
Setelah olahraga pagi pak Bram lanhaung pulang ke rumah, ya kebiasaan kalau libur ke kantor ia sering meluangkan waktu untuk olahraga pagi dulu. Sebenarnya bukan tiap libur kantor saja ia olahraga, hari hari biasa juga olahraga. Tapi kerena ini hari libur maka ia lebih lama olahraganya.
Bukan hanya oak Bram saja, tapi ibu Ani juga ikut olah raga hanya untuk mencari keringat, apalgi kalau selesai olahraga mereka sering membeli sarapan bubur ayam, bubur kacang ijo, nasi uduk, atau sarapan yang lainnya.
"Pa, sebenarnya mama lebih curiga pada Rani? "ujar ibu Ani saat mereka sampai di rumah dan langsung duduk di teras depan.
Pak Bram yang sedang membersihkan keringat yang membaswhi tubuhnya langsung menatap wajah istrinya.
"Sebenarnya papa lebih curiga kalau Rani yang melakukan oada semua orang yang dikenal oleh Zahra sampai ia terdampar dan ditemukan sama kita. "
"Motifnya? "
"Ia tidak menerima kalau dirinya dibuang begitu saaj oleh keluarga pak Darman. Bisa jadi Rani melakukan itu pada keluarga Zahra, kita kan nggak tahu apa yang dialami oleh Zahra?"
Ibu Ani hanya mengangguk mendengarkan apa yang diceritakan oleh suaminya twntang kecurigaan suaminya pada saudara yang tidak pernah ia kenal sama sekali.
"Masalahnya papa melihat ia memukul Narti mengunakan bisi tapi anehnya besinya nggak ada sama sekali. " pak Bram berpikir.
Masalahnya ia melihat dengan jelas kalau Narti memang di pukul oleh Rani mengunakan besi taoi pas berita diturunkan sama sekali repoter tidak menyebutkan barang yang digunakan oleh pelaku. Ditambah lagi berita langsung ditutup begitu saja tanpa mwnywlidikan lebih lanjut.
"Apa mungkin kak Rani lakukan ini hanya ingin mencari kasih sayang ibu atau akun sebagai saudaranya? " tanya Ani menatap wajah suaminya.
"Intinya ia melakukan itu kerena kehidupan yang ia jalani itu hampir sama dengan Zahra, hanya bedanya kalau Zahra waktu umur 6 tahun berpisah dengan orang tuanya, sedangkan kak Rani sejak bayi."
"Aku juga baru tahu pap, kalau kak Rani adalah kakak aku. " ujar Ani seperti mwnyesali nya.
"Sudahlah! Jangan menyesali yang sudah terjadi, kamu juga harus ikhlas kalau Zahra kembali ke kekeluarnya. " kaya pak Bram seperti mengingatkan istrinya.
"Pa, bagaimana kalau kita menyusul mereka?"
"Ma, buat apa kita menyusul mereka? "
"Aku tkut kaku kak Rani melkukan sesuatu pada zahra, "
"Kita berdoa saja semoga Zahra nggak kenpa kenapa, papa nyakin kok! "
"Tapi kalau kak Rani melakukan sesuatu pada Rara? "
"Percaya lah kata kata papa. "
__ADS_1
Pak Bram berusaha untuk memberikan pengertian pada istrinya. Ya ia ingat percakapan dirinya dengan ibu Ayu.
"Bu, saya sama istri saya khawatir tentang Rara. "
"Menurut saya nggak mungkin Rani menyakiti Rara atau Anin. "
"Kenpa ibu begutu nyakinnya, sedangkan kami sendiri sangat cemas memikirkan Rara kerena ia janjinya hanya sehati taoi ini? " tanya pak Bram menatap wajah ibu Ayu.
Memang dari awal sebenarnya ia tidak merestui Rara untuk pergi ke desa itu apalagi dengan Rani, tapi akhirnya mengizinkan juga ya biarpun hati mereka ketar ketir.
"Saya juga sebenarnya khwatir Rara kesana, tapi saya nyakin ia bakal menjaga diri juga. Rani saya percaya nggak akan melakukan apa apa, kerena saya pernah bilang padanya dulu, " kata ibu Ayu tegas.
"Kalau kamu mau kamu boleh kok mwngurus Anin kita sama sama mwngurusnya, asal kamu jangan pergi ke kota. " lanjut ibu Ayu mengingat percakapan dengn Rani maupun Hamdi di bukit itu.
Pak Bram termenung mendengarkan apa yang diucapkan oleh ibu Ayu, ia hanya bisa terdiam saja. Awalnya tidak ingin percaya pada kata kata ibu Ayu, tapi ia melihat dengan jelas gurat kepercayaan wanita itu pada sosok Rani.
"Ibu begitu percaya nya Rani, sedangkan kami belum sepenuhnya percaya pada dirinya apalagi ia pernahnya melakukan penculikan pada Ibu dan Ana. " pak Bram hanya menggelengkan kepala saja.
"Saya yang bertangungjawab kakau sampai Zahra kenpa kenapa oleh Rani." kata Ibu Ayu mantap.
Ibu Ani yang masih dihadapannya pak Bram hanya mendengarkan cerita suaminya yang menceritakan tentang ini Ayu yang bgitu oeecaya pada Rani.
"Pa, mama masih belum leecaya ya biarpun ia saudara mama, mama hanya takut apa yang dikhawatirkan oleh mama terjadi pada Zahra." protes ibu Ani merajuk.
"Papa percya pada mama kok, tapi kita jangan mendramalisirkan keadaan ma. "
Ibu Ani tanpa menunggu waktu lagi langsung meninggalkan suaminya, pak Bram hanya menyenangkan kepala saja melihat tingkah laku dari istrinya.
"Ma, maafkan papa. Bukannya lala percaya sama ibu Ayu, tapi papa lihat ibu Ayu begitu tegarnya." bisik pak Bram menghakimi nafas.
"Saya juga sebenarnya kecew sama bapak, kerena bapak dengan mudah melepaskan Zahra begitu saja. " kata ibu Ayu waktu itu.
Pak Bram yang mendengar itu hanya bisa menghalangi nafas.
"Bapak khawatir dengan keadaan Zahra apalagi dengan saya pak, saya lebih khawatir pada zahra. Saya pernah kehilangan dirinya beetahun tahun, " ungkap wanita itu tajam.
"Kenapa ibu menuduh saya membiarkan Zahra pergi? "
"Saya nyakin kalau Zahra pasti minta izin dulu pada bapak dan ibu, selain pada saya. Saya kecewa kenpa harus bapak dan ibu mengizinkan Zahra pergi? " tanya ibu Ayu.
__ADS_1
Pak Bram hanya diam saja, ia membenarkan laa yang diucapkan oleh ibu Ayu lada dirinya. Memang Zahra meminta izin pada dirinya dan pengakuan Zahra kalau ia minta izin ke dirinya.
"Terus kenapa ibu juga mengizinkan Zahra pwegi? " desak pak Bram menatap wajha wanita yang ada dihadapannya.
"Saya mwngizinkan dirinya peegi keeena Zahra bilang kalau papa dan mamanya juga mengizinkan? Terus saya harus begaiamana?" tanya ibu Ayu seperti pada diri sendiri.
"Kalian sebenarnya orang tua macam mana yang mengizknkan anak anak kalian leegi begutu saja!" teriak Ana yang tiba tiba muncul.
"Kalian berdua ibu dan papa zahra, tapi kenoa kalian saling menyalahkan satu sama lainnya?" Lanjut Ana menatap kedua wajah orang yang ada dihadapannya.
"Kalian malah meeebutkan kak Zahra, tahukah kalian sebenarnya kak Zahra juga bjtuh batuan kalian sebagai orang tuanya, apalagi ibu, papa dan mamanya. " berondong kata kata Ana.
Kedua orang itu lanhsung menataonwajha Ana dengan tajam sekali. Sedangkan Ana masih menatap keduanya.
"Bu, pak, kak Zahra adalah anak kalian! Seharusnya kalian ada di sampingnya termasuk tante Ani juga. "
"Pa, Papa! " Terima ibu Ani menghampiri pak hamsi yang sedang teemenungbdi dalam pikiran dirinya sendiri.
"Pa! " tegur ibu Ani sambil memberikan hpnya lada suaminya yang garuk garuk kepala.
Pak Bram sangat terkejut mendengar teriakan istrinya.
"Ada apa ma? " tanya pak Bram menatap wajah istrinya.
"Ana telpon. "
Pak Bram lanhsung meraih hpnya yang disidorkan oleh istrinya, ketika ia mwndengar nama Ana yang menelponnya. Memang kemarin ia menyuruh Ana menelpon kalau ada waktu.
📱halo Na ada apa kamu teloon saya?
Pak Bram langsung angkat bicara kerwna memang sambungan hpnya telah terjadi.
📱Pak, kata kata saya kemarin bagaiaman tentang kak Zahra?
Ana sebenarnya menelpon juga memang disuruh oleh pak Bram masalah keluarga Zahra untuk mendatangi ke desa uti atau tidak.
Ana hanya minta penjelasan saja.
📱Saya lagi bicara sama istri saya dulu, memang kami tadi membahas itu sekarang juga. Paling malam atau besok ada keputusannya.
__ADS_1
📱Ya udah kalau begitu Ana tunggu hasilnya, kalau bisa hasilnya memuaskan kan untuk semuanya.
Kata Ana mengangguk dan mengiyakan. Ia langsung memutuskan hubungan hpnya.