TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 201


__ADS_3

"Mama! " teriak  Vito terkejutnya. 


Rani berhasil menahan tangan Vito yang memegang pisau, entah bagaimana kalau misal Rani gagal menangkap pisau itu mungkin perut Darman berlumuran darah dan nyawanya entah ada entah hilang. 


"Vito! Apa yang kamu lakukan! Kamu benci sama, pak Darman kerena membunuh papa kamu tapi kamu juga nggak bedanya seperti dia! " teriak Rani tegas. 


"Biar ma biar ma! Biar ia merasakan bagaiman sakitnya orang hidup di bunuh demi melindungi mama! " sembur Vito sambil mendorong tubuh mamanya. 


Untungnya waktu Vito mendorong tubuh Rani pisau yang dipegang oleh Vito terjatuh. Dan Darman yang mengambilnya, pria itu tidak menyangka kalau Rani di dorong ketika tubuh Rani di dorong dan menimpah tubuhnya maka keduanya terjatuh bersamaan. 


Plak! 


"Kamu apa apa an main dorong saja! " teriak Ani yang tiba tiba menghampiri Vito dan tanpa ragu ia menampar muka Vito dengan kerasnya. Memang ia melihatnya ia tidak mendiga kalau wanita itu bakal menampar mukanya dengan keras, sedangkan mereka berada di dekat mamanya itu pikiran Vito. 


Vito yang tidak menyangka hanya meringis kesakitan saja, ia tidak menduga sama sekali kalau ada mamanya Zahra yang tidak jauh darinya. 


"Tante! "


Vito berteriak! 


Sadangkan Rani dan Darman langsung bangkit dari jatuhnya, berdiri didepan Vito dan Ani. Keduanya yang tidak melihat Ani menampar muka Vito hanya menatap heran pada pemuda itu! Tapi Ani hanya diam sambil menatap tajam. 


"Kalian kenapa? " 


Darman dan Rani bertanya berbarengan? 


"Tante main pukul saja! " sembur Vito melitik Ani yang ada di sampingnya. 


"Habis kamu tega sampai mendofong mama kamu sampai mama kamu tersungkur dan menimpah pria itu! " ujar Ani mmwbela diri. 


"Kamu sangat keterlaluan Vito! " 


"Pak, bapak juga lebih sadis lagi. Membunuh orang tanpa dosa sama sekali, malah bebas sampai  sekarang. Apa bapak berpikir kalau orang orang yang dibunuh juga butuh hidup yang nyaman dan tentram? " 


Suara Vito lantang kembali. 


Plak! 


Sekarang bukan Ani yang menampar muka Vito, tapi Ranilah yang menampar muka Vito sangat keras sekali, Vito sampai teeoikeki kesakitan saat tangan mamanya sampai ke pipinya. Panas dan sakit yang ia rasakan di pipinya. 


"Ma, bwnarkan apa yang dikatakan Vito!" Terima Vito tidak suka dengan cara mamanya. 

__ADS_1


"Kenapa mama pukul Vito, apa kalian sengkongkol? " sembur Vito beringas. 


Melihat gelagat yang tidak mengenakan antara Vito dan Rani dengan spontan akhirnya Ani menarik tangan Vito untuk menjauh dari keduanya. 


"Tante apa apa apan? " tanya pemuda itu heran. 


Ani tidak menggubris teriakan dari Vito, ia menarik tangan Vito untuk menjauh. Rani dan Darman melihat itu semuanya hanya diam saja. Ani baru melepaskan tangannya dari tangan Vito setelah mereka agak menjauh dari Rani dan Darman. 


"Tante apa apan sih!" jeeit Vito heran bin biging melihat Ani menarik tangan nya menjauhi kedua orang itu. 


"Kenpa senyum senyum? " tanya Darman menatap wajah Rani heran. 


"Lucu mereka berdua. " 


"Kang, apa yang kamu katakan benar? " tanya Rani. 


"Apa.yangnaku katakan? " Darman blank. 


"Kamu siap mendekam di penjara?" tanya Rani. 


Daraman bukan langsung menjawab tapi ia malah pergi begitu n saja di hadapan Rani lalu duduk di kursi yang tidak jauh dari mereka. Tempat duduk yang mereka bertiga pakai tadi ngobrol. 


"Aku sudah capai ran, hidup seperti ini saja. Aku hanya ingin hidup nyaman dan tentram apalagi anak anakku menunggu aku. " kata Darman. 


"Kasihan Ani, Ran apa yang dikatakan Ani benar aku membela yang salah bukan membela yang benar." 


"Kang! Terus aku bagaiamana?" tanya Rani..


Wanita itu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Darman. Ia menatap wajah Darman yang me induk seperti meresepai alam yang dikatakan  oleh Ani. 


"Aku nggak nyangka kamu bakAl berubah seperti ini, lalu buat apa kamu mengeluarkan aku di penjara! " tanya Rani berapi rapi. 


"Kalau ujug ujungnya kita masuk penjara lagi? Sambung wanita itu. 


"Maafkan aku Ran, aku salah sama kamu. " 


Plak!


Dengn geramnya  Rani menampar muka Darman dengan kerasnya, ia tidak menyangka kalau pria itu berkata seperti itu pada dirinya. Ia menyangka kalau Darman sudah diguna guna oleh Anin atau Zahra. 


Dengan perasaan yang tidak menentu akhirnya Rani meninggalkan Darman yang duduk di tempat itu! Darman hanya menghela nafas panjang melihat apa yang dilakukan oleh Rani. 

__ADS_1


"Kang! Seharus nya akang tegas apa yang harus dilakukan oleh Rani, jangan ikuti apa kata  Rani! " ujar Ayu waktu dua minggu yang lalu. 


Mereka bertemu dan saling bertukar pikiran, Ayu sengaja mengajak dirinya ketemuan. Awalnya Darman mwnolaknya tapi pas di pikir lebih dalam lagi akhirnya ia mau bertemu dengan  Ayu. 


"Pikirkan apa yang harus kamu lakukan, oke kamu sayang sama Rani tapi jangan sampai berlebih, aku lihat sebenarnya Rani masih mengharapkan kamu. " kata Ayu mengingatkan. 


Darman hanya bisa menghela nafas mendengar apa yang Ayu katakan, sebenarnya tidak hanya Ayu yang mengatakan itu, hati kecilnya juga mengatakan sebenarnya Rani masih menyimpan perasaannya hanya terbwntur status. 


Sedangkan Ani yang menarik Vito menuju jalan utama langsung melepaskan tangan Vito.. 


"Semoga saja mas Darman insaf. " kata ibu Ani tersenyum. 


"Apa Vito nggak salah dengar? Mas?" Vito terkejut mendengar sebutan dari wanita yang ada dihadapannya. 


"Tante bakal menyebutkan pria itu mas Darman ya Bagaimanapun ia kakak tante. Tante sudah menerimanya sebagai kakak. " senyum wanita itu lembut. 


"Tante apa nggak salah? " tanya Vito teouk jidat. 


"Kenpa salah? " 


"Nggak sih tapi kaya mendadak gitu sih!"


"Semuanya sudah selesai Vit, keduanya bakal mwndwkam di penjara mempertangungjawabkan perbuatan nya, dan tante ingin melihat mama kamu dan mas Darman bebas dan kami berkumpul kembali. " 


Ani sudah membayangkan kalau misal merka bisa berkumpul kembali menjadi keluarga yang aman dan harmonis. 


Vito hanya bisa diam mendengarkan apa keinginan satu wanita yang ada dihadapannya, bukan hanya wanita itu yang merasakan tapi dirinya juga merasakan nya. 


"Mama! 


" Vito!" 


Zahra dan Ana yang masih menunggu ibu Ani terkejut melihat Vito yang berjalan berdua dan ngobrol akrab sekali. 


"Kalian di sini menunggu siapa? " tanya ibu Ani kaget. 


Melihat kedua gadis sedang duduk lesehan sepertinya menunggu seseorang. 


"Menunggu mama, apa yang mama bicarakan dengan uwa darman dan Uwa Rani? " 


"Wah! Untung ditungguin sama kalian ayo kita pulang bareng! " ajak Ibu Ani sambil mengajak kedua gasia itu. 

__ADS_1


Akhirnya keempat orang itu pulang bareng bercerita ruang sepanjang jalan. 


__ADS_2