
"Argh!"
Wanita itu berteriak dengan keras sekali! menumpahkan rasa dan kesalnya yang tidak pernah hilang dalam hidupnya.
Ia harus terbuang dalam keluarganya, menjalani kehidupan yang penuh dengan kepahitan hidup. wanita itu melakukan semuanya lada Zahra supaya Zahra merasakan apa yang dirasakan olehnya.
"Ra, aku bakal melakukan semuanya""
Itu yang pernah ia ucapkan pada dirinya. Ingatannya jatuh pada tahun berikutnya, tahun dimana seorang laki laki yang seharusnya bertangungjawab harus pergi dengan wanita lain, itu yang paling menyakitkan dalam hatinya.
Memang tidak sepenuhnya salah pria itu yang meninggalkan dirinya, tapi tetap saja ia masih mengharapkan kasih sayangnya.
PLAK!
Wanita itu meringis seseorang dimasa lalunya menampar muka dirinya. Masih terasa sakit sekali yang ia rasakan saat wajahnya ditampar olehnya.
"Sakit!"
Teriaknya, saat ia tahu kalau pria yang meninggalkannya melakukan itu padanya. Laki laki itu menatap tajam.kearah dirinya dengan beringas.
"Aku nggak segan segan menyakiti kamu kalau kamu sampai melukai istriku!" ancam nya .
"Seharusnya kau nikahi aku! Bukan dirinya!"
PLAK!
Pria itu mengalir mukanya lagi, beberapa kali sampai ia menjerit. Mengingat itu semua ia.mwnkadi geram dan ingin menghancurkan semuanya yang menjadi milik Zahra. Apalagi Zahra kini hidup dengan kehidupan yang mewah dsn bahagia.
Narti yang mendengar teriakan majikan langsung mendatangi majikan di kamarnya. Melihat kamar majikan kata kapal pecah Narti merinding seketika juga..
"Narti bagaimana dengan aku? Aku harus hidup sendiri tanpa anak! Anak anak nggak tahu untung!" rutuk nya.
"Bu, sabar ya. Jangan seperti ini, kalau ibu seperti ini Narti harus bagaimana sekarang." tanya Narti prihatin.
Wanita usia 30 tahun itu menyebut namanya di hadapan majikannya, ya ia sering sekali menyebutkan nama sendiri pada siapa saja itu lebih enak ujarnya.
Tapi kemarin kemarin kalau sama Zahra sering menyebut aku, bibi atau saya campur aduk bahasa penyebutannya.
"Apa Narti harus mencari anak anak ibu kemana?" tanya Narti mendekati majikan yang duduk di lantai.
"Atau Narti cari Zahra saja menceritakan semuanya?" lanjut pertanyaan Narti pada wanita itu sambil ditatap wajah majikan yang sedang menatap kosong kearah depan seperti ada yang dipikirkan olehnya.
"Bu, jangan diam saja. Bicaralah sama Narti, ceritakan lah apa yang ibu inginkan, biar Narti bisa bantu." bujuk Narti.
Ya biarpun ia masih baru di rumah itu, tapi ia merasakan apa yang dirasakan majikannya. Majikannya punya segala hal tapi sangat dilupakan oleh orang yang disayangi.
__ADS_1
"Bu, apa yang harus Narti lakukan supaya ibu nggak seperti ini?" tanya Narti lagi.
Tapi wanita yang ada dihadapannya hanya diam mematung saja. Ia tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Narti.
"Bi, apa Narti mencari saudara ibu, tapi Narti nggak tahu dimana alamat rumah nya?" ujar Narti kembali.
Tiba tiba wanita itu menatap wajah Narti dengan tajam sekali.
"Narti mau kok bantu ibu sekarang juga asal ibu jangan seperti ini " kata Narti kembali bersuara lagi.
"Kamu benar mau bantu aku, Narti?" tiba tiba wanita itu bersuara sambil menatap wajah Narti.
"Boleh! Kalau itu yang buat ibu bahagia." ujarnya sambil tersenyum.
"Kamu ambil kertas dan pena, bawa kesini." ujar wanita itu.
Narti tidak menunggu lama lagi langsung meninggalkan wanita itu, tidak lama kemudian ia balik lagi ke wanita itu.
"Kamu cari alamat ini, kamu boleh ceritakan siapa aku sebenarnya." kata wanita itu sambil menyodorkan kertas yang telah ditulis sebuah alamat.
"Baik Bu, tapi sebelum Narti pergi Narti bakal beresin ini dulu, ibu istirahat sja dulu. Narti bakal pergi kok," kata Narti gembira kerena bisa bantu majikannya.
"Kamu pergi saja, biar aku yang beresin semuanya." girang wanita itu.
"Nggak apa apa, aku yang beresin semuanya. Kamu hati hati di jalan," kata wanita itu tersenyum.
Akhirnya Narti mengangguk dan pergi begitu saja.
"Narti! pakai mobil saja!" terima wanita itu.
Narti mengangguk.
Tidak lama kemudian alamat yang dicari oleh Narti ketemu. Memang tempat yang ia kunjungi tidak terlalu jauh dari tempat wanita itu hanya beberapa jam kerena itu macetnya minta ampun. mungkin kalau tidak macet hanya 30 jam saja.
"Narti!" teriak Zahra saat tahu Narti ada di halaman rumahnya..
Wanita itu berdecak kagum atas rumah kediaman Zahra.
"Iya non saya Narti. Maafkan saya yang telah menyakiti nin, saya datang kesini hanya ingin," kata Narti tidak melanjutkan apa yang ia ingin sampaikan..
Zahra langsung menyambut Narti, ia lupakan apa yang terjadi lada dirinya. Zahra mengajak Narti duduk di dalam rumahnya.
"Bi, ada apa yang terjadi?"
"Ibu Mon, sejak kepergian non sangat kacau."
__ADS_1
"Tapi itu bukan mama kan?' tanya Zahra menatap tajam.
Ya Zahra sekarang tahu kalau wanita yang pernah bersamanya bukan mama, tapi orang lain yang mirip mamanya..
"Ya ia bukan mama, non, tapi orang lain yang merindukan anaknya. Non, ibu ingin ketemu dengan mama non."
Narti langsung cerita pada Zahra, tanpa sadar mereka kalau ibu Ani menguping pembicaraan ya. ia sangat terkejut sekali kalau ada saudara yang tidak pernah ia kenal sama sekali.
"Jadi selama ini kamu disekap oleh saudara mama!" teriak ibu Ani kaget.
Zahra dan Narti langsung melihat kearah suara yang ada di belakang mereka..
"Wajahnya sama," gumam Narti terkejut ketika pertama kali melihat wajah ibu Ani.
Zahra mengangguk. Membenarkan apa yang diucapkan oleh Narti.
"Maafkan Rara ma, Rara selama ini nggak cerita pada mama, Rar hanya ingin mencari tahu saja wanita itu siapa? Tapi bi Narti sudah menceritakan pada mama." kata Zahra memandang wajah ibu Ani.
"Jadi benar selama kamu pergi, kamu berada disana? Kok bisa wanita itu tahu kamu anak mama?" kata ibu Ani bertanya bertubi tubi .
Wanita itu akhirnya duduk disamping Zahra dan Narti.
"Rara juga baru tahu sekarang sekarang, Ma. Ya sejak terjadi penculikan antara Ana dan ibu Ayu kemarin.
"Ibu Ayu dan Ana diculik? Kok bisa!" tanya ibu Ani keget.
"Ya kerena majikan saya hanya ingin menjelekkan ibu Ani saja," ungkap Narti sopan.
"Maksudnya?''
"Majikan saya ingin kalau ibu Ani jelek Dimata suami dan anaknya itu yang ia katakan lada saya."
Narti menceritakan semuanya apa yang majikan katakan pada dirinya, ibu Ani dan Zahra hanya diam mendengarkan apa yang diceritakan oleh Narti.
"Saya benar benar nggak tahu kalau saya punya saudara, memang dulunya saya nggak pernah mendengar cerita dari orang lain termasuk keluarga." kata ibu Ani menerawang.
Zahra merasakan getir saat mendengarkan semuanya dari Narti. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan wanita itu, apalagi Narti menceritakan anak anak dari wanita itu yang tidak pernah kembali.
"Ma, izinkan Rara kesana."
"Buat apa?" tanya Ibu Ani menatap Zahra..
"Rara ingin memeluk wanita itu kasihan," ujar Zahra.
Ibu Ani menatap wajah Zahra, gadis itu menatap wajah putrinya dengan tajam, akhirnya ia mengangguk.*
__ADS_1