
"Bisa jadi sih kalau begitu, apalagi setelah tahu kalau Zahra itu Anin." kata Dio.
Pria itu tidak menyangkal kecurigaan dari Ana maupun Ibu Ayu kalau yang menculik mereka adalah ibu Ani. Apalagi mendengar cerita kalau ibu Ani menjebloskan Darman ke panjara dalam kasus pembunuhan yang terjadi beberapa tahun yang silam.
" Aneh kan? Seharusnya Ana atau kakak Zahra yang menjebloskan uwa Darman." ucap Ana.
"Iya sih! Terus ibu Ani tahu dari siapa kalau pak Hamdi meninggal kerena uwa kamu itu?" tanya Dio.
"Entah! mungkin kak Zahra pernah cerita," kata Ana melirik Zahra yang ada disampingnya.
"Kakak nggak pernah cerita apa apa Maslah pembunuhan itu. Kakak juga masih simpang siur siapa yang membunuh ayah, pak Rohaman dan pak Karta waktu itu." Zahra mengelengkan kepalanya saja.
"Unik juga ya kalau mama kamu bisa menjebloskan uwa Darman dalam kasus pembunuhan itu!" decak Dio heran.
"Makanya aneh!" gumam Ana.
Mungkin kalau Ana tidak mencertakan asal muasal dari Zahra tidak mungkin ia percaya begitu saja. Sebenarnya juga ia masih bertanya tanya posisi Zahra di rumah pak Bram.
"Anaknya Zahra meninggal kayanya," kata Zahra.
Memang selama ini ia sama sekali tidak pernah mendengar Zahra meninggalnya bagaimana, ia hanya mengikuti perintah ibu Ani maupun pak Bram saja. Tapi kaku Maslah jati dirinya Zahra tidak mau diperintah oleh siapapun juga.
"Memangnya kamu nggak kenal sama Zahra asli?" tanya Dio menatap Zahra..
"Sama sekali nggak, kecuali fhoto masih ada di kamarnya."
"Ra, mana mungkin pak Bram sampai menemukan kamu di desa itu sedangkan kalian seharusnya nggak pernah ketemu." kata Dio.
"Tapi kenyataannya lain Dio, buktinya aku disini bareng mereka."
"Iya juga sih!"
"Wah kalian nggak pernah bilang bilang!" seru Rey yang baru tiba.
Pria itu langsung duduk di samping Dio sedangkan Zahra dengan Ana duduknya berdampingan.
"Kemana saja sih baru kelihatan?" tanya Zahra pada Rey.
"Banyak urusan,"
"Hai, Na bagaiamana khabarnya?" lanjut Rey sambil melirik Ana..
Ya memang Rey mendengar kaku Dio yang telah membawa Ana dan ini Ayu pulang, tapi kerjaan nya masih menumpuk akhirnya ia menyelesaikan dulu kerjaan baru setelah selesai ia menuju kantin dimana sekarang Zahra dan Ana berkumpul.
"Ibu kemana?" tanya Rey celingukan..
"Ibu lagi istirahat mungkin capai," jawab Ana.
"Ibu kamu bai baik saja kan?" kejar Rey bertanya kembali..
"Alhamdulillah baik kak,"
"Syukurlah kalau baik, tapi kalain nggak apa apa kan?"
__ADS_1
Ana hanya mengangguk saja mendengar brondong pertanyaan dari Rey.
Setelah bincang bincang yang menceritakan penculikan Ana dan ibu Ayu akhirnya mereka menyimpulkan kalau dalang dari penculikan itu adalah ibu Ani kerena Ana sebagai korban yang melihat semuanya..
Malam mulai turun.
Zahra baru pulang dari kantor, sebelum.masuk kamar ia melihat mamanya yang sedang di ruang tamu termenung begitu saja.
"Ma, kenapa?" tanya Zahra perhatian..
"Nggak ada apa apa kok, Ra."
"Kok mama seperti ada yang dipikirkan?" tanya Zahra menatap wajah mamanya.
"Mama nggak melamun nggak ala kok!" sanggah ibu Ani kikuk.
Sebenarnya ia sedang memikirkan bagaimana caranya supaya Ana dan ibu Ayu bisa disingkirkan dari kantin di kator itu. Ia sebenarnya ingin menyingkirkan ibu Ayu dan Ana tanpa sepengetahuan dari Zahra..
"Ma, Rara mau bicara sama mama." kata Zahra duduk di depan ibu Ani.
"Ma, Ana telah diketemukan, ia ditemukan oleh Dio," kata Zahra hati hati.
"Syukurlah kalau sudah ditemukan, jadi mereka nggak merepotkan kamu lagi!" ketus Ibu Ani.
BRAK!
Ibu Ani mengebrak meja yang ada dihadapannya saat Zahra menanyakan apa yang dikatakan oleh Ana.
"Kamu percaya kalau mama mu yang melakukan itu?" terima ibu Ani sambil menatap wajah Zahra tajam.
"Bukan begitu Rara hanya bertanya sama mama, bukan menuduh," jelas Zahra lembut.
"Itu sama saja menuduh!"
Zahra langsung meninggalakan mamanya di ruangan tamu, kerena ia sama sekali tidak mau berdebat dengan mamanya. Sedangkan mamanya yang melihat Zahra pergi mengigit saja hanya bisa mengepalkan tanganya, ia tidak menyangka gadis itu bicara terus terang pada Zahra putrinya.
Ibu Ani langsung menghubungi anak buahnya kembali. Sedangkan Zahra langsung ke kamarnya meraih hp dan chatting dengan Ana.
📱Dek, kalau ada apa apa tolong hubungi kakak ya.
Ana yang sedang memengang hp langsung membalas chatting Zahra..
📱Iya, kak.
📱Sip, mama tadi mengelak ditanya sama kakak.
📱 Sudahlah kak, Ana dan ibu juga nggak apa apa kok!
📱Jangan sampai lupa hubungi kakak kalau ada apa apa. Kita lapor polisi aja nantinya.
Ana hanya diam tidak membalas apa yang dikatakan oleh Zahra.
"Na, sedang apa?" tanya ibu Ayu menghampiri Ana.
__ADS_1
"Tadi chatting sama kak Anin."
"Apa isinya?"
"Kalau ada apa apa lagi harus hubungi kak Anin.
Apa yang dikhawatirkan Zahra memang benar saja Acong setelah menerima telpon dari ibu Ani mereka berdua bergerak menuju kantor dimana di belakangnya ada sebuah kantin yang diisi oleh ibu Ayu dan Ana. Ia menaiki pagar yang tinggi.
Keduanya tidak.mau kalau ketahuan satpam yang ada di depan, lagi menunggu dengan pandangan tajam.
Ada dua satpam malam itu yang jaga. Tapi Acong dan temannya hanya bisa garuk kepala saat melihat salah dua satpam yang berada tepat di depan kantin.
"Sial!" umpat mereka..
Akhirnya kedua ya turun dari pager dan pergi begitu saja.
Tanpa sepengetahuan dari ibu Ani, Zahra telah mempersiapkan dua hansip untuk jaga di depan kantin, kerena ia tidak ingin kalau ibu Ayu dan Ana mengalami kejadian seperti siang tadi!
"Gagal!" teriak wanita itu saat anak buahnya menceritakan apa yang terjadi.
""Iya bos, kami nggak mau ambil resiko yang sangat besar!"
"Kalian sama satpam dua saja takut! Seharusnya kalian lakukan yang lain!" terima wanita itu emosi.
"Tapi bos?"
"Sekarang kalain pergi! Lakukan apa yang saya perintahkan! Cepat!" teriak wanita itu.
Kedua anak buahnya langsung mengangguk dan pergi begitu saja.
Sedangkan dua satpam itu! Sengaja oleh Zahra diberikan tugas untuk menjaga kantin, dan ia tidak ingin kalau ibu Ayu dan Ana harus menghilang lagi.
BRAK! Sebuah suara terdengar di belakang kantin, tidak tahunya kedua anak buah wanita itu berada di belakang kantin. Ya mereka.akhjeny nekat untuk menculik Ana dan Ayu di malam hari atau perintah bosnya.
Ana yang belum tidur mendengar suara itu, dengan perasan takut mengintip nya disela sela jendela. Terlihat dua orang yang sedang berusaha mengendap masuk ke dapur kantin..
Ana kembali ke kamar dan mengambil hp.
📱kak, ada orang.
Zahra yang belum memejamkan matanya langsung meraih hpnya yang berbunyi. Ia melihat ada sebuah pesan yang belum dibaca, pas di buka dari Ana.
📱Siapa dek!
tanya Zahra iangin tahu..
📱Nggak tahu kak, kayanya yang kemarin deh!
📱Ya sudah nanti kakak.kesana..
📱Iya kak, ibu sudah tidur.
kata Ana memberitahukan keadaannya..
__ADS_1
Zahra langsung mengambil jaket dan pergi dari rumah itu, secara diam diam tanpa sepengetahuan mamanya, kalau mamanya tahu kemungkinan ia sama sekali tidak diizinkan. Apalagi tahu kalau pergi ke tempat Ana.
Sedangkan disisi lain. Zahra juga menelpon satpam yang ada di kantor untuk memeriksa belakang kantin takut ada apa apa, satpam menurut.*