TITIP RINDU BUAT IBU

TITIP RINDU BUAT IBU
chapter 191


__ADS_3

Apa yang dikatakan Rani benar! Darman sedang istirahat entah apa yang dipikirkan oleh pria itu, dan Zahra dengan berani langsung menampar muka Darman yang duduk santai sambil matanya terpejam. Otomatis pria itu terkejut apalagi saat melihat sosok Zahra yang telah berdiri di hadapannya. 


"Aku hanya ingin  bicara serius sama uwa! " kata Zahra lembut. 


"Uwa? Kamu panggil aku uwa siapa kamu sebenarnya? " tanya Darman berang. 


Brak! 


Pria itu memukul meja yang ada dihadapannya dengan pandangan bedapi tapi karena ia beberapa kali mendengarkan gadis itu memanggil uwa terhadap dirinya tanpa ia tahu sebenarnya gadis itu siapa. 


"Maaf, aku Anindya uwa, mungkin uwa lupa sama Anin. " kata Zahra pada darman. 


Gadis itu memperkenalkan dirinya pada Darman, ia hanya menghela nafas panjang mengingat percakapan yang terjadi pada dirinya dan pak Bram percakapan tentang Darman. Pak Bram sebenarnya sudah gemas segala tindakan tanduk Darman yang sebenarnya. 


"Pa, bukan Rara mengundur undur untuk laporan ke polisi tapi Rara hanya ingin bicara hati ke hati ke uwa Darman! " ungkap Zahra pada saat pak Bram protes niat baik Zahra. 


Zahra sebenarnya ingin bicara bebarapa kslimat dulu dengan Darman dulu sebelum ada proses hukuman yang terjadi pada pria itu. 


"Papa nggak habis pikir sama kamu, orang kaya Darman seharusnya dipercepat. Semua gara gara Rani! " dengus pak Bram kesal. 


Apa yang dikatakan oleh dirinya memang benar, ia tidak menduga kalau Daraman harus lolos dari penjara oleh kelakuan Rani. Sebenarnya ia sudah beberapa kali melaporkan Darman ke polisi supaya ditindak serius. 


Tapi semuanya gagal. Kerena bukan polisi yang tudak bisa, darman nya selalu lolos saja, pak Bram sebenarnya geram sekali tapi ia tidak bisa bertindak apa apa ditambah lagi ia mendengar secara langsung kalau Zahra ingin bicara dengan Darman. 


Sebenarnya Zahra ingin bicara dengan Darman bukan apa apa, ia hanya ingin dekat dan mendengarkan curhatan Darman saja. Jadi untuk saat ini ia hanya ingin dekat secara ponakan, tapi itu malah ditentang oleh papanya. 


"Pa, dengar apa yang Rara bicarakan! Rara hanya ingin sekali ini saja bicara dengan uwa Darman. Mungkin untuk terakhir," ujar Zahra. 


"Bukan papa nggak mengizinkan tapi," ujar pria itu termenung sejenak. 

__ADS_1


"Tapi apa pa. Papa kenapa nggak mengizinkan Rara bicara pada uwa Darman?" tanya Zahra menatap wajah pak Bram. 


Gadis itu hanya menghela nafas menunggu jawaban dari pak Bram. 


"Papa hanya takut Darman melukai kamu, apalagi kamu menemuinya seorang diri. " umar pak Bram menghela nafas panjang. 


Setelah mendengar alasan dari Zahra, pria itu hanya bisa diam saja. 


"Oke kalau kamu ingin bicara dengan Darman silakan tapi kalau misal ada apa apa telpon papa," kata pak Bram menatap putrinya dengan kasih sayang. 


Zahra mengangguk. "Pa, papa tenag saja, Rara pasti bakal telpon papa kalau misal terjadi sesuatu. " umar Zahra. 


Gadis itu terharu sekali mendengar apa yang diucap akan pria yang dianggap papanya. Ia dengan jelas melihat ada pancaran kasih sayang yang begitu kuat di sinar matanya pak Bram. 


Zahra tanpa ragu ragu lagi langsung memeluk tubuh pak Bram dengan lembutnya, ia merasakan ada perasaan yang lembut menyentuh hatinya. Seorang pria yang menyanyanginya biarpun pria itu bukan ayah kandungnya, tapi ia merasakan kalau papa seperti ayah. 


Brak! 


Zahra terkejut mendengar gebrakan meja yang ada dihadapannya begitu kertasnya di pukul Darman sampai gadis itu kaget sekali. 


"Bilang dari dulu kalau kamu Anin, lalu siapa yang berani mengubah nama kamu ? " tanya Darman. 


"Ini semuanya gara gara uwa! Kenal uwa lakukan pada keluarga Anin? Kenapa? " Terima Zahra keras. 


Ia berusaha menahan oerasan yang tiba tiba membludak di dadanya. Ada perasan yang benar benar benci pada pria yang dianggap uwa nya oleh dirinya. 


"Seharusnya uwa lah yang jadi pengantin ayah tapi uwa sendiri lah yang menghilangkan nyawa ayah! " sembur Zahra. 


Gadis itu mengigit bibir bagian bawah kuat kuat supaya tidak menangjs di hadapan pria itu! Ia sama sekali tidak ingin dihat menagis. 

__ADS_1


"Kenapa uwa harus lakukan itu? Apa kererwna wanita itu! " kata Zahra menatap wajah darman. 


Zahra tidak menyebutkan nama Rani tapi menyebutkan dengan wanita itu! 


"Maksud kamu apa dengan wanita itu! Dia punya nama bukan wanita itu! " Terima Darman tersingung. 


Hatinya tidak suka dengan Zahra yang tiba tiba tidak menyebutkan nama Rani pada wanita itu! Zahra hanya diam saja, ia tahu apa yang telah dilakukan eh dirinya sampai pria itu marah. 


"Buat apa aku menyebutkan nama dirinya, dia yang telah membuat uwa bertekuk lutut padanya sampai telah melupakannya apa yang telah dilakukan orang tua ayah pada uwa sendiri." pojok Zahra pada Darman. 


"Demi melindungi wanita itu uwa malah membunuh ayah! Ayah yang sayang sama uwa begitu juga dengan nenek! " ingat Zahra pada Darman. 


"Kamu bisa diam nggak sih! Berisik tahu. " sewot Darman yang telinganya terasa panas sekali mendapatkan apa yang di ucapkan oleh Zahra. 


Ia tidak menyangka kalau gadis itu bakal tahu semuanya, tapi ia juga merasa heran keno gadis yang ada dihadapannya tahu dari siapa? Sedangkan Rani menceritakan kalau Zahra atau Anin dibesarkan oleh Ani. Tapi Darman  sedikit terkejut kerena mendengar apa yang diucapkan  gadis ugu. 


"Kenap aku harus diam, apa uwa merasa malu apa yang Anin katakan pada uwa sendiri? " tanya Zahra tajam. 


"Sebenarnya apa yang membawa kamu kesini? Apa yang bicara masalah itu? " 


Akhirnya Darman bertanya pada Zahra atas kedatangan gadis itu. Pria itu merasa nyakin kalau gadis yang ada dihadapannya sebenarnya ada keperluan yang sangat padanya, tapi Darman tidak tahu kedatangan Zahra padanya itu untuk apa? 


Mendengar Darman mengatakan itu Zahra hanya menghela nafas panjang. Di tatap nya wajah Darman dengan tajam. Ya, sejujurnya ia datang ke tempat Darman hanya ingin bicara berdua saja, di tambah lagi di rumah pria itu sendirian dan tidak ada siapa siapa kecuali dirinya. 


Kalau dipikir sih kesempatan Zahra untuk bicara berdua dan semuanya mendukung! Dan Zahra juga tidak ada niatan untuk melaporkan Darman ke polisi karena memang ia ingin bicara dua kata dengan pria itu 


"Aku hanya ingin bicara seperti ini sebelum aku melaporkan  semua yang uwa lakukan pada keluarga ku. " 


"Oke! Bicaralah. Apa yang kau ingin bicarakan denganku, mumpung aku juga ingin bicara denganmu. Aku nggak bisa bicara kalau kamu di rumah saja, kerena Bram pasti akan melaporkan aku ke polisi." kata Darman  mempersilahkan Zahra untuk bicara padanya. 

__ADS_1


Darman merubah duduk nya menjadi santai sekali, mereka saling berhadapan satu sama lainnya. Tatapan Darman  tajam dan lurus ke arah Zahra.*


__ADS_2