
POV Rey
Rey bagaimana sekarang aku, posisi ku nggak aman." ujar Anin pada ku lewat Vidio all.
Anin cerita kalau ade nya curiga pada kedatangan dirinya, dsn Ade ya menyatakan kalau siapa dirinya sebenarnya..
"Aku nggak jawab Rey, aku takut."
Aku hanya bisa.mengelengkan kepala saja mendengar apa yang Anin katakan. Aku sebenarnya disisi lain agak menyalahkan Anin.
"Nin, kamu serius mau mengunjungi desa itu?" kataku heran.
Anin mengangguk,"Aku hanya ingin berkunjung saja, dan nggak menempatkan diri sebagai Anin."
"Bagaimana caranya?"
"Tenang yang penting kamu setuju dan dukung aku."
"Papa dan mama kamu?"
"Itu urusan belakangan yang penting aku hanya ingin sampai ke desa itu bagaimana caranya."
Aku hanya mengelangkan kepala saja mendengarkan apa yang direncakan oleh Anin, dan aku juga tidak curiga apa apa rencana gadis yang aku cintai itu. Ia kembali ke desa itu dengan identitas lain, dan tanpa di duga warga nya menerima baik kedatangan Anin.
Dan Maslah mulai timbul saat ia mengatakan kalau Ade nya mencurigai kedatangan dirinya. otomatis aku agak menyalahkan dirinya dari awal juga. Benar benar menyalahkan kerena tidak mendengarkan saran yang aku berikan.
Aku hanya ingin mengatakan, kalau dirinya sudah sampai di desa itu ceritakan siapa dirinya dengan.kekuarga ibu atau adiknya dengan syarat adiknya maupun ibunya tidak.menceritakan keberadaan dirinya..
Tapi nyatanya Anin tidak menceritakan dirinya pada ibu dan adiknya, otomatis adiknya agak curiga dengan kedatanganya. Dan setelah ini aku yang ikut pusing harus melakukan apa coba kalau Anin seperti ini?
"Aku sudah aku katakan pada kamu Nin, kamu seharusnya jujur pada dirimu sendiri sekarangkan seperti ini jadinya." ujarku.
Sebenarnya sebelum ia ke desa itu aku sudah wanti wanti menasehati Anin untuk mengatakan jujur pada ibu dan ade nya, tapi Anin keukeuh tidak mau mendengarkan apa yang aku ucapakan pada dirinya.
Ya sedikit aku tahu kalau Anin berasal dari desa itu desa yang jauh dari keramaian kota, ya wajar sih kalau Anin ingin menginjakkan kaki ke desa kelahirannya. Banyak kenangan yang tidak akan pernah dilupakan apalagi kenangan masa kecilnya.
"Aku nggak tahu apa yang Rara lakukan Rey, bantu aku." bujuk Anin padaku.
"Ya udah kamu tenang ya, nanti aku kesana. Ujarku menghibur.
Akhirnya aku memutuskan sambungan ya dengan Anin. Aku hanya bisa menghela nafas panjang mendengar apa yang Anin lakukan pada ade nya.
__ADS_1
Ada kasihan juga sih lada Anin kalau seperti ini, ya mau tidak mau aku harus menyusulnya ya biarpun tidak sepenuhnya bisa membantu, tapi siapa tahu dengan kedatanganku ia bisa tenang kembali.
Anin, menurutku ia gadis yang baik, kehidupan yang pernah ia jalani waktu kecil yang membuat aku bangga punya pacar sepertinya. Pernah aku ajak menikah tapi, gadis itu menolak keren katanya ia akan mencari kebenaran yang yang terpendam di desa itu.
"Rey aku entah pulang, entah nggak sih kalau aku sudah di desa itu!" terhiang suara Anin waktu sebelum.lergi ke desa itu.
"Kenapa seperti itu Nin?" tanyaku heran.
"Aku rindu nuansa desa, desa itu benar benar nyaman sekali Rey, pokoknya betah tinggal di desa, udara sejuk, dan dingin." kata Anin waktu
"Puncak terkalahkan Rey dengan nuansa desa itu." lanjut Anin waktu itu..
"Nuansa puncak dikalahkan kerena ada orang yang kamu rindukan disamakan?" tanya aku waktu itu.
Ia tidak menjawab hanya tersenyum saja, mendengar candaan yang aku lontarkan pada dirinya.
🦋
Kejahatan yang kaku lakukan bakal menjadi bumerang buat kamu dan keluargamu sendiri, jangan jadi manusia arogan yang menganggap dirimu baik.
Kamu tidak tahu kalau Tuhan tidak tidur, Tuhan sedang melihat yang pernah kamu lakukan 20 tahun yang lalu.
Orang orang bisa saja melupakan kejadian itu, tapi aku dengan jelas melihat apa yang kamu lakukan, kamu membunuh tiga nyawa yang tidak dosa demi kepentingan dan ambisi kamu sendiri.
Aku juga sebenarnya anak angkat tapi aku nggak akan pernah mengikuti jejak mu, kerena jejak yang kamu jalani jejak yang busuk.
Darman terbelalak dengan isi kertas itu. Isi kertas yang membuat hatinya terbakar oleh kata kata yang di tulis oleh seseorang.
"Bangsat!"
Teriak Darman emosi. Ia benar benar kalap sekali, melihat tulisan yang ia temukan di teras rumahnya.
Kertas itu ia sobek sobek dsn dibuang begitu saja oleh dirinya, Entin yang di dalam rumah langsung keluar dari rumah kerena mendengar teriakan suaminya.
"Kang, ada apa?" tanya Entin.
"Siapa yang menulis ini!" tunjuk Daraman pada sobekan kertas yang ia buang.
Entin melihat sobekan kertas yang telah di buang oleh suamianya, wanita itu mengelangkan kepalanya tanda tidak tahu.
"Pasti Anin yang melakukan nya pasti bocah itu bangsat juga anak itu!" teriak Darman emosi.
__ADS_1
"Kang! sudah jangan bicara tentang Anin saja! Kakang hanya halu saja tentang Anin, sampai sekarang juga Anin nggak pernah ada di kampung ini!" teriak Entin.
"Kami jangan bela anak itu Entin, seharusnya kamu cari Anin!"
"Aku harus cari kemana? Aku juga nggak kenal Anin!"
PLAK!
Tangan Darman melayang dengan sukses ke pipinya Entin, wanita yang hamil jalan 7 bulan itu hampir terpelanting kalau tidak sesosok tubuh yang meraihnya.
"Pak!" .
Ya wanita itu tidak sengaja lewat ke depan rumah Daraman dan melihat pertengkaran Darman dengan Entin.
Entin juga terkejut saat tubuhnya ada yang memegang nya, ia langsung mengucapkan terimakasih pada wanita yang telah menolongnya.
"Makasih dek Zahra atas bantuannya," ujar Entin tersenyum manis..
Ya wanita yang menolong Entin dari pukulan suamianya adalah Zahra. Zahra tadi melihat dengan jelas kalau Daraman memukul pipi Entin, ia langsung menghampiri nya dsn menolong Entin.
"Mbak lebih baik masuk saja," ujar Zahra lembut.
Zahra langsung menatap wajah Darman yang merah padam menahan marah, apalagi saat ia melihat Zahra yang ada di depannya.
Darman terkejut kerena Zahra tiba tiba ada di depannya, tidak menyangka kalau ada orang berani berhadapan dengan dirinya.
"Jangan ikut campur!" ketus Darman.
"Aku nggak pernah ikut campur urusan bapak, kalau bapak nggak jahat sama istri bapak!" sembur Zahra berani.
"Kurang ajar kamu, berani beraninya!" marah Darman hampir saja menampar muka Zahra tapi wanita muda itu menahan gerakan tangan Darman dengan tangannya..
"Aku nggak takut dengan bapak!"Potong Zahra dengan tangkasnya memegang tangan Darman.
Laki laki itu geram sekali, kerana tidak menyangka ada seorang wanita yang telah berani melawan dirinya, ya ia ingat Zahra wanita yang ada di perpustakaan desa itu.
"Lepaskan!" sembur daraman ketika tanganya yang akan menampar pipi Zahra di pengang dengan kuat sekali.
Ia menarik tanganya dari genggaman tangan Zahra.
"Jangan pernah melukai orang lain, kalau kamu nggak mau dilukai," bisik Zahra lembut.
__ADS_1
DEG!
Darman seperti teringat kata kata itu, kata kata yang keenam ia dengar sewaktu Hamdi masih hidup.*