TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 97


__ADS_3

Berita penemuan mayat tersebar luas. Rani yang ada di rumah hanya diam membisu, ia tidak menyangka kalau semuanya terungkap begitu cepat. Ia berusaha tidak keluar rumah supaya tidak ada yang tahu.


"Bajingan, semuanya salah kamu Narti!"


"Kamu yang salah!"


"Kenapa kamu tolong Bram, kenapa?"


Teriak wanita yang bernama Rani itu dengan wajah benar benar kesal, dan marah ia juga tidak menyangka hal itu terjadi pada Narti. Ya ia melakukan bukan kerena sengaja. Tapi nasi sudah jadi bubur tidak mungkin jadi nasi lagi.


"Bu, jangan Bu. Bu, seharusnya ibu sadar pak Bram adalah suami dari ibu Ani!" kata Narti waktu itu.


Suara wanita itu masih terdengar jelas di telinga Rani. Ya sebelum kejadian itu, ia telah bicara bakal melakukan sesuatu pada Bram. Tapi rencana nya ditentang oleh Narti..


"Kamu kenapa sih!" teriak Rani thdka suka.


"Bu, bagaimana pun pak Bram adalah adik ipar ibu, suami dari saudara ibu." Narti berusaha untuk menyadarkan majikannya.


Ya majikannya ingin melakukan sesuatu pada pak Bram yaitu meniduri pak Bram untuk sehari saja. Tapi dengan tegas Narti tidak setuju dengan rencana majikannya itu.


"Kamu bilang apa?"


"Bu, apa ibu tega melakukannya pada saudara ibu sendiri. Bagaiamana pun itu suami dari ibu Ani," Narti mengingatkan majikannya.


"Kamu lebih baik diam saja, jangan ikut campur urusan saya."


"Bu, kalau ibu nekad ingin meniduri pak Bram aku bakal melakukan sesuatu padanya!" ujar Narti tegas.


Deg!


Rani terkesiap mendengar apa yang keluar dari mulut Narti ia tidak menduga kalau Narti bakal berani mengatakan itu pada dirinya.


PLAK!


Tangan Rani langsung melayang di pipinya Narti, ART itu tidak menyangka kalau majikannya bakal memukul wajahnya dengan kerasnya.


"Aaw!" teriak Narti saat tangan Rani menyentuh pipinya. Wanita 30 tahun itu berteriak histeris sambil memegang pipinya yang terasa sakit dan panas yang menjalar.


"Kalau kamu sampai melakukan sesuatu saya nggak segan segan membunuh kamu, kamu saya bayar untuk bekerja bersama saya tapi kelakuan kamu seperti ini."


"Bu, kalaupun saya mati saya bersyukur apalagi kalau saya meninggal menolong orang!"


Bukannya mengalah Narti malah menyerang Rani dengan kata katanya. Mendengar apa yang dikatakan oleh Narti, terlihat wajah Rani merah dan padam seketika juga.

__ADS_1


"Bu, kalau saya di pecat juga saya terima, saya nggak takut!" terima Narti berani.


"Kamu pembantu tidak tahu untung!" terima Rani kasar.


"Nggak masalah Bu, saya nggak tahu untung atau rugi juga yang penting saya terlepas dari ibu!" lanjut Narti berapi rapi.


PLAK!


Dengan emosi yang meledak ledak Rani langsung melayangkan tanganya ke arah wajah Narti, beberapa kali Rani memukul dan menjambak rambut Narti dengan kasar tapi wanita itu seperti pasrah menerima semuanya.


"Bu, kenapa diam, pukul lagi Bu, pukul lagi lebih baik saya ibu bunuh saja dari lada saya harus mendekam di penjara!" teriak Narti saat Rani berhenti memukulnya.


Bug!


Rani yang mendengar teriakan Narti jadi mendidik darahnya, ia langsung menyepak tubuh Narti yang berdiri sampai wanita itu terjengkang dan duduk di lantai.


"Kalau kamu sampai bilang sama orang kalau saya melakukan ini pada kamu, bisa bisa saya bunuh kamu!" ancam Rani sambil jongkok dihadapan Narti dan menjambak rambut Narti dengan kasarnya.


"Apa ibu takut kalau saya melaporkan ke polisi?" tanya Narti mengejek Rani.


Wanita itu tidak menjawab pertanyaan dari Narti, ia langsung meninggalakan rumah menuju jalan yang akan dilalui oleh Bram. Tanpa menunggu lagi Rani bisa menemukan Bram di SPBU, dan ia mendekati Bram mengaku istrinya.


Tapi sebelum itu! Rani menghampiri Narti yang masih duduk di lantai.


Narti tidak langsung menjawab hanya menghela nafas panjang mendengar pertanyaan dari wanita yang ada di hadapannya.


"Jawab!" teriak Rani.


"Ibu ingin tahu, kerena saya merasa kasihan sama keluarga itu! Keluarga yang baik, damai, dan tentram semua berubah kerena ibu ada diantar mereka."


"Ibu tahu waktu saya kesana Rara begitu manja pada mamanya, dan saya nggak melihat kemanjaan Rara dihadapan ibu," lanjut Narti.


"Bu, jangan lakukan itu. Saya nggak akan pernah melaporkan ibu, asal ibu insaf untuk tidak melukai keluarga itu." kata Narti saat melihat Rani diam saja tidak merespon apa yang ia katakan.


"Nggak saya bakal melakukan semuanya, kenapa harus Ani yang merasakan kebahagian itu!" Hela nafas Rani.


"Bu, ini sudah takdir. Apa yang Tuhan berikan buat ibu dan ibu Ani itu Yanga terbaik," ingat Narti lembut.


"Kamu berani menasehati saya!" Rani melotot mendengar Narti memberikan nasehat pada dirinya.


"Saya nggak menasehati ibu, kalau ibu mau menerima kata kata saya syukur kalau nggak juga nggak apa apa." ujar Narti.


"Camkan! Saya nggak akan pernah berhenti melakukan apapun juga, sebelum Ani jatuh!" sembur Rani.

__ADS_1


"Itu terserah ibu, saya hanya mengingatkan aja."


Rani tidak mengatakan apa apa lagi, ia langsung pergi meninggalkan Narti.


Wanita itu masih mengingat semua percakapan dengan Narti, ia hanya bisa termenung saja di kamar.


Ya setelah Rani pergi meninggalkan Rani, wanita 30 tahun itu hanya mengelangkan kepala dan mengusap dadanya melihat kelakukan majikannya seperti itu.


Ya masih hari itu! Rani berhasil membawa Bram menuju villa nya. Tanpa ia sadari sebenarnya Narti mengikuti majikannya menuju villa.


"Bu, jangan!" teriak Narti saat melihat Rani memasukan obat tidur ke gelas yang ada minuman Bram.


"Kamu! Ngapain kamu mengikuti!"


"Bi, jangan lakukan itu, kalau sampai ibu lakukan itu saya bakal lapor polisi!" ancam Narti tegas.


"Sudah kamu lebih baik lapor saja semua kejahatan saya!" teriak Rani emosi.


Tapi teh manis itu berhasil diminumkan ke Bram. Dan saat Bram tidak sadarkan diri Narti langsung masuk kamar utama, dan mereka disana bertengkar sampai Bram siuman kembali.


Ya, Rani hanya memberikan obat tidur sedikit kerena keburu Narti datang dan menumpahkan cairan itu dari tangan Rani. Mungkin hanya setetas yang masuk, itu juga telah membuat Bram tidak sadarkan diri.


"Kamu jahat!"


"Kamu jahat!"


"Seharusnya kamu masih hidup!"


"Awas kalau kamu hidup lagi, bakal aku pites leher kamu!"


Rani masih berteriak histeris di rumah itu. Rumah yang besar hanya dirinya sekarang mengisi, Narti tidak akan kembali lagi. Dan malah kini semuanya mencari tahu sebab Narti! Apalagi penemuan mayat tanpa identitas itu!


"Kalian jahat! tangisnya.


"Kalian nggak punya hati!"


"Kamu jahat!"


"Aku nggak bisa menangkan kamu Narti, kamu harus bertangungjawab semuanya."


Ocehan demi ocehan terus keluar dari mulut Rani. Kadang ia berjalan hilir mudik, jongkok, berdiri, duduk, dan tiduran terlentang, bersila, memeluk lututnya.


Wanita itu memandang dengan pandangan yang kosong, hatinya berkecamuk banyak pertanyaan yang ia ingin katakan. Tapi tidak ada jawaban yang ia temukan tentang kenapa Narti harus mati duluan dari pada dirinya?*

__ADS_1


__ADS_2