
"Aku ingin ketemu ibu, Rey." ungkap Zahra pada Rey yang sedang duduk di teras rumahnya.
Ya sejak kejadian penangkapan Darman, Zahra tidak pernah ke desa itu selama satu bulan lamanya. nomor Ana dihubungi juga tidak bisa di telponnya.
"Papa nggak bisa bantu lagi Rey," lanjut Zahra sendu.
"Kamu sabar ya jangan pesimis suatu waktu nanti kalian pasti ketemu lagi."
"Kapan Rey."
Rey menyentuh tangan Zahra dengan lembutnya.
"Biar Ana dan ibu yang aku bawa kesini biar kamu ketemu sama mereka."
"Oke! bukan itu saja sih yang aku pikirkan, bagaiamana nasib perpustakaan yang sekarang ya?" tanya Zahra pada diri sendiri.
"Kamu kangen siapa sih! ibu atau perpustakaan?" tanya Rey menatap wajah Zahra.
"Dua duanya Rey."
"Kalian sebenarnya mau merencanakan apa?" tanya ibu Ani yang tiba tiba datang ke teras itu.
Wanita itu sangat curiga saat mendengar Rey dan Zahra sedang berduaan. keduanya langsung saling pandang dsn diam seketika juga saat ini Ani menghampiri mereka.
"Kenapa kalian pada diam?" tanya ibu Ani heran.
"Nggak bicara apa apa kok ma, Rara coba bilang sama Rey bagaimana kerjaan di kantor," kata Zahra memberikan kode pada Rey supaya Rey tidak banyak bicara apalagi masalah masa lalunya..
"Iya ma, Rey tadi bilang sama Rara buat menjadikan Rara sebegai editor disana, ya aku belum sempat mendengar alasannya." ujar Rey spontan.
"Bagaimana kalau kamu masuk saja Ra, bagus kan jadi editor di kantornya Rey biar kalian sama sama kenal dan akrab." usul ibu Ani setuju.
Zahra menatap Rey."Rara nggak suka jadi editor ma, Rara cuma suka baca saja. Kalau Rey kan mahir dua duanya," ujar Zahra menolak.
Sebenarnya pembicaraan ini sudah dibicarakan dengan pak Bram, Zahra setuju jadi editor di salah satu kantor yang dipegang oleh Rey. Tapi Zahra belum bicarakan hal ini pada ibu Ani, sebenarnya Zahra lakukan ini kerena pak bram mempunyai ide buat mengajak Ana kerja di kantornya. Dan niatan pak Bram supaya ini Ayu juga mengikuti Ana ke kota.
Mendengar rencana itu Zahra senang sekali, keren aja bisa bertemu dengan ibunya. Dan pak Bram punya rencana supaya ibu Ayu bisa jualan di kantin kantor. Itu yang membuat Zahra riang sekali, ya tanpa ia harus jauh dengan ibu Ayu dan Ana.
"Mama setuju kok Ra kalau kamu disana." ujar ibu Ani tersenyum.
Ia mengatakan itu kerena tujuannya memang ingin memisahkan Zahra dengan ibu Ayu, supaya Zahra tidak.mwnhjngat desa itu lagi. Ya biarpun memang itu salah sih memisahkan Zahra dengan ibu Ayu tapi ia tidak ingin kehilangan Zahra.
__ADS_1
"Mama juga bakal sering sering datang ke kantor lihat perkembangan kalian berdua," kata ibu Ani.
"Ibu ingin kalian cepat menikah!" lanjut ibu Ani lagi.
Perkataan itu membuat Zahra tersedak kerena pas ibu Ani mengatakan itu Zahra sedang minum air. Akibatnya Zahra Bayu batuk, Rey yang melihat itu langsung mendekati Zahra dan memukul pungung Zahra.
"Kamu kalau minum.pelan pelan jangan buru buru kaya gitu," suara ibu Ani agak tinggi..
"Kaget saja ma, mama kok bilang kaya gitu," cemberut Zahra sambil menyimpan gelasnya di meja.
"Memangnya salah mama bilang begitu? Kalian udah lama kenal," desak ibu Ani.
"Iya nanti Rey bilang sama ayah dan mama dulu." kata Rey tersenyum.
"Sekalian kalau ketemu mama kamu salam ya."
"Iya nanti Rey kasih tahu mama."
Akhirnya pembicaraan mereka makin asyik dan seru saja, tanpa mereka sadari senja telah tiba dan malam akan datang. Rey pamit pulang.
🦋
PLAK!
"Kamu kurang ajarnya, datang kesini buat apa?" teriak ibu Ani berang.
Matanya melotot ke arah Ana. Gadis desa itu ketakutan saat mata melihat mata ibu Ani yang hampir keluar dari pelupuk matanya..
"Ma!" terik Zahra saat tahu mamanya datang dan memukul Ana.
"Jangan jangan kamu ya yang merencanakan ini semua!" sembur ibu Ani.
"Ma, apa Rara salah bantu An untuk kerja disini?" ujar Zahra kesal atas sikap mamanya.
"Kamu hanya ingin cari gara gara saja sama mama," damprat ibu Ani.
"Nggak sebaliknya ma, mama yang datang kesini hanya cari masalah," sindir Zahra ketus.
"Sudah kak, Ana yang salah." Ana berusaha melerai keduanya.
"Nggak kamu nggak salah Na, kamu disini hanya kerja." bela Zahra.
__ADS_1
"Tapi kak,"
"Kamu diam saja."
Ibu Ani yang melihat itu langsung pergi begitu saja. ia tidak menyangka kalau Ana bekerja di kantor milik Rey, ia merasa dibohongi oleh Rey sendiri. Ana yang melihat itu tidak mengejar mamanya. Zahra mengantarkan Ana ke ruangan lain tempat Ana bekerja.
"Kak, seharusnya Ana pulang saja kalau seperti ini. Ana takut kalau kakak di apa apa kan sama mama kakak." kata Ana merasa bersalah.
"De, kakak nggak apa apa kok, kamu tentang saja kerja yang baik buat ibu." kata Zahra sambil memengang kedua bahu Ana lembut.
Ana mengangguk. Setelah itu Zahra langsung meninggalakan Ana di ruanganya, kerena ruangan Ana dan diri berbeda.
"Kamu di pukul sama ibu Ani?' tanya ibu Ayu menatap Ana.
Wanita itu terkejut waktu mendengar dari karyawan kantor kalau Ana mendapatkan pukulan dari ibu Ani, awalnya wanita itu akan mendatangi ibu Ani tapi niatnya diurungkan.
"Iya Bu, tapi Ana nggak apa apa kok!"
"Apa kerja kamu jelek atau kerena hal lain?"
"Mungkin kerena hal lain, Bu. Nggak mungkin kalau dia mukul kerena kerjaan," timbal Ana..
Mendengar Ana mengatakan itu, wanita setengah baya hanya menghela nafas panjang. ia nyakin kalau wanita itu takut kalau Zahra ikut dengan dirinya.
Ya ibu Ani tidak tahu kalau ibu Ayu dan Ana ke kota atas perintah dari pak Bram dan Rey keduanya mendatangi ibu Ayu dan Ana. Awalnya keduanya tidak mau tapi kerena pak Bram mengatakan kalau Zahra juga kerja di kantor itu, akhirnya keduanya mau ikut.
Rumah yang mereka tumpangi di kontrak pada orang lain.
"Kalian mau ke.kota menyusul Anin, jangan lupa bawa Anin ke sini." kata mbok Inem.
Wanita itu tidak menyangka kalau Zahra yang dikenalnya adalah Anin, ia shock saat ia mendengar dari Ana kalau Zahra itu benar benar Anin yang datang ke desa itu.
Ibu Ayu dan Ana tinggal di sebuah kantin dekat kantor yang diberi kamar, WC dan tempat cuci baju. kantin itu cukup berdua saja.
"Kenapa harus ibu Ani yang marah sama kita, seharusnya kita yang marah ladanya," sengaja Ana kesal..
Gadis itu merasa heran kerena ibu Ani harus marah lada dirinya, sedangkan ibu Ani sendiri lah yang salah yang telah membuat Zahra menghilang kerena dirinya..
"Ibu Ani sayang banget sama Zahra makanya wajar kalau ia berbuat begitu Na," kata ibunya mengelus pipi Aan lembut.
"Sayang sih sayang tapi jangan sampai begitu sih!" dengusnya kesal.
__ADS_1
Awalnya ibu Ayu akan bicara lagi pada Ana tapi tidak jadi kerena ada yang datang membeli makanan yang ia bikin, Ana akhirnya membantu ibunya melayani pembeli.*