
Kedua kakak beradik yang awalnya saling diam malah sekarang beradu mulut.
"Kalian coba jangan ribut di sini! Kak, apa yang kamu lakukan juga salah? Kenapa nggak pernah jujur sama Vito tentang papa nya?"
Ani hanya ingin mengingatkan kesalahan Rani pada diri Vito yang bertahun tahun dibohongi tentang papanya. Sedangkan Ani tahu kalau posisi Vito pernah dirasakan oleh Rani sendiri, Ani hanya ingin kakaknya dari awal jujur pada Vito tapi kenyataannya lain lagi.
"Kamu nggak sadar kalau kamu juga nggak pernah cerita kalau Zahra itu bukan anak kamu?" Damprat Rani marah.
Rani secara spontan malah mengungkit identitas Zahra, kalau dipikir lagi identitas Zahra dan Vito sangatlah berbeda, itu yang Rani lupakan.
Di tatap nya wajah Ani dari dekat membuat Ani mundur beberapa langkah ke belakang saat ia melihat tatapan mata Rani yang mendelik penuh kemarahan pada dirinya.
"Aku lakukan itu mereka aku nggak mau kehilangan Zahra, aku nggak mau kalau Zahra balik ke ibunya lagi. "
"Tapi Rara lah yang sebenarnya yang mengingat orang tuanya bukan aku yang mengingat akan Rara. Nggak kaya kakak diam saja. " Sembur Ani menatap wajah kakaknya.
Ani akhirnya nya mengatakan yang sebenarnya ya apa yang dikatakan dirinya ada benarnya, kalau Zahra malah yang sering mengingat ibunya biarpun ia berusaha untuk menutupi nya. Tapi Vito, kalau Vito sama sekali tidak tahu siapa papanya dibandingkan Zahra.
Jadi wajar kalau misal saat Vito tahu identitas nya. Ia marah pada Rani yang dari awal tidak pernah jujur. Itu yang dapat melukai hati Vito yang sebenarnya.
Zahra hanya menelan ludahnya tanpa rasa haus mendengar apa yang didengar oleh telinga nya. Apa yang dikatakan oleh ibunya dibenarkan oleh hatinya, dan sekarang ia mendengar apa yang mamanya katakan, jadi kenyataan yang sebenarnya buat diriny sendiri.
"Mama mu nggak pernah mengizinkan kamu untuk pergi! " Kata ibu Ayu waktu itu.
Waktu mereka bicara tanpa adanya Ana, keduanya mencurahkan hati masing masing.
"Kenapa? ibu'kan berhak atas Anin! " Ujar Zahra. Ia menyipitkan kedua matanya saat mendengar oenitiran dari ibu nya.
Zahra tidak langsung bicara ia menunggu apa yang akan dibicarakan lagi padanya, Zahra menatap wajah ibu yang menatap kearah depan dengan perasaan yang tenang dan biasa saja.
Ibu Ayu akhirnya memandang ke wajah Zahra dengan lembutnya, ia menarik tangan Zahra ke pangkuannua, gadis itu hanya diam saja.
"Ibu nggak apa apa kok kalau kamu memilih mama kamu, bagaimana pun ia yang menemani masa masa kecilmu bukan ibu. " Kata ibu Ayu getir.
Wanita itu tersenyum, dan tangan tangan kanannya langsung menyentuh pipi Zahra lembut sekali, gadis itu terharu mendapatkan prilaku itu oleh wanita yang telah melahirkannya.
__ADS_1
Zahra menatap wajah ibunya dengan perasaan yang tidak karuan.
"Ra, sejujurnya ibu juga nggak mau kehilangan kamu, kamu ibarat mata ibu yang selalu menjadi penglihatan ibu. Tapi ibu mengalah demi, " Lirih ibu Ayu.
Sambil melepaskan tangannya dari pipi Zahra. Ia juga membuang nafas yang tiba tiba terasa sesak di dadanya saat ia mengucapkan kata kata itu. Kata kata lembut tapi bagi dirinya membuat hatinya terluka. Perih.
"Ibu! Ibu jangan seperti ini! Seharusnya ibu lah yang mengambil Rara dari ibu Ani! " Jerit Zahra.
Gadis itu tidak menyangka sama sekali kalau ibunya mengatakan itu, ada sebuah ketulusan yang dirasakan oleh Zahra saat wanita itu mengucapkan kata kata itu padanya.
Zahra langsung beranjak dari duduknya dan bersimpuh di hadapan ibunya sambil memeluk kedua lutut ibunya dengan perasaan yang terharu sekali, kerena ia memiliki ibu seperti ibunya.
"Ibu nggak apa apa Ra, di samping ibu ada Ana sedangkan mama kamu ada siapa kalau kamu nggak ada. " Jelas ibu Ani.
Sambil mengelus kepala Zahra yang ada di pangkuan ibunya. Wanita itu benar benar merasa bersyukur mempunyai anak seperi Anin dan Ana.
Ibu Ayu mengatakan itu bukan membuang Zahra pada ibu Ani taoi ia mencoba untuk mengikhlaskan anaknya untuk kebahagiaan orang lain.
"Bu! " Getar suara Zahra tertahan.
Zahra terpaku mendengar penjelasan ibunya, ada rasa haru yang tiba tiba menyelimuti hatinya saat mendengar apa yang ibu nya katakan.
"Iya nak ibu nggak apa apa kok! Bagaimana pun ia juga ibu kamu juga. Menurut lah apa yang dikatakan ibu kamu ya jangan melawan apa yang diperintahkan dan dilarang. "
Ibu Ayu dengan penuh masih sayang memberikan pengertian tentang dirinya pada Zahra, gadis itu hanya tersenyum getir mendengar nya kerena ia sama sekali tidak menduga.
Dan sekarang di hadapaannya, wanita yang telah mengurusnya berbicara dihadapannya seperti itu. Ada perasaan yang tidak nyaman sekali.
"Aku bukan membela diriku sendiri kak, kasus kakak dengan kasus yang aku hadapi sangat lah berbeda satu sama lainnya, kalau kasus kakak ketidak jujuran kakak terhadap vito. " Tegas Ani menatap kakaknya tajam.
"Sedangkan aku kasusnya hanya ingin memiliki Zahra seutuhnya. Itu yang membedakannya, Zahra biarpun aku nggak menceritakan siapa dirinya ia bakal tahu siapa dirinya sedangkan vito ? " Sambung Ani menohok hati Rani.
Rani mendengar apa yang dikatakan Ani hanya diam, disisi lain ia membenarkan apa yang dikatakannya, sedangkan Vito sendiri tidak sama sekali kalau tidak mendengar dari orang lain mana mungkin bisa tahu?
Rani hanya mwnghela nafas.
__ADS_1
"Kamu bicara itu dari siapa? Memangnya merugikan kamu sampai kamau bicara itu! " Rani tidak bisa menerima apa yang dikatakan oleh Ani.
Rani sangat berang mendengar apa yang Ani katalan dihadapan nya maupun Zahra. Ada perih di hatinya Tapi ia berusaha tidak menampakan sama sekali.
"Sudah! Kalian kesini hanya bertengkar? Sebenarnya ua kesini buat apa kalau hanya ingin menumpahkan uneg uneg hati saja" Zahra melerai keduanya yang akan beradu mulut.
Gadis itu dari tadi hanya diam saja kini berkomentar. Ia merasa kalau antara Rani dan Ani percikan api yang belum kelihatan.
Vito yang masih ada disana dengan Darman hanya diam saja. Vito yang masih merasa kesal sama mamanya apalagi pertanyaan dirinya nggak dijawab.
"Ma, apa yang dikatakan Zahra bwnarkan? Kalau aku anak biologis papa, kenapa mama lakukan ini pada Vito! "
"Ma, kenapa mama lakukan semuanya pada Vito! Vito sudah percaya sama mama tapi mama malah membohongi aku, aku nggak peduli mama buron juga nggak peduli! Terpenting adalah kejujuran mama pada Vito!"
Vito langsung meninggalkan wanita itu! Tidak lupa ia menarik tangan Darman yang dari tadi diam saja mendengarkan apa yang di omongan oleh Rani, ia juga melirik Ani.
Ia masih mengenali wajah wanita itu! Darman hampir saja menghampiri Ani tapi Vito keburu menarik tangannya untuk keluar. Darman tidak bisa apa apa kecuali mengikuti Vito keluar dari rumah itu.
Sedangkan Rani, Zahra dan Ani masih ada disana bertiga.
"Memang aku hanya ingin mengeluarkan uneg uneg hati disini! " Tantang Rani menatap Zahra tajam.
"Kalian kenapa sih!" Dengus Ani menatap Rani wanita yang ada dihadapannya.
"Dari pada uwa kesini hanya untuk bertengkar lebih baik uwa pulang saja! Kami ingin istirahat! " Tegas Zahra menatap wajah Rani.
Tidak menunggu waktu lagi, Zahra mangajak mamanya untuk meninggalkan ruangan itu, tapi sebelum Zahra pergi, Rani sudah meraih tangan Zahra dengan cepat sekali.
"Lepaskan!" Teriak Zahra keras sambil mwnatao wajah Rani.
"Kamu berani sama saya? "
"Kenapa nggak bukan berani saja aku juga bakal menjebloskan kamu ke penjara! " Sembur Zahra tegas.
Plak!
__ADS_1
Rani meringis kesakitan saat pipinya terkena pukulan dari Zahra, ia terkesiap melihat kemarahan Zahra yang sedemikian rupanya. *