembali pada pelukan lain, orang itu berhak ma. Kita jangan egois."


"Tapi Zahra anak aku pa, aku nggak mau kehilangan Zahra," Rajuk Ibu Ana..


Jujur ia sebenarnya sudah menduga kalau Zahra yang ia urus bakal kembali ke desa itu, desa dimana ia menemukan bocah kecil itu.


"Ma, apapun yang terjadi Zahra bakal kembali ke pada kita." kata pak Bram menguatkan hati istrinya..


"Aku hanya takut kalau Zahra bakal di desa ini,"


"Wajar kalau Zahra mau tinggal disini, ini desa kelahirannya."


"Papa! Papa sebenarnya dukung mama atau Rara sih!" ketus ibu Ani cemberut.


"Papa dukung mama kok!"


Pak Bram juga sebenarnya tidak ingin kalau Zahra pergi, tapi ia juga tidak ingin egois pada diri sendiri. Kebahagiaan Zahra lebih penting dari apapun juga daripada ia yang merasa bahagia tapi Zahra tidak buat apa.


Ia sudah merasa senang melihat keceriaan wajah Zahra, itu sudah cukup untuknya melihat Zahra tersenyum manis.


"Mama nggak mau kalau Zahra memilih pilihan sendiri, pa."


"Ma, jangan khawatir Rara bakal baik baik saja kok."


Pak Baram mengusap pungung istrinya dengan lembut, ia melihat ada kabut kekhawatiran diwajah istrinya, ia hanya menghela nafas panjang membanyangkan seorang ibu yang kehilangan anak kecil yang raib entah kemana.


Sedangkan istrinya Ani, malah takut kalau Zahra menghilang. Pak Bram tudks bisa membanyangkan bagaimana kalau posisi ibu Zahra itu istrinya yang kehilangan anak dan tidak pernah bertemu bertahun tahun.


"Kamu harus tegar sayang, Zahra milik semuanya. Banyak orang yang sayang sama Zahra, papa nyakin warga disini juga sayang." hibur pak Bram.


Wanita itu hanya diam saja. Hatinya sebenarnya sangat ketar ketir kalau Zahra ingin tetap di desa itu! Pak Bram langsung memegang tangan istrinya dengan lembut sekali.


Sedangkan diluar Zahra dengan asyiknya menemani anak anak membaca dan bermain. Pagi itu ibu Ayu Oun datang berkunjung ke perpustakaan.


"Nak Zahra, ibu buatin urab buat kamu nih!" ujar ibu Ayu menyodorkan makanan dari daun singkong, toge, kangkung, yang dicampur oleh parutan kelapa dsn dikasih bumbu cabe biar agak pedas.


"Wah terimakasih bu," sambut Zahra senang sekali.


Zahra menerima makanan itu, bukan hanya urab saja yang dikasih sama Zahra, ibu Ayu juga memberikan ikan peda yang di goreng, serta sambel yang menggoda nya.

__ADS_1


Wajah Zahra berbinar binar menerima makana. dari ibu Ayu.


"Zahra itu apa?" tanya ibu Ani lanhsung menghampiri Zahra yang menerima makanan.


"Oh ma, ini ibu Ayu dsn ibu Ayu ini mama Zahra," kata Zahra mengenalkan dua wanita itu.


Hati Ini Ani berdetak keras saat menatap wajah ibu Ayu, wanita itu langsung mengulurkan tangan kepada ibu Ani. Dsn ibu Ani lanhsung menyambut uluran tangan dari ibu Ayu.


"Saya Ayu," ujar Ibu ayu tersenyum.


"Ani," senyum ibu Ani terguncang hatinya.


Setelah itu mereka saling bicara satu sama lainnya.


"Maaf kalau boleh papa Zahra kesini?" tanya Ibu Ayu spontan.


"Ada apa ya dengan papa Zahra?" tanya ibu Ani curiga.


"Nggak apa apa kok! Saya itu sama Zahra, ia selalu membanggakan papanya." jawab jujur ibu Ayu.


"Zahra begitu bangga nya punya ayah seperti papa," lanjut ibu Ayu.


Ibu Ani lanhsung menatap wajah Zahra, Zahra hanya mengangguk. Ibu Ani tersenyum kecut sekali mendengar pengakuan dari wanita yang baru ia kenal, ia tahu siapa sosok laki laki yang membuat Zahra bangga yaitu ayah ya. Ayah yang selama ini di rindukan oleh Zahra.


"Saya benar benar salut sama ibu dan suami anda, mampu mendidik anak seperti Zahra." kata Ibu Ani tulus.


"Terimakasih ya atas pujiannya." kata ibu Ani perih.


'Ya Allah bocah itu sellau membicarakan ibu dan ayahnya. Beruntung sekali ibu dan ayahnya punya anak seperti Zahra, biarpun ayah telah meninggal tapi ayahnya tetap hidup dihatinya.' bisik ibu Ani perih sekali..


'Kalau Zahra ada di sini, masih disampingku.mungkin aku nggak akan terluka seperti ini, rasanya sakit ya Allah,' sambung ibu Ani.


"Ya udah ya bu, saya mau pulang. Nak Zahra nanti jangan lupa makan ya," kata ibu Ayu pamit pada kedua wanita itu.


"Iya sama sama Bu, iya nanti Zahra makan masakan ibu kok! pokoknya restoran hebat juga tidak bisa mengalahkan masakan ibu," puji Zahra mantap.


"Wanita itu?" tanya ibu Zahra menatap anaknya.


"Iya, ma." Zahra mengangguk dsn tidak bisa bohong pada diri ya.


"Kamu bahagia ya ketemu wanita itu!" ketus ibu Ani..


Wanita itu meninggalkan tempat itu, sedangkan pak Bram yang melihat hanya menghela nafas, ia tahu cepat atau lambat wanita itu bakal tahu siapa gadis yang diberi makanan olehnya.


Zahra hanya menatap kepergian mamanya ke dalam kamar, hatinya sebenarnya sakit melihat mamanya seperti itu lada ibu Ayu tapi ia juga tidak bisa bisa melakuakan apa apa.

__ADS_1


"Pa, ayo.kita makan!" ajak Zahra mengajak papa nya.


Zahra membawa makan masuk ke dalam, dilihat papanya sedang memandang dirinya..


"Ayo pak juga lapar," sambut pak Bram.


Kedua nya makan dengan akrab sekali, kadang saling bercanda.


"Kamu pasti kangen ayah ya?" tanya pak Bram.


"Kangen kedua nya pa, tapi aku nggak bisa memeluk ibu," jujur Zahra.


"Kamu sabar ya, papa dukung kamu kok! Jangan mudah putus asa, anak papa yang kuat," semangat pak Bram.


"Terimakasih pa," ucap Zahra.


"Papa dan mama lah yang harus mengucapakan terimakasih lada kamu, kamu mau menjadi anak kami," gumam pak Bram tapi masih kedengaran di telinga Zahra.


Zahra memeluk papanya dengan terharu mendengar apa yang papa ucapkan.


"Seharusnya Zahra yang mengatakan itu pada papa dan mama, " ujar Zahra tulus.


Acara makan penuh dengan arti bagi Zahara kerena baru kali ini papa membuka diri dengan membicarakan sosok ayah dan ibu yang menurut Zahra lebih penting.


"Ibu Ayu,"


"Ibu nya Anin pa, wanita yang hebat pokoknya yang mengikhlaskan suami meninggal dan harus kehilangan Anin." ujar Zahra tersenyum..


Ya ia baru saja menyebut nama Anin dihadapan papa nya, kemarin kemarin ia selalu menyebut nama Anin tapi pria yang ada dihadapannya selalu marah dan tidak mau menerimanya.


Tapi sekarang pak Bram seperti mau membuka hatinya pada Zahra, ketika putrinya menyebut nama Anin, tapi pria itu hanya mengangguk saja.


Ya kini ia merasakan pahit dan getirnya seorang orang tua yang kehilangan anaknya, anak yang dicintai harus hilang dan orang tua itu tidak tahu apa anaknya meninggal atau tidak, sedangkan dirinya?


'Zahra, nama kalian mirip, maafkan papa,' bisik pak Bram perih.


"Ra, papa dan mama pernah kehilangan anak, anak yang di sayangi telah diambil oleh Tuhan, tapi papa ikhlas kok!"


"Tapi Zahra?"


"Sudah pa, Zahra bakal baik baik saja, ia bahagia disana." kata Zahra tersenyum.


"Terimakasih ya sayang, kamu tetap putri kaki sayang."


Zahra mengangguk.*

__ADS_1


__ADS_2