
"Bu, ibu tahu Rani itu siapa?" tanya Ana melepaskan pelukan ibunya.
"Nggak begitu kenal sih! Tapi ia adalah saudara dari ibu Ani, wajahnya mirip tapi ibu Ani nggak mengenalnya." cerita ini Ayu.
"Kok bisa?" Ana heran.
"Kerena mereka terpisah, tapi ibu nggak tahu pasti cerita yang berkembang.'' kata ibu Ani menatap Ana.
"Menurut cerita Rani dan Ani itu terpisah ketika mereka masih kecil, sampai sekarang hanya yang membedakannya orang tua mereka menyangka Rani meninggal. Tapi Rani sendiri nggak mau mengenalkan dirinya pada Ani." jelas ibu Ayu.
"Kaya Ana dan kak Anin?" tanya gadis itu..
Ibu Ayu mengangguk.
"Tapi kenapa Ratna itu menculik kak Anin? Apa wanita itu tahu kalau kak Anin bukan anak ibu Ani?"
"Ibu nggak tahu masalah itu. Kalau dipikir memang benar Zahra bukan anak ibu Ani yang sebenarnya Tapi anak angkat." cetus wanita itu mengerti.
"Bu, jadi kak Anin disekap?"
"Entah lah,"
"Kak Rey dsn kak Dio harus tahu ini Bu," ujar Ana.
"Mereka nggak akan percaya Ana, sebenarnya bukan ibu Ani pelakunya. Wanita itu yang menyekap kita dulu," akhirnya wanita itu jujur
"Kenapa nggak percaya?"
"Mereka pasti mengira itu Ani!"
"Atau gini aja kita hubungi ibu Ani kasih tahu semuanya?"
Ibu Ayu hanya mengelangkan kepala saja. Ana heran menatap ibunya.
"Kenapa Bu,"
"Ibu Rasa ibu Ani bakal shock kalau mendengar ini, ibu takut kalau terjadi apa apa saat kita cerita apa yang terjadi."
"Ya sudah lah. Tapi bu, kenapa wanita itu tahu uwa Darman? Kata ibu, kalau wanita itu menyekap kita?" tanya Ana bertubi tubi..
"Ya ia kenal dengan uwa Darman dan kenal sama ayah kalian. Sedangkan ibu Ani sendiri hanya kenal dengan Darman saja, tapi tidak kenal dengan ayah kalian." jelas Ibu ayu akhirnya.
"Ibu tahu semuanya tentang wanita itu?"
"Sedikit saja tahunya, Na nggak banyak banyak."
Tanpa mereka sadari Dio yang akan menemui Ana hanya tertegun sejenak saat tanpa sengaja ia mendengar percakapan antara ibu dan anak itu.
Ia hanya bisa menarik nafas dalam dalam, dsn menghembuskan kembali saat mendengar semuanya. Jadi, tanpa Dio sadari kalau ibu Ayu telah tahu semuanya. Biarpun. ibu Ayu tidak menceritakan pada dirinya dan Rey, akhirnya ia mengerti.
"Jangan jangan ini tahu keberadaan kak Anin?" tanya Ana menatap ibunya..
"Entahlah, kalau wanita itu nggak pindah rumah mungkin rumahnya berada di jalan xXxx. Tempat itu ibu masih ingat,x"
"Ibu pernah kesana?"
__ADS_1
"Sering sebelum kakak kamu lahir."
Dio masih setia mendengarkan apa yang diceritakan oleh ibu Ayu biarpun dari jarak agak jauh dari mereka, kerja.masih kedengaran.
"Daerah xXxx," gumam Dio.
Ia tertegun saat ini Ayu menyebut daerah itu! Daerah itu tidak jauh dengan tempat ini. Malah dekat sekali.
Akhirnya Dio beranjak dari tempat itu, ia bakal menjadi penolong Zahra. Tapi waktu Dio keluar dari gerbang kantor terlihat Rey menghalangi jalan Dio.
"Kamu tergesa gesa mau apa? Ini bukan jam.istirahat?" kejar Rey dengan.kertanyaan.
"Ada urusan penting!" jawab Dio tanpa memberitahukan keman ia akan pergi.
"Lebih baik masuk,"
"Maaf aku pergi dulu Rey, please aku sibuk." dio memohon.
"Ada apa? Kerjaan di luar?"
Dio sebenarnya ingin memberitahukan Rey masalah Zahra tapi ia ragu untuk bicara mengenai Zahra jadi ia lebih baik ditahan untuk tidak menceritakan masalah Zahra.
"Iya, aku buru buru," tepis tangan Dio pada Rey.
Dio langsung pergi, diantar oleh tatapan mata Rey. Pria itu langsung meluncur ke tempat yang disebutkan oleh ibu Ayu.
"Apa ini?" lirih Dio menatap sebuah bangunan elit di sebuah komplek perumahan yang megah.
Sebuah rumah bertingkat dengan cat warna putih, dengan hiasan yang elegan sekali. Pagar rumahnya tinggi sekali.
Dio melihat ada bel di dinding pagar..Ia memencet bel itu, tidak lama kemudian muncul seorang wanita berusia 30 tahunan keluar dari sebuah rumah.
"Maaf, ibu Ani ada nggak ya?"
Dio segaja menyebut Ani untuk wanita itu. Ya ia mendengar semua pembicaraan dari ibu Ayu kalau ada orang yang baru datang atau orang yang mau ketemu dengan Rani harus mengatakan kalau bertemu dengan Ani.
"Sudah ada janji?" tanah wanita itu.
Masalahnya jarang ada orang yang datang ke rumah ini kecuali pria yang ada di depannya..
"Sudah kok, saya sudah punya janji dengan beliau, " kata Dio agak gugup.
Wah bisa brabe kalau wanita itu menyuruh dirinya menelpon. Masalahnya bisa bisa jadi runyam, ia harus menelpon pada siapa?
"Tapi ibunya nggak ada di rumah?" ujar wanita itu tanpa curiga apapun juga pada Dio.
"Nggak apa apa, saya tunggu di teras rumah saja," kata Dio.
Wanita itu diam seketika juga menimbang nimbang.
"Baik lah kalau begitu!"
Wanita itu mengangguk. Ia langsung ke dalam rumah untuk membuka gemboknya.
Tidak ada rasa curiga sama sekali, wanita muda itu langsung membuka pintu dan mempersilahkan Dio masuk. Dio masuk ke halaman rumah, kerena sekeliling rumah itu sepi akhirnya Dio langsung melumpuhkan wanita itu.
__ADS_1
Ia tidak berpikir apa saat itu langsung meringkus wanita itu, untung ia membawa sapu tangan yang telah diobati obat bius. wanita itu langsung lemas dan terkapar.
Setelah membereskan wanita itu, ia langsung masuk ke rumah megah itu! Ia nyakin kalau Zahra berada disana sendirian.
"Ra!"
"Rara!"
"Ra!"
"Kamu dimana?" teriak Dio menggema memanggil nama Zahra..
Zahra yang ada di kamarnya langsung kaget mendengar nama dirinya di panggil seseorang.
"Dio!" gumamnya.
Ia langsung ke jendela.
"Dio, aku disini!" teriak Zahra keras..
"Dio tolong aku!" uang Zahra membuka jendela dan melambaikan tanganya.
Dio yang melihat tangan Zahra langsung mendekati.
"Ra kamu?"
"Ceritanya panjang Dio, aku ini keluar, semuanya gara gara Mama," keluh Zahra.
Dio akhirnya bisa membuka pintu depan dengan bantuan kunci yang di pegang oleh Narti.
"Dio kunci kamar kalau nggak salah disimpan di rak buku di depan!" terima Rara.
Iya ia sering sekali melihat mamanya menyimpan kunci kamar di rak itu! Pas Dio mencarinya akhirnya ketemu dan ia membuka kunci itu.
"Dio!" seru Zahra terharu.
Spontan Rara langsung memeluk tubuh Dio dengan erat, Dio juga membalas pelukan Rara dengan erat sekali.
"Kamu nggak apa apa ?" tanya Dio menatap wajah Zahra. Dio melepaskan pelukannya dari tubuh Rara dan menatap wajah gadis yang ada di hadapannya.
"Nggak tapi,"
Wajah Zahra terlihat Tirus sekali, dan banyak luka luka di tubuhnya.
"Mama lakukan ini." lirih Zahra..
"Mama? Aku kira wanita iblis itu bukan mama kamu!" sembur Dio kesal atas kelakuan wanita itu!
Dio langsung membawa Zahra ke luar rumah. Dsn mereka malah duduk di teras rumah itu sambil menceritakan apa yang terjadi.
"Maksudnya?"
"Ibu yang tahu semuanya, tempat ini semuanya dari ibu." Dio menjelaskan kedatangan dirinya ke tempat itu.
"Ibu?"
__ADS_1
"Iya ibu Ayu, tanpa sengaja aku mendengarkan percakapan ibu Ayu dan Ana."
Akhirnya Dio menceritakan kejadian nya ketika ia mendengarkan cerita tentang Rani dan Ibu Ani pada diri Ana, Zahra hanya mendengus saja mendengarkan apa yang diceritakan oleh Dio.*