TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 23


__ADS_3

Ayu merangkul tubuh Anin dengan lembutnya. Hatinya bertanya tanya kenapa Anin bisa lolos dari uwa Iyan, sedangkan ia sendiri menitipkan anak itu ke pada kakang nya.


Anin malam itu kabur dari uwa Iyan, kerena laki laki itu tertidur lelap dan Anin bisa lolos dari uwa Iyan dsn berhasil menemui ibunya. Ya Anin masih ingat pembicaraan ibunya dengan uwa Iyan kalau ayahnya berada di bale desa.


Uwa Iyan terkejut saat ia terbangun kembali saat mendengar tangisan Ana yang ada di dalam kamar, ia langsung ke kamar menyusul Ana dsn menidurkan Ana. Untungnya saat itu mbok Inem datang akhirnya istrinya lah yang memangku Ana untuk ditidurkan kembali.


"Wah! mbok lihat Anin?" tanya Uwa Iyan menatap wajah istrinya.


"Oh! tadi aku ketemu di jalan, ia minta dianter ke bale desa. Aku sebenarnya nggak mau Anin ke bale desa tapi anak itu malah menangis kangen ayahnya." cerita mbok Inem.


Laki laki itu hanya menghela nafas panjang mendengarkan cerita istrinya tentang Anin. Hatinya terasa sakit melihat keadaan Anin seperti itu. Tapi ia sama sekali tidak bisa bantu apa apa.


Setelah Ana tidur, mbok Inem langsung kebelakang dan merebus air supaya pas Ayu sampai ia bisa menyuguhi Ayu minuman hangat.


Sedangkan Anin.yang ada di bale desa tidak mau pulang, ia sepertinya tahu kalau ayahnya tidak baik baik saja, ia menangis saat tubuhnya diangkat oleh Ayu untuk di pangku.


"Ayah!" tangis Anin melambaikan tangan pada Hamdi.


Laki laki itu hanya menatap putri sulungnya dengan.leradaan hancur, ia tidak menyangka kalau hidupnya bakal seperti ini. Banyak yang belum terselesaikan dalam hidupnya apalagi tentang Anindya.


Anin yang dipangku ibunya menangis sambil memukul tubuh Ayu dengan tangan mungilnya. Ayu hanya diam saja, ia sebenarnya sedih mendengar tangisan Anin yang begitu pilunya. Sejujurnya ia juga merasakan sedih melihat suaminya yang tidak bersalah harus dianggap salah.


"Uwa!" tangis Anin malah makin keras saat ia melihat uwa Iyan. Laki laki itu langsung memeluk tubuh kecil Anin sambil menatap wajah Ayu.


Mbok inem yang ada di dapur langsung menyongsong Anin, tapi Anin mengelengkan kepala, ia hanya ingin di dekapan uwa Iyan saja.


"Dek, sudah! Aku sudah menyediakan minuman di dapur di.minum ya dek," ujar mbok Inem.


Belum sempat Ayu mengatakan sesuatu mbok Inem langsung pergi ke dapur dan mengambil satu gelas teh manis dan rebusan singkong.


"Iya mbak yu!" ujar Ayu.


"Uwa ayah kok nggak pulang pulang," ocehan Anin matanya menatap wajah uwa Iyan.

__ADS_1


"Nanti juga pulang."


"Kapan? Aku mau tidur sama ayah lagi uwa,"


"Ayahmu pulang besok, ada urusan di bale desanya." sambung mbok inem sambil menyodorkan teh manis dan rebusan singkong.


"Mana yang punya aku mbok," protes Anin mendelik.


"Ada di dapur, mbok ambilkan ya."


Anin mengangguk. Bocah itu lupa kalau tadi membicarakan tentang ayahnya. Mereka akhirnya minum dan makan singkong rebus, Anin begitu lahap dengan singkong rebus nya.


"Ibu, kok ayah nggak pulang pulang!"


Ketiganya saling tatap satu sama lainnya. Anin langsung menangis memanggil ayahnya. Mbok inem langsung mendekati bocah itu dan merangkulnya. Ayu hanya diam saja, ia langsung pergi begitu saja menuju kamarnya, melihat itu uwa Iyan hanya menghela nafas panjang. Anin masih menangis di pelukan mbok inem, uwa Iyan yang tidak jauh dari istrinya langsung mengelus tubuh Anin.


Mungkin kerena mengantuk atau capai kerena menangis, akhirnya Anin tertidur di pangkuan mbok Inem, wanita itu menidurkan ke kamar Anin.


"Kang Hamdi sekarang di proses polisi, kang! Aku nggak tahu harus bagaimana menolong ayahnya anak anak."


Ayu yang sudah tahu Anin sudah tidur, ia langsung keluar menuju depan. Di depan uwa Iyan masih duduk sambil menyandarkan pungungnya. Laki laki itu langsung menoleh saat ia mendengar dengus Ayu, di tatap wajah wanita itu, uwa Iyan melihat wajah ayu yang sedang menerawang entah kemana. Wanita itu telah duduk di depan uwa Iyan dengan tatapan mata yang kosong dan sedih.


"Kamu sabar ya dek, pasti ada hikmah!"


"Kang! Aku harus bersabar bagaimana? Kamu bilang begitu gampang!" sembur Ayu kesal menatap laki laki yang ada di hadapannya.


"Iya kakang ngerti, kamu yang kuat ya demi anak anakmu. Kalau misal kamu rapuh bagaimana anak anak mu?"


"Kang kamu bisa saja bilang begitu kerena kakang nggak berada di posisiku!"


"Bukan begitu dek, kamu harus sabar lihat anak anakmu."


"Dek apa yang di bicarakan oleh kakang kamu benar juga, kasihan anak anakmu. Kamu harus tegar," ujar mbok Inem yang tiba tiba menghampiri keduanya.

__ADS_1


"Tapi bagaiamana kehidupan aku dan anak anak?"


"Ada jalan!"


"Terpenting Anin harus dijaga, ia anak yang cerdas." timbal uwa Iyan.


Ya laki laki itu melihat kalau Anin berbeda dengan anak anak lainnya. Lebih kritis dan serba ingin tahu, sebenarnya ia takut kalau misal Hamdi benar benar di Tahuan oleh polisi, uwa Iyan hanya berpikir lada perkembangan mental Anin yang masih butuh kasih sayang ayahnya.


"Aku nggak percaya kalau kang Hamdi melakukan itu kang, boro boro bunuh orang bunuh semut maupun binatang lainnya juga nggak,"


"Kamu istirahat saja, temani Ana. Kasihan Ana tidur sendirian, terus kamu juga temani Anin," kata uwa Iyan menatap dua wanita yang ada di sampingnya.


Malam telah larut. Para penghuni desa itu mulai terlelap dengan nyenyak nya kecuali Ayu yang masih belum bisa memejamkan matanya.


Begitu juga dengan uwa Iyan yang berada di luar, ia hanya bisa menghela nafas panjang. Kalau saja ia tadi tidak terlambat datang mungkin kejadian itu tidak bakal terjadi pada Hamdi.


Ya tadi ia mendengar apa yang terjadi di kebun yang menewaskan Rohman pemilik kebun itu, itu hanya rekayasa Darman dan Tio saja.


"Aku nggak ikhlas kalau tanah itu milik Rohman!" teriak Darman menatap Tio.


"Maksudnya kang? Kakang kan yang jual tanah itu dari kang Rohman?" tanya Tio menatap Darman tajam.


"Diam kamu?" Aku punya rencana, tapi aku harap kamu tutup mulut?" Sura Darman terdengar tegas.


Tio mengangguk dengan cepat.


"Kamu sekarang panggil Rohman dan Hamdi ke kebun yang aku jual itu, kita harus menyingkirkan Hamdi!"


"Maksudnya?"


"Cepat! jangan banyak bertanya." ujar Darman mendelik.


Dengan perasaan yang tidak karuan Tio langsung memanggil Rohman dan Hamdi ke sebuah kebun yang di sebutkan oleh Darman. Awalnya Rohman tidak mau kerena jam telah menunjukan pukul 21.00 malam. Tapi Tio dengan alasan kalau Hamdi yang menyuruh Rohman datang ke kebun itu, akhirnya Rohman mau datang tapi yang ditemui adalah Darman!

__ADS_1


__ADS_2