
Ana menghampiri kedua wanita itu. Ibu Ayu hanya menatap wajah Ana dengan tajamnya. Sedangkan ibunAni terkejut mendengar Ana yang tiba tiba datang tanpa ia ketahui kedatamgannya.
"Tante kenapa datang kesini kalau mau bikin onar lebih baik pwegi dari sini! " teriak Ana tidak suka atas kedatangan ibu Ani.
"Mau nyari masalah gara gara kak zahra pergi ke desa itu! Kenapa harus menyalahkan ibu, seharusnya tante yang bilang ke kak zahra! " lanjut Ana berang.
Ibu Ayu langsung menarik tangan Ana supaya menjauhi ibu Ani tapi Ana menepiskan tangan ibunya, kalau tidak ada ibu Anyu mungkin ia bakalan membuat perhitungan pada ibu Ani.
Ia sebenarnya tidak suka pada wanita yang selalu. menyalahkan ibunya.
"Saya hanya ingin ibu kamu yang melarang zahra pergi ke desa itu! " bela ibu Ani.
Ibu Ani merasa tersingung atas kata kata yang teelontar dari mulu Ana, kalau saja tidak ada ibu Ayu mungkin ia sudah melumatkan Ana.
"Memangnya tante nggak bisa ya melarang kak zahra, bagaimana pun juga kak zahra anak tante seharusnya tante juga yang melarang saat kak zahra minta izin ke desa itu? kenapa tante malah menyalahkan orang lain? " tanya Ana bertubi tubi.
"Ana sudah! Jangan berkata lagi! " teriak Jbu Ayu. melarang Ana untuk berbicara apa lagi pada ibu Ani.
"Nggak apa apa, bu! " teeiam Ana menatap wajah wanita itu sinis.
PLAK!
"Ahh!" teriak Ana meringis kesakitan.
Ibu Ani yang mendengarkan kata kata dan pertanyaan yang menyudutkan dirinya, ia tidak bisa menahan nya lagi. Dengan reflek wanita itu langsung melayangkan tangannya ke pipi Ana dengan kerasnya.
Bukan hanya Ana yang terkejut tapi ibu Ayu juga kaget karena melihat Ana di tampar begitu saja oleh ibu Ani.
"Tante! seharusnya tante yang tegas pada kak zahra bukan melempem kaya kurupuk! " ujar Ana keras.
"Ayo bicara lagu! Ku sobek mulutmu itu! "
"Silahkan sobek biar Ana nggak kasuhntahu pembicaraan An dengn pak Bram? " ancam Ana mentap wajah ibu Ani tajam.
Ana hampir saja berhadapan dengan. ibu Ani, kalau ssja iu Ayu tjdak. mendekati ibu Ani tapi tiba tiba ibu Ani beeteriak. sangat keras.
PLAK!
Argh! " jerit ibu Ani memegang pipinya yang terasa panas dan sakit. Ia tidak menduga kalau ibi Ayu bakalan membalas kelakuannya pada Ana. Ana yang melihat itu terkejut kerena tidak menduga kalau ibunya yang memukul obi Ani dengan kerasnya.
Kerena terkejutnya ibu Ayu, melihat Ana ditampar oleh ibu Ani, ibu Ayu menghampiri ibu Ani dan langsung menampat pipi ibu Ani dengan kerasnya.
__ADS_1
"Jangan main pukul! aku juga nggak pernah memukul anakku, ini kamu malah main pukul, kalau mau pukul pukul saya saja! " teriak ibu Ayu menatap garang lada ibu Ani.
Sebenarnya ibu Ani ibhin membalas kelakuan ibu Ayu lada dirinya taoi Ana menghalanhinya. Ibu Ani mentap Ana dengan sinisnya, ia masih tersingung oleh kata kata Ana.
"Kalian jangan bwetengakar! Kalian sebenarnya kenapa sih! " Terima Ana menatap kedua wanita itu dengan tajam.
"Ibumu yang duluan! "
"Saya nggak pernah membuat onar, anda yang bikin onar! " teriak ibu Ayu kesal.
Memang kalau dipikirkan oleh dirinya, Ani yang bikin onar. Alasannya kenapa waktu Zahra pergi malah mengizinkan zahra ujug ujungnya mwnyalahkan dirinya.
Kalau menurut Ayu sih inginnya Ani tidak menyuruh Zahra pergi bagaimana pun Ani adalah ibu nya, ya biarpun ibu angkat juga. Tapi kenyataannya malah mengizinkan zahra pergi begitu saja, masih untung kakau setelah zahra pergi ia tidak menyalahkan orang lain.
"Sebenarnya yang saya inginkan dari anda, saat zahra meminta izin seharusnya anda nggak memberikan izin pada zahra. "
Kata ibu Ayu tajam.
"Tapi kenapa saat zahra pergi andaalah menyudutkan saya? " tanya ibu Ani kembali.
"Saya mwngizinkan zahra pwegi juga kerena ia juga telah menerima izin dari anda," lanjut ibu Ayu menatap Ani.
"Seharusnya kan? "
Ana hanya diam saja mendengarkan pertengkaran mereka, ia sebenarnya ingin menyampaikan apa yang ia bicarakan dengan pak Bram, tapi melihat keduanya masih bertengkar akhirnya Ana hanya diam saja.
"Ibu, tante kalian biasa diam nggak sih! " Ana beeteriak nyaring sekali.
Seketika juga kedua wanita itu berhenti, merka saling diam satu sama lainnya. Ana menatap keduanya saling bergantian, akhirnya Ana mengajak keduanya menuju tempat lesehan.
"Tante, sebelumnya Ana minta maaf atas kelancangan Ana pada tante. Tante, sebenarnya tante kenapa kesini? " akhirnya Ana bertanya lembut pada Ani.
"Ana tadi ketemu dengan. pak Bram di cafe G, kami bahas keberangkatan ke desa igu insha Allah kalau tidak besok ya lusa. " lanjut Ana memberitahukan pembicaraan dirinya dengan pak Bram.
"Kamu benar? " tanya ibu Ani dan ibu Ayu serempak menatap Ana tajam.
"Iya, makanya Ana heran kenapa tante sampai menyusul segala ke kantin inj, seharusnya tante tunggu dirumah. " ujar Ana kembali.
"Maafkan tante kerena tante, " kata ibu Ani merasa bersalah.
"Kak Zahra minta izinkan sama tenta kenpa tempe nggak melarang kak zahra untuk leego ke desa itu? Malah tante menyalahkannibi? " tanya Ana heran.
__ADS_1
"Ya tante berpikir kalau ibu kamu itu melarang Rara untuk pergi nggak tahunya! " dengus eanjta itu.
"Tante jangan suka menyalahkan orang lain, kali tante tegas kenapa nggak tante saja yang melarang kak zahra bukan ibu? Sedangkan tanye juga ibunya.
Belum sempat Ibu Ani angkat bicara tib tiba hpnya bwrderingbdengan nuaringnya, ia akhirnya mengangkat hpnya. Ana dan Ibu Ayu langsung diam saat mendengar sering HP ibu Ani.
"Maaf saya harus pulang, papa nya zahra telpon. " kata ibu Ani sambil beranjak dari duduknya lanjaung pergi. Ana dsn ibu Ayu habya mengangguk.
Sedangkan Zahra dan rey masih di desa itu, uwa iyan beberapa kali menahan Zahra dan rey untuk leegi ke kota kembali, sebenarnya Zahra dan Rey sudah mau ke kota tapi uwa iyan dan mbok inem menahan nya
"Jangan pergi dulu, uwa hanya takut kalau Rani macam macam. "
"Apalagi kalau kalian sudah pergi! " sambung uwa iyan menatap keduanya.
"Tapi uwa Rani sudah agagak mendingan sih dibandingkan waktu datang. " kata Zahra.
Ya zahra melihat kalau Rani begitu tenang nyaman di desa itu, apalagi sekarang Rani suka bantu bantu mbil inem di kebun maupun di rumahnya Kalau di perhatikan memang Rani tidak bakal macam macam pada siapapun juga.
Tapi untuk penelitian dan pembunuhannya Narti ia hanya diam tidak banyak bicara, tapi uwa iyan, maupun dirinya menyangka kalau Rani pembunuh Narti tapi mereka hanya diam saja.
"Semuanya harus terungkap., Ra. Ua nggak mau ada korban lagi selain Narti. "
"Iwa, apa kita lebih baik. lapor polisi biar polisi bertindak? " tanya Zahra.
"Nggak lwelu kita kumpulkan bukti buktinya dulu baru kita bertindak. "
"Kamu bisa membuktikan keterlibatan Darman dalam membunuh ayahmu juga, " lanjut uwa iyan.
"Apa uwa Darman dan uwa Rani bersengkongkol? alasannya kenapa sampai mereka mmwbunuh ayah? Sedangkan yang Rara tahu ayah dan uwa Rani berteman itu kata ibu? " tanya Zahra heran.
"Pasti ada hubungannya, tapi uwa juga nggak tahu apa apa sih!
" Aneh ya? "
"Jangan bilang aneh. Hati manusia itu ditolak balik oleh Tuhan, makanya berdoa semoga Tuhan membalikan hati Rani untuk berbuat baik," kata uwa iyan menatap wajh Zahra.
Akhirnya setelah mendengar alasan dari iwa iyan, rey dan Zahra mengikuti apa yang dibicarakan oleh uwa iyan untuk tidak pulang ke kota.
Sedangkan orang yang dibicarakan oleh uwa iyan dan Zahra, sedang berada di bukit sendirian memandang pemandangan yang benar benar asri dan sejuk.
Wanita itu!
__ADS_1
Menatap lurus kearah perbukitan. yang hijau terlihat indah, apalagi dilihat di waktu pagi dan senja.
"Maafkan lah mama kak," kata Ani waktu itu.